Narendra sang pengusaha sukses terjebak dalam situasi yang mengharuskan dirinya untuk bertanggung jawab untuk menikahi Arania, putri dari korban yang ia tabrak hingga akhirnya meninggal. Karena rasa bersalahnya kepada Ayah Arania akhirnya Rendra bersedia menikahinya sesuai wasiat Ayah Arania sebelum meninggal. Akan tetapi kini dilema membayangi hidupnya karena sebenarnya statusnya telah menikah dengan Gladis. Maka dari itu Rendra menikahi Arania secara siri.
Akankah kehidupan pernikahan mereka akan bahagia? Mari kita ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Mertua
Rendra sedang bekerja di ruang kerjanya di lantai 3. Pemilik dan pemimpin perusahaan Wibisana Grup yang bergerak di bidang industri makanan dan minuman, serta perhotelan itu saat ini sedang memeriksa laporan-laporan yang masuk ke daftar list pekerjaannya untuk hari ini.
Di sela pekerjaannya, Rendra menyempatkan diri untuk memesan minuman sekaligus ingin memandang wajah cantik istri mungilnya agar sedikit mengurangi rasa jenuh. Laki-laki tampan itu menekan mikrofon yang berada di meja kerjanya yang suaranya terhubung ke area dapur serta ruang makan rumah itu. Sehingga pelayan bisa dengan mudah menerima tugas dari sang majikan.
"Arania, cepat buatkan saya kopi, serta bawakan sedikit cemilan ke ruang kerja saya. Sekarang! Jangan lama-lama, atau nanti gajimu akan saya potong." Ujar Rendra dibuat tegas melalui mikrofon itu dengan hidung kembang kempis menahan geli yang tiba-tiba menggelitik hatinya karena sengaja mengerjai istri kecilnya .
Arania sedang berada di dapur untuk membantu Bik Erna membuat hidangan spesial untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Rendra ke rumah itu. Arania yang saat ini sedang menyiangi sayur-mayur, setelah mendengar suara Rendra dari mikrofon, saat itu juga ia langsung meninggalkan pekerjaannya untuk membuatkan kopi sang majikan. Akan tetapi saat berada di meja pantry, Bik Erna menghadangnya dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Biar Bibi yang buatkan." Ujar bik Erna dengan suara rendah namun terkesan dingin.
"Tapi, aku_"
"Lanjutkan saja pekerjaan mu. Sebentar lagi Tuan besar dan Nyonya besar akan segera sampai." Ujar bik Erna.
Tuan besar Herry Wibisana serta sang istri Nyonya Ratih Wibisana rencananya hari ini akan mengunjungi kediaman sang putra sulungnya yang tak lain adalah Narendra Ethan Wibisana. Setelah sekian lama Rendra tak datang mengunjungi mereka karena kesibukannya sebagai pebisnis yang padat jadwal. Maka dari itu, kedua orang tua yang kini tak lagi muda, yang sedang kesepian tanpa anak cucu mereka menyempatkan diri untuk mendatangi sang putra. Untungnya jalanan yang mereka lalui tak terjebak banjir, sehingga mereka dengan mudah melakukan perjalanan yang menempuh waktu dua jaman saja.
"Persiapkan mental mu, karena Bibi akan mengadukan kelakuan burukmu kepada beliau. Tadinya bibi pikir akan tetap bungkam kalau kamu mau mendengar kata-kata bibi, tapi ternyata kamu gadis bebal dan susah diatur. Kamu bertahan dalam pendirian dan perasaan yang salah kaprah." Ucapan Bik Erna bagaikan pisau tajam yang langsung menembus ke jantung Arania yang menyedihkan.
"Bibi... Tolong, jangan seperti ini, bi. Sebenarnya banyak hal yang belum Bibi ketahui tentang ku. Makannya Bibi tak perlu melakukan apapun, Sebelum Bibi akan menyesal setelahnya." Ujar Arania dengan suara sangat memelas pada wanita paruh baya yang sangat dihormatinya itu.
Bik Erna tersenyum kecut dan mengejek pada Arania. "Menyesal? Aku akan sangat menyesal kalau selalu membiarkan mu selalu berulah di rumah ini." Tegas Bik Erna.
"Bi... Aku mohon..." Arania mulai meneteskan air matanya. Ia sedih Bik Erna yang selama ini baik serta lemah lembut padanya kini bisa bersikap kejam, tega dan keras tanpa mempedulikan perasaan Arania lagi.
Dengan berat hati, Arania kembali mengerjakan pekerjaannya dengan mata yang terus menerus mengeluarkan air mata. "Ya Allah, kuatkanlah hatiku."
,,,
,,,
Tok.. tok.. ceklek...
Setelah mengetuk pintu Bik Erna masuk ke ruangan kerja sang majikan. Rendra sedang menghadap ke laptopnya dengan kacamata bacanya yang bertengger membuat ketampanan pria dewasa itu menjadi berkali-kali lipat lagi. Rendra memang sangat-sangat tampan dan luar biasa.
Melihat Bik Erna yang masuk, Rendra mengeryitkan dahinya. Sejak pertemuannya dengan sang istri siri tadi pagi, hingga saat ini waktu telah memasuki adzan dhuhur, tak dilihatnya lagi wajah cantik istri mungilnya itu. Padahal tadi pagi ia berpesan pada Arania agar selalu berada di sekitar pandangannya.
"Silahkan, Tuan." Ujar Bik Erna seraya meletakkan kopi dan cemilan di atas meja sofa besar yang ada di depan meja kerja Tuannya.
"Kenapa Bibi yang antar? Saya kan menyuruh Arania untuk mengerjakan tugas ini." Ucap Rendra datar namun tersimpan kemarahan dihatinya.
Bik Erna tau maksud dibalik perintah yang ditujukan untuk Arania. Dipikirannya, jika dua orang yang bukan mahram itu bertemu saat ini, pasti mereka akan melakukan hal yang tidak senonoh, seperti yang ia lihat tadi pagi saat memergoki kegiatan mesum mereka. Maka dari itu untuk mencegah hal itu Bik Erna sengaja menggambil alih tugas tersebut.
"Gadis itu sedang sibuk, Tuan. Jadi saya yang menggantikannya. Kalau menunggu dia nanti kelamaan, Lagipula sebentar lagi Tuan besar dan Nyonya besar akan segera sampai. Jadi, semua persiapan harus cepat selesai, Tuan." Ucap Bik Erna seraya sedikit menunduk dan melirik ke arah sang Tuan yang kini terlihat ekspresi wajah kecewanya.
"Maaf, Tuan. Saya harus melakukan hal ini, supaya kalian sedikit merenggang. Ini juga untuk kebaikan keluarga Anda." Ujar Bik Erna dalam hatinya.
"Kalau tidak ada lagi, saya permisi dulu, Tuan." Bik Erna kemudian keluar dari ruang kerja Rendra.
"Arania.. kamu sekarang sedang apa? Beberapa jam saja tidak melihat mu, aku jadi kangen. Padahal dari semalam sudah ku puas-puaskan hasrat ku padamu, tapi kenapa selalu saja kurang dan terus terusan kecanduan." Rendra memijit dahinya yang kini sedikit merasa pusing. Padahal saat ini di rumah sedang ada istri sah yang ia cintai, tapi kenapa ia lebih cenderung memikirkan Arania dibanding Gladys. Apa rasa cinta pada Gladys telah berkurang saat ini? Entahlah, Rendra sendiri pun bingung dengan hatinya.
***
***
Saat sore hari yang mendung, mobil mewah berwarna hitam baru saja memasuki pelataran rumah Rendra. Kedua pasang paruh baya keluar dari dalam mobil bersama supir mereka. Tanpa ada penyambutan anak serta menantunya mereka berjalan dengan rasa kesal menuju teras rumah megah itu.
"Ealah cah mbajuk tenan iki. Jauh-jauh Orang tua datang kok nggak di sambut sama sekali. Mentang-mentang saiki wis sugih, wis mulyo, wis sukses, udah ndak peduli sama kakek nenek renta iki. Anak kurang ajar tenan iki, pih!" Ujar Nyonya Ratih dengan logat jawa yang masih kental disertai wajah judesnya seraya mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas karena sengatan matahari.
"Sudahlah Mih, mungkin mereka di dalam sedang sibuk jadi mereka tidak tau waktu kedatangan kita." Ujar Tuan Harry santai menanggapi dumelan sang istri.
"Padahal Mamih tadi sudah kirim pesan ke mereka dimana posisi kita loh, Pih. Masa iya, mereka nggak bisa mengira-ngira waktu kedatangan kita." Gerutu Nyonya Ratih.
Saat ini mereka telah berada di teras rumah itu dan akan mengetuk pintu besar rumah. Namun, saat Nyonya Ratih akan mengetuk pintu, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dari dalam.
Terlihat gadis cantik berhijab yang membuka pintu itu. Mata Nyonya Ratih membola melihat kemurnian wajah lugu Arania.
"Se-selamat datang... Tuan besar serta Nyonya besar. Silahkan masuk. Kalian sudah ditunggu sejak tadi." Ujar Arania sedikit gugup. Arania bisa memastikan kedua orang tua itu adalah orang tua Rendra karena wajah mereka mendominasi wajah Rendra, apalagi sang ibu.
"Eallah... Sopo cah ayu iki? Mirip-mirip jaman muda ku dulu, ya to pih?"
Tuan Herry hanya nyengir kuda mendengar perkataan sang istri.
Arania mengulurkan tangannya pada kedua mertua nya kemudian ia cium telapak tangan mereka dengan takzim. "Saya Arania, pelayanan baru rumah ini, Nyonya Tuan." Akhirnya ia memperkenalkan dirinya sebagai pelayan dengan miris.
"Cah iki wis ayu, sopan, tutur katane lembut. Nah yang kaya gini cocoknya..."
"Wis-wis, mikir opo aku iki."
Nyonya Ratih terus menelisik ke wajah cantik Arania dengan kekaguman yang tak mereka sadari.
"Silahkan masuk Tuan besar dan Nyonya besar," Arania membentangkan pintu memberi akses kedua orang tua itu untuk masuk.
Ting!
Lift pun terbuka bersamaan dengan kedatangan kedua orang tua itu di ruang tamu. Rendra baru saja turun dari lantai 3 dengan senyum lebar datang menghampiri mereka.
"Mami, Papi... Assalamualaikum.." Sapa Rendra dengan hormat seraya mencium tangan mereka dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab mereka.
"Kamu ini le, kebangetan! Udah lama ndak pulang, jarang kirim kabar, ehh orang tua datang kok ndak dipethuk di halaman. Kebangetan! Wis lali yo sama orang tua reot iki." Rajuk Nyonya Ratih mencak-mencak.
"Mih, jangan bicara kayak gitu ah. Mami kan tau sendiri Ndra sibuknya kayak apa. Mami katanya sudah ikhlas, ridho kalo Ndra menjadi pemimpin dan terjun langsung untuk mengelola perusahaan menggantikan Papi." Ujar Rendra seraya merangkul bahu wanita tua yang tubuhnya terbalut baju gamis dan jilbab panjang itu. Ratih hanya bisa mengerucutkan bibirnya kala Rendra berusaha membujuknya.
"Ayo sekarang kita langsung saja ke meja makan. Papih dan Mami pasti belum sempat makan siang kan?" Ujar Rendra mendorong tubuh sang bunda menuju ke ruang makan. "Bi Erna sudah memasak masakan yang enak-enak kesukaan Mami dan Papi."
"Dimana istrimu? Bukankah dia sedang di rumah?" Ujar Ratih dingin.
"Gladys ada di kamar, Mih. Dia sedang tidak enak badan setelah semalam terjebak hujan badai di lokasi syuting." Terang Rendra seraya melirik Arania yang saat ini sedang mondar-mandir menyiapkan peralatan makan.
"Seandainya aku bisa memperkenalkannya sebagai istriku juga." Ucapan Rendra hanya menggantung di dalam pikirannya dengan trenyuh. Tanpa bisa merealisasikannya. Ia menghembuskan nafas beratnya berupaya mengurangi beban di hatinya.
"Hallah... Alasan! Pasti dia ingin menghindari kami supaya tidak kami cecar masalah anak." Ketus Ratih.
Herry yang sedari tadi bungkam pun ikut buka suara. "Jika Gladys tidak mau memiliki keturunan, sebaiknya kamu menikah lagi saja."
Deg!
"Bahkan aku sudah melakukannya tanpa sepengetahuan kalian."
boleh jd orang baik, tp jangan terlalu baik sampai mengabaikan kesehatan sendiri
dah, sebel aku sam authornya kenapa bikin karakter Ara ky gini 😤
lagian masa ga ada asisten di dlm rumah yg standby gitu, Ara nya sendiri jg suka ngeyel jd orang ga usah terlalu baik lihat jg kondisi diri sendiri gausah terlalu memaksakan diri smpe mencelakakan diri sendiri, yg ada cm penyesalan nantinya
jadi.. semua hal bs terjadi ya Gladys, apalagi kehamilan kamu baru 4 bulan, udh bagus bgt itu jenis kelamin lgs kelihatan jelas 😁
semangat kak ditunggu selalu update story nya👍
Terimakasih, semoga riders semua sehat dan murah rejekinya. aamiin