Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil Mendapatkan Mansion
Zayan mengepalkan tangan ketika mendengar ucapan Adara yang sama sekali tak menghargainya. Dia sudah rela meninggalkan rapat demi wanita itu, tetapi apa balasannya? Dengan santainya dia berkata 'tidak mood' hanya karena terlambat lima. belas menit. Apakah itu pantas?
"Pulanglah, aku mau istirahat!" kata Adara, makin lancang.
Zayan sudah hilang kesabaran. Dengan kasar ia dorong tubuh Adara hingga merapat di dinding. Lantas dia cengkeram kedua lengannya dengan erat. Tak peduli meski Adara meringis sakit.
"Apa mantanmu itu yang membuatku jadi kayak gini, Dara?" Suara Zayan keras dan tegas, juga dibarengi dengan embusan napas yang memburu.
Bukan hanya hari ini Adara bersikap seperti ini, tetapi sudah sejak kemarin-kemarin. Tepatnya setelah mereka melihat Fabian dan Keyla di restoran.
"Apaan sih kamu? Lepas! Ini sakit!" bentak Adara, tak mau kalah.
Dia tak mau lagi tunduk kepada Zayan. Cukup sudah ia memberikan tubuhnya selama ini, sekarang Zayan tak pantas lagi menerima semua itu, karena harta yang dia punya tidak melebihi Fabian. Terlebih lagi, Fabian tidak pernah menuntut hal intim. Jadi, Adara tidak punya alasan lagi untuk tak memilihnya.
"Karena tahu dia punya mobil kan, makanya kamu seperti ini?" Zayan mengeratkan cengkeramannya. "Dengar baik-baik ya, Dara, dia itu hanya lelaki miskin yang kebetulan beruntung karena menang judi! Jika kamu pintar, harusnya tidak terkecoh dengan itu. Jangan hanya karena vila dan mobil, kamu jadi silau dan melupakan masa depan. Dia hanya kurir, memangnya kamu akan bahagia?" sambungnya dengan kalimat panjang.
Adara melotot tajam, "Ini nggak ada hubungannya dengan Fabian! Aku cuma kesal sama kamu yang sekarang jadi abai dan nggak perhatian lagi! Jadi, nggak usah bawa-bawa dia!"
Adara turut meninggikan suara. Dia tak mau kalah dengan Zayan. Harapannya mereka segera pisah, tetapi kesalahan ada pada Zayan, sedangkan namanya harus bersih dari apa pun.
"Kamu___"
"Jangan jadi pengecut kamu! Nggak berani mengakui kesalahan sendiri dan malah melemparkannya pada orang lain! Aku begini karena kamu tahu nggak!" Adara memotong ucapan Zayan, tak dibiarkan lelaki itu mengambil banyak kesempatan untuk bicara.
Di hadapannya, Zayan hanya mendengus kesal. Lantas, dengan kasar melepaskan cengkeramannya. Adara pun mengusap lengannya yang nyeri, dengan mata yang masih memicing dan menyiratkan kebencian yang cukup dalam.
"Aku kerja juga untuk masa depan kita, untuk memenuhi gaya hidupmu yang sangat tinggi! Kalau aku selalu menuruti kemauanmu dna mengabaikan kerjaanku, otomatis pemasukanku juga berkurang. Dan nanti kamu pasti marah-marah karena nggak bisa memberimu banyak uang! Serba salah ya jadi aku?" Rahang Zayan mengeras, amarahnya sudah di ubun-ubun kali ini.
Alih-alih mengakui kesalahannya, Adara malah tertawa sinis, "Makanya jadi lelaki itu harus pandai-pandai membagi waktu. Jangan hanya berlindung pada kalimat mencari uang, lantas mengabaikan pasangan."
"Jadi, sekarang maumu gimana? Aku udah berkorban sebanyak ini, tapi belum kamu hargai!" Zayan tak mengalihkan tatapan, sedari tadi masih lekat ke arah Adara.
Wanita dengan bibir sensual merah merona itu tersenyum remeh. Lalu, tangannya yang lentik dilipat di dada dengan santainya.
"Kita putus aja. Aku nggak bisa pacaran dengan orang sok sibuk seperti kamu. Dan ... jangan katakan lagi kalau kamu udah banyak berkorban, karena yang selama kamu berikan padaku hanyalah uang. Itu nggak sebanding dengan apa yang udah kuberikan ke kamu. Zayan, kamu nggak lupa kan kalau selama ini selalu menikmati tubuhku? Dan ... kamu juga yang merampas kesucianku. Jadi, kita udah impas. Nggak ada lagi yang namanya berkorban," ujar Adara dengan berapi-api.
Mendengar perkataan Adara yang sangat panjang, Zayan tertawa sumbang. Kemudian, ia maju satu langkah hingg tak ada jarak lagi dengan Adara.
"Kamu mau apa lagi?"
"Katamu tadi apa, impas?" Zayan makin tertawa. "Aku baru tahu kalau pemikiranmu seperti itu. Jadi, selama ini kamu rela naik ke ranjangku hanya karena uang. Kalau gitu ... kamu nggak ada bedanya dong dengan pe-la-cur?" lanjutnya.
Adara gelagapan. Wajahnya panas mendengar kata-kata rendahan yang keluar dari mulut Zayan.
"Aku turuti kemauanmu, Adara, kita putus! Tapi, kukatakan sekali lagi ke kamu. Fabian hanya kurir, kamu ... nggak akan bahagia sama dia!" Usai berucap demikian, Zayan langsung pergi dari hadapan Adara. Dia masuk ke mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
"Hanya omong kosong karena aslinya nggak mau putus, kan? Heh, dasar lelaki licik!" umpat Adara sambil menatap kepergian mobil Zayan.
Sementara itu, di dalam mobilnya Zayan marah dan berulang kali menggeram. Dendamnya membara untuk seseorang yang bernama Fabian. Menurutnya, lelaki itulah yang membuat Adara berulah.
"Aku nggak akan membiarkan hidup kamu tenang, Fabian! Aku akan mengungkap asal-usul hartamu, lalu ... membuatmu jatuh miskin! Kamu nggak pantas memiliki semua itu." Dendam Zayan membara akibat ulah Adara. Sedikit pun dia tidak akan mundur sebelum melihat Fabian jatuh dan tak bisa bangkit lagi.
_____________
Stelah genap sepuluh hari mendapat misi serupa dan hasilnya selalu gagal, Fabian nyaris menyerah. Pasalnya, ia sudah kehabisan cara untuk melancarkan aksi balas dendamnya. Mulai dari melontarkan kata kasar, sampai menggandeng banyak wanita. Namun, jawaban SKAK selalu sama, nilai kurang sempurna.
Hari ini kebetulan hari Minggu, restoran tutup, pun dengan misi SKAK. Lantas, Fabian memanfaatkan kesempatan itu untuk jalan-jalan bersama Keyla, hitung-hitung melupakan misi yang membuatnya pusing.
"Wah, cantik banget!" puji Keyla dengan tatap mata yang berbinar.
Ia mengagumi keindahan pasir putih yang terbentang luas di sepanjang lautan lepas. Dengan terpaan sinar matahari yang keemasan, kilauannya tampak memesona dan memanjakan mata.
"Kamu suka?" Fabian menatap Keyla sambil tersenyum. Dia merasa senang karena Keyla menyukai tempat yang ia rekomendasikan.
"Banget, Bi. Kamu tahu aja sih kalau aku suka tempat yang alami-alami gini. Aku jadi terharu tahu." Keyla menjawab sembari memasang tampang yang menggemaskan. Fabian pun tertawa renyah, lantas mengacak-acak rambut Keyla yang kala itu sekadar digerai.
Keyla turut tertawa meski sempat protes karena rambutnya jadi berantakan.
Ketika mereka sedang asyik bercanda, tiba-tiba seorang wanita datang dengan raut kesalnya. Siapa lagi kalau bukan Adara, dengan dress merah yang cukup terbuka ia mendekati Fabian dan menyapanya.
"Kamu sengaja ngikutin aku ya?" tuding Fabian tanpa tedeng aling-aling. Pasalnya, sudah berulang kali Adara muncul di tempat yang sama dengannya. Mustahil jika semua itu hanya kebetulan.
"Mana ada kayak gitu, Bi. Aku tuh nggak tahu kalau kamu ada di sini. Mungkin ... definisi jodoh kali," ujar Adara tanpa tahu malu.
Fabian membuang napas kasar, "Simpan pemikiran ngawurmu itu, Adara! Ingat ya, kita udah mantan. Kamu sendiri yang minta putus dan bilang kalau aku nggak pantas untuk kamu. Jadi, berhenti bersikap kayak gini, memalukan tahu nggak!"
"Tapi, Bi___"
"Ayo, Key!" Tanpa memedulikan Adara, Fabian langsung menggandeng tangan Keyla dan mengajaknya pergi. Dia tak acuh dengan perasaan Adara kali ini, yang sangat benci dengan tautan tangan antara dirinya dan Keyla.
Satu menit setelah meninggalkan Adara, ada satu notifikasi di ponselnya. Fabian melihatnya dan membelalak seketika.
'Selamat Anda berhasil meloloskan misi. Anda berhak menerima hadiah mansion mewah di pinggir kota.'