Menceritakan tentang perjalanan empat sekawan para pria yang kaya raya, dan Cindy sari yang bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah karaoke
Semua kisah berawal dari Cindy yang akhirnya di nikahi oleh Aditya Pratama salah satu anggota empat sekawan CEO yang kaya raya dan baru pertama kalinya jatuh cinta
Tetapi karena perbedaan status keluarga Adit tidak menyetujui pernikahan tersebut, mereka pun menggunakan cara kotor untuk memisahkan Adit dan Cindy. Rencana mereka pun berhasil, Adit meninggalkan Cindy yang ternyata saat itu sedang berbadan dua
Cindy meninggal dunia saat melahirkan anaknya yang bernama Zahra Pratama
Bagaimana kah nasib buah hati mereka berdua ?
Apakah Zahra bisa membantu Adit bangkit dari keterpurukannya saat mengetahui semua kebenarannya ?
Lanjut di baca ya ada seribu kesedihan di dalam nya..
baru belajar maaf kalo masih banyak typo..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triana mutia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanda Cincin Yang Hilang
Acara makan malam untuk memperkenalkan Cindy kepada keluarganya berjalan lancar menurut Adit, dia pun selalu tersenyum bahagia selama berada di rumah mamanya karena selangkah lagi dia bisa memiliki Cindy seutuhnya pikir Adit
Sedangkan mama Linda atau mamanya Adit mencoba menutupi semua perasaan tidak sukanya terhadap Cindy, apalagi setelah dia mendengar kalau mereka tidak akan merayakan resepsi pernikahan akan ada banyak kesempatan pikirnya
Setelah makan malam selesai mereka pun kembali ke ruang tamu berbincang-bincang ringan di ruang tamu, Adit tak henti-hentinya memandang Cindy gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya
Karena perasaannya yang sedang bahagia Adit sampai lupa waktu, saat Adit melihat jam tangannya ternyata sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam, Adit pun berpamitan dan mengajak Cindy untuk kembali
Adit dan Cindy kini sudah berada di dalam mobil untuk meninggalkan kediaman mama Linda dan kembali ke apartemen Mita
" Besok kita cari baju ya " ucap Adit saat mobil sudah melaju
" Buat apa ? " menoleh ke arah Adit
" Buat pernikahan kita dong sayang kan kamu udah setuju syarat yang tadi, kalo kita akan cepat menikah, aku mau kita menikah minggu-minggu ini aja " jawab Adit dengan santai
" Apa ga terlalu cepat Dit ? " terperangah mendengar ucapan Adit
Cindy sedikit terkejut mendengar ucapan Adit, walaupun dia setuju untuk menikah secepatnya tetapi bagaimanapun juga sebuah pernikahan bukan suatu permainan
" Ga lah malahan sebenarnya aku pengennya besok kita udah nikah jadi aku udah tenang " Adit tersenyum bahagia sedangkan Cindy mengerutkan keningnya
" Maksud kamu tenang gimana ? " tanya Cindy dengan polosnya
" Ya aku udah bisa tenang kalo kamu udah sah jadi milik aku sayang " Adit menoleh ke arah Cindy
Cindy pun hanya tertunduk dan tersipu malu tidak bisa menjawab apapun, tanpa terasa mereka berdua sudah sampai di parkiran apartemen Mita
" Boleh aku minta sesuatu ke kamu sayang ? " Adit menatap wajah Cindy dengan intens dan di balas anggukkan kepala oleh Cindy
" Kamu ingat kejadian aku sama Rangga ? "
" Iya " Cindy menganggukkan kepalanya
" Gimana bisa lupa abis kamu udah kayak orang g*la ngamuknya, ni jidat aku juga jadi korban "
" Yang Rangga bilang itu benar sayang aku ini memang pencemburu berat aku ga pernah bisa berbagi sama orang lain, jadi tolong mulai sekarang jangan pernah dekat dengan lelaki manapun, tolong jaga pandangan dan hati kamu cuma untuk aku "
" Tolong jangan buat aku jadi kayak tadi, karena aku memang ga pernah bisa kendalikan emosi aku walaupun nantinya aku akan menyesal " ucap Adit sambil tertunduk
" Tolong jangan pernah kecewakan aku " lirih
Cindy pun tersenyum mendengar semua ucapan Adit, lalu Cindy meletakkan kedua tangannya di wajah Adit agar Adit mau menatap ke arahnya
" Sayang dengar kalo kita mau menjalin suatu hubungan harus di mulai dari yang namanya kepercayaan " Cindy tersenyum dengan sangat manis
" Aku tau sayang tapi aku memang ga pernah bisa kontrol emosi aku, aku takut akhirnya nanti aku nyakitin kamu " lirih
" Terima kasih wahai Aditya Pratama, aku benar-benar bahagia "
" Aku janji aku ga akan pernah khianati kamu, aku akan jaga hati aku cuma untuk kamu selamanya " dengan yakin
Lalu Cindy seperti kehilangan akal sehatnya dia memajukan wajahnya mencium bibir Adit dengan lembut, Adit yang mendapat ciuman dari Cindy pun menarik tengkuk Cindy agar ciuman mereka semakin dalam, mereka menghentikan ciuman itu saat merasa napas mereka sudah hampir habis
" Akh g*la aku kenapa nyosor duluan ya ? aduh malu banget "
Kini wajah Cindy memerah bak sebuah tomat menahan perasaan malu, Adit yang melihat Cindy menjadi malu pun jadi tersenyum lalu mencium kening Cindy dengan lembut
" Aku janji akan membuat kamu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, asalkan kamu ga akan pernah khianati aku " Cindy menjawab dengan anggukan kepalanya
" makasih ya sayang "
" Ya udah kamu masuk dulu istirahat ya sayang. Nanti aku telepon kalo aku udah sampe apartemen " Cindy pun mengangguk
Lalu Cindy mulai turun dari mobil Adit dan kembali ke dalam apartemen Mita, hanya ada dia di dalam apartemen itu karena Mita sudah memutuskan untuk mulai kembali bekerja
Sesampainya di dalam apartemen Mita Cindy memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri, setelah itu dia merebahkan tubuhnya sambil melihat-lihat ponselnya.
Degh... Serasa jantung Cindy berdetak tak menentu karena dia baru sadar cincin yang di berikan Adit tidak ada di jari manisnya, dia pun bergegas beranjak dari tempat tidur berusaha mencari cincin itu kemana-mana.
Sedangkan di tempat lain Adit yang baru saja tiba di apartemennya menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dan memutuskan untuk langsung menghubungi Cindy
" Halo " sapa Cindy tangannya masih sibuk mencari
" Lagi apa sayang ? "
" Ga ada sayang " Cindy berbohong sambil tangannya terus mencari
" Kamu lagi apa si kok kayak lagi sibuk gitu ? " nada bicara Adit sudah menunjukkan kalo dia tidak suka
" Sayang maaf.. " lirih dan terdengar dengan jelas oleh Adit bahwa Cindy seperti mau menangis
Mendengar suara Cindy yang sudah mulai bergetar membuat Adit menjadi khawatir, dengan sigap rasa lelah Adit lupakan semuanya. Dan dia pun langsung berdiri
" Kamu kenapa ? tunggu di situ jangan kemana-mana, aku balik lagi ke situ "
" Cincin yang kamu kasih hilang sayang " Cindy pun sudah mulai menangis
Adit yang sudah dalam posisi berdiri pun kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, seperti sebuah beban langsung menghilang dari dalam hatinya
" Ya ampun sayang kamu bikin aku khawatir tau ga ? "
Cindy hanya terdiam yang terdengar hanya suara tangisannya dari seberang sana
" Cincinnya kan memang agak kebesaran mungkin jatoh sayang, ya udah coba kamu cari pelan-pelan di situ nanti aku coba cari di mobil, nanti aku minta orang cari di rumah mama ya mungkin aja jatoh di sana " Adit berusaha membuat Cindy berhenti menangis
" Maaf " Cindy masih setia dengan tangisnya
" Sayang udah dong jangan nangis lagi cincin itu ga sebanding dengan air mata kamu, kalo memang ga ketemu ya udah nanti kita beli yang baru ya. Yang ukurannya pas dengan jari kamu " bujuk Adit
" Udah jangan nangis lagi nanti masa kita mau cari baju pengantin mata kamu bengkak " Adit terus berusaha membuat Cindy berhenti menangis
" Iya sayang "
" Akh.. Senangnya sekarang kamu selalu panggil aku dengan kata sayang..!! " Adit sedikit berteriak kegirangan, sedangkan Cindy di seberang sana tersipu mendengar ucapan Adit
" Ya udah kamu tidur ya besok jam makan siang aku jemput, selamat istirahat calon istri aku"
" Iya sayang selamat istirahat " mereka pun mengakhiri sambungan teleponnya
Adit berpikir itu hanya sebuah cincin yang bisa dia berikan ke Cindy bahkan sebanyak yang Cindy inginkan tapi berbeda dengan Cindy
" Bukan masalah beli lagi Dit tapi ga tau kenapa perasaan aku jadi ga enak saat cincin itu hilang, seperti memberikan suatu pertanda "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 😊
Maaf masih banyak typo masih belajar...
ciyeee yng bentar brp bln lagi nyusul jd papa