NovelToon NovelToon
My Baby And My Savior Lord

My Baby And My Savior Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romansa
Popularitas:207.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: iraurah

Aderald Brixton, pengusaha ternama yang tiba-tiba saja dicegat mobilnya oleh seorang wanita hamil dengan pakaian berlumuran darah.

Raut ketakutan dari wanita itu membuat aderald mau tak mau harus membawa si wanita demi menyelamatkan dua orang nyawa sekaligus.

"Tolong bawa aku Tuan!! Bayi ku harus selamat...!"

Apakah yang terjadi? Dan siapakah wanita tersebut? Akankah peristiwa itu membawa mereka kedalam sebuah kehidupan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diam Tapi Berisik

Siang mulai beranjak ketika Dona menyelesaikan istirahat singkatnya di ruang olahraga. Sinar matahari menyelinap hangat dari celah-celah tirai, menciptakan pola cahaya yang menenangkan di lantai kayu. Nafasnya mulai kembali teratur, dan tubuhnya terasa sedikit lebih ringan meski masih dibungkus kelelahan dari sesi yoga tadi.

Coach Norma, yang duduk tak jauh darinya sambil membereskan peralatan yoga, menoleh dan tersenyum hangat. "Nona Dona, Anda luar biasa hari ini. Tidak semua ibu hamil bisa bertahan dengan begitu baik di sesi pertama."

Dona tersenyum kecil, menunduk. "Terima kasih, Coach. Saya pikir saya akan menyerah di tengah jalan tadi, tapi... entah kenapa saya ingin terus mencoba. Mungkin karena ada yang menonton makanya saya sedikit malu untuk menyerah," ucapnya sambil melirik ke arah meja tempat ponselnya tergeletak.

Norma terkekeh pelan. "Kalau begitu, saya senang Tuan Aderald ikut menyemangati. Tak semua wanita hamil punya dukungan seperti itu, meskipun dari jarak jauh."

Dona terdiam sejenak. Ada rasa asing yang muncul saat mendengar nama itu disebut. Dukungan—sebuah kata yang hangat, namun juga berat jika ia pikirkan baik-baik. Aderald memang selalu hadir dalam bentuknya sendiri: tegas, kadang menyebalkan, tapi perhatian. Ia bukan pasangan resmi, bukan pula kekasih. Hanya… seseorang yang kini terlibat terlalu dalam dalam hidupnya.

Norma kemudian pamit, setelah memberikan beberapa catatan kecil mengenai peregangan mandiri yang bisa Dona lakukan sebelum tidur. Dona mengantar pelatih itu sampai ke pintu, dan begitu rumah kembali sunyi, ia bersandar sebentar di dinding lorong, membiarkan kesunyian mengambil alih.

***

Pulang dari kantor lebih cepat hari itu bukanlah rencana Aderald. Namun, setelah seharian disibukkan dengan tumpukan pekerjaan yang menguras konsentrasi, ia merasa perlu sesaat untuk menyegarkan pikiran. Lagi pula, perasaan ingin bertemu Dona belum juga mereda sejak pagi tadi. Keinginannya untuk kembali ke mansion dan melihat kondisi Dona semakin kuat, apalagi setelah video call yang sempat membuatnya tak bisa lepas memikirkan sang wanita yang kini tinggal bersamanya.

Ia menaiki mobil dengan kecepatan agak lebih cepat dari biasanya, meski hanya sedikit saja. Jalan-jalan besar yang membentang di kota itu terlihat sepi, dan hanya suara mesin mobil yang memenuhi ruang hening. Ketika ia melintasi jembatan besar yang memisahkan pusat kota dan kawasan tempat tinggalnya, ia menyandarkan tubuhnya lebih nyaman di kursi mobil, sambil mengingat percakapan pagi tadi.

Aderald tidak pernah benar-benar berani menunjukkan kelembutannya di hadapan Dona. Bahkan saat mereka pertama kali bertemu setelah kecelakaan yang menimpa Dona, ia hanya tahu bahwa ia harus menjaga wanita itu. Sejak saat itu, Dona tinggal bersama Aderald di mansion mewahnya, sebuah keputusan yang lebih didorong oleh rasa tanggung jawab ketimbang perasaan pribadi. Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan-perasaan itu mulai sedikit banyak berkembang tanpa ia sadari. Ia hanya menutupinya dengan sibuk di pekerjaan dan mengingatkan dirinya sendiri jika sewaktu-waktu ia kelewatan batas.

Namun pagi tadi—melihat Dona berusaha melakukan yoga dengan pelatihnya, walau ia hanya menyaksikan lewat layar ponsel—Aderald merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada kekhawatiran yang lebih dalam, lebih mengganggu. Ia tak bisa menahan perasaan bahwa ia ingin berada di sana, mendampingi Dona dalam setiap gerakan, meski ia tahu itu tak mungkin. Ada rasa yang sulit dijelaskan, yang hanya bisa ia rasakan di dalam hati.

Sampai akhirnya ia sampai di mansion, Aderald menarik napas dalam-dalam sebelum turun dari mobil dan melangkah menuju pintu depan. Seperti biasa, mansion itu tampak sunyi, hanya ada suara dedaunan yang bergesekan diterpa angin. Ia menekan bel pintu, dan beberapa detik kemudian pintu terbuka, menampakkan seorang pelayan rumah yang tampaknya sudah menunggu kedatangannya.

"Selamat sore, Tuan Aderald. Nona Dona sedang di halaman belakang," ujar pelayan itu dengan sopan.

"Terima kasih," jawab Aderald singkat, melangkah menuju halaman belakang dengan langkah yang sedikit lebih cepat.

Di halaman belakang mansion, suasana lebih tenang dibandingkan dengan bagian depan rumah. Halaman itu luas, penuh dengan tanaman yang tertata rapi dan beberapa bunga warna-warni yang bermekaran di musim semi ini. Di tengah-tengahnya, Dona sedang sibuk menyiram tanaman di sekitar area taman, tampak menikmati kebisuan yang mengelilinginya. Ia mengenakan pakaian santai berwarna biru muda, dengan rambut yang kini tergerai bebas, sedikit tergerai dari ikatan yang sebelumnya rapi.

Aderald berhenti sejenak di tepi pintu kaca yang mengarah ke halaman belakang, memandangi Dona dengan perasaan yang campur aduk. Meski mereka sering bertemu, masih ada rasa canggung yang tak dapat dielakkan. Dona kemudian menoleh saat merasa ada seseorang yang mengamatinya, perempuan itu sedikit melebarkan kelopak matanya.

Sesaat, keduanya hanya saling memandang tanpa kata, masing-masing tenggelam dalam dunia mereka sendiri, meski sebenarnya mereka juga ingin mengatakan banyak hal. Aderald menatap Dona yang tampaknya begitu damai di tengah hiruk-pikuk hidupnya yang penuh ketidakpastian. Sementara Dona, yang menyadari kedatangan Aderald, hanya melirik sekilas tanpa banyak bereaksi.

Mereka saling berpandangan lama, dan entah mengapa, dalam diam itu, suasana terasa tidak bisa diartikan. Ada rasa yang mengambang di antara mereka, yang mereka berdua tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Aderald merasakan sebuah beban yang tak terlihat, berat, yang seolah menekan dadanya. Ia ingin melangkah lebih dekat, memeluk Dona, atau sekadar memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja—tapi entah kenapa, ia merasa ragu.

Aderald akhirnya menghela napas panjang dan melangkah maju. Dona pun, seolah dipaksa keluar dari lamunannya, menatap Aderald dengan sedikit terkejut. Mereka berdua berhenti beberapa langkah dari satu sama lain, hanya saling bertukar pandang tanpa berbicara.

"Sepertinya menyiram tanaman menjadi hobi baru mu, ya?" tanya Aderald akhirnya, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, namun ada sedikit nada cemas di sana.

Dona mengangguk sambil tersenyum simpul. “Lumayan menyenangkan melihat bunga yang aku siram berubah mekar”

“Aku senang mendengarnya," jawab Aderald singkat, matanya sedikit tertunduk, seperti menyembunyikan sebuah keraguan.

Dona memperhatikan Aderald dengan cermat. Ada sesuatu dalam dirinya yang merasakan perubahan dalam sikap Aderald. Sesuatu yang tidak biasanya. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi ia merasa seolah-olah mengganggu jika terlalu mendalami. Jadi, ia memilih diam.

“Kau melakukannya setiap hari?” Aderald melanjutkan, mencoba mengalihkan perhatian dari kecanggungan yang semakin terasa.

Dona tersenyum tipis, kemudian mengangguk. “Ya, aku merasa lebih tenang di sini. Ada ketenangan dalam merawat tanaman. Rasanya seolah-olah ada hidup yang tumbuh, bahkan dalam keheningan.”

Aderald mengangguk pelan. Ia bisa memahami itu, meski ia sendiri tidak memiliki waktu untuk hal seperti itu. "Kau tahu, taman ini memang sangat indah," ucapnya, mencoba untuk mengisi kesunyian yang menggelayuti mereka berdua.

“Benar, taman ini juga menjadi tempat favorit mu di mansion mu”

Sekali lagi, mereka saling berdiam diri, berdiri cukup lama di halaman yang sunyi itu. Tanpa mereka sadari, waktu berjalan begitu cepat, dan keduanya hanya terpaku dalam kebisuan yang aneh, seolah-olah ada sesuatu yang tak terucapkan antara mereka. Meskipun kata-kata tak terucap, hati mereka berdua berbicara lebih banyak daripada yang mereka sadari.

Aderald menatap Dona, dan dalam hatinya, ada rasa yang begitu kuat—ingin melindungi, tapi takut untuk lebih dekat. Dona pun merasakan hal yang sama—rasa terima kasih yang mendalam, namun juga perasaan yang lebih dari sekadar itu.

Dan dalam diam mereka, mereka berdua tahu, meski tak pernah diungkapkan, bahwa mereka sedang berada di sebuah persimpangan yang tak terhindarkan, tempat di mana perasaan mereka akan berhadapan dengan kenyataan yang sulit untuk dipahami.

1
Jingga Pelangi
kamu kmana aja torrr
uni_riva
lah/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
uni_riva
astaga aderald pikiran mu/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
uni_riva
apakah hubungan dona & javis tak di restui kah sampe di kejar2 bgtu??
uni_riva
mampir thoorr
Selvia Dora Pakpahan
lanjut thor
keke global
lanjutannya mana kakak
falea sezi
kok. G lanjut uda end kah
Queenfans Angelfans: 𝒂𝒚𝒐 𝒅𝒐𝒏𝒈 𝒖𝒑 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒎𝒂𝒖 𝒅𝒊 𝒈𝒂𝒏𝒕𝒖𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒎𝒂
total 2 replies
Queenfans Angelfans
ᥣᥲmᥲ 𝗍һ᥆r
keke global
dona yg digombalin, aku yg meleleh
keke global
aderald nih blm prnh pcrn ap gmn... romantis tp kayak lepas banget
ardiana dili
lanjut
Una_awa
bisa aja kata² nya, gimana Dona gak tambah meleleh, aderald tambah pintar aja ngegombal 😁
ardiana dili
lanjut
keke global
novel sekeren ini.. yuk ramaikam gaes...aku suka sama karakter aderald dan ayahnya.. gak gegabah
ardiana dili
lanjut
Una_awa
semoga saja Dona dan aderald bisa menikah dan hidup bahagia.
Queenfans Angelfans
ᥴіᥱᥱᥱ
Queenfans Angelfans
һᥲᥡ᥆᥆ mᥲᥒᥲ іᥒі ᥙ⍴ᥒᥡᥲ
Una_awa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!