"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Serena berdiri pasrah jika satu peluru itu akan menembus kepalanya dan merenggut nyawanya.
DOR!
Suara tembakan terdengar keras mengejutkan Serena. Namun, Serena merasa heran saat menyadari dirinya tidak merasakan sakit.
Serena membuka mata, lantas menoleh ke belakang. Desah lega keluar dari mulutnya begitu tahu ternyata yang barusan Lennox tembak adalah vas bunga yang terletak tepat di samping kepalanya.
"Semuanya keluar! Tinggalkan ruangan ini! Aku akan memberikan pelajaran pada gadis ini!" perintah Lennox pada seluruh bawahannya yang sejak tadi hanya menonton dengan raut puas karena melihat ketakutan di wajah Serena.
"Baik, Tuan Lennox."
Degup jantung Serena memompa kuat. Keringat dingin pun membanjiri pelipisnya.
"Lennox akan memberiku pelajaran? Kali ini apa lagi yang akan dia lakukan padaku?" batin Serena panik.
Begitu seluruh bawahan Lennox pergi dan menutup rapat pintu markas, kini tersisa Lennox dan Serena saja di dalam ruangan yang dindingnya didominasi warna hitam tersebut.
"Tikus kecil, kau salah dengan berani masuk ke kandang singa. Kali ini aku mengurungkan niatku menembak mu. Tapi jika kau melakukan kesalahan lagi, aku pastikan kepalamu akan bernasib sama seperti vas bunga itu." Sambil melangkah menghampiri Serena, tangan kanan Lennox lalu menunjuk pada vas bunga mahal yang telah pecah dan berserakan di lantai, tepat di dekat kaki Serena.
Mendengar ancaman Lennox, bulu kuduk Serena merinding ngeri.
"Aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Sekarang tolong lepaskan aku!"
"Apa katamu? Kau minta dilepaskan?" Lennox tertawa pelan. Tawa yang mengerikan meski berasal dari pria setampan dirinya.
Tangan Serena saling meremas gugup saat Lennox berjalan pelan memutari tubuhnya sambil sesekali mengamati tubuh Serena yang langsing dari balik dress biru muda selutut yang dipakainya.
"Baik, aku akan melepaskan mu. Tapi setelah aku memberimu hukuman atas kelancanganmu barusan."
Serena terhentak kaget, tiba-tiba Lennox menarik kedua pundaknya dan mencengkeramnya dengan kuat. Kemudian, Serena disudutkan ke buffet yang cukup tinggi hingga punggungnya mentok di buffet kayu tersebut.
"Lennox, tolong-"
"Berhenti bicara! Berteriaklah setelah aku memasuki mu, Serena," bisik Lennox menyeringai.
Ditariknya baju dress Serena dengan sentakan keras hingga sobek dan bagian depannya jadi berantakan.
Serena meski dalam keadaan genting, tetap menjaga keberaniannya. "Lennox, ini tidak adil. Jangan lakukan ini," ucapnya dengan suara lirih, mencoba menahan ketakutannya.
Lennox tersenyum sinis. "Keadilan adalah kata yang lucu, Serena. Kau pikir hidup ini adil? Apakah kau pikir permainan takdir ini akan memberikan keadilan padamu?"
Serena mencoba meyakinkan Lennox. "Aku bisa mencoba mengerti, tapi ini bukan cara yang benar. Kita bisa menemukan jalan keluar yang lebih manusiawi."
Lennox mengejek. "Manusiawi? Hidup ini penuh dengan ketidakadilan. Kau harus belajar untuk menghadapinya."
Namun, dalam pandangan dingin Lennox, ada kilatan ketidaksetujuan di mata Serena. "Lennox, apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah menjadi kekasihmu dengan cara ini. Aku tidak akan menyerahkan harga diriku begitu saja."
Lennox memicingkan mata, menggertakkan gigi. "Aku tahu kau lebih memilih sengsara daripada menjadi milikku. Kau benar-benar menguji kesabaranku, Serena."
Sementara ketegangan di ruangan itu mencapai puncak, nasib Serena bergantung pada keberaniannya dan kemampuannya untuk membalikkan situasi yang semakin berbahaya ini.
Sedangkan Lennox, terus memaksakan kehendaknya yang sedang mencium paksa bibir Serena.
Lennox membuka paksa dress Serena yang sudah sobek. Menampilkan bagian atas dada Serena yang bulat dan padat.
Kepala Lennox sudah dicondongkan ke depan untuk menghisap bukit kembar itu.
Tapi Serena terhenyak, "Tunggu!! Kau benar ingin aku menjadi kekasihmu?"
Lennox kembali menarik dirinya. Ia memicingkan matanya saat menatap Serena.
"Kau menolaknya dan mengatakan bahwa kau tidak pernah mencintaiku, dan membenci ku. Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Kau tidak akan pernah mengkhianati perkataan mu, bukan? Sehingga, sampai seumur hidupku, kau harus merasakan balasannya."
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor