𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18| Different Feeling
"Kalo gitu gue masuk duluan," sela Jayden, matanya melirik ke arah kantong kresek yang ditenteng Sebastian.
Kepala Sebastian mengangguk, tangannya bergerak menyerahkan kantong kresek di tangannya pada Jayden. Jayden kembali melanjutkan langkah kakinya mendekati pintu masuk penthouse, Zea tersenyum semakin lebar ketika hanya ada dirinya dan Sebastian di lorong.
"Kenapa lo ke sini?" Sebastian merendahkan suaranya, tanpa melirik ke arah Zea.
Senyum di bibir Zea membeku, perlahan memudar. "Gue kangen sama lo, udah beberapa hari lo nggak lagi ngehubungin gue. Bahkan buat ngumpul bareng aja jarang," sahut Zea mengeluh, "apa karena lo pacaran sama Aluna, jadi lo mendadak lupa kalo kita itu punya hubungan dekat, Bas."
Dari ekor matanya Sebastian dapat melihat ekspresi kesedihan yang tergambar nyata di wajah Zea—gadis yang ia cintai seiring berjalannya waktu, Zea berbeda dengan gadis kebanyakan. Di mata Sebastian gadis di sampingnya ini secerah mentari pagi, memiliki senyum bersahaja hingga tak akan jemu memandangnya. Sayangnya gadis yang tumbuh remaja di rumah keluarga besar Van Houten diam-diam diklaim sebagai milik Gavino—sahabatnya sendiri, Sebastian meneguk salivanya mendesah pelan.
"Ya," jawab Sebastian singkat namun, seakan mampu menjelaskan segala tanda tanya di otak Zea.
Kedua kelopak mata Zea berkedip dua kali, ujung jari jemari tangannya terasa mendadak dingin. Matanya terasa panas, ada rasa sesak yang menghantam dadanya. Lidahnya mendadak kelu, Zea menunduk. Bibir bawahnya digigit, Sebastian mengulum bibirnya yang terasa kering.
Cukup lama keduanya dilanda keheningan panjang, hingga suara pintu yang terbuka menyentak keheningan yang tercipta dari perasaan yang tak bisa digambarkan. Sosok lelaki jangkung dengan alis mata tebal itu keluar di ikuti dua orang di belakangnya, Gavino melirik keduanya tanpa ekspresi.
'Eh, ada apa sama suasana yang aneh ini? Keknya gue ketingalan adegan penting.' Aluna mengamati tiga tokoh penting yang kini berdiri bersamaan, sementara Aluna melangkah bersebelahan dengan Jayden.
Atensi Sebastian tertuju ke arah Aluna yang melangkah mendekati mereka bertiga, sementara Zea masih menundukkan kepalanya. Sebastian menyongsong Aluna, meraih tangan Aluna membuat ekspresi Jayden di samping Aluna berubah seketika.
"Ayo," kata Sebastian sebelum melangkah dengan menggunakan tangan Aluna.
Aluna bergumam tak jelas, matanya melirik ke belakang di mana Jayden berhenti melangkah menatapnya dengan pupil mata melebar. Atensi Aluna bergerak ke depan, seakan paham dengan tindakan Sebastian saat ini. Hanya saja ia merasa mundur kena, maju pun kena. Bukankah ia telah berjanji pada Jayden akan menjadi istrinya, menggoda pria di belakangnya itu habis-habisan. Malah digandeng pria lain, jika ia melepaskan genggaman tangan Sebastian. Ia akan membuat pria di sampingnya ini malu pada Gavino, Aluna mengerang dalam diam seketika.
'Ah, bomatlah. Pusing gue, pusing!' Jeritan hati yang tak mampu ia suarakan ketika melewati Zea dan Gavino.
...***...
Bibir Aluna mengerucut, Karina menggeleng tak berdaya dengan tingkah aneh Aluna. Semenjak ia terjatuh ke kolam renang, Aluna mendadak berubah drastis. Aluna menoleh ke samping, mengerutkan sebelah alis matanya.
"Kenapa?" tanya Aluna nyaris mengerang.
"So, lo udah nentuin pilihan ke Sebastian bukan Kai, nih?" Karina memicingkan kedua matanya menatap Aluna.
Bibir Aluna terbuka namun, kembali tertutup dengan desahan berat mengalun.
"Pilihan gue tetap duit, yang lain nggak penting," sahut Aluna mendapat decakan sebal dari Karina.
Aluna terkekeh kecil dipelototi, Karina menggeser kursinya mengeliminasi jarak di antara dirinya dan Aluna. Kelas mulai tampak ramai dengan kehadiran siswa-siswi yang berdatangan, Karina tampak ragu ketika akan berbisik pada telinga Aluna.
"Ah, gimana ya caranya gue ngomongnya," monolog Karina terdengar jelas di indera dengar Aluna.
"Lo mau ngomong, ya ngomong aja Na. Toh, emang apa yang nggak bisa lo omongin ke gue, huh?" Aluna mengerutkan pangkal hidungnya.
Karina mendekatkan bibirnya ke daun telinga Aluna, dan berbisik, "Gue dengar dari Nyokap kalo lo bakalan ditunangin sama Jayden, ini gosip yang udah pasti fix. Lo bakalan jadi istrinya si Jayden."
"Oh itu, gue kira apaan. Ekspresi lo dah kek emergency tingkat tinggi aja Na," balas Aluna tampak santai.
Karina di sampingnya membeku, pupil matanya melebar dengan ekspresi biasa Aluna.
"Lo udah tau kalo Nyokap lo dan Nyokap Jayden sepakat jodohin kalian berdua?" tanya Karina tak percaya.
Aluna menangguk sekilas, ia sudah menebak apa yang terjadi. Mengingat pembicaraan ia dan kedua orang tua Jayden, Aluna sama sekali tidak berkeberatan dengan rencana kedua orang tua angkatnya dan ibu Jayden. Apalagi melihat perlakuan kedua orang tua Jayden, pria itu pun cukup loyal di mata Aluna. Meskipun diam-diam Aluna pun tahu pada akhirnya Jayden tetap akan jatuh cinta pada Zea—protagonis, ia tak begitu peduli akan dengan siapa dirinya. Bagi Aluna yang terpenting di dunia fiksi ini, ia tetap hidup dengan bergelimang harta yang lain ia tak peduli.
"Wah, lo lebih kek cewek mati rasa Lun. Lo nggak peduli gimana orang tua angkat lo buat ngatur kehidupan lo. Apa lo nggak ngerasa, gimana kalo suatu saat lo mendadak ngerasain apa itu jatuh cinta selain sama duit, ya! Pokoknya lo bakalan nyesel kalo sampek nggak peduli sama siapa yang bakalan lo nikahin eh maksud gue yang nikahin lo," cerocos Karina menggebu-gebu.
Aluna menyadarkan punggung belakang di kursi melipat kedua tangannya di bawah dada, memilih menatap lurus ke depan. Karina mendesah frustrasi dibuatnya, Aluna mengulum bibirnya yang terasa kering.
"Gue bukan lo, dan lo bukan gue," balas Aluna intonasi suaranya terdengar berat, "lo punya ortu kandung, mau kek gimana pun bentukkan lo, sifat, dan kelakuan lo. Mereka bakalan tetap ada di pihak lo, ngasih terbaik buat lo. Lo punya segalanya tanpa harus berjuang, tanpa takut dibuang. Gue..., lebih takut nggak punya duit ketimbang nggak punya cinta. Lo tau posisi gue di keluarga itu, gue kayak boneka yang bisa dibuang saat mereka muak. Gue nggak mau ngerasain perasaan berjuang tapi kalah karena yang beruang. Well, gue cuman mau nikmati apa yang gue punya saat ini."
Garis bibirnya ditarik tinggi ketika ia menoleh kembali ke samping, menatap intens Karina. Dari sorot mata yang dalam seakan penuh luka derita, Karina tak tahu apa yang membuat Aluna seakan-akan pernah menjalani kehidupan yang penuh dengan ketidakadilan. Seakan ia pernah dicabik-cabik oleh dunia, senyumnya memang tampak indah tapi memberikan perasaan tak nyaman di hati Karina.
Dunia yang ia jalani memang berbeda tapi, setiap sel-sel tubuhnya seakan menyimpan rekaman di kedua kehidupan yang berbeda. Baik itu kisah hidupnya di dunia nyatanya, ketidakpedulian orang tua kandung, di kalahkan oleh uang, dibungkam oleh kemiskinan, dan jauhi karena paras yang tak cantik. Sementara di dunia fiksi ini tubuh tokoh Aluna merasa getirnya dibuang di panti asuhan, perasaan takut tidak dicintai, takut akan dilupakannya. Anehnya ia merasakan seakan uang adalah satu-satunya yang mampu menutupi setiap luka di jiwanya, Aluna tak berdusta jika ia benar-benar mencintai uang.
"Lebih baik lo nggak senyum Lun, senyum lo lebih nyakitin ketimbang liat lo netesin air mata," aku Karina menatap rumit Aluna.
Senyum di bibir Aluna memudar, suara nyaring dari bel masuk menggema di seluruh gedung sekolah. Membuat para siswa-siswi yang masih ada di luar kelas tanpa dikomando bergerak memasuki kelas masing-masing, pembicaraan pagi antara teman sebangku itu terasa berat untuk mereka masing-masing.
...***...
"Gue mau ngomong sama lo!" seruan yang mendadak mengalun bertepatan ketika salah satu bilik toilet terbuka.
Aluna mengusap-usap dadanya, melotot pada Zea yang sudah seperti hantu. Zea membelakangi cermin wastafel menghadap langsung ke arah Aluna, ia sudah lama mengintai Aluna untuk bisa berbicara empat mata.
Aluna melangkah mendekati wastafel, membilas tangannya melirik Zea dari ekor matanya. "Mau ngomongin apa? Gue nggak deketin si Gavino. Lo—"
"Sebastian, ini tentang dia," potong Zea kesal.
Aluna menarik tisu mengusap kasar telapak tangannya yang basah, meremas tisu dan melemparkannya ke tong sampah pojok. Dahi Aluna berlipat, ia terkekeh kecil mengundang api amarah di hati Zea.
"Apa yang lo ketawain huh?" berang Zea semakin kesal.
Kepala Aluna menggeleng sekilas, dan berkata, "Awalnya Gavino, lalu sekarang Sebastian. Apa nanti selanjutnya si Kai dan Jayden? Lo nggak senang gue deketin mereka. Tapi Zea, lo lupa kalo dari keempatnya nggak satu pun bisa lo tangani dengan mudah. Lo cinta Sebastian tapi lo nggak mampu ngelepasin Gavino. Lo nyaman sama Jayden tapi lo juga ngerasa senang saat Kai ngegodain lo. Bukankah kek gitu?"
Wajah Zea memerah untuk pertama kalinya, ini kali pertama ia kalah dari Aluna dalam berbicara. Ia memang mencintai Sebastian, seperti apa yang dikatakan oleh Aluna. Namun, sejak kapan Aluna seakan tahu isi hatinya terdalam.
"Lo harus tentuin pilih lo, Zea. Ketimbang lo sibuk ngomelin gue dan nyuruh gue ngejauhin mereka. Kenapa nggak lo habisin waktu buat nentuin pilihan lo sendiri, jangan sampek Gavino sadar kalo lo cinta Sebastian. Atau perasaan lo ke yang lainnya." Aluna menepuk-nepuk pundak Zea.
Kedua tungkai kaki jenjangnya diayunkan melangkah menuju pintu keluar, Zea menggertak giginya.
"Ya, lo benar. Perasaan gue emang belum jelas tapi, setidaknya gue nggak seperti lo. Anak pel*cur yang nemplok ke semua cowok, yang bapaknya aja nggak jelas. Lo ngerasa hina dan rendah karena itu lo terus bikin gue kesal dengan dekatin mereka berempat. Dan sekarang lo seakan ngasih nasehat ke gue, haha!"
Tawa Zea menggema, tubuh Aluna membeku dengan detak jantung yang berdebar keras. 'Anak pel*cur' kata yang begitu kasar, akan tetapi reaksi tubuh Aluna seakan menjelaskan kebenaran perkataan Zea. Jantungnya berdebar-debar keras, perasaan seakan tak nyaman bergelayut di hatinya. Aluna berbalik menghadap ke arah Zea yang masih tertawa, Zea menyudahi tawanya.
"Lo beranggapan kalo gue curang, bikin lo batal adopsi. Kalo pun bukan karena tindakan gue hari itu, lo tetap nggak bakalan diadopsi Aluna. Karena apa? Karena Nyokap kandung lo seorang pel*cur. Lo dengan percaya diri ngebohongin diri lo sendiri, kalo Nyokap lo udah mati. Tapi, lo jelas tau. Wanita itu masih hidup dan ngebuang lo di sana, karena seorang pel*cur pun malu punya anak haram. Lo harus tau itu, lo lebih rendah dibanding gue." Zea melangkah melewati Aluna yang membeku, pintu dibuka dan ditutup kasar.
Matanya panas, bulir bening terjatuh tanpa bisa dicegah. Atensi Aluna menatap lurus ke arah kaca wastafel yang memperlihatkan seluruh tubuhnya, itu bukan emosinya tapi murni emosi dari pemilih tubuh yang ia tempati.
'Gue salah, ternyata idup tokoh Aluna jauh lebih banyak plot twistnya. Entah idup kek gimana yang tubuh ini jalanin.' Aluna menyentuh sebelah sisi wajahnya, mengusap air mata yang mengalir.
"Anak nggak mampu memilih lahir dari orang tua seperti apa tapi, harus menanggung rasa malu, luka, hutang, dan kejahatan orang tua," gumam Aluna serak, kedua sisi bibirnya ditarik paksa ke atas.