Aulya Putri Ardinata adalah putri tunggal dari keluarga Ardinata. Bukan hanya terkenal dengan kecantikan dan juga kepintarannya, tetapi dia juga terkenal dengan sifat playgirl. Dia dengan mudah pindah ke tangan pria lain yang terlihat menarik di matanya.
Jika dia sudah tertarik dengan seorang pria, maka hanya satu yang ada di pikirannya. Dia harus mendapatkan pria itu, tidak perduli jika dia masih memiliki kekasih ataupun tidak.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan sosok pria yang sangat menarik perhatian. Pria yang mampu menciptakan getaran yang berbeda di dalam tubuhnya. Getaran yang tidak pernah dia rasakan saat bertemu dengan pria lainnya.
Mampukah Aulya menaklukkan hati pria yang super jutek itu?
Yuk ikuti terus kisah mereka....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprida Wati Tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
"Hiks... hikss... kenapa kakak sangat jahat? aku benci kakak," Aulya langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Gadis itu menangis histeris sambil memukul bantal guling. Dia melampiaskan semua kekesalannya kepada bantal itu, berbagai macam kata umpatan dan makian keluar dari mulut gadis itu. Namun, saat bergulat dengan bantal guling itu, tiba-tiba dia mengingat sesuatu, sehingga dia berhenti sejenak dari kegilaannya itu.
"Tunggu dulu. Untuk apa aku bersedih untuk perjodohan ini? lagipula aku bisa berbuat semauku, selagi Kak Gibran tidak mengetahuinya," gumam gadis itu tidak ada kapok-kapoknya membuat ulah. Walaupun di beri hukuman seberat apapun, tidak akan mampu memberikan efek jera untuk gadis itu. Tidak perlu heran untuk itu, bibitnya saja lebih keras dari batu.
"Oh! aku baru ingat sesuatu. Wanita yang di rumah Kak Alfa, aku harus mengawasinya," gumam gadis itu langsung turun dari ranjangnya.
Baru saja dia meraung seperti orang kesurupan, akan tetapi tiba-tiba dia bisa berubah dalam sekejap. Memang gadis tengil, tidak akan bisa diam walaupun sedetik saja. Dia berjalan menuju balkon sambil menghapus air matanya mengunakan telapak tangannya. Gadis itu menatap ke arah kediaman Aldareld dengan tatapan liar. Hingga akhirnya tatapan itu terhenti kearah mobil Alfa yang sedang terparkir di depan kediaman itu.
"Itu Kak Alfa sama Kia. Tapi kenapa ada wanita itu? bahkan dia sangat dekat dengan Kia," gumam Aulya kesal ketika melihat pemandangan yang sangat menusuk ulu hatinya. Dimana dia melihat Alfa keluar dari rumah bersama Alfi dan juga Kia. Bahkan dia melihat wanita itu membawa tas kerja Alfa.
"Kenapa mereka seperti keluarga yang harmonis? aturan aku yang ada di posisi wanita itu," ucap Aulya tidak terima.
"Aku harus menelpon Dika. Pasti dia tau siapa wanita itu," gumam Aulya langsung berlari mencari ponselnya.
"Lo nyariin gue?" baru saja di bicarakan, tiba-tiba orangnya langsung nonggol di depan pintu.
"Lo! kenapa lo tiba-tiba ada di sini?" tanya Aulya menatap bingung sahabatnya itu.
"Tentu saja gue langsung muncul, karena calon istri gue sedang mencari gue," ucap Dika dengan pede sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Dik!" ucap Aulya lembut, akan tetapi di balik kata-kata lembut itu ada niat yang terselubung.
"Ada apa, Sayang?" tanya Dika lembut, tidak lupa tatapan mesum yang membuat Aulya langsung mengidik ngeri.
"Idih! tatapan lo bisa biasa aja ngak?" tanya Aulya ketus.
Dika hanya cengengesan kecil sambil memperbaiki duduknya. Dia menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh haru. Jujur dia merasa kasihan kepada Aulya, karena harus di jodohkan dengan Erwan, pria brengsek yang suka mempermainkan Aulya. Sebenarnya Erwan tidak serius menerima perjodohan ini, melainkan dia hanya ingin balas dendam atas perbuatan Aulya yang sudah mencampakkan dirinya.
"Apa lo akan menerima perjodohan lo dan pria busuk itu? dengar ya, Lya. Gue memang menyukai lo, tapi gue jauh lebih ikhlas jika lo hidup bersama Kak Alfa dibandingkan pria busuk itu," ucap Dika dengan tulus.
Memang dia sudah menyukai Aulya sejak pertama kali melihat gadis itu. Bahkan saat pertama kali keluarga Aldinata kembali ke kota ini, sahabat pertama Aulya adalah Dika. Bukan hanya sahabat, tetapi mereka sudah melewati begitu banyak kenangan bersama. Semua suka, duka kehidupan mereka hadapi bersama, bahkan tidak jarang Dika mendapatkan hukuman karena kesalahan Aulya. Aulya memang selalu membuat ulah, tetapi Dikalah yang selalu menutupi kesalahan gadis itu.
"Lya! lo tenang saja, gue akan bantu lo keluar dari perjodohan ini," ucap Dika mengenggam tangan Aulya. Dia menatap gadis itu dengan tatapan penuh ketulusan.
"Bagaimana caranya? Kak Gibran ngak memberikan pilihan kepada gue, Dik,"
"Lo tenang saja. Gue sudah bicara dengan Kak Gibran, dia akan membatalkan perjodohan ini jika kita bisa membuktikan jika Erwan bukan pria baik. Jadi, sekarang kita harus mulai mengatur rencana. Ingat! kebahagiaan lo adalah hal yang paling utama," ucap Dika tersenyum.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, hati Aulya langsung tersentuh. Dia menatap pria itu dengan tatapan penuh kebahagiaan. Walaupun selalu bertengkar, tetapi persahabatan mereka sangatlah erat. Di sisi lain ada Aulya si gadis tengil yang selalu membuat ulah, di satu sisi ada Dika si jahil tetapi memiliki kesabaran seluas samudera. Sehingga membuat persahabatan mereka menjadi saling melengkapi satu sama lain.
"Lo memang sahabat terbaik gue, Dik. Gue menyayangi lo," ucap Aulya memeluk Dika penuh kebahagiaan.
"Gue juga menyayangi lo, Lya. Tapi sayang, lo tidak pernah melihat cinta gue. Tapi tidak masalah, asalkan lo bahagia, gue juga akan ikut bahagia," batin Dika menyeka air matanya sambil membalas pelukan Aulya.
"Oh ia! gue mau bertanya sesuatu. Tapi lo harus jawab jujur," ucap Aulya kembali mengingat tujuan awalnya.
"Apa?"
"Lo kenal cewek yang di rumah Kak Alfa tidak?" tanya Aulya dengan mode kepo tingkat dewa.
"Kenal! Dia Kak Alfi," ucap Dika jujur.
"Gue lihat dia dan Kak Alfa dekat. Mereka ada hubungan spesial?"
"Tentu saja. Kak Alfi adalah wanita yang paling berharga di kehidupan Kak Alfa. Dia sangat menyayangi Kak Alfi melebihi apapun. Oh ia, kamu lihat tadi tidak?"
"Lihat apa?"
"Saat Kak Alfi mengantarkan Kak Alfa sampai ke depan mobil. Dari sama kamu bisa melihat bagaimana sayangnya Kak Alfa kepada Kak Alfi," ucap Dika tersenyum kecil.
"Dika! stop. Gue tidak mau dengar lagi,"
"Kenapa? lo tidak mau tau siapa Kak Alfi?"
"Tidak!"
"Benar? nanti nyesel lho,"
"Tidak! lebih baik gue tidak tau," ucap Aulya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Udara yang begitu sejuk tiba-tiba terasa panas membakar tubuhnya.
"Lihat saja! gue akan memberikan si Alfo-Alfi itu pelajaran. Lihat saja nanti,"
Bersambung......
sehat selalu.