Devon merasa ia jatuh cinta pada gadis sebatang kara, setelah perjalanan cintanya dengan berbagai jenis wanita. Gadis ini anak jalanan dengan keadaan mengenaskan yang ia terima menjadi Office Girl di kantornya. Namun, Hani, gadis ini, tidak bisa lepas dari Ketua Genknya yang selalu mengamati pergerakannya. Termasuk pada satu saat, kantor Devon mengalami pencurian, dan terlihat di cctv kalau Hani-lah dalang pencurian tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Perusahaan
“Pak Zaki, saya boleh ganggu-“
“Kamu ngapain masih di sini?! Kamu kan sudah saya pecat!!” hardik Zaki saat melihat Hani muncul dan berdiri di depan ruangannya.
“Eh? Uuuuh anuuu..” Hani jadi ketakutan.
Zaki ini kalau di dekat Kayla tingkahnya agak kalem. Kalau Kaylanya tidak ada dia jadi meledak-ledak. “Saya nggak peduli ya kamu kesayangan Kayla Kek, Devon Kek, kesalahan kamu tuh fatal banget!!” seru Zaki sambil melempar bantex tebal ke arah Hani mengusir gadis itu.
“Pak, saya minta maaf, setidaknya kalau saya resign saya bisa mundur dengan baik-baik-“
“Apanya yang bakalan baik-baik Haaaah?! Kerugian kami nggak bakalan bisa kamu bayar! Saya nggak terima uang Devon ya!”
Zaki terus berteriak mengusir Hani yang sudah berbuat kehebohan kemarin, pun hal itu tidak diketahui karyawan lain.
Semua orang hanya bisa bertanya-tanya apa yang terjadi.
Ya tapi karena Zakinya memang pemarah, mereka hanya bisa menduga kalau Hani berbuat kesalahan remeh yang bisa membuat Zaki marah seperti salah menuang garam ke kopi alih-alih gula, atau tak sengaja memecahkan barang kesayangan di ruangan Zaki.
Tapi di sana ada Lily.
Sejak pagi, Lily muram.
Bahkan ia tampak pucat.
Hal-hal yang diceritakan Jackson membuat otaknya mengucapkan sumpah serapah setiap detiknya.
Ia mencium keadaan sulit, instingnya bekerja.
Jackson lumayan hebat, cerdik. Ia lari ke Lily agar Lily melindunginya dari orang-orang Praba Grup. Mereka tidak akan mengusik karyawan sendiri.
Istilahnya, Jackson memanfaatkan posisi Lily yang terjepit di tengah-tengah.
Dan saat menyadarinya, Lily rasanya ingin ngamuk tapi nggak bisa.
Dan Hani, si cewek bego.
Malah planga-plongo iya saja dengan keadaan yang ditawarkan Devon.
Menjadi istri?
Keputusan bodoh, pikir Lily.
Dan lagi... Lily merasa kalau Jackson ada hati dengan Hani, sampai segitunya melindungi Hani. Ia pun akhirnya cemburu.
Tapi tidak berguna kalau ngamuk dan ngomel-ngomel. Salah langkah sedikit, Lily akan berhadapan dengan Devon.
Dan Lily tidak ingin hal itu terjadi.
Jalan satu-satunya,
Ia harus melenyapkan si Hani ini.
Lily pun berniat membuat nyali Hani ciut, dengan membeberkan keadaan yang sebenarnya. Agar Hani-nya kabur sendiri.
Saat Hani keluar dari ruangan Zaki dengan wajah sedih karena permintaan maafnya ditolak, Lily-pun menghampiri Hani dan menariknya ke toilet wanita.
“Y-ya Mbak Lily? Bisa kubantu?” dengan tergagap karena ketakutan, Hani bertanya.
“Aku kenal Jackson.” Kata Lily langsung ke intinya. “Aku beberapa kali menyewanya jadi gi golo.” Tapi dia tak bilang kalau Jackson sedang bersembunyi di tempatnya.
“Hah?” mata Hani membulat.
“Aku tanya langsung ke intinya ya, aku nggak suka muter-muter.” Geram Lily sambil menegakkan tubuhnya.
“Hani, kamu yakin akan menikah dengan Devon?” Lily berdiri bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya yang membusung.
Aroma wangi parfum di tubuh Lily menggelitik hidung Hani, sejak lama gadis itu selalu bertanya-tanya kenapa aroma tubuh para wanita di kantor ini sangat memabukkan. Wangi mereka secantik tubuh mereka.
Hani tidak berhasil mencari tahu, karena semua parfum yang ada di minimarket tidak ada yang mendekati baunya.
Terutama yang terpancar dari tubuh Lily ini.
Campuran antara bunga, kayu dan rempah yang membuat Hani merasa sedang berhadapan dengan seorang Ratu.
“Ya-yah, menurut saya sih tidak apa-apa, toh dia sudah membeli saya.” Kata Hani.
Lily langsung menghela nafas berat sambil mengalihkan pandangannya.
Hani, si gadis polos, tidak tahu makna pernikahan yang sesungguhnya.
Hani menikah sekedar menikah, tanpa tahu selamanya ia akan terikat dalam suatu lingkaran kehidupan Devon yang tidak mudah, dan ia akan terikat seumur hidup.
Lily suka bercinta dengan pria-pria tangguh seperti Devon atau Artemis, tapi apabila diminta terikat, khususnya pernikahan, tentu saja ia akan menghindar.
Karena, setiap harinya akan dilanda perasaan tidak nyaman.
Walaupun dengan keadaan yang seperti ini Lily akan dicap sebagai seorang penggoda, selir, wanita gampangan.
Namun ia dan teman-temannya tidak bodoh. Mereka mengenal arena pertarungan ini. Semudah itu mau saja menjalin hubungan special dengan para pria berjulukan mesin penghancur? Bisa-bisa ia mati konyol kalau ngambek nuntut ke suami uang belanja bulanan.
Lily dan rekan-rekannya butuh bercinta karena para pria di sini mahir dalam urusan mencapai puncak kenikmatan dosa duniawi. Tapi kalau urusan rumah tangga, siap-siap setiap harinya ketakutan.
“Kamu tahu tidak pekerjaan Devon, Zaki, dan orang-orang di sini dengan jabatan manajer? Maksudku, pekerjaan yang sesungguhnya?”
“Eh? Menghitung... keuangan?” desis Hani ragu sambil beringsut mundur, tapi wajahnya juga tampak tak yakin.
Karena ia ingat, Jackson pernah ketakutan dengan kantor ini, dan orang-orang yang di dalamnya. Dan ketakutan itu pun terjadi saat Devon dan Zaki meluluhlantakkan satu kampung hanya demi Hani. Ditambah, tidak ada yang berani mempermasalahkannya ke ranah hukum.
“Mereka ini mafia, Hani. Orang jahat. Orang jahat yang menghukum orang jahat. Normalnya, mafia menindas kaum lemah, memperbanyak pundi-pundi harta dengan menyiksa masyarakat, berjualan narkoba, jualan cewek, jualan anak-anak, jualan organ, jualan miras, menyediakan jasa tukang pukul, ngerampok... tahu kan?” kata Lily.
“Iya Mbak, tahu. Bang Jackson melindungi kami semua dari preman yang suka begini. Di tempat kami banyak yang begini semua diusir Bang Jackson.” Hani tersenyum tipis, namun dengan wajah sedih.
Lily mencibir. Jackson lagi Jackson Lagi. Kenapa si ganteng itu hatinya terlalu mulia?! Jadi makin jatuh cinta kan gue. Batin Lily dalam hati.
“Nah, level Devon, Zaki, ada satu lagi manajer Kantor Pusat namanya Artemis, Level mereka di atas mafia biasa. Mereka ini seperti petrus, tapi yang tingkatannya sudah level dewa. Berkedok pengusaha." kata Lily.
"Maksudnya Mbak?" Hnai masih meraba-raba maksud dari kalimat Lily.
"Pendapatan utama perusahaan ini bukan bergerak di bidang pertambangan. Tapi Praba Grup sengaja mengurusi pertambangan karena mereka sedang memanen korban. Penjahat paling berbahaya banyak berada di area pertambangan. Dari mulai penyusup asing, maling batu mulia dan emas, sampai ada mata-mata negara lain. Kenapa? Karena keuntungan nya bisa beratus-ratus kali lipat daripada jual bayi ke India. Praba Grup yang menjaga semua, dan mereka tak pandang bulu. Mau itu yang nyolong emas itu adalah anak-anak, nenek-nenek, pria dewasa, semua... dibunuh.”
Mata Hani membesar mendengar penjelasan Lily.
Lily mengangguk dengan wajah muram, “Juga, mereka memiliki tugas mengurangi jumlah tahanan. Tahu kan lapas di negeri ini ada berapa? Dan dibandingkan dengan jumlah pesakitan ya jomplang banget. Artemis and the gank mengambil korban dari penjara yang kira-kira tidak memiliki sanak saudara, juga yang luput dari perhatian publik. Seringkali, mereka memilih korban yang sehat, lalu darah si korban mereka hisap ke kantong sampai korbannya mati kehabisan darah. Sisa orangnya mereka hukum di penjara kantor sendiri, lalu organ mereka diperjual belikan di pasar gelap. Saat memotong organ itu, Artemis dan teman-temannya harus memotong organ dalam keadaan segar, kalau bisa saat korbannya masih hidup. Kalau si napinya sudah penyakitan, mereka gilas dagingnya buat peternakan buaya. Pada akhirnya mereka jual kulit buaya ke perusahaan garmen.”
Hani terpekik ketakutan.
Ia tahu dunia semacam ini ada, tapi ia terkejut karena kali ini ia berada di dalamnya.
Bahkan bekerja di dalamnya.
“Devon dulu bergabung di area tambang. Karena dia pintar, Tugas Devon bukan yang kroco-kroco, tapi menjebak pihak klien yang beraliansi dengan Praba Grup. Klien dibuat nyaman, akhirnya mereka ingin uang lebih, klien mulai menggerogoti tambang yang bukan milik mereka, mereka mulai menyiapkan perjanjian yang nyeleneh, Devon yang bertugas mengawasi itu semua. Dan saat klien sudah bergelimang harta, merasa tidak ketahuan oleh Praba Grup, merasa kalau mudah sekali menipu Praba Grup, Devon mulai memilih pejabat pemerintah yang pas untuk dijadikan artis, berakting kalau dialah yang menangkap para pelaku penggelapan dana untuk diajak kerjasama meningkatkan elektabilitas dan atensi masyarakat.”
“Untuk apa dia memilih pejabat? Elektabilitas? Ini untuk tujuan kenaikan jabatan?” tanya Hani.
“Ya. Saat sudah mendapatkan pejabat yang pas, Devon akan melaporkan segala kecurangan si klien. Bukan ke Komisi, tapi ke Artemis dan Bos Besar. Untuk selanjutnya dieksekusi dengan cara mereka sendiri, dengan cara pengancaman, pengintimidasian, dijadikan kambing hitam, tentunya Komisi akan bergerak. Merasa kecolongan, akhirnya terpaksa bekerjasama dengan Praba Grup dengan memberikan kompensasi berupa...”
“Uang?”
“Bukan, bukan uang yang kami cari, kami sudah kaya. Kompensasi yang menurut kami berharga adalah kemudahan dalam bergerak di negara ini. Jaminan kalau kami bisa bertindak bebas sesuai dengan regulasi kami sendiri.”
Pantas saja Jackson ketakutan.
Dan Hani baru mengerti kenapa Jackson sepanik itu.
“Kamu siap menerima Devon yang begitu?” tanya Lily lagi.
“Ah...” Hani kini tampak berpikir.
Terus terang ia ketakutan.
Baginya, lebih baik menghadapi orang yang tukang pukul, daripada menghadapi orang yang manipulatif.
Ingatan Hani otomatis langsung kembali ke kejadian saat ia menjebak Ical Cs. Mereka biarkan Ical kegirangan saat melihat property tanpa penjagaan, senang saat banyak yang bisa dirampas, tanpa menyadari kalau konsekwensi dari mengambil satu barang saja, bisa menghilangkan kepalanya. Dan saat melakukan semua itu Ical sedang diawasi oleh beratus-ratus kamera.
“Mafia yang sesungguhnya lebih kejam daripada di novel-novel romantis. Para pembaca berhalu membayangkan postur mereka seksi, mereka kuat, mereka tampan, mereka tak terkalahkan, namun mereka lembut di ranjang dan menganggap pasangan mereka Queen. Tidak boleh ada yang menyentuh ‘kesayanganku’, Hah! Makanya novel bertema mafia laku keras.” Lily berbicara dengan nada sarkas.
“Kenyataannya? Mafia itu luar biasa jahat... saat Si Queen berulah, misalnya dia latah nge-like postingan influencer yang berjenis kelamin cowok ganteng, sampai si Boss cemburu, si cowok yang nggak tahu apa-apa bisa diculik, disandera, dibunuh, dan kepalanya dikirim ke keluarganya. sementara si Queen akan bebas? Oh tidaaak. Biasanya dia dihukum dengan cara diperkosa ratusan anak buah si Boss sampai gila. Pernah dengar yang begitu? Nyatanya kasus begini banyak terjadi, makanya aparat sering geram dengan orang-orang yang dijuluki Mafia. Karena yang bermain bukan hanya satu dua kriminal, tapi membentuk organisasi. Makanya disebut Mafia. Organisasi kriminal rahasia yang terstruktur secara hierarkis.”
Hani menunduk dengan gemetaran.
Dari awal ia tahu, kalau Devon memiliki aura gelap yang sulit dijelaskan. Bahkan lebih gelap daripada Jackson.
Hani lebih takut pada Devon dibandingkan Jackson.
Dan keanehan pada kantor ini, penampilan para pegawainya, tingkah laku mereka, keadaan mereka yang keras, pekerjaan mereka yang berat.
Kantor ini adalah sebuah organisasi.
“Kenapa Mbak Lily nggak pergi dari sini?” tanya Hani akhirnya.
“Aku berhutang budi pada owner. Dan aku tahu persis, aku tidak akan bisa pergi dari sini. Makanya, kalau Zaki bilang aku akan dipecat, aku malah senang. Itu berarti, aku akan bebas. Tapi sayangnya... gaji di sini besar. Pekerjaanku santai, tapi bisa dua digit masuk ke rekeningku dalam sebulan. Dilema, kan? Tapi aku tidak cukup bodoh ya untuk menjalin ikatan pernikahan dengan salah satu dari para manajer di sini, seganteng-gantengnya mereka. Kamu tahu saat ada musuh yang dendam? Hal pertama yang terjadi biasanya... mereka akan menculik anak dan istri si target. Makanya Kayla dijaga oleh lusinan bodyguard yang menyamar sebagai sekuriti di gedung ini. Makanya dia... diterima kerja di sini, karena di kantor ini disediakan CCTV yang jumlahnya nggak ngotak. Untuk mempermudah Zaki melindunginya.”
Pertanyaannya adalah, apakah Zaki bermaksud melindungi Hani dengan cara memecat gadis itu? Karena pria itu tahu, Hani yang seperti ini tak akan sanggup menghadapi masalah Devon. Dan lagi Zaki juga merasa Hani akan menghambat pekerjaan Devon dengan kepolosannya. Hani ini tipe culik-able banget soalnya. Cemolong kalau kata orang Jawa.
Takut nggak? Takut laaaah.
Tapi tenang, ini bukan novel bertema Gore.
Ini novel romantis.
Jadi pekerjaan mereka tidak akan diulas banyak-banyak di sini.
Baca ini dengan pikiran terbuka ya seduluuur.
(Note : Semua adegan dan penggambaran organisasi di novel ini adalah murni khayalan Author semata, dengan mengambil inspirasi dari kejadian-kejadian kejahatan Mafia-mafia di luar negeri dalam dunia realita.)
****
seru seru ngeri yaa