Jika ada perempuan lain yang bisa meluluhkan hati Aksa selain ibu dan adiknya, maka Love lah perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoelfu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan Aksa
Sejak semalam, Love tak bisa memejamkan matanya barang sebentar saja. Ada ganjalan di dalam hatinya sebesar semesta yang dirasakannya.
Dia memang menahan dirinya agar tak menangis, dengan imbalan kesakitakan yang terasa di tenggorokannya.
Sampai pagi ini, dia tak bisa duduk dengan tenang. Saat ibunya memanggil untuk sarapan pun, dia hanya makan dalam diam tanpa menanggapi pembicaraan sang ayahnya seperti biasanya.
Ketukan pintu kamarnya membuatnya menghentikan kakinya yang sedari tadi hanya berjalan mondar-mandir saja di dalam kamarnya. Pakaiannya sudah rapi dan siap untuk berangkat.
"Ya Mbak." katanya setelah membukakan pintu kamarnya.
"Mobilnya udah siap Non." Love hanya mengangguk dan kemudian mengambil tasnya yang tergeletak di atas kasur.
Entah sudah berapa kali gadis itu menghela napas pagi ini, berusaha dengan melakukan itu bisa melegakan apa yang mengganjal di dadanya.
Berjalan menuruni tangga rumahnya, Love mengecek waktu yang tersisa sebelum Aksa berangkat.
Masih ada waktu enam jam mulai dari detik ini. Enam jam bukanlah waktu yang lama. Enam jam tak bisa membuat Love mampu melepaskan rasa sesaknya yang mengganjal di dalam dirinya. Justru semakin dekat dengan waktu berangkatnya Aksa, akan semakin membuatnya sesak.
"Sayang." Love menoleh dan mendapati orang tuanya yang sedang dusuk di sofa ruang keluarga. Menghentikan langkahnya, ibunya justru mendekat kepadanya.
Perempuan itu tersenyum dan mengelus wajah Love lembut. "Kalau kamu nggak siap untuk mengantarkan Aksa, nggak perlu dipaksakan. Biar Bunda yang bilang kepadanya."
Love menggeleng. Aksa juga sudah mengatakan itu semalam. Tapi dia menolak untuk setuju. Karena baginya, melihat Aksa sampai tak terlihat lagi di bandara nanti adalah keputusan yang baik. Jadi dia masih bisa melihat wajah kekasihnya sampai detik terakhir sebelum keberangkatan kekasihnya itu.
"Aku nggak papa kok Bun. Aku pasti bisa." suaranya parau dengan mata berkaca-kaca. Mendongak untuk menghalau agar air matanya tak jatuh. Dia tak ingin menunjukkan wajah kacaunya ketika kekasihnya akan pergi jauh darinya.
"Ok. Kalau kamu memang siap. Hati-hati ya." Sha mencium kening Love sayang dan membiarkan Love meneruskan langkahnya untuk bisa segera bertemu dengan Aksa.
Marvel yang melihat putrinya seperti itu hanya bisa menghela nafas saja. Apa yang bisa dia lakukan selain berharap agar putrinya itu bisa kuat berjauhan dengan Aksa. Mengingat bagaimana Love begitu mencintai kekasihnya itu. Pun dengan Aksa yang selalu memperlakukan Love dengan baik.
Jalan Jakarta juga masih padat merayap seperti biasa. Lagi-lagi, Love melihat jam di pergelangan tangan kirinya untuk mengecek waktu. Gemuruh di dadanya terasa semakin mengacaukan pikirannya. Dia ingin bisa segera sampai di kediaman Aksa dan segera melihat lelaki itu.
Dengan memejamkan matanya, Love berusaha perjalanannya tak terasa menjengkelkan karena kemacetan.
Mengingat kebersamaannya dengan Aksa selama ini, rasanya bisa menghilangkan kegundahan dalam hatinya.
"Udah sampai Non." suara Pak sopir yang mengantarnya membuatnya membuka mata.
Dan ya, mereka sudah sampai di depan kediaman Ganendra. Meneguk ludahnya pelan, Love membuka pintu mobilnya dengan gerakan lambat. Entah kenapa tubuhnya merasa bergetar.
"Lo bisa Love. Lo bisa." gumamnya dengan pelan. Mensugesti dirinya agar dia bisa kuat. "Iya. Gue pasti bisa." katanya lagi dengan suara mantap.
Dengan melangkah dengan pasti, dia masuk melewati pagar yang sudah di bukakan oleh penjaga rumah kekasihnya itu. Dia meminta agar pak sopir yang mengantarkan untuk pulang dan tak perlu menunggunya.
Pintu rumah Aksa terbuka setelah dia memencet bel di samping pintu. Seorang perempuan paruh baya yang menjadi asisten rumah tangga di keluarga Ganendra itu tersenyum. "Non Love. Mari masuk." begitu katanya. Perempuan tersebut memang sudah mengenal Love jika dia adalah kekasih Aksa karena setelah undangan makan malam kala itu, Love jadi sering datang ke rumah tersebut.
Love kembali melangkah dan masuk lebih dalam untuk sampai di ruang keluarga. Biasanya, jika dia datang ke rumah ini, akan selalu ada celotehan tak berfaedah dari putri bungsu keluarga tersebut.
Atau kelakuan Kla yang aneh, tawa ibu Aksa, dan hal-hal lain yang menghidupkan suasana. Tapi kali ini sangat berbeda. Ruangan keluarga yang luas itu begitu sepi. Televisi menyala dengan volume yang begitu kecil, dengan pemilik rumah yang juga menurup rapat-rapat bibirnya.
"Assalamualaikum." Love menyadarkan mereka yang terdiam. Kedua orang tua Aksa dan juga Kla terlihat sangat tak bersemangat.
"Waalaikum salam." Kenya tersenyum dan melambai kepada Love agar dia mendekat.
"Udah dateng. Sini Nak." Love menurut. Dia langsung duduk di samping Kenya dan bisa melihat dengan jelas wajah-wajah murung mereka.
"Aksa ada di kamar. Mau ke sana?" Love hanya terdiam mendapatkan penawaran itu. Dia tak pernah berpikir jika orang tua Aksa akan mengijinkannya untuk ke tempat pribadi putra mereka.
"Tante percaya kalian. Naik ke tangga, pintu pertama di sebelah kiri." Love melirik Kla yang juga menatapnya. Gadis itu terlihat sekali tak bersemangat. Tapi menyempatkan bibirnya untuk memberi senyum kepada Love. Sedangkan Daka, lelaki itu hanya mengangguk untuk mengijinkan.
Love menurut. Dengan melangkah pelan, dia naik ke tangga meskipun kakinya sedikit bergetar. Bertemu dengan Aksa adalah ketakutannya saat ini. Dia takut tak bisa melepaskan kekasihnya untuk pergi dan kembali berlaku kekanakan.
Sampai di lantai dua, dia bisa melihat kemegahan ruangan luas itu. Dia juga melihat berjejer buku-buku tebal yang berada di rak-rak buku menyerupai perpustakaan mini.
Love memalingkan wajahnya dari sana kearah kiri. Dan dia melihat pintu yang Kenya maksud tadi telah terbuka sedikit.
Meneguhkan hatinya, dia mendekat. Menutup matanya sebentar, Love membuka pintu itu sedikit lebih lebar. Ruangan bagian dalam kamar Aksa terlihat. Matanya terpaku pada sebuah foto yang terpajang di kamar itu. Foto besar itu adalah foto dirinya.
Astaga. Apa ini? Pikir Love. Melayangkan tatapannya untuk melihat sekeliling dan mencari keberadaan Aksa. Dan jantungnya terasa diremas ketika melihat dua buah koper berukuran besar berdiri di samping ranjang.
"Princess." air mata Love langsung mengalir ketika mendengar panggilan itu. Wajahnya menatap ke kiri dan di sanalah Aksa berdiri. Aksa kaget dengan kedatangan Love ke kamarnya. Tapi dia paham jika gadis itu tak akan masuk ke sana jika bukan mendapat izin dari orang tua Aksa.
Aksa medekat. Semakin dekat jarak Aksa dengannya, Love semakin tergugu dengan tangisnya. Tak tahan dengan kakinya yang bergetar, Love berjongkok dengan tangan yang menutup wajahnya. Dia menangis di sana.
"Princess." Aksa memegang kedua bahu Love untuk mengajak gadis itu berdiri. Tanpa mengucapkan apapun, Aksa memeluk Love dengan erat. Mengelus punggung gadis itu lembut berusaha menenangkan.
Bukannya tenang, Love semakin menangis dengan suara yang terdengar pilu.
"Aku nggak tahu kalimat penghiburan seperti apa agar kamu nggak sedih. Tapi aku pikir, semua itu akan percuma.
"Jadi, aku hanya bisa bilang, tolong kuat dengan semua ini. Paling tidak untuk diri kamu sendiri. Aku akan berusaha menyelesaikan urusanku di sana dengan tepat waktu dan kembali ke sini untuk kamu, untuk hubungan kita." Love semakin terisak di pelukan Aksa. Bahkan Aksa pun tak tahu kalimat apalagi yang akan dia keluarkan untuk Love. Karena dia pun sama sedihnya dengan Love. Hanya saja dia tak memperlihatkan itu.
Waktu berlalu begitu cepat. Mereka sudah berada di bandara untuk mengantarkan Aksa. Love sama sekali tak ingin melepaskan genggaman tangan Aksa. Langkahnya terasa sangat berat.
Aksa memeluk tubuh ayahnya erat. "Abang berangkat ya Yah." Daka tak bisa menahan lelehan air matanya. Meskipun tak terisak.
"Abang jaga diri ya. Ingat pesan Ayah. Ingat Allah." Aksa merasa lemas ketika melihat untuk pertama kalinya sang ayah mengeluarkan air matanya. Dia tersenyum dan kembali memeluk tubuh sang ayah.
"Pasti Yah." ucapnya yakin.
Aksa bergeser ke kanan untuk berdiri di depan sang bunda. Perempuan itu langsung menghambur ke pelukan Aksa dan memeluk putranya erat. Setelah pelukan terurai, Kenya menciumi wajah Aksa. "Jangan sampai lupa ibadah sesibuk apapun Abang di sana. Jangan cuma otaknya aja yang dikasih makan dengan belajar, perut juga jangan sampai telat diisi." Aksa berkaca-kaca memandang sang bunda.
Mengangguk. "Iya Bunda. Abang akan ingat." kembali mereka berpelukan untuk terakhir kalinya.
Ketika berada di depan Kla, gadis itu tak kunjung mendongak untuk menatap sang kakak. Aksa bahkan harus memegang dagu adiknya agar Kla mau melihatnya.
Gadis itu langsung menghambur ke pelukan Aksa. "Nggak mau ditinggalin Abang. Nggak mau Bang. Terus adek gimana. Nggak mau Bang, nggak mau." begitu raungnya di dada Aksa. Aksa hanya bisa menyeka matanya yang basah karena mendengar tangis adiknya.
"Abang. Abang jangan pergi. Jangann." Kla masih terus mengatakan kalimat berulang-ulang dengan tangis memilukan.
"Adek jaga diri baik-baik ya. Jangan sampai teledor lagi. Kalau ada cowok yang deketin, jangan gampang-gampang mau dideketin. Adek bisa kan?" meskipun masih dengan menangis, namun Kla tetap mengangguk.
Dan ketika sampai di depan Love. Aksa memasang senyum terbaiknya. Beberapa saat tak mengatakan sesuatu. Mengerti situasi, keluarga Aksa menyingkir sebentar untuk memberi mereka waktu berdua.
"Aku pergi ya." Aksa mengelus rambut Love lembut. "Jaga diri kamu. Aku nggak bisa janji buat bisa selalu hubungi kamu ketika di sana nanti, tapi kamu nggak perlu ragu dengan komitmen yang sudah aku buat. Aku cinta kamu, dan itu mutlak." Love menutup wajahnya kembali dengan kedua telapak tangannya karena tangisnya mulai pecah.
"Dua tahun memang bukan waktu yang sebentar, tapi aku yakin kamu bisa menjalani tanpa aku. Karena setelah dua tahun ini, kita akan hidup bersama sampai kita sama-sama tak bernafas." Love tak tahan dan langsung memeluk Aksa dengan erat. Menangis tanpa ditahannya lagi.
Love tak tahu seperti apa kehidupannya setelah ini. Tapi dia akan menjadi gadis yang kuat menjalani semua ini. Dia akan berusaha.
"Buat kamu." Aksa memberikan sebuah kotak kecil kepada Love setelah pelukan mereka menguar.
Dan lambaian tangan Aksa menampar kesadaran Love jika Aksa tak akan lagi berada di kota yang sama dengannya. Kenyataannya, sebisa mungkin Love menerima, dia tetap merasa hatinya begitu kosong ketika Aksa tak lagi terlihat oleh netranya.
•°•