Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Departemen Kepolisian.
Suasana ruang rapat Tim A cukup sibuk.
Beberapa detektif sedang memeriksa berkas dan foto-foto korban yang ditempel di papan investigasi.
Kapten Wong berdiri di depan sambil menyilangkan tangan.
“Korban keenam belas ditemukan tiga hari lalu. Cara pembunuhan masih sama seperti korban sebelumnya.”
Wesley membuka salah satu berkas.
“Pelaku tidak meninggalkan sidik jari, DNA, ataupun rekaman yang bisa digunakan untuk identifikasi.”
“Bahkan waktu kematian juga dihitung dengan sangat tepat,” tambah detektif lain.
Evelyn menatap foto-foto korban di papan.
“Menurut laporan forensik, pelaku memiliki pengetahuan medis yang cukup tinggi.”
“Dokter?” tanya seseorang.
“Belum tentu,” jawab Evelyn. “Tapi setidaknya dia memahami anatomi manusia dengan baik.”
Kasus ini sudah berlangsung lima tahun.
Enam belas korban.
Dan sampai sekarang mereka bahkan belum mengetahui identitas pelaku.
“Yang paling aneh,” ujar Wesley sambil membalik halaman berkas, “seluruh korban tampaknya tidak memiliki hubungan satu sama lain. Usia berbeda, pekerjaan berbeda, lingkungan sosial juga berbeda.”
Kapten Wong mengangguk.“Itulah alasan kenapa kasus ini belum terpecahkan.”
Tiba-tiba pintu ruang rapat diketuk.
Tok tok.
“Masuk,” ucap Kapten Wong.
Pintu terbuka dan seorang pria paruh baya masuk ke dalam.
Semua anggota tim langsung berdiri.
“Komandan Chen.”
Komandan Chen mengangguk pelan. “Duduk.”
Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada papan investigasi.
“Kalian masih membahas kasus pembunuhan berantai?”
“Ya,” jawab Kapten Wong.
Komandan Chen kemudian meletakkan sebuah map di atas meja.
“Aku datang untuk menyampaikan keputusan baru dari pimpinan.”
Seluruh anggota tim langsung memperhatikan.
“Mulai besok, pihak kejaksaan akan mengirim seseorang untuk bekerja sama dengan Tim A dalam menangani kasus ini.”
“Jaksa?” tanya salah satu detektif.
Komandan Chen mengangguk.
“Namanya Damien Lu.”
Kapten Wong dan Wesley saling pandang saat mendengar nama itu.
Sementara Evelyn yang sejak tadi membaca berkas tampak terdiam sejenak.
“Komandan, Damien Lu yang mana?” tanya Kapten Wong.
Komandan Chen langsung menyerahkan sebuah map.
Kapten Wong membukanya dan melihat foto pria yang sangat dikenalnya.
Di samping foto itu terdapat sederet prestasi yang memenuhi beberapa halaman.
“Jaksa Lu adalah jaksa terkenal yang baru kembali dari luar negeri,” jelas Komandan Chen. “Rekornya luar biasa. Dari kasus korupsi internasional hingga pembunuhan berantai, banyak kasus berat yang berhasil ia pecahkan.”
Beberapa detektif langsung bersiul kagum.
“Luar biasa.”
“Tidak heran kejaksaan mengirimnya ke sini.”
Kapten Wong menutup map itu perlahan. “Memang dia.”
Komandan Chen kemudian menoleh ke arah Evelyn.
“Evelyn.”
“Iya, Komandan,” sahut Evelyn.
“Jaksa Lu memiliki kemampuan bela diri yang cukup baik. Saat penyelidikan nanti, aku ingin kau bekerja sama dengannya. Tim kita membutuhkan kemampuanmu dan kemampuan Jaksa Lu,” lanjut Komandan Chen.
Ekspresi Evelyn tetap tenang.
“Baik.”
Namun Wesley langsung mengernyit.
“Komandan, Evelyn baru saja menyelesaikan kasus besar kemarin. Bukankah lebih baik saya yang bekerja sama dengan Jaksa Lu?”
Komandan Chen menggeleng.
“Bukan itu pertimbangannya.”
“Lalu?”
“Ini keputusan bersama para pimpinan.”
Komandan Chen melanjutkan, “Selain kemampuan investigasi, kalian berdua memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik. Dalam banyak situasi berbahaya, kalian lebih mudah saling mendukung saat berada di lapangan.”
Wesley tampak tidak puas.
“Tapi—”
“Tidak ada tapi,” potong Komandan Chen. “Ini sudah diputuskan.”
Kapten Wong yang sedari tadi diam akhirnya ikut berbicara.
“Wesley, ini hanya kerja sama penyelidikan.”
Wesley terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas.
“Baik, Komandan.”
Komandan Chen mengangguk puas. “Besok pagi Jaksa Lu akan datang ke sini. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik.”
Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan meninggalkan ruang rapat.
Pintu tertutup kembali.
Suasana mendadak menjadi sunyi.
Beberapa detektif mulai membahas reputasi Damien Lu dengan antusias.
Namun Kapten Wong hanya melirik ke arah Evelyn.
Wanita itu sudah kembali membaca berkas di tangannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tetapi Kapten Wong yang mengenalnya selama bertahun-tahun tahu satu hal.
Evelyn memang terlihat tenang.
Namun bukan berarti ia benar-benar tidak peduli dengan kedatangan mantan tunangannya itu.
Malam hari.
Arena latihan tembak kepolisian masih terang meski sebagian besar anggota sudah pulang.
Suara tembakan terus menggema di dalam ruangan.
Dor!
Dor!
Dor!
Peluru demi peluru menghantam papan sasaran di ujung lintasan.
Kertas sasaran itu bahkan hampir robek karena terlalu banyak lubang tembakan di titik yang sama.
Tidak jauh dari sana, Kapten Wong dan Wesley berdiri sambil memperhatikan sosok Evelyn.
Wanita itu berdiri tegak dengan pistol di tangannya.
Ekspresinya tenang.
Namun cara ia menarik pelatuk membuat siapa pun bisa merasakan emosi yang sedang ia tekan.
Dor!
Dor!
Dor!
"Paman, kenapa tiba-tiba saja dia kembali?" tanya Wesley pelan.
Tatapannya tidak lepas dari Evelyn.
"Apa lagi sekarang harus bekerja dengannya. Bukankah Evelyn akan terluka lagi?"
Kapten Wong menghela napas panjang. "Kita tidak punya pilihan selain menyetujuinya. Ini keputusan dari atas. Bahkan kejaksaan dan kepolisian sama-sama menyetujuinya."
Wesley mengerutkan kening.
"Tapi tetap saja... Evelyn sudah terlalu banyak menderita karena pria itu."
Kapten Wong terdiam.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,."Aku tahu."
Suara tembakan kembali terdengar.
Dor!
Dor!
Dor!
Wesley menatap punggung Evelyn.
"Evelyn terpuruk setelah kejadian itu. Sampai harus menjalani perawatan dengan dokter psikiater."
Kapten Wong menundukkan pandangan.
Ia tentu mengetahui semua itu.
"Saat itu bahkan dokter mengonfirmasi bahwa dia mengalami depresi berat..Selama berbulan-bulan dia hampir tidak berbicara dengan siapa pun..Kalau bukan karena dirinya sendiri yang terus berjuang. Mungkin dia tidak akan bisa berdiri di sini hari ini."
Kapten Wong hanya mengangguk pelan.
Ia masih ingat bagaimana keadaan Evelyn lima tahun lalu.
Kariernya hancur.
Hubungannya dengan keluarga memburuk.
Tunangan yang seharusnya menjadi orang terdekat justru pergi meninggalkannya.
Kapten Wong memandang wanita itu cukup lama. "Yang paling aku khawatirkan bukan pertemuan mereka."
"Lalu apa?" tanya Wesley.
Kapten Wong menghela napas.
"Aku khawatir luka yang sudah susah payah dia sembuhkan... kembali terbuka."
Keduanya terdiam.
Di depan mereka, Evelyn kembali mengangkat pistolnya.
Tatapannya tajam tertuju pada sasaran yang sudah penuh lubang.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan menggema sekali lagi.
Papan sasaran itu hampir hancur.
Seolah setiap peluru yang dilepaskannya membawa seluruh amarah, kekecewaan, dan rasa sakit yang telah ia pendam selama lima tahun terakhir.
"Damien Lu, apa yang kau rencanakan sebenarnya? Apakah kau hidup hanya untuk menghancurkanku?" batin Evelyn.