Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Holland Dan Halimah
Agus memilih diam saja karena dia dapat melihat perusahaan Anggi. Wanita muda itu kadang berubah tidak menentu hal ini yang dia takut kan kalau Anggi akan kembali pergi.
"Mas?" panggil Anggi pelan.
"Ya, kau membutuhkan sesuatu?" tanya Agus cepat sebelum berangkat ke kantor.
"Mas kog melamun?" Agus jadi gugup namun dia cepat mengalihkannya obrolan.
"Aku sedang memikirkan perusahaan, sesuatu terjadi barusan. Aku ke kantor dulu ya, kalau ada sesuatu hubungi saja ke nomer ku," pesan Agus.
"Ya mas," balas Anggi.
Anggi melihat bahasa tubuh Agus aneh dari tadi namun cepat-cepat ia menepiskan ya.
Sepanjang perjalanan Agus tidak fokus berkonsentrasi mengemudikan mobil. Lalu, dia menepikannya karena tidak mau sesuatu terjadi kepada nanti.
"Kenapa aku jadi seperti ini? Jangan sampai Anggi nanti tidak menyukaiku karena sikap posesif ku." Agus semakin tidak karuan memikirkan kisah cintanya.
Setibanya di kantor Agus bergegas ke ruang kebesarannya namun sana banyak berkas menumpuk.
"Kantor membuat kepalaku makin sakit," kesal ya.
"Tuan, direktur rumah sakit Holland ingin bertemu dengan anda," ucap sekretaris Agus.
"Holland? Biarkan mereka masuk!" Sekretaris mengangguk mengerti.
Pintu terbuka lebar muncullah pria paruh baya bersama dengan seorang wanita muda. Wanita itu tersenyum lebar melihat Agus yang terlihat begitu tampan.
"Selamat siang Tuan Agus," sapa wanita itu.
"Siang, silahkan duduk," balas Agus tidak ramah.
Pendiri Holland duduk bersama dengan putrinya yang tertarik melihat ketampanan Agus.
"Perkenalkan ini putri saya Tuan Agus, Halima Paramitha." Halima mengulurkan tangannya.
"Saya lagi sibuk," alasan Agus.
Halima sangat kecewa namun dia tetap berusaha netral agar tujuan mereka berdua berjalan mulus.
"Ayah, katakan sesuatu," bisik Halima.
"Ya, Tuan Agus boleh kita bicara sebentar tentang kerjasama yang sudah terjalin?" ucap Holland hati-hati.
Agus hentikan pena yang dari tadi bercoret-coret, dia melihat ayah dan anak itu sedang menatapnya serius.
"Kalian bisa bicarakan dengan sekretaris ku karena dia yang mengerjakan." Holland tidak terima yang dikatakan Agus.
"Kenapa anda berikan kepada sekretaris itu, nilai proyek ini tidak sikit Tuan karena itu saya memastikan," protes Holland.
"Kalau ingin protes pergi saja kepada sekretarisku dia akan mengembalikan semuanya." Holland dan Halima terkejut mendengar perkataan Agus.
"Anda tahu kan denda memutuskan kontrak?" sindir Holland.
"Jangan khawatir, semuanya akan sesuai dengan yang kalian inginkan," balas Agus lalu keluar dari ruangan kerja.
"Ayah, bagaiman sekarang?" tanya Halima panik.
"Temui Agus nak, cepatlah susul dia!" Halima mengangguk mengerti lalu out mengejar Agus.
Agus baru saja bertemu dengan karyawan lalu dia melihat Halima sedang menunggu dirinya.
"Kak, boleh boleh bisa kita bicara sebentar?" tanya Halima pelan.
"Aku sedang sibuk," alasan Agus lalu menjadi dingin.
"Agus, aku minta maaf karena sudah mengambil keputusan itu. Kamu jangan marah karena aku juga tidak menginginkan ini dahulu.
"Kau sudah berumah tangga, aku juga jadi jalanin masing-masing," balas Agus sambil berkacak pinggang.
"Aku sudah pisah dengannya Agus, apa tidak ada kesempatan?" Agus melihat manik mata Halima yang sudah mulai menganak.
"Aku sudah memiliki istri dan sebentar lagi kami akan menjadi orang tua." Halima gak terima seharusnya dia yang melahirkan penerus Agus.
"Kenapa Agus? Kenapa dulu kau memilih Anggi?" Agus ingin marah tapi dia tahan sama saja buang tenaga meladeni Halima dan Holland.