Ketidakadilan membuat seseorang menjadi berbeda, orang itu berubah. Penghianatan membuat seseorang menyimpan kebencian. Kedua orang itu memiliki pengalaman hidup yang berbeda, tapi tujuan mereka sama. Balas dendam.
Ben menawarkan bantuan untuk Clarie dan Clarie menerimanya. Mereka membuat sebuah perjanjian, dan perjanjian itu mengikat keduanya. Setelah beberapa minggu, perjanjian itu juga mengikat Ben dalam pesona yang Clarie miliki. Perasaan yang lebih dari rekan, perasaan yang ingin selalu melindungi dan memiliki gadis itu.
Sayangnya tembok yang Clarie miliki terlalu tinggi dan kokoh. Ditambah lagi mantan kekasih Clarie yang masih belum merelakan Clarie, dan sahabatnya dari masa lalu. Siapa yang dapat meruntuhkan tembok tinggi dan kokoh itu? Siapa yang bisa mendapatkan kesetiaan hati Clarie seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Rules Are Meant For Breaking
...*Rules are meant for breaking, baby...
...Let's not make it complicated*...
...*C**omplicated*-David Guetta dan Dimitri Vegas & Like Mike...
......................
Jalanan yang padat, suara klakson yang memekakkan telinga, di sanalah Clarie terjebak. Seharusnya sekarang dia sudah sampai di perusahaan, tapi apa boleh buat karena dia terlalu lama meneliti data Rebeca. Ini membuatnya kesal setengah mati.
Kring Kring Kring! Ponsel Clarie berbunyi, layar ponsel itu menampilkan panggilan dari Dean. "Halo, ada apa?" dalam beberapa detik tidak terdengar ada tanda-tanda kehidupan di seberang. "Tidak ada yang ingin dikatakan? Aku akan menutup panggilannya,"
"Eh! Tunggu!" cegah Dean di seberang. "Aku hanya ingin menyampaikan masalah acara kelulusan Clarie. Bisa tolong cek Email-mu? Ada undangan di sana," kata Dean dengan nada yang sedikit gugup. Ini sangat canggung, karena hubungan mereka sedang tidak baik.
"Baik, terima kasih sudah memberi tahuku. Akan kubuka Email-nya nanti," tanpa menunggu tanggapan Dean, Clarie menutup panggilan. Jalanan sudah kembali lancar, dan dia harus datang secepat mungkin.
09.00 Clarie sampai di perusahaan, ruangan papanya ada di lantai 8, Clarie memilih untuk menggunakan lift. "Hei! Tunggu! Biarkan aku naik liftnya juga," seorang wanita berlari dengan tergesa-gesa dia hampir jatuh karena memakai heels yang lumayan tinggi.
"Terima kasih sudah membantu," ucapnya setelah sampai di samping Clarie.
"Sama-sama,"
Wanita itu membawa sebuah tas tangan yang lumayan besar, mata Clarie bisa melihat setumpuk kertas di dalamnya. Dia berusaha membenahi pakaian, riasan, dan rambut yang lumayan berantakan. Saat sadar bahwa sedari tadi wanita itu diperhatikan oleh Clarie, dia sedikit salah tingkah. Namun segera ke sikapnya. "Halo, aku Fifi. Terima kasih untuk yang tadi ya. Kamu baru di sini? Kenapa langsung ke ruang Pak Kris?"
"Saya ada urusan sengan beliau, jadi langsung ke ruangannya saja," Clarie menjawab dengan senyuman yang ramah. Fifi terlihat bingung dengan jawaban yang diberikan oleh gadis yang menolongnya itu. Apa hubungan diantara bosnya dengan gadis ini?
"Saya lihat Anda terburu-buru tadi, apa hari ini ada hal yang sangat penting untuk Anda nyonya?" Mengalihkan perhatian walaupun sementara bisa sedikit membantu. Selain itu sebentar lagi mereka juga akan sampai ke lantai 8. Di mana ruangan papanya berada.
Tepat seperti apa yang diperkirakan, pintu lift terbuka ketika Fifi belum menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Clarie. Clarie menganggukkan kepalanya ke arah Fifi dan berjalan keluar terlebih dahulu. Dari kejauhan, bisa dilihat jika ada beberapa orang di dalam ruang rapat.
Semua mata tertuju kepadanya saat Clarie memasuki ruangan tanpa rasa bersalah. Tatapan penuh dengan tanya, tatapan tidak suka, dan tatapan bingung. Dan semua yang ada di dalam ruangan mulai menganggap Clarie gila saat dirinya tersenyum.
"Permisi, maaf saya terlambat," Fifi masuk ke dalam ruangan.
"Tuan Lin, apa Anda tidak bisa mengatur karyawan Anda? Bisa-bisanya dia membuat saya kehilangan waktu di sini. Apakah Anda benar-benar berniat bekerja sama dengan saya?" dengan nada yang angkuh, pria yang duduk di seberang Kris mengatakannya. Wajahnya terlihat marah.
Mendadak wajah Kris menjadi pucat, sudah sangat lama dia menantikan kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan Bai. Namun dengan mudahnya dia berada di ujung hanya karena keterlambatan karyawannya. "Maafkan keterlambatan kami Tuan Muda Bai, saya janji kalau kami tidak akan mengecewakan Anda. Fifi, tunjukkan proposalnya,"
Dengan segera Fifi mengeluarkan proposal dari dalam tasnya dan memberikan kepada tuan muda Bai. Kelegaan menyelimuti diri Kris ketika tuan Bai menerima proposal dengan senyuman. Bruk! "Anda pikir saya akan mempertimbangkannya?! Ingat Tuan Lin! Kedisiplinan mencerminkan kualitas seseorang, dan orang Anda tidak mencerminkan itu,"
"Rules are meant for breaking, Mr. Bai. Saya yakin dulu saat remaja pun, Anda juga pernah melanggar bukan?" ucap Clarie. Lagi, semua menatap ke arah Clarie. Clarie mulai berjalan mendekat ke tuan Bai, saat sudah sampai di sebelah tuan Bai Clarie mengangkat gelas yang berisi air kemudian menuangkannya di atas kepala tuan Bai. "Semua orang mempunyai alasan masing-masing Tuan, biarkan telinga kita mendengar alasan itu kemudian dicerna oleh otak. Apa itu bisa ditoleransi atau tidak,"
salam hangat dari novel ku
salam
Dinda dalam senja
like buat kamu thor..
jangan lupa feed back nya ya..
"i will die in love"
jangan lupa feed back yak😊
"i will die in love"