"Kalau dia sudah tidak ingin hidup maka biarkan saja dia mati!"
Samar-samar aku mendengar suara bariton dari sampingku. "Brengsek, dokter macam apa yang menginginkan pasien nya mati" gumamku sambil meringis menahan sakit.
Cerita ini berkisah tentang seorang gadis muda berusia 19 tahun yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria yang sudah cukup berumur. Dia, Kirana Nindya Prasetyo memilih bunuh diri daripada menikah dengan pria yang tak dikenalnya.
Lalu, sosok seperti apakah yang akan menjadi suaminya kelak, sehingga dia begitu keras kepala menolak perjodohan ini?
Akankah pria misterius itu memaksa untuk menikahi nya atau malah bekerjasama dengan nya untuk membatalkan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika Surya Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27 Menghabiskan malam berdua
Sore itu setelah semua persiapan selesai merekapun memutuskan untuk segera kembali ke mansion keluarga Segara. Setelah mereka pergi Elang berlari menuju lantai dua, ia masuk ke kamar Meysa yang masih tertidur pulas dalam pelukan Kiran. Nuri tidak membawa serta Meysa karena masih tidur, ia meminta Elang untuk mengantarnya malam nanti. Sambil berjingkat Elang mendekati ranjang. Ia duduk disisi Kiran, lalu pelan-pelan merebahkan tubuhnya dibelakang Kiran dan melingkarkan tangannya di perut Kiran yang ramping. Hingga ia juga ikut terlelap.
Setengah jam kemudian Kiran terbangun karena merasa sesuatu mencengkeram bagian dadanya. Kiran menyentuh dadanya dan merasakan tangan kekar yang berotot, ia terkejut dan menoleh ke belakang. Lalu...
Plakkk...
Kiran menampar pipi Elang yang tengah tertidur. Elang membuka matanya dan mengusap pipinya.
"Kau brengsek! Beraninya kau berbuat c*b*l!"
Elang cengengesan tanpa merasa bersalah. Ia malah mengetatkan pelukannya di tubuh Kiran.
"B*j*ngan! Lepaskan aku! Jangan macam-macam!"
"Sssttttt tenanglah sayang, kalau kau tak ingin aku macam-macam maka diamlah." Elang kembali meletakkan tangannya di dada Kiran.
Tiba-tiba Meysa terbangun, ia melihat Elang yang masih memeluk dan memegang dada Kiran.
"Paman sedang apa?"
"Ah gadisku sudah bangun?"
"Apa Paman membuat kakakku kesakitan? Wajah kakak terlihat merah." ujar Meysa polos.
Kiran langsung mendorong tubuh Elang agar menjauh darinya. Elangpun terkekeh.
"Meysa terbangun karena suara ribut ya?" Kiran mencoba mengalihkan pembicaraan.
Meysa menggeleng. Ia masih mengamati ekspresi aneh dari dua orang yang ada didepannya. Sesaat kemudian...
"Meysa lapar kak, Meysa mau makan."
Elang langsung bangkit dan menggendong Meysa turun ke bawah. Kiran pun mengikuti dibelakang.
"Sayangku mau makan apa?"
"Meysa mau makan macaroni sama omelette", jawabnya antusias.
"Macaroni... omelette... Baiklah sekarang kita ke restoran."
"Meysa gak mau makan di restoran. Mami bilang makanan di sana gak sehat."
"Baiklah, ayo kita masak sendiri."
Elang membawa Meysa ke dapur. Mereka membuka kulkas dan setiap lemari disana tapi tak menemukan bahan untuk membuat macaroni dan omelette. Yang tersedia hanya daging ayam dan beberapa buah wortel dan brokoli. Kiran pun mengeluarkan bahan-bahan itu. Ia meminta Elang dan Meysa untuk keluar dari dapur.
Kiran mulai sibuk memasak. Ia mulai merebus ayam dan memotong sayuran. Tak lama kemudian hidangan selesai dan segera disajikan Kiran dimeja makan. Ia pun memanggil Elang dan Meysa yang sedang menonton tivi.
Kenapa aku merasa sebuah kehangatan keluarga. Aku seperti hidup bersama suami dan anakku. Astaga Kiran apa yang kau pikirkan. Ini hanya pura-pura.
Kiran memasak sup ayam dengan bahan seadanya. Ia menuangkan semangkuk sup untuk Elang dan Meysa. Meysa mencicipi kuah sup buatan Kiran.
"Wah sup nya lezat sekali. Lebih lezat dari masakan Mami. Kakak memang hebat."
Elangpun meminum kuah sup nya, dan langsung menghabiskan nya.
Meysa benar, sup nya enak sekali. Gadis bodoh ini ternyata pintar memasak juga.
"Kakak Meysa mau kuahnya aja, Meysa gak mau sayurnya."
"Sayang kamu harus makan sayurnya, supaya tumbuh sehat."
"Meysa gak suka sayur! Paman juga gak suka makan sayur!"
Kiran melotot ke arah Elang yang salah tingkah.
"Siapa bilang pamanmu tidak suka makan sayur? Ini lihat pamanmu suka sekali makan sayur."
Kiran menyuapkan wortel dan brokoli ke mulut Elang. Elang menggeleng pelan takut terlihat Meysa, sementara Meysa masih memperhatikan nya.
"Kau seorang dokter, selalu menyarankan orang lain untuk makan sayur, tapi kau sendiri tak suka memakannya dokter?"
"Aku...a..ku..."
Kiran memasukkan sepotong brokoli ke mulut Elang dan memaksa Elang untuk mengunyah dan menelan nya. Elangpun menurut pasrah.
"Kakak hebat! Kakak bisa buat paman makan sayur! Meysa juga mau makan" Meysa melonjak senang.
"Cepatlah habiskan makanmu gadisku, setelah itu mandi. Paman akan membawamu jalan-jalan ke taman hiburan."
"Wah benarkah Paman? Apakah kakak juga ikut?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Tentu saja sayang, kau gadisku dan dia adalah istriku!" jawabnya sambil mengerling nakal kepada Kiran.
*****
Malam ini Meysa terlihat sangat senang dalam gendongan Elang. Usianya baru lima tahun, tapi dia sangat pintar. Meysa meminta turun dari gendongan, ia ingin berjalan bergandengan bersama paman dan bibinya. Ia lalu meminta untuk naik komedi putar, mobil-mobilan, dan bianglala.
Elang mengabadikan momen kebersamaan mereka pada sebuah foto dan video lalu mengirimkan nya kepada Nuri. Nuri tersenyum senang dan menelponnya.
"Halo Mbak?"
"Kalian di taman hiburan?"
"Iya Mbak, ada apa?"
"Kenapa kau tak mengantar Meysa kemari? Seharusnya kau lebih banyak menghabiskan waktu berdua iblis kecil! Bukankah kau akan segera memberikanku keponakan?"
"Mbak aku hanya bercanda." wajah Elang tersipu.
"Aku serius bocah brengsek! Aku akan menagih keponakan untukku! Kalian bersenang-senanglah, urusan ini biar kami yang selesaikan, dan segera antarkan Meysa kemari, Papa Mama merindukan dia!"
"Baiklah aku mengerti." Elang menutup telepon nya.
Ia pun menghampiri Kiran lalu mengambil Meysa dari gendongannya.
"Dia terlalu berat untukmu, jangan memaksakan diri", ujar Elang dan meraih tangan Kiran untuk digandeng.
Kiran tersipu malu. Mereka berjalan bergandengan dengan Meysa yang tertidur dalam gendongan Elang. Sungguh sebuah pemandangan dari keluarga yang harmonis.
"Aku akan membawa Meysa ke rumah orang tuaku, mereka ingin bertemu cucunya. Sebaiknya nanti kau tetap menunggu di mobil, aku takkan lama." ucap Elang hati-hati, ia takut membuat Kiran tersinggung.
Kiran mengangguk dan tersenyum, membuat hati Elang terasa lega.
*****
Sesampainya di mansion, Elang langsung menggendong Meysa masuk ke rumah utama keluarga Segara. Tanpa basa basi ia langsung menuju kamar tidur Nuri dan meletakkan Meysa yang tertidur pulas karena lelah.
"Dimana Kiran?" tanya Nuri pelan.
"Dia menunggu di mobil. Aku harus segera kembali Mbak."
"Kau tak sabar menghabiskan malam dengan istrimu?" ejek Nuri.
Elang tertawa dan melesat pergi tanpa sempat bertemu dan menyapa Papa Mama nya. Ia buru-buru kembali ke mobil, lalu membawa Kiran pulang sebelum orangtuanya menyadari kedatangan nya.
Kiran masih terkagum-kagum memandangi rumah megah yang berdiri dihadapannya.
Orang kaya benar-benar boros, bangun rumah begini besar dan mewah, masih ada juga villa yang tak kalah mewahnya.
"Kau masih ingin disini gadis bodoh?" goda Elang saat dilihatnya Kiran masih memandangi rumah utama milik keluarganya.
"Ah, aku mau pulang."
"Kau sudah tak sabar sayangku?"
"Apa maksudmu dokter"
Cuppp....
Sebuah ciuman mendarat cepat dibibir Kiran, membuatnya tertunduk malu.
Sibrengsek ini, dia masih mengingat nya. Dia langsung menciumku saat aku memanggilnya dokter.
"Aku suamimu sayang, ingatlah itu selalu. Bagaimana kau bekerjasama denganku jika kau seperti itu Nyonya Segara?"
"Maaf suamiku, aku takkan ceroboh lagi."
"Baiklah sekarang kita harus kembali ke villa, bersiaplah untuk bulan madu kita." goda Elang dan tersenyum nakal.
"A...apa?! Bukankah itu tidak ada dalam perjanjian dok... eh sayang?"
"Justru karena tidak ada dalam perjanjian makanya kita bisa melakukan nya sayang."
"Tapi dalam perjanjian kita tidak akan tidur bersama dalam satu ranjang!"
"Kalau begitu kita lakukan di sofa, di tangga, di lantai atau di atas meja istriku?"
"Kau gila! Kau brengsek! Kau c*b*l!"
Kiran memukul lengan Elang yang masih menyetir, membuat dia kewalahan.
"Sabarlah sayang, kau bisa meluapkan nya nanti setelah kita sampai di rumah. Aku pasti melayanimu!" ujarnya terkekeh.
Kiran melengos marah dan memanyunkan bibirnya. Elang hanya tertawa melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.