Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: malam minggu
Pagi hari yang tenang di apartemen terusik oleh suara deru mesin SUV hitam di parkiran bawah. Satria, dengan tas ransel yang sama saat ia datang, berdiri di ambang pintu. Keputusannya sudah bulat. Meski Dimas menawarinya untuk menetap lebih lama, adik laki-lakinya itu merasa tidak enak hati terus-menerus mengganggu ruang privasi kakaknya yang baru saja membina rumah tangga.
"Mas, Mbak, aku pamit dhisik. Maturnuwun sanget sudah boleh 'ngadem' di sini," ujar Satria sambil menyalami Dimas dan Dinara dengan takzim.
"Yakin, Sat? Gak mau nunggu besok Senin saja biar Mas antar?" tanya Dimas, matanya menatap cemas pada adiknya.
Satria menggeleng pelan, ada seulas senyum pasrah yang lebih dewasa di wajahnya. "Gak usah, Mas. Makin lama aku di sini, makin aku takut pulang. Biar kuselesaikan urusan sama Ibu di Blitar sekarang. Doakan saja biar kupingku gak jebol."
Dimas menepuk bahu adiknya keras-keras, sebuah gestur persaudaraan yang kental. "Nggih pun. Hati-hati di jalan. Inget pesen Mas, kalau Ibu mulai kencang, kamu yang harus kendur. Jangan dilawan pakai urat, lawan pakai senyum."
Dinara membawakan kantong plastik berisi bekal perjalanan dan beberapa camilan yang tadi sempat ia beli. "Ini buat di kereta, Sat. Hati-hati ya, salam buat Ibu sama Bapak di Blitar."
Setelah Satria menghilang di balik pintu lift, apartemen itu mendadak terasa sunyi. Dimas menghela napas panjang, bersandar di kusen pintu sambil menatap koridor yang kosong. Dinara mendekat, menyentuh lengan suaminya lembut.
"Mas sedih?"
"Gak sedih, cuma kepikiran saja. Satria itu hatinya lembut, persis Ibu. Makanya mereka sering bentrok karena sama-sama gak mau ngalah soal perasaan," sahut Dimas. Ia menoleh ke arah Dinara, lalu senyum jahilnya perlahan kembali. "Karena rumah sudah sepi, dan hari ini malam Minggu... gimana kalau kita kencan?"
Dinara mengernyit, mencoba menahan tawa. "Kencan? Tumben banget Mas ngajak kencan formal?"
"Lho, jangan salah. Penulis itu butuh riset lapangan soal keromantisan, bukan cuma ngetik di depan layar terus. Ayo, ganti baju. Kita cari angin di taman."
Malam Minggu di taman kota terasa begitu hidup. Lampu-lampu hias yang melingkar di dahan pohon beringin raksasa berpendar kekuningan, menciptakan suasana yang hangat di tengah semilir angin malam. Keluarga kecil yang membawa anak-anak mereka berlarian, serta pasangan muda-mudi yang duduk di bangku-bangku semen, memenuhi setiap sudut area hijau itu.
Dimas dan Dinara berjalan berdampingan. Dinara mengenakan gamis simpel berwarna marun dengan hijab senada, sementara Dimas tampak santai dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku.
"Mas, ramai banget ya. Padahal ini bukan hari raya," gumam Dinara sambil memerhatikan sekeliling.
"Namanya juga kota besar, Dek. Hiburan murah meriah ya di taman begini. Orang-orang butuh lihat pohon setelah seminggu lihat tembok kantor," sahut Dimas. Ia melihat seorang penjual kacang rebus dan jagung bakar di pinggir jalan setapak. "Tunggu kene, Mas belikan amunisi dhisik."
Tak lama, Dimas kembali membawa dua bungkus kacang rebus yang masih hangat dan dua gelas minuman cokelat panas. Mereka menemukan sebuah bangku kayu yang agak menjauh dari kerumunan, tepat di bawah rindangnya pohon kenari yang aromanya khas.
Dinara menyesap cokelatnya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. "Seger ya, Mas. Rasanya tenang banget di sini."
Dimas menyandarkan punggungnya, satu tangannya merangkul pundak Dinara, menariknya agar bersandar di bahunya. "Dek, maaf ya kalau beberapa hari ini apartemen agak berisik karena ada Satria. Mas tahu kamu pasti agak canggung kalau di rumah harus terus pakai hijab atau gak bisa santai."
Dinara menoleh, menatap suaminya dengan tatapan tulus. "Lho, kok Mas ngomong gitu? Satria itu adik Mas, berarti adik Dinara juga. Dinara malah senang bisa bantu sedikit. Lagian, melihat Mas sama Satria ngobrol di balkon semalam, Dinara jadi makin sadar kalau Mas itu kakak yang hebat."
Dimas tertawa kecil, ia mencium pelipis Dinara. "Hebat apanya? Mas cuma gak mau dia ngerasa sendirian. Dulu pas Mas awal nikah sama kamu, Mas juga ngerasa terjepit, tapi untungnya kamu itu orangnya asyik, gak kaku."
"Asyik gimana? Dulu Mas bilang Dinara galak kayak dosen killer," ledek Dinara.
"Itu kan dulu, sebelum Mas tahu kalau di balik wajah galak itu ada hati yang gampang luluh cuma gara-gara keripik kentang," balas Dimas cepat, membuat Dinara mencubit pinggangnya pelan.
Suasana hening sejenak. Mereka menikmati kacang rebus dalam diam, mendengarkan sayup-sayup suara pengamen jalanan yang menyanyikan lagu lawas di kejauhan. Dinara merasa malam ini sangat spesial. Tidak ada pembahasan soal skripsi, tidak ada revisi novel, dan tidak ada gangguan telepon dari Blitar. Hanya ada mereka berdua di bawah langit malam.
"Mas," panggil Dinara pelan.
"Dalem, Sayang?"
"Nanti kalau kita sudah punya anak, Mas mau jadi ayah yang kayak gimana?" tanya Dinara, matanya menatap lurus ke depan, ke arah sekumpulan anak kecil yang sedang mengejar gelembung sabun.
Dimas terdiam, pertanyaan itu cukup mendalam. Ia mengelus lengan Dinara lembut. "Mas mau jadi ayah yang bisa jadi teman buat mereka. Mas gak mau anak kita nanti takut pulang ke rumah gara-gara ekspektasi orang tuanya. Mas mau mereka tahu, kalau dunia luar jahat, rumah ini—tempat ada Mas dan kamu—bakal selalu jadi tempat paling aman buat mereka pulang."
Dinara terenyuh. Jawaban Dimas selalu sederhana namun menghujam tepat ke sasaran. "Dinara juga mau gitu, Mas. Kita belajar dari Satria ya, biar nggak terlalu menekan anak sendiri nanti."
"Nggih, Dek. Tapi ya jangan terlalu dimanja, nanti kalau gedenya alay malah repot Mas yang nulis skenarionya," canda Dimas kembali muncul, merusak suasana haru yang mulai terbangun.
"Mas ini... lagi serius juga!" Dinara tertawa, menyandarkan kepalanya lebih erat di bahu Dimas.
Malam semakin larut, namun taman itu belum menunjukkan tanda-tanda akan sepi. Sebelum beranjak pulang, Dimas mengajak Dinara berdiri sebentar. Ia menangkup wajah istrinya, menatap mata Dinara dengan intensitas yang berbeda dari biasanya.
"Makasih ya, Dek. Sudah mau nemani Mas malam-mingguan sederhana begini. Gak pakai restoran mahal, cuma pakai kacang rebus."
"Kacang rebusnya enak kok, Mas. Apalagi makannya sama Mas," jawab Dinara jujur.
Dimas tersenyum lebar. "Wes, ayo balik. Sebelum gerbang apartemen dikunci satpam karena kita kelamaan pacaran."
Mereka berjalan kembali menuju SUV hitam mereka dengan tangan yang saling bertautan erat. Di tengah riuhnya malam Minggu kota, mereka membawa pulang satu lagi memori manis. Tentang sebuah percakapan di bangku taman, tentang masa depan yang mulai mereka susun perlahan, dan tentang komitmen untuk selalu menjadi tempat pulang bagi satu sama lain.
Saat mobil mulai membelah jalanan pulang, Dimas memutar lagu murottal dengan volume rendah, memenuhi kabin dengan kedamaian. Tak ada lagi keraguan. Di kota ini, mereka telah benar-benar membangun rumah yang sesungguhnya—bukan hanya sekadar bangunan beton, melainkan sebuah ikatan yang diperkuat dengan doa-doa di sepertiga malam dan tawa di setiap malam Minggu.