Dinikahi Roylando yang hobi bermain judi dan berselingkuh, membuat hidup Tara penuh dengan penderitaan.
Tara terpaksa berjuang sendiri untuk menafkahi anak nya dan menghidupi keutuhan rumah tangga nya.
Dibalik kegelapan hidup Roylando ternyata masih banyak rahasia yang ia sembunyikan dari Tara.
Perlahan rahasia itu pun terungkap bersama kehadiran seorang pria misterius yang mengaku sebagai pengagum rahasia Tara.
Kehadiran pria itu dalam hidup Tara, mampu membangkit kan semangat hidup Tara yang nyaris putus asa.
Tara pun berhasil menguak seluruh tabir rahasia keluarga Roylando yang selama ini di tutupi.
Siapakah sebenar nya pria misterius itu? Bagaimana ia bisa tahu semua hal tentang Tara? Apa hubungan Roylando dengan pria itu?
Bagaimana cerita hidup Tara yang penuh tantangan dan dipenuhi intrik kejahatan dari seorang perempuan jahat bernama Karla dan seorang pria jahat bernama Dika?
Apakah Tara bisa selamat dari rencana pembunuhan yang di rangkai mereka berdua?
Cuss Baca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Tara pada Karla
Didepan pintu rumah.
Dokter Adrian terlihat berdiri di ambang pintu rumah dengan wajah murka.
"Hentikan kelakuan kalian yang kekanak-kanakan itu!" teriak beliau dengan suara lantang.
Arya pun beranjak mundur menjauhi Roy. Sejenak ia menatap Tara dengan tatapan penuh makna sebelum langkahnya berjalan gontai menghampiri Dokter Adrian yang masih berdiri tenang di ambang pintu.
"Apalagi yang Roy lakukan padamu sehingga kamu memukulnya sedemikian rupa?" tanya Dokter Adrian menatap Arya penuh selidik.
Beliau sangat paham watak kedua putranya itu. Arya tak'kan sembarangan memukul Roy bila tak ada masalah yang besar terjadi di antara mereka berdua. Dan Dokter Adrian sangat yakin yang memulai permasalahan pasti Roy orangnya.
Arya berdiri dihadapan Dokter Adrian dengan mata terlihat sendu.
"Maafkan aku, Roy menghinaku, ia nyaris menampar Tara. Aku tak bisa membiarkan ia menyakiti Tara di depan mataku." Arya mengadukan perbuatan Roy pada Dokter Adrian yang membuat darah beliau seketika jadi mendidih.
"Tara, kemarilah!" Dokter Adrian memanggil menantunya yang masih berdiri mematung tak jauh dari Roy.
Sejenak Tara memandangi Roy yang masih duduk sambil meringis menahan perih di bibirnya dengan hati bimbang. Perlahan Tara berjalan ke tempat ayah mertuanya berada diiringi tatapan Roy yang seakan mengharap simpati dari Tara.
"Apa betul, Roy hendak menamparmu?" Tanya Dokter Adrian sesaat Tara tiba didekat nya.
Tara pun mengangguk pelan mengiyakan seraya melirik Arya yang berdiri menunduk disamping Bapak angkatnya itu.
"Roy kudengar menghina Arya. Lalu Arya memukul Roy. Aku cuma bermaksud melerai mereka berdua. Roy tak terima dengan sikapku yang seolah membela Arya. Roy jadi marah dan berniat menamparku. Hingga Arya ikut emosi dan memukul Roy." Tara menjelaskan kronologi dari awal hingga akhir agar Dokter Adrian tidak salah paham.
Dokter Adrian pun manggut-manggut.
"Apa kamu tahu, apa yang dikatakan Roy pada Arya? Sehingga Arya jadi membabi buta?" tanya Dokter Adrian lagi dengan penasaran.
Sejenak Tara terdiam. Ada keraguan untuk mengatakannya. Matanya melirik Arya sebentar. Arya terlihat menggelengkan kepalanya pelan seakan melarang Tara untuk bicara jujur.
"Aku tak mendengar apa yang Roy katakan tentang Arya. Yang ku tahu Roy menghina Arya dengan kata-kata kasar." Jawab Tara sambil menunduk.
Dokter Adrian menarik nafas berat. Hatinya teramat jengkel dan dongkol dengan sikap Roy.
"Roy! Masuk ke ruangan Papa!" perintah Dokter Adrian dengan suara lantang pada Roy.
Api amarah masih terlihat membara di wajahnya yang tua.
"Kalian berdua masuklah ke dalam. Aku ingin bicara dengan Roy di ruangan kerjaku!" ucap Dokter Adrian seraya meninggalkan Arya dan Tara berdua di depan pintu rumah.
Roy bangkit dari duduknya. Dengan langkah terseok-seok Roy berjalan melewati Tara. Ia sejenak berhenti didepan Arya sambil tersenyum sinis. Kemudian berlalu pergi masuk ke dalam rumah mengikuti Dokter Adrian dari belakang.
Selepas kepergian Roy dan Dokter Adrian.
Arya menyentuh pundak Tara dengan lembut.
"Masuklah ke dalam. Aku masih ingin menikmati udara segar duduk di teras." Ujarnya lembut.
Tara menatap wajah tampan Arya nanar. Sungguh, Tara merindukan wajah dan senyuman nya. Kerinduan yang tak seperti biasanya, hingga terbawa mimpi dalam tidurnya.
Akh !!
Tara mendesah berat mengingat kelakuan Roy tadi di dalam kamar saat ia ketiduran. Hampir saja, Roy menjadi teman tidurnya. Tara menepuk jidatnya pelan.
"Kenapa Tara? Apa kepalamu sakit?" Arya tiba-tiba menyentuh kepala Tara.
Tara menggeleng lemah. Andai saja saat ini ia tak menyadari sedang berada di mana. Mungkin ia sudah memeluk Arya dan berkata bahwa ia merindukannya.
"Aku ingin bicara denganmu sebentar." Tara menarik tangan Arya menuju sudut taman yang cukup gelap tanpa cahaya.
Arya mengikutinya dengan patuh.
Dibalik sebuah pohon yang cukup besar mereka berdua berdiri saling berhadapan. Tara menatap wajah tampan Arya dengan hati yang berdetak kencang.
"Ya Tuhan, kuatkan imanku dari godaanmu ini." Gumam Tara dalam hati.
Wajah Arya begitu dekat, tak bergerak sedikitpun. Matanya menatap Tara tak berkedip. Tara menggenggam jemarinya begitu kuat. Seolah tak ingin ia lepaskan.
"Ada apa Tara? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Arya penasaran.
Aroma alkohol tercium menusuk di hidung Tara. Aneh, meskipun Tara membenci aroma itu. Tapi tak sedikitpun ia berniat menjauh dari Arya.
"Apa kamu mencintai Karla?" tanya Tara tiba-tiba mengagetkan Arya.
Wajah Arya seketika pucat pasi.
"Apa kamu tadi mendengar semua yang di katakan Roy padaku?" Arya balik bertanya.
Tara mengangguk pelan.
"Ya, aku dengar semua penghinaannya padamu. Dan Karla juga sudah bercerita banyak padaku tentang pertunangan kalian yang sudah putus." Ucap Tara dengan suara getir sambil tertunduk sedih.
Arya melepas tangannya dari genggaman Tara. Ia mengangkat dagu perempuan itu keatas hingga mata mereka berdua saling bertemu.
Hati Tara seketika berdegup kencang. Matanya terlihat nanar memandang Arya dalam. Bibirnya seakan bergetar hebat menahan perasaan yang bergejolak di dadanya.
"Bukankah kamu sudah mengetahui segalanya dari Karla? Mengapa kamu bertanya lagi bagaimana perasaanku pada Karla?" Arya menatap Tara tajam.
Tara tak sanggup menatap binar mata Arya yang seakan menusuk jantungnya. Tara menyingkirkan wajahnya dari tatapan mata Arya yang tajam.
"Aku tahu, Karla sangat mencintaimu. Ia sudah banyak berkorban untukmu." Ucap Tara mencoba menyembunyikan rasa cemburu yang tiba-tiba mendera di hatinya.
"Hubunganku dan Karla sudah berakhir Tara. Aku tak pernah mencintainya sekalipun. Karla sangat memahami itu. Aku sengaja memutuskan pertunanganku dengannya sebab aku kasihan padanya. Aku tak mau Karla bernasib seperti aku. Aku berpisah dengannya secara baik-baik. Kami berdua tetap menjalin hubungan sebagai sahabat. Seperti sebelum kami bertunangan." Arya menjelaskan perihal hubungannya dengan Karla.
Tara tersenyum hambar.
"Kamu egois Arya. Kamu tak pernah memikirkan perasaan Karla sedikitpun. Bagimu saat ini dia tetap sahabatmu. Tapi hati Karla telah berubah. Ia tak bisa kembali menjadi sahabatmu. Karna ia sangat mencintaimu." Tukas Tara.
Sesaat Arya terpaku mendengar perkataan Tara.
"Aku tak pernah berniat menyakiti Karla. Sedari awal Karla menyadari bahwa satu-satunya perempuan yang ku cintai hanyalah kamu." Nada bicara Arya terdengar memilukan.
Hati Tara berguncang hebat, dadanya terasa sesak.
"Karla tak'kan melepasmu begitu saja. Aku tahu, ia akan terus mengejarmu hingga kamu lelah dan jatuh dalam pelukannya lagi." Ujar Tara bimbang.
Ada ketakutan yang menghantuinya tiba-tiba.
Arya menarik tangan Tara dalam genggamannya.
"Apa kamu cemburu Tara?" tanya Arya sendu.
Tara terperangah mendengar pertanyaan Arya.
"Cemburu? Apa mungkin perasaan itu timbul di hatiku? Apa aku berhak untuk cemburu? Arya cuma kekasih rahasiaku. Dia bukan suamiku." Keluh Tara dalam hati merasa sedih.
Sejenak mulut Tara bungkam tak mampu bicara.
"Apa kamu cemburu pada Karla?" tanya Arya lagi dengan pandangan menyelidik.
Raut wajah Tara seketika bersemu merah.
Arya menatap wajah perempuan yang ia cintai itu dengan lembut.
"Apa kamu takut kehilanganku?" desak Arya lagi menanti sebuah jawaban pasti.
Tara tertunduk diam merunduk malu, tak mampu menjawab pertanyaan Arya yang ditujukan padanya.
Arya tersenyum melihat sikap Tara. Perlahan Arya merapatkan tubuhnya. Ia memeluk tubuh Tara dengan erat.
"Aku sangat mencintaimu Tara. Tak seorang pun perempuan bisa menggantikanmu di hatiku meskipun ribuan Karla datang menggodaku." Bisik Arya lembut di telinga Tara.
Raga Tara seakan melayang terbang. Ia pun balas memeluk Arya dengan erat melepaskan kerinduan yang sedari tadi terpendam di dadanya.
Ia pun membenamkan kepalanya sedemikian rupa dalam dekapan Arya yang hangat dan penuh cinta.
Srek !!
Mereka berdua kaget mendengar sebuah suara.
Siapa itu ?
.
.
.
BERSAMBUNG