NovelToon NovelToon
Aku Dan Lelaki Yang Merenggut Kesucianku

Aku Dan Lelaki Yang Merenggut Kesucianku

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Konflik etika / Tamat
Popularitas:139.8k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

(Dalam Revisi)

Setelah mengalami pelecehan, dan mengalami depresi, serta dalam keadaan mengandung, Latifa diasingkan ke suatu tempat oleh keluarganya ke kampung halaman sang nenek.

Empat tahun kemudian, Latifa kembali ke kota dan mendapatkan pekerjaan di sana demi sang putra semata wayang. Ketika sesekali sang putra di bawa ke kota, Latifa harus dihadapkan pada pertemuan kembali dengan lelaki yang pernah merenggut kesuciannya sekaligus ayah biologis dari putra semata wayangnya.

Latifa berusaha menghindar dan menyembunyikan identitas sang anak. Namun sia-sia.

Setelah gagal menghindari pria yang pernah merenggut kesuciannya, Latifa terpaksa menerima tawaran pernikahan dari lelaki itu demi sang anak.

Lalu apakah akan hadir cinta setelah pernikahan itu, dan mampukah Latifa diterima dengan baik oleh keluarga lelaki yang pernah merenggut kesuciannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Siasat Dan Rayuan Dika

  Latifa masuk ke dalam mobil Dika dengan terpaksa. Daripada ditinggal oleh Dika bersama tukang ojek, Latifa lebih memilih ikut Dika.

  "Tolong antar aku ke rumah Bapak dan Ibuku," ucap Latifa ketus.

  "Belum ada setengah jalan, kamu sudah minta diantar ke rumah Bapak dan Ibu. Apakah kita tidak akan melewati bulan madu kita yang sudah tertunda lama?" ujar Dika memancing kerlingan di kening Latifa.

  "Apa? Jangan bicara yang tidak-tidak. Dan tolong, kamu jangan berharap apa-apa dari aku," tegasnya seraya menjauhkan tubuhnya dari Dika sejauh mungkin. Bahkan tubuh Latifa kini menempel pada jendela, saking tidak maunya berdekatan dengan Dika.

  Dika tersenyum simpul, kali ini dia tidak akan mengalah dari Latifa, dia bertekad harus bisa mendapatkan Latifa hari ini seutuhnya.

  Hujan masih menerjang jalanan kota Bogor. Dika begitu hati-hati menjalankan mobilnya, karena jalan begitu licin saat hujan.

  "Ya ampun, hujannya begitu lebat," lirihnya seraya fokus ke depan yang kini terjadi kemacetan, semakin lama semakin mengular kemacetan itu. Dari arah yang berlawanan, mobil dibiarkan berjalan duluan, sementara jalur yang digunakan Dika terpaksa mengalah dan berhenti menunggu giliran untuk maju.

  "Kenapa ada kemacetan seperti ini, Mas, apakah di depan terjadi kecelakaan?" tanya Dika pada pengguna jalan yang datang dari arah berlawanan, Latifa yang berada di samping Dika, ikut heran kenapa terjadi kemacetan sampai mengular seperti ini.

  "Di depan kurang lebih 500 meter, ada pohon besar tumbang di lajur yang Mas lewati. Jadi sepertinya ini akan makan waktu lama untuk mengurai kemacetan," infonya sembari melajukan kembali mobilnya pelan.

  "Huhhhhhppp."

 Dika menghela nafas dalam. Benar kata pemakai jalan tadi, pohon besar yang tumbang itu pasti akan lama proses evakuasinya. Dan dipastikan pengguna jalan di lajur yang sama yang dilewati Dika, akan lama menunggu kemacetan itu bisa terurai gara-gara pohon tumbang.

  Untuk mengusir jenuh, Dika menyetel car audio. Salah satu penyanyi jebolan Indonesia Berbakat sedang diperdengarkan, sesekali Dika ikut berdendang.

  Dika menoleh ke sampingnya, nampak Latifa ikut gelisah dengan kemacetan yang dilihatnya.

  "Sayang, bagaimana, di depan macet. Apakah kamu tidak apa-apa menunggu lama?" sapa Dika. Latifa tidak menjawab, bahkan dia tidak menoleh sama sekali pada Dika.

  Setengah jam kemudian lajur yang ditapaki mobil Dika, mulai merayap. Sementara lajur sebelahnya giliran berhenti.

  Hanya kurang lebih 200 meter mobil di lajur yang Dika lewati dihentikan dan harus menunggu lagi. Mobil Dika berhenti tepat di sebuah hotel semi mewah di jalan itu.

  Hujan semakin membesar seperti enggan beranjak, ditambah gelegar petir saling menyambar. Dika semakin was-was melihat situasi seperti ini. Terlebih jam di tangan semakin beranjak petang, saat ini saja hampir memasuki waktu Maghrib. Jika perjalanan dilanjutkan pun, rasanya percuma, sebab kondisinya akan terus tutup buka sampai pohon yang tumbang tadi selesai dievakuasi oleh petugas jalan.

  Akhirnya Dika berinisiatif untuk menepikan mobilnya ke dalam parkiran hotel di depannya. Dika kasihan melihat Latifa keletihan akibat lama di jalan.

  "Kenapa mobilnya masuk ke hotel?" tanya Latifa heran.

  "Sebaiknya kita istirahat dulu, sebab kondisi tutup buka jalan akan makan waktu lama. Lebih baik kita istirahat saja di hotel sampai menunggu kondisi normal kembali. Ayo, kita turun," ujar Dika seraya membuka pintu mobil dan merekahkan payung yang dia ambil dari dalam bawah joknya.

  Tubuh Dika memutar dan menghampiri pintu Latifa. "Ayo keluarlah, kita masuk hotel saja," ajak Dika yang terpaksa Latifa patuhi.

  Latifa keluar, dan mereka berpayung berdua menuju lobi hotel. Namun, sayangnya payung yang menaungi mereka, tiba-tiba terbang dan terangkat oleh angin. Dika berusaha menahan besi pegangan payung itu dan berharap kondisi payung kembali ke semula.

  Sayang sekali terpaan air hujan itu terlanjur menimpa tubuh Dika dan Latifa, sehingga tubuh mereka basah kuyup.

  Singkatnya, kini mereka sudah berada dalam satu kamar setelah tadi di lobi terjadi perdebatan, sebab Latifa yang sempat meminta kamarnya terpisah. Namun gagal, karena kamar hotel di sini hampir penuh. Akhirnya Latifa menerima satu kamar dengan Dika.

  "Lagian kita ini suami istri, buat apa pisah kamar?" omel Dika pada Latifa yang mulai menggigil karena bajunya basah kuyup sampai ke dalam-dalam. Dika melihat keadaan Latifa sangat memprihatinkan.

  "Sayang, kamu mandilah dulu dan bersihkan badanmu. Ngomong-ngomong, apakah kamu membawa baju di dalam tasmu?" Latifa menggeleng cepat membalas pertanyaan Dika. Latifa tampak bingung, terlebih sekarang dirinya sangat kedinginan.

  "Tidak apa-apa, sekarang kamu mandi saja. Lalu pakaian yang kamu pakai gantung saja di gantungan dalam kamar mandi dan biarkan dia mengering. Atau supaya lebih cepat, kita mandi bersama saja, sebab aku juga sudah mulai kedinginan," ucap Dika mengundang dilakan kesal dari Latifa.

  Latifa segera ke kamar mandi dan membersihkan diri di sana. Dia segera menggunakan handuk lilit untuk menutupi tubuhnya. Sementara baju dan dalamannya yang basah yang sudah di peras, dia gantung di gantungan kamar mandi, seperti apa yang dikatakan Dika tadi di luar.

  "Sayang, ayolah keluar. Aku sudah tidak tahan," teriak Dika mengejutkan Latifa yang melamun memikirkan baju ganti untuknya. Latifa keluar dengan wajah yang murung.

  "Ayolah, kalau kamu mau ganti baju, pakai saja kaosku. Ukurannya di badan kami pasti besar. Pakailah, tapi untuk dalaman aku tidak bisa pinjamkan. Tapi kalau kamu mau pakai kolor aku, boleh saja. Aku sudah siapkan sekalian di sana," terang Dika sembari menyunggingkan senyum tipis. Padahal bisa saja untuk baju ganti Latifa, Dika membeli di butik hotel ini yang kebetulan ada di lingkungan hotel.

  Latifa tidak menyahut, dia segera menuju kamar dan melihat kaos serta celana kolor yang disebutkan Dika tadi.

  "Jadi, aku malam ini harus pakai kaos gombrang yang hanya sepanjang paha ini, lalu dalamannya bagaimana?" bisik Latifa bingung. Sementara kolor Dika, sungguh menjijikan jika Latifa membayangkan harus memakainya.

  "Mending kalau lelaki itu tidak penyakitan, kalau penyakitan bisa berabe, alih-alih penyakitnya nular sama aku, ihh ngeri," gumamnya meringis.

  Sejenak Latifa melihat pantulan dirinya di cermin, alangkah terkejutnya. Sebab, dua aset miliknya ternyata menimbulkan lekukan tajam dan terawang. Sementara bawahnya, benar-benar polos tanpa tabir penghalang. Akhirnya Latifa kembali terduduk di ranjang, untuk menutupi tubuhnya dari pandangan Dika jika masuk kamar.

  Dika tersenyum penuh kemenangan, dia melihat Latifa sedang bercermin dengan wajah yang bingung. Pantulan tubuh Latifa, sungguh menggiurkan bagi Dika, dan malam ini Dika bertekad harus memiliki Latifa.

  "Sayang, apakah kaosnya suka?" tanya Dika membuat Latifa gugup dan lebih menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Dika tersenyum paham.

***

  

1
sunshine wings
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 2 replies
Lia Kiftia Usman
mampir...baca karyamu thor..menarik
lanjuut 😊
Lina Zascia Amandia: Makasih Kak...
total 1 replies
Siti Maulidah
ceritanya menarik
Lina Zascia Amandia: Makasih byk Kak...
total 1 replies
guntur 1609
cepat x Thor habisnya
guntur 1609
haha kena kau dika sm mamamu
guntur 1609
gk tahu ja tiga klu pemilik restoran tu mertuanya
guntur 1609
karna kau egois
guntur 1609
tujuan menghindar ehh. ni malah makin dekat
guntur 1609
calon mantu kalian tuh
Susi_Lin
thor aku mau ya 1 teh nya ,biar aku gak marah2 😂😂 soal nya hari2 ngerog sama bocil2, jadi nya suami tepat sasaran empuk
Silalahi Margakuu_
seru, kisahnya tidak bertele-tele, to the point, keteguhan dika, contoh tanggung jawab yg d harapkan pd banyak wanita yg d hianati, mau dong crita yg lain, saya suka crita singkat padat d jelas trimakasih
Lina Zascia Amandia: Makasih byk Kak, sehat sllu ya.
total 1 replies
Ira mamaya
Bahasanya kaku sekali... bosan bacanya
Henny Tri Mawardhany
Luar biasa
Pearly Verna Masambe Inaray
singkat, padat dan jelas👍👍
an wamu
hadir
Lina Zascia Amandia: Makasih Kakk.... 🥰🥰
total 1 replies
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
dijebak Arda toh
Lina Zascia Amandia: Iya...
total 1 replies
Cah Dangsambuh
wah oleh oleh buat pak yudi di buka mbahnya gaza
Cah Dangsambuh
nyeswk ooy
Cah Dangsambuh
aku mampir bap awal dah bikin deg degan
Lina Zascia Amandia: Makasih byk.. semogabetah.
total 1 replies
Junita Ginting
Singkat, padat dan bagus👍
Lina Zascia Amandia: Makasih Kakkk...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!