Berkisah tentang kehidupan seorang pemuda yang tidak memiliki ambisi sedikit pun dalam hidupnya. Tujuan hidupnya hanya lah hidup dengan santai tanpa tujuan yang berarti.
Namun sebuah Sistem tiba-tiba hadir dalam hidupnya mengharuskan ia melakukan sesuatu yang merepotkan bertujuan untuk menuntun ia untuk mencari ambisi terbesar dalam dirinya.
Dapatkah ia menemukan ambisi terbesar dalam dirinya dengan bantuan sistem? ataukah malah ia mengabaikan semuanya untuk menjalani hidup santainya?
Saksikan cerita lengkapnya dalam "SISTEM AMBISI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iwan Gusti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER XXVI
~SELAMAT MEMBACA~
"Tampak nya kali ini kau berhutang banyak padaku sobat dan beberapa penjelasan lain nya yang perlu kau jelaskan hihi" kali ini Hans tampak sangat kesal terlalu banyak beban yang harus ditanggung oleh nya akibat perilaku sahabat nya ini.
"Hehe b-baik baik akan kujelaskan semua nya tapi berhentilah melihatku dengan tatapan itu. Kau tau tatapanmu itu jauh lebih mengerikan daripada pria bau tanah itu" bela Rian.
Namun sang pelaku tak juga mengendurkan ratapan nya malah kali ini tampak semakin menajam.
"Oke-oke aku kalah. Sebenar nya untuk senjata itu adalah prototipe versi pertama dan yah kau benar sebenarnya ayahku memintaku untuk mencari orang yang tepat untuk uji coba
Tapi secara tidak sengaja waktu nya berdekatan dengan kerja sama denganmu itu jadi aku menggunakan keadaan itu sekaligus lahan uji coba tapi tak kusangka akan berakhir dengan mengerikan seperti ini hehe maaf" lirih Rian dengan nada memelas berharap sahabat nya ini mau memaafkan nya.
Tiga orang terluka dimana dua diantara nya cukup parah sedangkan satu nya hanya luka ringan namun yang paling menjengkelkan nya adalah efek samping yang diakibatkan senjata itu yaitu beban berat di kepala mereka itu.
Jujur saja Hans masih merasakan nya hingga detik ini namun berkat ketahanan nya yang kuat dia mampu bertahan berbeda dengan beberapa anggota nya yang harus rehat untuk seminggu kedepan.
"Hah~ baiklah aku memaafkan mu meskipun penuh resiko namun semua yang kau berikan kali ini terbukti sangat banyak membantu, jika bukan karena barang-barang mu itu mungkin kita semua sudah menjadi daging panggang disana" menghela nafas Hans akhir nya memaafkan sahabat nya lagipula ia tak bisa mengabaikan manfaat yang ia peroleh kali ini.
"Lalu untuk persoalan pengkhianatan di tubuh pasukan bawah keluarga mu apakah ayahmu telah mengetahui nya? kau tau itu akan sangat berdampak kepada keluarga kalian bila terus dibiarkan" Tanya Hans memastikan dugaan nya.
"Hah? ada pengkhianat? itu tidak mungkin kan lagipula keluargaku pastinya...."
Ucapan Rian terhenti tak kala Hans memutarkan kejadian yang terjadi di tempat pembantaian sebelum nya.
Sesuai dugaan Hans sahabat nya itu masih begitu ceroboh dalam banyak hal mungkin setelah ini ia harus lebih banyak belajar demi kelangsungan bisnis keluarga nya kelak.
"Bagaimana mungkin? ini bercanda kan? bagaimana dengan Sophie? Hans cepat katakan bagaimana keadaan nya?" gumam Rian
Tampak jelas kegusaran di wajah nya ditambah ia terus saja mengguncang tubuh Hans untuk mendapatkan jawaban. Ini semua telah berada di luar perkiraan nya.
Menepis tangan Rian, Hans langsung menjawab
"Tenanglah, Roy telah melaporkan kepadaku bahwa misi berjalan lancar. Hanya saja selain tiga pengkhianat yang di tempat mati juga ada enam mayat orang yang setia kepadamu. Untuk Sophie gadis itu berhasil mereka selamatkan sebelum dijadikan mainan." ujar Hans terang-terangan
Dia ingin membuka mata sahabat nya itu bahwa dunia ini tak seindah ekspektasi banyak trik dan intrik dalam kehidupan berbisnis. Hampir saja karena keteledoran nya ia hampir membuat orang yang berharga bagi nya lenyap.
Ini sekaligus pelajaran dan pengalaman yang bagus untuk nya agar berkembang kedepan nya.
"Syukurlah aku sangat berterima kasih padamu sobat" ucap Rian setelah agak tenangan dengan tulus bila tak ada sahabat nya itu mungkin nasib Sophie sudah lain cerita.
"Tapi kau mengerti bukan? tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini bukan?" ujar Hans dengan tersenyum.
"Tentu aku mengerti maksudmu jadi katakan saja selama aku mampu pasti akan kulakukan" jawab Rian mantap.
"Bagus itu yang kusuka dari dirimu, cepat tanggap. Aku hanya ingin mendapat izin untuk mengembangkan senjata ciptaan kalian dengan bebas dan juga kebebasan pembelian tanpa jangka waktu tentu aku tetap akan membeli dengan harga penuh.
BISNIS IS BISNIS, bukan?" tawar Hans.
Terdengar naif bagi sebagian orang, karena dengan membuat Rian berutang sesuatu, mereka dapat meminta apapun yang mereka inginkan harta yang berlimpah pasti bisa di dapatkan dengan mudah tapi ini Hans hanya meminta perizinan dan juga pembelian bahkan tanpa diskon.
Namun bila orang yang mengerti akan bisnis tentu tak akan menganggap remeh permintaan Hans ini. Sebuah perizinan senjata mutakhir bukankah itu akan bernilai sangat besar jika berhasil?
Benar sekali seorang pebisnis handal tak akan melihat sebuah keuntungan besar namun sesaat dalam waktu singkat melainkan keuntungan berkepanjangan dengan segala macam hal yang baru yang kemungkinan akan didapatkan.
Tampak sosok Rian tengah banyak menimbang, hal ini sebenar nya tak bisa ia putuskan dengan sendiri nya, sebab semua yang ada ini merupakan proyek milik keluarga nya ia tidak boleh asal memutuskan sebab sangat beresiko.
"Baiklah untuk permintaan mu mungkin aku harus berbicara terlebih dahulu dengan keluargaku tapi akan kupastikan bahwa aku akan mencoba yang terbaik dan untuk penjualan kau tidak perlu khawatir dengan kerja sama kita tentu saja perusahaan mu akan menjadi prioritas bahkan aku bersedia memberikan harga diskon untuk mu" ucap Rian
Ini yang ditunggu oleh Hans, tentu nya permintaan nya tak akan bisa semudah itu diterima tapi dia akan mencoba peruntungan nya. Lagipula untuk cetak biru semua senjata itu sudah dimiliki oleh Hans sejak awal namun ia tak ingin ada masalah di kemudian hari jadi lebih baik ia mendapat perizinan terlebih dahulu sebelum melakukan sedikit pengembangan dan modifikasi.
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI, BUKAN?
"Baiklah tidak masalah untukku lagipula semua keputusan masih ada di tangan ayahmu" jelas Hans
TOK
TOK
TOK
MASUUK
Pintu ruangan itu terbuka dan langsung tampak seorang gadis yang dikawal oleh empat pria memasuki ruangan.
Sontak saja Rian yang melihat gadis itu langsung bergerak memeluk nya. Dia adalah Sophie dan di belakang nya adalah Roy, Dik dan dua orang lain nya.
"Wajah mu pucat ada apa? apa yang terjadi padamu?" Rian tampak khawatir namun Sophie hanya menggeleng sebagai jawaban namun tak lama ia langsung muntah.
Rian seketika panik apa mungkin ada sesuatu yang telah terjadi pada sang pujaan hati.
"Tenanglah, Roy dan yang lain nya hanya memperlihatkan dunia yang sesungguh nya pada gadismu" ucap Hans ambigu
"Dunia yang sesungguh nya? apa maksudmu?"
"Jangan terlalu naif sobat, meskipun ia perempuan jika kelak ia berhasil terus menjadi pendamping mu tentu saja akan banyak pertumpahan darah yang ia lihat jadi aku hanya memberi nya sedikit dorongan saja.
Baiklah aku pergi dahulu ya, ada bisnis yang harus aku bicarakan, silahkan anggap saja sebagai rumah sendiri, oke" menepuk pundak sahabat nya sekejap Hans langsung beranjak pergi meninggalkan sosok Rian yang terkesiap menghadapi sifat Hans yang sangat dingin itu.
Tapi ia masih merasa bersyukur melihat bahwa sahabat nya itu sejujur nya hanya ingin membantu nya dengan cara nya sendiri meskipun terkesan agak tidak manusiawi bagi orang kebanyakan namun begitulah sosok Hans apa adanya.
Rian sangat mengerti yang dimaksud oleh sahabat nya itu adalah kondisi hidup nya yang selalu berkecimpung dengan darah jadi maksud Hans tentu tak ingin gadis itu hanya menjadi beban. Lebih baik melatih nya dari sekarang.
Keluar dari ruangan Hans diikuti Roy dan Dik langsung menuju ruangan lantai teratas.
"Jadi katakan ada kejadian menarik apa yang dirimu temukan kali ini Roy?"
.............
________________________________________________
Biasakan untuk selalu
(✓) Like
(✓) Favorit
(✓) Kritik dan Saran
(✓) Gift
See You Next Time.