Ana mengusap sedih air mata yang mengalir di pipinya kala harus menulis surat perpisahan untuk tunangannya. Ana harus mengembalikan cincin tunangan mereka sebelum benar-benar menghilang tertelan kesedihannya.
Tak jauh dari tempat Ana menulis surat perpisahannya, tergolek seorang pria tampan yang sedang tertidur dengan nyenyaknya seolah tak peduli betapa kacaunya ranjang itu. Ranjang terkutuk tempat pria itu merenggut keperawanannya tepat sebelum Ana akan menikah.
Tak cukup air mata kesedihan menggambarkan betapa sedihnya Ana saat ini. Ana tidak sanggup bmenceritakan apa yang di alaminya pada siapapun. Ana tak sanggup melihat wajah kecewa tunangannya jika ia tahu betapa dirinya telah ternoda, siapa yang mau menerimanya saat ini, meskipun tunangannya menerimanya, bagaimana dengan keluarganya. Apalagi jika sampai media mengetahuinya. Reputasi keluarga kaya itu pasti lebih dari segalanya daripada dirinya yabg bukan siapa siapa.
Ana ingin sekali menyalahkan pria yang tengah tertidur itu. Tapi Ana juga tak sanggup membencinya. Bagaimanapun juga pria itu juga berjasa dalam hidupnya. Kenyataan bahwa pria itu kakak dari sahabatnya, membuat Ana tak bisa menceritakan masalah ini pada sahabatnya. Apa yang membuat Ana berpikir bahwa sahabatnya lebih mendukungnya daripada saudaranya. Seperti ibarat darah lebih kental bukan.
Tapi Ana percaya bahwa jika manusia yang merencanakan, Tuhan lah yang menentukan. Pasti karena rencana Tuhan begitu indah. Ana memilih meyakini bahwa semua kesedihannya akan berubah indah pada waktunya.
Tekat Ana sembari melangkah pergi menyongsong kehidupannya yang lain.
Jika seseorang itu datang seperti embun di tengah padang nan gersang.
Akankah seseorang itu mampu mengentaskan hatinya dari keterpurukan.
Mungkin bisa, tapi bagaimana jika ternyata takdirmu sedemikian buruk. Sehingga meski embun datang ternyata banjir air mata lebih dulu menenggelamkanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aslolimanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
🌷🌷🌷
Thomas memandang sekali lagi rumah Ana sebelum berlalu bersama Soni. Rumah Ana terlihat sangat mengkhawatirkan, rumah itu terlihat tua dan rapuh, ia tak sampai hati melihat Ana harus tinggal di sana. Meski dengan perbaikan sana sini, rumah ini masih belum layak huni. Betapa menyakitkannya melihat Ana berjuang seorang diri dan tinggal di sini. bahkan garasi rumahnya lebih mewah dari ini.
Thomas mengutuk diri sendiri karena bicara omong kosong di depan Ana tadi . Harusnya ia lebih memperhatikan gadis itu dengan membantunya bukan malah memaksakan perasaannya. Tapi Thomas merasa lega sudah bisa menyatakan perasaannya, seolah ada beban besar terangkat darinya. Yang jelas malam ini ia sangat bahagia bisa bertemu Ana, besok pun ia bisa bertemu Ana lagi. Ia bertekad, asalkan bisa bersama, tak apa meski tak dianggap. Ia harus bisa membuktikan besarnya rasa cintanya pada Ana tanpa perlu bicara omong kosong. Ia harus menunjukkan ketulusannya dengan perbuatan bukan hanya sekedar perkataan.
“Kamu akan menjadi seorang ayah, Bro!” gurau Soni dalam perjalanan pulang mereka.
Thomas menanggapinya dengan tersenyum. Meski ia senang tapi sesungguhnya bukan ini tujuan utamanya.
“Apakah kamu sengaja membuatnya hamil?” tanya Soni penasaran sembari sibuk menyetir.
“Tentu saja tidak!” jawab Thomas marah.
“Tak usah marah, aku hanya bertanya,” komentar Soni.
Tapi sejujurnya malam itu murni kesalahannya, ia telah dibutakan nafsu sehingga melupakan semuanya. Ia tak memasang pengaman dan Ana seorang virgin. Kebanyakan gadis-gadis minum obat pengendali kehamilan secara rutin jadi meski tanpa pengaman, tak akan terjadi kehamilan. Kesalahannya jugalah yang tak menganalisis secara detail kemungkinan kehamilan, ia juga tak menyangka kehamilan bisa terjadi demikian mudahnya.
Sejujurnya ia ingin mempersembahkan pernikahan indah dan penuh cinta, baru mempunyai anak, tapi ia malah mengacaukan semua. Untung ia mengetahui kehamilan ini. Kalau tidak, ia tak akan pernah tahu kalau ia telah menjadi seorang calon ayah. Bahkan, anaknya nanti tak akan mengenalinya. Ah, membayangkannya saja sudah membuatnya tak nyaman.
Tapi, menjadi seorang ayah. Hmmm apa yang harus dilakukannya?
“Soni, menurutmu apa yang harus kulakukan sebagai seorang calon ayah? Kehamilan Ana pasti sudah memasuki tri semester.”
Soni terdiam sejenak, bagaimana ia bisa memberi usulan, ia tak pernah mengalaminya. “Bagaimana kalau kamu menanyakannya pada Edward, ia pasti lebih tahu karena ia baru saja menjadi seorang ayah,” usul Soni.
“Ya, sih! tapi setelah aku tahu ia teman Ana rasanya sedikit segan jika minta saran padanya.”
“kalau begitu cari saja di Google, semua ada di Google.”
“Hmmm, betul juga,” kata Thomas membenarkan.
“Oia, besok malam aku tidak bisa menemanimu ke rumah Ana lagi, kau tahu, aku sudah berjanji pergi kencan dengan pacarku. Ia sudah menuntut karena aku tinggal di pulau.
“Ok, tak masalah. Tapi ingat jangan mengatakan apapun pada keluargaku soal Ana, juga pada pacarmu tentu saja.”
“Tenang, Bro! Rahasiamu aman bersamaku.”
Thomas hanya menanggapinya dengan tersenyum.
🌷🌷🌷
Sementara Soni telah tidur di kamarnya, Thomas tengah serius mencari di internet tentang tugasnya sebagai seorang calon ayah.
Ada beberapa kesimpulan yang diambil Thomas setelah berselancar di dunia maya. Ia merangkumnya menjadi satu dan mempelajarinya.
Siaga
Thomas harus selalu siaga memastikan keselamatan Ana, meringankan pekerjaan, juga mendengar semua keluhannya, memastikan Ana dan bayi dalam kandungannya mendapat nutrisi terbaik. karena ini 3 bulan krusial, ia harus siaga kapanpun Ana akan melahirkan.
Dan keseluruhan definisi di atas belum ada satupun yang pernah dilakukannya.
Memastikan pasangan selalu bahagia
Menghindarkan ibu hamil dari banyak tekanan dan stres berlebihan, yang mengakibatkan pertumbuhan janin akan terganggu. Ia juga harus memastikan emosi Ana tetap stabil, tidak membuatnya bersedih.
Thomas menghela nafas, poin ini malah minus, ia barusan membuat Ana menangis.
Menemani check up ke dokter
Thomas akan memohon pada Ana nanti, supaya ia diizinkan menemani Ana memeriksakan perkembangan kehamilannya.
Mengambil alih semua pekerjaan berat.
Bila perlu Thomas akan melarang Ana melakukan pekerjaan apapun, meskipun ringan, ibu hamil tidak boleh capek. Ia harus lebih protektif.
Memenuhi semua keinginan ibu hamil
Thomas sudah melewatkan momen ini. Pasti berat bagi Ana saat awal kehamilan seorang diri, saat ia ingin sesuatu tapi tak ada yang memenuhi. Ia pernah mendengar tentang ngidam, seorang ibu hamil akan berhasrat sesuatu yang tak masuk akal, dan diluar kebiasaanya sebelum hamil. Thomas hanya berharap anaknya tak merepotkan Ana dengan ngidam yang aneh-aneh
Dukung kesehatan ibu dan bayi dengan olahraga ringan
Ia juga tidak tahu apakah Ana sudah olahraga teratur atau belum? Apakah Ana rutin melakukan senam hamil? Hmmm, ia tak tahu apa-apa tentang itu.
Memperlakukan pasangan dengan penuh kasih sayang.
Andai ia bisa melakukannya. Tak hanya kasih sayang, ia akan mencurahkan semua cinta dan perhatiannya hanya untuk Ana. Bahkan ia rela menyerahkan seluruh waktunya untuk Ana.
Dari poin 1 sampai 7, Thomas belum melakukannya satupun, padahal waktu yang tersisa hanya tinggal 3 bulan sampai Ana melahirkan. Apa yang harus dilakukannya jika waktu untuk bertemu saja sangat terbatas. Tiba-tiba satu ide melintas dibenaknya.
“Aku harus tinggal bersamanya!”
Semua poin di atas hanya 'mungkin' terjadi jika Thomas bisa tinggal bersama dengan Ana. Ia bisa memastikan kesehatan Ana, memenuhi keinginannya, mengantarkan ke dokter, meringankan pekerjaannya, memijit kakinya yang lelah, membagi keluh kesahnya, memastikan Ana selalu dicintai.
“Oh, Tuhan. Bisakah aku tinggal bersama dengannya, meski harus jadi pembantu aku rela, asal bisa melihatnya, asal bisa meringankan bebannya, agar aku bisa melaksanakan kewajibanku, agar aku bisa menebus kesalahanku. Kumohon Tuhan, sekali ini saja izinkan aku bersama Ana dan membesarkan anak kami bersama,” doa Thomas. Ia bukan sosok religius, tapi ia memohon dengan tulus supaya Tuhan mengabulkan keinginannya.
🌷🌷🌷
Terimakasih yang sudah kasih vote, khususnya 1000 poin. update malam ini untukmu 🌷
Author akan berusaha semaksimal mungkin up bergantian dengan "bulan kesembilan"
Mbak, Mas, Adik, Kakak, jangan lupa jempol ya... biar semangat.
Jangan lupa juga baca "bulan kesembilan" yang tak kalah menguras air mata.
Tolong maklumi up yang pendek ini. Author lagi ngumpulin recehan buat beli alat tulis, ben ndak nulis di ponsel, karena jujur pegel banget 😅
Owalah malah curcol
Theo... aku juga suka ice cream loh
Kamu keren loh
wanita manis dan mandiri👍
Hingga Tuhan pertemukanku denganmu
Hancurkan diriku
-tanpa rasa bersalah-