Dia dilahirkan bukan dari darah bangsawan, namun takdir memilihnya sebagai pewaris tahta. Elisa, sang putri mahkota justru menolak singgasananya bukan karena takut, tapi karena keyakinan bahwa saudaranya lebih pantas menduduki posisi itu. Namun niat tulusnya justru memicu perpecahan, meninggalkan luka dan kepergian sang kakak dalam diam.
Dalam pencarian untuk memulihkan kehormatan dan cinta keluarganya, Elisa terseret dalam pusaran pengkhianatan, ambisi, dan cinta yang menghancurkannya. Ditinggalkan oleh cinta pertamanya, dikhianati oleh orang-orang yang ia percaya, dan dipertemukan dengan cinta baru yang penuh tantangan. Elisa belajar bahwa "Mahkota" tak selalu berupa logam mulia, kadang mahkota sejati tersembunyi dalam kebenaran, keberanian, dan ketulusan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. RAMUAN GAGAL
(Ini hanya ilustrasi belaka)
Hembusan angin masuk membelai wajah Elisa melalui celah jendela yang terbuka. Tirai putih tipis bergoyang pelan, memantulkan cahaya pagi yang menyusup lembut ke dalam kamar. Sinar matahari itu seolah ingin membawa ketenangan, menyelimuti tubuhnya yang terbaring di atas ranjang besar berlapis kain sutra pucat.
Namun ketenangan itu hanya singgah di ruangan, bukan di pikirannya.
Dua mimpi kembali terngiang, berulang seperti gema di lorong sunyi ingatan. Mimpi yang sama tentang bayangan istana runtuh, tentang suara yang memanggil namanya, tentang mahkota yang terasa terlalu berat untuk kepalanya.
Matanya terpejam, tetapi ia tidak tertidur. Ia hanya memberi jeda pada tubuhnya yang lelah, lelah bukan karena perjalanan, melainkan oleh pikirannya sendiri. Kedua tangannya terentang di atas kasur, napasnya naik turun perlahan.
“Kenapa mimpi itu terus kembali…” gumamnya pelan.
Dalam hatinya, ia tahu hanya ada satu nama yang mungkin mampu membantunya memahami semua ini. 'Liliput'.
“Argh…” Elisa menggerutu kesal.
“Tidak bisa… aku harus cari bantuan. Iya, benar… Liliput. Aku harus menemuinya.”
Elisa membuka mata. Ia bangkit dengan gerakan tergesa, lalu melangkah menuju salah satu dinding kamarnya. Di sana tergantung sebuah lukisan besar bergambar pemandangan Istana Valestra. Sebuah istana dimana menara menjulang, taman luas, dan langit biru yang tampak damai.
Tak ada seorang pun yang tahu bahwa di balik lukisan itu tersembunyi sebuah pintu rahasia.
Elisa menekan sudut bingkai lukisan. Terdengar bunyi klik pelan, lalu dinding itu bergetar halus. Perlahan, lapisan batu bergeser, berputar seperti pintu yang bergerak diam-diam. Celah sempit terbuka, memperlihatkan lorong gelap yang hanya diterangi cahaya kecil dari lampu kristal di dinding.
Lorong itu dingin, sunyi, dan hanya cukup untuk satu orang berjalan.
Ia melangkah masuk, dan begitu tubuhnya menghilang di balik lorong, dinding kembali berputar menutup, lukisan kembali berada di tempat semula seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Di kediaman Liliput, suasana sangat berbeda.
Ruangan itu dipenuhi rak kayu tua yang menjulang sampai langit-langit. Di atasnya tersusun botol kaca berisi cairan berwarna aneh seperti hijau bercahaya, ungu pekat, kuning keemasan, dan hitam seperti malam. Aroma rempah, akar kering, dan asap ramuan memenuhi udara, menciptakan suasana lembap dan hangat.
Di tengah ruangan, sebuah kuali besar bertengger di atas api kecil berwarna biru. Uap mengepul perlahan, berputar seperti tarian roh-roh kecil di udara.
Liliput berdiri di depan meja batu, mengenakan jubah lusuh penuh noda ramuan. Keningnya basah oleh keringat. Tangannya gemetar halus saat menuangkan bubuk rempah ke dalam mangkuk perunggu.
“Sedikit lagi… jangan sampai salah takaran,” gumamnya serius.
Ia mengambil daun kering berbentuk bintang, menghancurkannya dengan ujung sendok perak, lalu menaburkannya perlahan ke dalam kuali. Warna cairan berubah dari hijau tua menjadi merah keunguan.
Asap semakin tebal. Saat ia hendak menuangkan ramuan terakhir sebuah cairan bening dalam botol kecil, suara ketukan keras terdengar.
Tok! Tok! Tok! Tok!
Ketukan itu cepat dan tidak sabar. Liliput menghela napas panjang tanpa menoleh.
“Kebiasaan… iya masuklah. Aku sedang sibuk!”
Pintu kayu terbuka keras. Elisa masuk dengan napas tersengal-sengal, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat oleh kecemasan.
“Put! Aku butuh bantuanmu. Kumohon! Aku sangat bingung, aku..”
“Tunggu sebentar,” potong Liliput tanpa menoleh. “Aku sedang membuat ramuan. Sedikit lagi.”
Elisa menggigit bibir. Ia mendekat, lalu tanpa berpikir panjang menarik kerah jubah Liliput dari belakang.
“Ayolah bantu aku!”
Tarikan itu membuat Liliput terjungkal ke belakang. Botol kecil hampir jatuh dari tangannya. Ia berbalik dengan wajah terkejut lalu menatap Elisa lama.
“Ya ampun… kau Elisa bukan?” teriaknya. “Kenapa kau seram sekali? Rambutmu seperti penyihir!”
Plak!
Elisa memukul kepala Liliput.
“Sudahlah! Aku buru-buru. Ini sangat penting!”
Liliput mendengus dan bangkit berdiri. Namun saat itu ia baru menyadari kuali di belakangnya.
Ramuan di dalamnya mendidih hebat.
Warna cairan berubah menjadi merah menyala, menggelegak seperti lava kecil. Asap tebal memenuhi ruangan.
“Apa… apa yang kau lakukan?!” serunya panik.
Ia berlari ke arah kuali, mencoba memadamkan api dan mengaduk ramuan. Cairan itu justru bereaksi lebih keras, memercik ke lantai batu.
“Kau selalu merusaknya!” teriak Liliput. “Aku harus memberimu pelajaran!”
Ia mengejar Elisa yang berlari menghindar di antara meja dan rak botol. Botol-botol bergetar, hampir jatuh.
“Maafkan aku, Liliput! Aku tak bermaksud merusaknya! Kumohon berhenti mengejar ku, aku sudah lelah!”
Namun Liliput tak berhenti. Tanpa sengaja, ia mendorong Elisa ke arah kuali.
Elisa pun terpeleset.Tubuhnya jatuh tepat di samping ramuan merah yang mendidih.
BOOOM!
Ledakan kecil terjadi. Asap merah menyala memenuhi seluruh ruangan. Rak-rak terguncang, botol-botol berdenting keras. Keduanya terlempar ke lantai dan terbatuk-batuk.
Udara dipenuhi bau hangus dan rempah terbakar.
Elisa terbatuk hebat, matanya perih.
“Apa… apa yang terjadi?”
Liliput bangkit perlahan, wajahnya pucat.
“Ramuan itu… gagal.”
Asap perlahan menipis, menyisakan ruangan yang berantakan dan sunyi.
Dalam kekacauan itu, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa kejadian ini bukan sekadar kecelakaan biasa.
Kadang, kekeliruan kecil adalah pintu bagi takdir yang besar. Dan dari ramuan yang gagal, sebuah peristiwa tak terduga akan lahir.
Liliput terdiam membeku di tempatnya.
Asap merah perlahan menghilang, menyisakan bau hangus yang menusuk hidung. Ruangan yang semula penuh warna kini tampak kacau, botol-botol pecah, meja miring, dan kuali masih mengeluarkan uap tipis seperti napas makhluk hidup yang terluka.
“El… Elisa?” suaranya bergetar.
Ia melangkah perlahan mendekat, seakan takut pada apa yang akan ia lihat. Jantungnya berdetak tidak karuan, matanya membelalak saat melihat kondisi Elisa yang terduduk di lantai, dikelilingi sisa percikan ramuan yang masih berkilau aneh di cahaya lampu kristal.
“Tidak… tidak mungkin…” gumamnya.
Tangannya gemetar saat hendak menyentuh bahu Elisa, namun terhenti di udara. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan luka tapi udara di sekitar Elisa terasa asing.
Liliput mundur satu langkah.
“Apa yang telah kulakukan…” bisiknya lirih.
"Ada apa liliput? Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja."
Ia menatap Elisa dengan wajah pucat, seolah sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di dunia ini. Napasnya tercekat, pikirannya berputar cepat mencoba memahami ramuan apa yang barusan tercampur.
“Ini bukan ramuan sembarangan…” katanya pelan. “Maafkan aku Elisa."
Ia menelan ludah dengan susah payah.
Dan Liliput tahu, sejak ledakan itu terjadi, Elisa tidak akan pernah sama lagi.
"Kenapa seperti ada yang aneh pada diriku."
Elisa menepuk-nepuk sisa asap dan debu di gaunnya. Sementara Liliput masih terdiam menatapnya.
Bersambung...
Apa yang terjadi pada Elisa saat terkena ramuan itu?
Apa kalian bisa menebaknya? Elisa berubah jadi apa ya sampai Liliput terkejut?
Kawal terus kelanjutannya ya jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe. Terimakasih 😊🥰.