NovelToon NovelToon
GOODBYE, NDUT

GOODBYE, NDUT

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kontras Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / CEO / Diam-Diam Cinta / Chicklit / Tamat
Popularitas:209.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mommy Qiev

JUARA KOOPERATIF LOMBA WANITA KUAT S3

Suara merdu Afjameha Manorama saat membawakan acara di radio, membuat dia jadi penyiar idola. Namun, saat identitasnya terkuak, Afjameha malah mendapat perundungan akut dari para fans.

Dia pun menjadi bulan-bulanan di sekolah oleh Candy and The geng. Afjameha bertahan sebab ada Ben alue, kekasih yang selalu mendukung tanpa melihat kekurangan fisiknya.

Namun, kemalangan kembali menimpa. Sang ayah terpikat pesona wanita lain, membuat Afjameha dan ibu terusir. Mereka pun terlunta di jalanan hingga hampir mati.

Garis nasib membawa dia bertemu seorang sepuh di kampung kumuh, hingga bertatap muka dengan Samagaha, seseorang yang berarti baginya di masa depan.

Suatu hari, muncul figur idola baru. Produk ciptaannya trending seantero jagat. Bussines women yang sangat cantik, ramping juga seksi. Membuat banyak pria terpikat termasuk Ben dan sang ayah.

Siapakah sosok tersebut? Formula apa yang dia ciptakan hingga produknya trending?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. HEART TO HEART

Menjelang siang, penandatanganan kontrak selesai. Afja hanya meminta salinan perjanjian itu untuk dia baca sebab saat penjabaran tadi, dirinya pasrah sebagai pendengar. Tidak ikut berpikir atau menanggapi. Isi otaknya terlalu penuh dengan Malaseka.

Sam sengaja keluar ruangan paling akhir, menunggu Afja yang tak bergerak dari tempatnya. Bahkan ketika Shin duduk di kursi sampingnya, gadis itu bergeming.

"Wah benar, dia sedang tak memijak bumi, Bos. Permisi," ujar Shin pamit pergi meninggalkan keduanya.

Sam memperhatikan gerak gerik Afja sejak tadi, gadis itu melamun. Suara berisik saat OB merapikan meja juga peralatan lainnya, tak membuatnya terusik.

Sam bangkit, membuka jasnya lalu berjalan memutar hingga berdiri di samping kursi Afja. Dia lalu menyambar tas tangan gadis itu yang tergeletak di atas meja.

"Mano, ayo," ajak Sam keluar ruangan lebih dulu.

Hening.

"Mano!" panggil Sam lagi, saat dia membuka pintu.

Afjameha gelagapan. "Eh! I-iya." Dia tak sadar sekitar sejak tadi, mata sipitnya mengerjap beberapa kali sebelum membalas senyum dan anggukan OB yang sedang bersih-bersih ruangan.

Gadis ayu, bangkit dari duduk dan meninggalkan ruangan, dia bahkan tak menyadari jika tas tangannya telah Sam bawa.

"Makan siang dulu atau gimana? melamun juga butuh tenaga. Apalagi kalau mikirin aku," lirih Sam, saat berjalan di sisi gadisnya.

Lagi-lagi Afja hanya diam. Dia mendengar ucapan Sam tapi rasanya berlalu begitu saja. Masuk kuping kanan keluar kiri.

"Ya ampun." Sam menggeleng kepala. Jiwa Afja betul-betul tidak hadir utuh. Dia lalu meminta supir Afja kembali ke rumah karena majikan wanitanya akan Sam antar pulang sekaligus menemui Fasraha nanti.

"Silakan masuk, Nyonya Ziyan." Sam membuka pintu belakang mobil. Dia tampak menikmati seakan punya kesempatan mengumbar sapaan manis selama Afja tak menyadarinya.

"Eh, Nyonya Ziyan?" ulang Afja saat dia duduk di jok, jemarinya menahan panel pintu mobil.

"Kamu denger?" pancing Sam.

"Dengerlah. Maksud Bapak?" tanya Afja, melihat ke arah Sam dengan tatapan heran.

"Gak ada maksud, cuma punya niat," balas Sam, tersenyum simpul seiring pintu mobil yang dia tutup.

Sam memutari mobil dan duduk di samping Sonda. Dia meminta asistennya itu melajukan kendaraan menuju pesisir pantai yang sepi.

Selang beberapa menit kemudian. Mobil petinggi SidoGeni memasuki kawasan PIK dua. Sonda memarkirkan kendaraan mereka di food area. Sam segera turun menuju bagasi, dia mengeluarkan sesuatu dari sana.

Tepat saat pintu belakang dibuka oleh Afja, Sam meletakkan sepasang sandal jepit untuk sang gadis. "Pake ini. Biar kakimu gak luka terkena pecahan cangkang keong saat berjalan di pasir nanti," ujar sang duda. Dirinya pun memakai sandal serupa.

Afja hanya mengangguk. Dia mengikuti arahan Sam. "Eh, tas saya ketinggalan di kantor, Pak," kata Afja baru menyadari keberadaan sling bag miliknya.

"Ada di kursi depan. Ayo," sahut Sam, melambaikan tangan agar dia lekas keluar dari sana.

"Kok bisa?" tanya Afja lagi, menoleh sekilas ke arah pimpinan SidoGeni.

"Aku yang bawa tadi sebab kamu sibuk merangkai bayang halu," jawab Sam datar.

Keduanya mulai berjalan bersisian melewati food area. Sam menggulung lengan kemejanya hingga siku, juga membuka dua kancing bagian atas. Lelaki itu sudah melepas jas dan dasi sejak di mobil tadi. Afja masih mengenakan setelan lengkap seperti semula. Dia hanya membawa ponsel di tangan.

Suasana pantai di siang hari menghantar udara panas khas pantai, terik mentari menerpa kulit membuat Sonda menyusul mereka guna membawakan payung. Sam, membuka benda itu dan memayungi langkah keduanya menuju spot yang telah dia sewa.

Jika di ujung jalan tadi lumayan ramai pengunjung, mereka terus melangkah ke arah Utara. Afja menemukan titik tenang dan nyaman, suasana teduh akibat rimbun pohon kelapa membuat angin terasa sejuk berhembus di area ini.

"Di sini, dulu gak termasuk kawasan private, sekarang di pisahkan dengan publik. Pergilah," ujar Sam saat telah mencapai tenda yang dia sewa.

Afja menoleh ke arah sang pria. Dia berjalan menuju bibir pantai lalu duduk menghadap lautan lepas. Pikirannya berpusat pada Malaseka. Apakah sikapnya kurang ajar atau bahkan durhaka sebab tak lagi menghormati juga menghargainya.

"Mano. Ikhlas itu bukan melepaskan sesuatu dengan air mata tapi merelakan dengan senyuman," lirih Sam. Duduk bergabung dengannya.

"Rela pun, bukan berarti menyerah tapi menyadari bahwa ada hal yang gak bisa di paksakan," sambungnya.

Afja menangis. "Saya kecewa dengan papa, jangan-jangan Candy itu memang anaknya," kata Afja. Akhirnya apa yang dia pendam meluap begitu saja.

"Lalu jika iya? kau bisa mengubah itu?" jawab Sam, menoleh ke arah samping kanannya.

"Enggak. Tapi saya ingin di akui sebagai putrinya. Bukan hanya datang saat butuh sesuatu saja. Pak Sam, a pa saya sa lah ber sikap demikian? tak meng har gai be liau di de pan u mum?" tutur Afja, suaranya tersenggal akibat isakan.

Samagaha Ziyan tak langsung menjawab. Dia membiarkan Afja menangis puas. Dirinya lahir sebagai anak tunggal dalam keluarga biasa saja meski saudara sang ayah bergelimang harta.

Pimpinan SidoGeni mendengar kekecewaan mendalam di diri Afja. Tangisan yang lama tertahan. Dia tahu, sang gadis tidak mempunyai tempat atau siapapun untuk berbagi beban hati bahkan mungkin waktu sekedar untuk meratapi nasib diri.

Setelah tangisan sang gadis mereda, Sam membuka suara.

"Mano. Sama seperti halnya air, bisa mengikis batuan paling keras sekalipun. Keikhlasan juga bisa meluluhkan hati yang dingin. Hormati beliau karena kita tetaplah anak, oke? perlahan kau bisa melakukan itu."

"Tidak ada salahnya menangis atau meluapkan kemarahan tapi ingat satu hal ini ... dampak emosi memuncak itu, takkan pernah mengembalikan sesuatu seperti semula. Bukankah muslim yang baik adalah bila dia sanggup mengendalikan hawa nafsu?" tutur Sam panjang.

"Iya. Saya tahu, makanya gak bisa marah ke ibu atau papa, Pak Sam," cicit Afja, menunduk dan mengusap air matanya.

Sam menyodorkan sapu tangan untuk Afja, dia juga mengangguki ucapan sang gadis. "Luapkan di sini kalau begitu, atau berkisahlah padaku," ujarnya.

"Jangan terlalu berpangku pada nasab. Mau jadi anak siapapun, bukankah Tuhan telah menciptakan Afjameha Manorama secara sempurna? Mano yang pintar dan percaya diri ... jangan lihat spion belakang, sebab kau tak akan menikmati indahnya pemandangan dalam setiap jengkal perjalanan yang sedang kamu tempuh," pungkas Sam, tersenyum ke arah Afja lalu bangkit dari sana.

Afjameha Manorama merenungi semua ucapan Samagaha Ziyan. Gadis itu lalu menoleh ke arah pria yang berjalan menjauhinya. Afja mengulas senyum tanpa Sam ketahui.

"Pak Sam, makasih banyak. Andai ada pria lain semengerti dirimu. Sayangnya Anda sudah sold out," gumam Afja, sambil melukis sesuatu di pasir pantai.

Samagaha Ziyan mengawasi gadisnya dari kejauhan. Dia memberikan kesempatan bagi Afja untuk berpikir. Namun, belum berapa lama, dia melihat gadis itu berjalan ke arahnya.

"Pak Sam! saya punya permintaan," ujar Afja duduk di kursi pantai berseberangan dengan Sam.

"Ehm, sampaikan saja," sahut sang pria, seraya menopang dagu menikmati pemandangan manis di hadapan.

Afjameha menjelaskan dia akan tetap menggunakan jalur promosi lewat radio untuk AfeSlim juga teh AfeKris, dia ingin menggaet lagi fans lamanya.

Rencana itu disambut baik oleh Sam. Dia akan meminta Malaseka advertise agar mengajukan proposal podcast atau semacamnya ke beberapa stasiun radio.

Tak ada lagi obrolan serius setelahnya. Sam, meluruskan kaki sembari menunggu menu makan siang yang sudah dia pesan beberapa saat lalu.

...***...

Saat yang sama di hunian Malaseka.

Tamarine mengundang beberapa kawan sosialita guna melelang tas mewah yang dia miliki. Uang itu akan dipergunakan untuk biaya selama menunggu pemeriksaan Candy di Singapura pekan depan.

Candy mulai rutin mengkonsumsi resep minuman dari Afja bergantian dengan seduhan bunga telang, membuat penglihatannya sedikit lebih baik.

"Mama, Ben kemana?" tanya Candy menemui Tamarine di ruang tamu.

"Eh, Candy sudah sehat? jadi ambil paket promo dari Mano saat di acara itu, ya? minum apa saja?" tanya salah seorang tamu.

"Enak aja. Anakku berobat ke Singapura. Mano omdo, gak ngasih apa-apa. Sombong dia itu," cemoh Tamarine menyangkal bantuan Afja. Dia lalu bangkit menghampiri Candy.

"Masa Mano begitu? beneran?" tegas dua orang lainnya.

"Iya. Gadis pembohong. Hati-hati jangan beli minuman punya dia," imbuh Tamarine.

"Jangan nyariin Ben terus. Nanti juga dia ke sini. Pria itu tak akan berani macam-macam," bisik sang ibu pada putrinya. Dia lalu meminta maid kembali membawa Candy ke dalam.

"Maaaa!" seru Candy, merasa belum selesai. Dia tidak tahu bahwa minuman yang dikonsumsi setiap pagi itu racikan dari Afjameha.

...***...

Senja mulai muncul di ujung pantai. Afjameha meminta pulang sebab khawatir ibunya menunggu meski dia telah berkirim pesan.

"Mano. Kau tahu tidak, makna dari lagu melukis senja?" tanya Sam saat keduanya berjalan menuju dermaga.

"Enggak. Bapak tahu?" balas Afja, melihat sekilas ke arah pria yang terlihat tampan dengan tampilan santai seperti ini.

Samagaha Ziyan, menunduk, menyembunyikan senyumnya. Dia mengangguk pelan. "Maknanya indah, ada korelasinya dengan sebuah surat dalam Al-Qur'an."

"Jelasin, Pak," sambut Afja sumringah.

"Ada imbalannya tapi," kata Sam, terus berjalan pelan.

Afjameha berhenti melangkah, menatap tak percaya pada Sam. Sementara sang duda tampan tertawa renyah saat melihat ke arah wajah datar gadisnya.

.

.

..._________________________...

1
Sri Puryani
Alhamdulillah.....sam junior otw
Sri Puryani
alhamdulillah sdh ada yg menyamangati candy
Sri Puryani
adem baca tausiah mano
Sri Puryani
sam ...jgn tgglkan mano
Sri Puryani
klo sakit berobat sam kasihan mano
Sri Puryani
tmn menusuk dr blkg demi uang
Sri Puryani
memangnya di kmr vip gk ada bed buat yg nunggu p sam kok bobo dimbl?
Sri Puryani
afja cantik banget ....😀
Sri Puryani
apa mgkn mano jg anak nya tamarine yg gk diakui?
Sri Puryani
di dunia bisnis kejahatan pasti ada
Sri Puryani
ada gambarnya kah moms?
Sri Puryani
dasar ular keket
Sri Puryani
tamarine kok tau padahal kan make masker, udah langsing
Sri Puryani
moms cerita nya byk pembelajarannya ...keren👍
Ⓝⓨⓐⓘ Ⓖⓐⓑⓤⓣ: Mamaciiiiiihhh Akak, sudah estafet yaaaa... sehat selalu di sana 😍🥰
total 1 replies
Koirul Rahman
cerita dengan nama tokoh yang semua merujuk pada nama bahan jamu. pak kunir_kunyit,mbak jahe, pak temul_temulawak.... lucu dan menarik😂
Ⓝⓨⓐⓘ Ⓖⓐⓑⓤⓣ: Hihi... Mamaciih Kak sudah mampir dan support mommy 🥰
total 2 replies
Eemlaspanohan Ohan
dasar manusia. laknat
ndükDëë
Luar biasa
Bzaa
wah Sam udah ngasih kode, tpi sayang mano gak peka🤣
Bzaa
kerennnn
Bzaa
semangat afe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!