NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kehancuran Istana

Di tengah keputusasaan yang melanda, saat perisai segel istana di ambang kehancuran dan kematian terasa begitu dekat, sebuah keajaiban tak terduga terjadi.

Sebuah cahaya keemasan yang agung tiba-tiba menembus awan hitam pekat di atas langit Tianlong. Cahaya itu tidak sekadar terang, ia membelah kegelapan dengan otoritas surgawi, jatuh menimpa reruntuhan istana yang kini hanya tinggal puing.

Sinar itu menyinari tiga sosok perkasa—Kaisar Tianfei, Jenderal Agung, dan Kasim Utama—yang sesaat lalu nyaris menjadi abu. Di bawah cahaya itu, mereka terlihat compang-camping, wajah berlumuran darah, rambut berantakan, tak ubahnya gelandangan di tengah reruntuhan.

Bersamaan dengan cahaya itu, sebuah suara perempuan terdengar. Jernih. Tegas. Menggema jauh melintasi kehancuran, mengguncang hati setiap orang yang mendengar.

“Hentikan!”

Satu kata sederhana, tapi otoritas di dalamnya memaku segala sesuatu. Angin berhenti berembus. Debu yang melayang seakan membeku di udara. Dan—yang paling mengejutkan—amukan serangan tak kasat mata dari sketsa kultivator itu berhenti seketika, seolah tunduk pada suara itu.

Kaisar Tianfei, yang tadi meraung keputusasaan, menoleh dengan mata terbelalak.

“Itu… itu tidak mungkin…” gumamnya.

Jenderal Agung tertegun, darah masih menetes di sudut bibirnya.

“Suara itu… aku mengenalnya.”

Kasim Utama, yang wajahnya pucat pasi, berlutut gemetar.

“Janda… Ratu… Leluhur!” serunya dengan suara serak, penuh rasa hormat sekaligus lega.

Ketiganya serempak menyebut nama itu—dan seluruh tubuh mereka bergetar. Sosok legendaris yang bahkan Kaisar sendiri harus tunduk, penjaga terakhir garis darah Tianlong.

Suara itu menggema sekali lagi, lebih lembut namun tetap berisi kekuatan tak terbantahkan.

“Cukup.”

Dan ajaibnya, lukisan sketsa yang melayang di udara itu, yang sebelumnya menyerang tanpa ampun, benar-benar berhenti. Sosok kultivator di dalamnya tampak berbalik, menoleh ke arah sumber suara. Tatapan matanya yang tajam kini semakin dalam, menusuk, seolah benar-benar hidup.

Sketsa itu tidak lagi melancarkan serangan membabi buta. Sebaliknya, ia melayang perlahan, anggun, setiap gerakannya seperti tarian di tengah kehancuran. Udara di sekitarnya beriak halus, padahal tidak ada angin. Mata di dalam lukisan itu terus menatap ke arah datangnya suara Janda Ratu Leluhur.

Kemudian, tiba-tiba, pedang dalam lukisan itu bergerak. Bukan ke bawah, bukan ke arah manusia, melainkan… ke langit.

Satu tusukan sederhana—ke arah kehampaan.

WUUUNG!

Tusukan itu seperti memanggil sesuatu. Langit bergetar. Awan hitam berputar, disibak cahaya emas yang semakin terang. Dari dalam pusaran, sebuah wujud raksasa muncul—seekor naga emas purba, sisiknya berkilauan bagai ribuan matahari kecil. Raungannya menggelegar, membuat tanah dan langit sama-sama bergetar.

Naga itu melesat turun, menangkis tusukan pedang dari sketsa dengan kekuatan yang hanya bisa disebut ilahi.

BOOOOOM!

Tabrakan pedang tak kasat mata dengan raungan naga menciptakan ledakan energi yang menyapu seluruh kompleks istana. Cahaya dan suara menyatu, membentuk badai petir yang tak terkendali. Sejuta kilat menyambar, menghantam bangunan-bangunan yang masih berdiri, meratakan menara-menara terakhir yang sebelumnya lolos dari ledakan.

Kaisar Tianfei menjerit marah, wajahnya penuh darah.

“Tidak! Istana… istanaku!”

Jenderal Agung menunduk, suaranya berat.

“Ini… di luar kekuatan manusia…”

Kasim Utama menutup wajahnya dengan lengan, menangis lirih.

“Kekaisaran… benar-benar berakhir…”

Hingga akhirnya, badai reda. Petir terakhir menghantam menara perpustakaan yang masih tegak, memecahkannya menjadi debu yang berhamburan ke langit malam. Tidak ada lagi bangunan utuh. Seluruh kompleks istana berubah menjadi lautan puing.

Langit perlahan kembali tenang. Cahaya keemasan yang agung tadi surut, menyusup kembali ke awan, meninggalkan kegelapan malam yang pekat. Seolah tidak pernah ada cahaya suci di sana, hanya meninggalkan kesunyian yang menekan.

Dan di tengah keheningan itu, sketsa yang melayang akhirnya kehilangan aura. Perlahan ia jatuh ke tanah, tak lebih dari selembar perkamen lusuh. Saat menyentuh puing, ia menggulung dengan sendirinya, menjadi gulungan biasa—diam, seakan tidur panjang setelah mengamuk.

Ketiga sosok penting kekaisaran itu hanya berdiri terpaku, terhuyung.

Mereka saling pandang.

Mereka melihat bayangan mereka sendiri di mata lawan—bukan sosok agung yang dulu disembah jutaan rakyat, melainkan pria-pria yang compang-camping, berdebu, berdarah, kehilangan segala wibawa.

Tidak ada kata yang keluar. Hanya napas berat, dada naik-turun penuh kelelahan dan ketakutan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kekaisaran Tianlong, pilar-pilar terkuatnya hanya bisa terdiam, menghadapi kenyataan bahwa dunia yang mereka kenal telah runtuh.

Dan di antara puing-puing yang masih berasap, gulungan perkamen itu berbaring tenang—menjadi rahasia baru yang entah akan membawa kebangkitan, atau kehancuran yang lebih besar lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!