Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia dekil
Ikhram diam-diam tersenyum melihat wajah cemberut Rinjani di pagi hari. Mungkin karena wanita itu dipaksa ke pasar oleh orang rumah. Katanya beberapa bahan dapur nenek Ira habis padahal orang di sawah sedang panen dan tentu tidak sedikit.
Tubuh tingginya sedikit membungkuk untuk menurunkan stan kaki agar Rinjani lebih rileks saat perjalanan kepasar.
"Jangan cemberut terus, memangnya nggak takut tua?" Mulai melajukan motor dengan pelan.
Dia melirik spion demi melihat ekspresi Rinjani. Tanpa meminta izin meraih tangan Rinjani yang berada di pundak, memidahkan pada pinggangnya. "Biar lebih nyaman."
"Sepertinya kamu menikmati pernikahan terpaksa ini."
"Apapun masalahnya harus dibawa santai agar terasa mudah dan nggak buat stres. Lagi pula nggak ada yang bisa kita ubah."
"Iya sih."
Ikhram tersenyum tipis melihat Rinjani mengangguk melalui spion. Ia sengaja memelankan laju saat akan melewati tower di depannya terdapat sumur dengan mata air hidup. Berkat sumur sedalam tiga meter itu, warga tidak pernah kekeringan.
Senyumnya semakin lebar ketika Rinjani kecil melintas di pikiran begitu saja. Rinjani yang ramah pada semua orang, cerewet dan tentu saja mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi.
"Saya punya kenangan manis dengan seorang perempuan di sumur itu. Sumur yang dulunya kering."
"Cinta pertama kamu?"
"Iya."
"Sekarang dimana?"
"Ada, dan semakin cantik."
"Ouh." Rinjani melempar atensi pada para pertani atau pun warga yang duduk di pinggir jalan.
Kadang motor mereka melewati pemukiman warga, kadang pula melewati persawahan begitulah kampung halaman ayahnya.
Beberapa warga menatap keduanya dengan ekspresi berbeda-beda. Mulut komat-kamit dan Rinjani dengan jelas mendengar apa yang mereka ucapkan, hanya saja tidak mengerti.
"Mereka membicarakan kita kan?" tebak Rinjani, mengoyangkan jarinya untuk mencolek perut Ikhram. "Sayangnya saya nggak mengerti."
"Nggak usah mengerti, saya juga nggak berniat mengajarimu bahasa warga lokal. Cukup bicara sama keluarga saja." Separuh hidup Ikhram habiskan di kampung dan dia tahu betul bagaimana mulut sebagian, apalagi untuk dia dan Rinjani yang terlibat skandal sebagai cucu seorang Hj dan anak kepala desa.
Bukankah topik hangat di pagi hari saat menunggu ikan dan penjual sayur? Atau sekedar duduk tanpa ada manfaatnya.
"Masih lama nggak? Saya pegal."
"Ingat bengkel di jalan raya nggak?"
"Hah jalan raya? Jauh banget."
"Memang sedikit jauh, sabar ya." Mengelus tangan Rinjani yang tidak berpindah tempat di perutnya.
Rasa-rasanya seperti pengantin baru sungguhan. Selalu ada hikmah di balik masalah dan Ikhram telah mendapatkan hikmah itu.
Alih-alih berjuang mendapatkan hati lalu menikah, takdir malah mengubah rencananya menjadi menikah kemudian berusaha mendapatkan hati istrinya. Bagi Ikhram ini jauh lebih mudah sebab tinggal di atap yang sama, tidur di kamar yang sama dan tentu tidak ada batasan menyentuh seperti yang dia lakukan seperti saat ini.
"Sebenarnya saya penasaran dengan satu hal."
"Apa?"
"Seingat saya, dulu ada anak kecil yang tinggal di dekat sumur tadi. Sekarang kemana ya?"
"Kenapa mencarinya?"
"Cuma nyari aja sih. Saya sering memanggilnya Iklan. Wajahnya jelek terus dekil, kulitnya hitam."
"Jadi seperti itu saya dimatamu dulu Jani? Padahal saya melihatmu bagaikan boneka berbie," batin Ikhram.
"Kamu kenal nggak?"
"Kalau pemilik rumah di dekat sumur saya tahu, tapi nggak jelek apalagi dekil. Dia tampan, senyumnya manis."
"Ouh bukan berarti, soalnya Iklan jelek."
"Itu 20 tahun lalu, pasti banyak yang berubah. Btw kalau dia muncul dihadapanmu, kamu bisa mengenalinya?"
"Bisa."
"Caranya?" Ikhram harap-barap cemas menanti jawaban Rinjani.
"Ada bekas luka di belakang terlinga, soalnya luka itu saya yang ciptakan."
"Dia cinta pertamamu?" Laju motor Ikhram semakin pelan.
"Ntahlah, tapi jika melihatnya saya ingin mengatakan sesuatu."
"Apa saya mengaku saja sekarang? Nggak-nggak, terlalu berisiko. Bagaimana jika saya membuat kesalahan?" Batin Ikhram terus bermonolog sampai mereka tiba di pasar tradisional kampung tersebut.
Ikhram memarkir motornya di seberang jalan lalu mengenggam tangan Rinjani. Anehnya wanita itu tidak menolak. Apa mungkin karena keramaian?
.
.
.
Memangnya apa sih yang terjadi di sumur sampai jadi kenangan manis Ikhram dan kenangan buruk Rinjani?😅
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,