CINTA TAK BERTEPI adalah sebuah cerita dari seorang gadis bernama Reya Agustiana Dewi.
Berawal dari saat dirinya remaja. Karena sang ayah yang dipecat membuat dirinya harus pindah sekolah ke sebuah desa kecil. Disana dia berteman dengan seorang laki-laki bernama Rama dan saling jatuh cinta. Namun sayang, hubungan yang baru saja seumur jagung itu harus terpisahkan oleh maut dan membuat Reya sedikit trauma untuk kembali mengenal cinta.
Tapi bukankah setiap manusia memang sudah memiliki jodohnya masing-masing?
Begitupun dengan Reya. Saat usianya dewasa, rasa cinta kembali mengetuk hatinya lewat seorang polisi bernama Seno. Tapi sekali lagi, hubungan diantara mereka tidak selurus jalan tol. Banyak sekali ujian di dalam hubungan mereka. dan banyak juga misteri yang muncul sejalan kasus yang sedang dihadapi oleh AKP Seno Pramudya.
Akankah cinta Reya dengan Seno akan berujung ke dalam sebuah pernikahan???
Selamat membaca sahabat... 😄😄😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sari N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECEPLOSAN
Hari kedua Rama di rumah sakit. Pagi ini mau tidak mau, Reya harus meninggalkannya karena dia harus kembali sekolah. Sebelum pergi, dia sempat meminta kepada ayahnya Rama untuk segera menghubunginya jika terjadi perkembangan pada Rama. Sang ayah hanya mengagguk tanda setuju walaupun di dalam pikirannya, dia masih merasa heran dengan perhatian lebih yang ditujukan oleh Reya pada Rama.
Suasana di sekolah terasa sangat lain dari biasanya. Khususnya untuk mereka berempat. Ayisha, Dean, Alex dan juga Reya. Keempat sahabat ini seperti kehilangan separuh nafasnya. Tak ada yang banyak bicara seperti biasanya. Semua lebih banyak diam dan menjauh dari keramaian.
Kabar mengenai Rama yang terjatuh ke dalam sungai sudah menjadi topik yang sangat viral di lingkungan sekolah. Baik di wilayah para murid ataupun di wilayah para guru. Semua mempunyai pemikirannya masing-masing tentang kejadian tersebut. Apalagi mereka juga tahu kalau Reya yang sudah menolongnya. Beberapa spekulasi tumbuh di dalam pikiran orang-orang. Ada yang menganggap mereka sedang pacaran lalu Rama terjatuh, ada juga yang
berfikir kalau Reya yang sudah mendorong Rama sampai terjatuh.
“Elo ga apa-apa Rey?” tanya Ayisha di sela jam istirahat.
Dia sangat khawatir dengan saudaranya itu yang sejak tadi pagi hanya diam sambil tertunduk. Semua pelajaran yang sudah disampaikan oleh guru di sekolah pun seolah masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.
“Rey, apa gue boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi disana?” tanya Ayisha kembali.
“Seperti biasa, Sha. Semua kejadian negatif yang selalu menimpa Rama, pasti gue penyebabnya,” jawab Reya pelan dengan air mata yang mulai mengalir.
“Kok elo ngomong gitu sih Rey?” jawab Ayisha sambil memegang lembut bahu Reya.
“Gue gak tau kalau Rama gak bisa berenang. Seandainya gue tau, gue gak akan ngelakuin hal bodoh kayak kemaren.” Tangis Reya benar-benar pecah saat itu. Dia sampai memukul-mukulkan kepalanya ke meja.
Ayisha yang tidak tega dengan Reya, langsung memeluknya. Membuat Reya berbalik memeluk saudarnya itu. Ayisha hanya bisa diam, membiarkan Reya melepaskan semua beban di hatinya di dalam pelukannya.
“Tenanglah, Rama pasti akan baik-baik saja," ucap Alex yang tiba-tiba berdiri di belakang Reya sambil memegang bahu Reya.
Beberapa saat mereka semua terdiam. Saling menyalurkan energi positif satu sama lain. Mengirim doa bersama untuk kesembuhan Rama. Secara tiba-tiba tangan Alex memegang tangan Reya yang sedang ada di atas meja. Membuatnya takut kalau Alex akan kembali murka kepadanya.
“Alex... “ ucap Reya sambil menatap takut ke arah Alex. Sedangkan yang ditatap membalasnya dengan senyuman manis.
“Elo harus sabar ya,” ucap Alex.
“Tapi gue...”
“Sudahlah. Apapun yang terjadi disana, semuanya sudah terjadi. kita tidak bisa mengembalikan waktu. Gue gak perlu tau kejadian yang sebenarnya disana. Dan elo juga gak punya kewajiban untuk menjelaskan ini semua ke kita. Yang harus kita lakukan sekarang adalah saling mendukung satu sama lain. Agar Rama bisa segera sembuh,” potong Alex.
Kata-kata panjang yang keluar dari mulut Alex benar-benar membuat aneh sekaligus senang di mata Reya dan Ayisha. Bagaimana pun mereka tahu sifat Alex seperti apa. Apalagi jika harus menyangkut para sahabatnya. Tapi entah kenapa hari ini dia tampak lain dari biasanya. Tidak ada raut marah di wajah Alex pada Reya. Hanya ada senyum penuh dengan dukungan.
***
Malam hari. Di rumah Alex, dia baru saja selesai mandi. Dengan menggunakan pakaian tidurnya, dia langsung naik ke atas kasur. Bermain game di handphone menjadi rutinitas kesehariannya sebelum tidur. Ditemani dengan beberapa cemilan dan juga segelas teh manis hangat. Rumah Alex memang sepi. Setelah orangtuanya meninggal, kini dia tinggal ditemani oleh pamannya. Walaupun begitu tidak ada sedikit pun kedekatan diantara mereka. Sang paman yang senang sekali berjudi, jarang ada di rumah terutama malam hari. Kesepian inilah yang menjadi salah
satu faktor yang membuat Alex mulai mencoba dengan yang namanya minum-minuman beralkohol.
Ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba saja teleponnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Sebuah panggilan dari Ayisha.
“Halo.. kenapa Sha? Gangguin orang lagi mau ngalahin raja aja,” ucap Alex sambil menggerutu karena jagoannya harus kalah.
“Hah??? Raja mana??” Ayisha bingung.
“Ah udahlah. Lupain aja. Kenapa? Ada kabar dari Rama?”
“Belum.”
“Terus elo nelepon gue mau ngapain?”
“Lex, elo baik-baik aja kan?” tanya Ayisha langsung pada tujuannya menghubungi.
“Iya. Emangnya gue kenapa?”
“Elo ga lagi minum kan?”
“Gue lagi minum teh manis hangat. Elo mau??” dengan nada masih kesal.
“hehehehehehe.....” Ayisha hanya menjawab dengan tertawa singkat.
“Ya udah kalau ga ada apa-apa, gue tutup teleponnya. Selamat malam!!!”
“Eh Lex tunggu!!!”
“Elo mau apa sih Sha?”
“Gue cuman mau tanya aja. Kok elo ga marah ke Reya atas apa yang udah terjadi sama Rama? Elo tau yang sebenarnya?”
“Gue gak tau dan gue gak mau tau. Yang gue tau hanyalah Reya itu saudara elo. Gue gak mau nyakitin saudara elo. Karena kalau gue nyakitin Reya, otomatis gue juga berarti nyakitin elo. Dan gue ga mau ngeliat elo sedih. Elo sangat berarti di hidup gue, Sha. Gue sayang sama elo.”
Alex dan Ayisha sama-sama terkejut dengan pembicaraan tersebut. Ayisha terkejut dengan kata-kata Alex yang bilang kalau dia sayang padanya, sedangkan Alex terkejut karena dia sudah keceplosan mengungkapkan isi hatinya.
“Apa?? Apa maksud elo, Lex?” tanya Ayisha kaget.
“Udah dulu ya Sha. Gue tutup teleponnya. Selamat malam.”
Alex yang tidak mau memperpanjang obrolannya langsung menutup telepon tersebut. Dalam hatinya dia merutuki kebodohannya sendiri.
“Bagaimana gue bisa keceplosan gini sih.. Ahh Alex.. Mudah-mudahan aja Ayisha ga ngerti.”
***
Angin malam yang dingin terasa menusuk pada kulit lembutnya Reya. Reya yang kini duduk di dalam taksi online, sengaja membuka jendela agar bisa menghirup udara yang belakangan ini sangat menyesakkan dadanya. Pandangannya terfokus pada jalanan yang bergerak ke belakang.
Setelah beberapa jam berdebat dengan orangtuanya akhirnya Reya mendapat izin untuk menginap di rumah sakit menunggu Rama. Itu pun harus ada drama saling telepon antara orangtuanya dan juga ayahnya Rama. Sepanjang perjalanan hatinya tidak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan Rama. Sesekali dia mengusap air mata yang selalu saja terjun tanpa bisa tertahan.
“Nona, kita sudah sampai,” ucap sang driver yang menyadarkan Reya dari lamunannya.
Setelah selesai dengan pembayaran, Reya turun dari mobil dan langsung berjalan memasuki area rumah sakit. Jalan melewati lorong-lorong yang sudah mulai sepi pengunjung. Ayah Rama sudah menunggu di ruang tunggu agar Reya bisa ikut masuk ke dalam.
“Bagaimana keadaan Rama, Pa?” tanya Reya sambil berjalan mengikuti sang kepala sekolah.
“Alhamdulillah sudah lewat dari masa kritis. Bahkan sekarang dia sudah dipindahkan ke ruangan perawatan.”
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rama, Pa?”
“Ada air masuk ke dalam paru-parunya. Oleh sebab itu perlu penanganan khusus untuk mengeluarkannya. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa,” jawab ayah Rama sambil tersenyum menenangkan karena melihat wajah Reya yang mulai pucat.
CEKLEK
Pintu ruangan Rama dibuka oleh sang ayah. Reya sangat sedih melihat kondisi Rama yang masih tidak sadarkan diri. Jarum infus terpasang di tangannya. Wajah Rama memang sudah tidak sepucat kemarin, akan tetapi rasa penyesalan di hati Reya masih tetap tidak berkurang malah semakin besar. Dia sampai tidak sadar kalau sudah menangis sambil memegang tangan Rama di depan sang ayah Rama.
###