Widhi Maharani menikahi Agung Haryanto, duda beranak dua. Berbagai masalah mulai muncul di awal pernikahan. Mulai masalah ekonomi, masalah orang ketiga sampai dituduh sebagai PELAKOR.
Ternyata mereka tak bisa mempertahankan pernikahan, karena Agung lebih memilih kebahagiaan anak-anaknya dan kembali pada mantan istrinya.
Widhi bertemu lagi dengan mantan pacar pertamanya, tapi percintaan mereka pun terhalang lagi oleh istri mantan pacarnya. Dan Widhi dicap lagi sebagai pelakor.
Akhirnya Widhi menemukan cinta sejatinya dengan seorang teman lamanya. Dan mereka memutuskan menikah hingga memiliki anak dan hidup bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Rient, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 MALING TERIAK MALING
Kami sama-sama tercengang mendengar perkataan dokter. Air mataku mengalir perlahan membasahi pipi. Tak bisa aku bayangkan, anak sekecil Rega harus menderita penyakit yang sangat berbahaya itu.
Aku menggenggam kuat tangan suamiku. Tapi suamiku seperti tak bertenaga. Dia bergeming.
Aku menghapus air mataku, dengan tissue yang ada di meja dokter. Aku beranikan diri bertanya, karena suamiku hanya diam membisu.
"Terus apa yang harus kami lakukan dok?" tanyaku.
Lalu dokter menjelaskan semua dengan rinci, apa yang harus kami lakukan. Pengobatan apa yang nanti mesti dijalani, untuk kesembuhan Rega.
Walaupun ada kemungkinan buruk, tapi kami harus tetap berjuang, demi kesembuhan Rega. Apapun akan kami lakukan.
Setelah mendengar semua penjelasan dari dokter, aku menuntun suamiku untuk keluar dari ruangan dokter.
Aku tau dia sangat terguncang. Setelah apa yang terjadi selama ini, kebakaran bengkel, teror paket-paket yang gak jelas, usaha mencelakaiku, hingga aku nyungsep ke sawah.
Dan sekarang Rega di vonis terkena penyakit yang sangat berbahaya.
Sesampainya di kamar inap Rega, suamiku langsung duduk di kursi. Tanpa bicara sedikitpun. Membuat bapak mertuaku kebingungan.
"Ada apa Gung? Apa kata dokter?" tanya bapak mertuaku. Aku tak berani menjawab. Aku hanya menggenggam tangan suamiku erat.
Tiba-tiba maa Agung menutupi wajahnya, dengan menangkupkan kedua telapak tangannya. Lalu dia menangis sesenggukan.
Baru kali ini aku melihat suamiku, yang biasanya tegar, terlihat begitu rapuh. Aku memeluknya dari samping. Bapak mertuaku yang menyaksikan, kelihatan semakin bingung.
"Ada apa ini Gung? Tolonng cerita ke bapak!" ucap bapak mertuaku agak keras. Setelah tangis mas Agung mereda, barulah dia membuka wajahnya.
"Dokter bilang, dari hasil cek lab, Rega terkena Leukimia pak" ucap mas Agung, dan kembali tergugu.
"Maksud kamu, kanker darah?" tanya bapak tak percaya. Aku yang kemudian mengiyakan.
"Astaghfirullah..." ucap bapak, lalu jatuh terduduk di lantai. Aku segera berlari kearah bapak mertuaku. Aku menolongnya untuk berdiri, dan membawanya ke kursi. Aku dudukan di sana.
"Cobaan apa lagi ini, Ya Allah..." ucap bapak mertuaku sambil ikut menangis.
Tiba-tiba Rega terbangun dari tidurnya. Mungkin karena mendengar suara-suara yang agak keras. Aku segera menghampirinya. Aku berusaha tersenyum. Aku belai kepalanya.
"Ayah...kok ayah sama kakek menangis?" tanya Rega.
"Gak apa-apa sayang. Mereka sedih aja lihat Rega dari tadi gak bangun-bangun" jawabku asal.
"Sekarang Rega makan ya... Terus minum obatnya, biar ayah sama kakek gak sedih lagi" ucapku kemudian.
Rega mengangguk patuh. Langsung aku ambil nampan yang berisi makanan, dan segera menyuapinya. Mas Agung mendekat dan membantu menaikan bagian kepala ranjang.
Setelah selesai makan, aku memberinya minum dan obat-obatan yang harus di konsumsi. Mungkin setelah ini, obat-obatannya akan semakin banyak, batinku.
----------------------------------------
Menjelang maghrib, mas Agung meminta aku dan bapak untuk pulang. Dia akan menunggu sendirian malam ini. Tadinya aku sempat menolak. Tapi mengingat kondisiku yang baru saja sehat, aku pun menurut.
Aku pun pulang dengan membonceng bapak mertuaku, menggunakan motorku. Sepanjang perjalanan kami hanya diam membisu.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamarku. Aku merasa badanku gerah dan lengket semua. Akupun mandi dan segera menunaikan sholat maghrib.
Aku berdoa setelah sholat maghrib. Aku menangis sejadi-jadinya di atas sajadah. Memohon ampun atas semua dosa yang mungkin telah kami lakukan.
Selesai berdoa, aku mendengar pintu kamarku di ketuk. Setelah aku buka, aku lihat ibu mertuaku berdiri di ambang pintu. Matanya menatapku, seolah meminta penjelasan.
Aku paham maksudnya. Aku ajak ibu mertuaku masuk ke kamar. Kami duduk di tepi ranjang.
"Ceritakan pada ibu, apa yang sebenarnya terjadi. Karena ayahmu langsung masuk kamar, dan diam" pinta ibu padaku.
Dengan berat hati, aku ceritakan tentang diagnosa dokter tadi. Ibu mertuaku ternganga. Aku menggenggam tangannya, dan memeluknya. Dia langsung menangis di pelukanku.
"Ya Allah...dosa apa yang telah kami lakukan, sehingga cobaanMu seperti tiada hentinya?" ucapnya di sela tangis.
"Istighfar bu. Kita doakan semoga Allah segera mengangkat penyakit Rega. Kita akan berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan Rega, bu" ucapku menenangkan ibu mertuaku.
----------------------------------------
Esok paginya, setelah bapak mertuaku mengantar Risa ke sekolah, aku dan ibu mertuaku berangkat ke rumah sakit. Kami membawakan baju ganti untuk mas Agung. Juga tak lupa makanan untuk sarapan.
Aku yakin, pasti dari semalam suamiku belum makan. Aku memang belum menghubunginya lagi. Karena dari semalam hapenya non aktif. Mungkin dia butuh sendiri.
Sesampainya di rumah sakit, bapak mertuaku sudah ada di sana. Lalu aku menemani suamiku makan pagi di kantin. Aku bawa makanan yang tadi aku masak di rumah.
Aku lihat wajahnya begitu kusut. Tak ada senyum seperti biasanya. Kacau sekali kondisinya.
Selesai makan, kami kembali ke kamar. Aku menyuruh mas Agung untuk mandi, dan menyiapkan baju gantinya, agar di bawa ke kamar mandi sekalian.
Bapak dan ibu mertuaku berada di rumah sakit sampai saatnya menjemput Risa pulang sekolah. Setelah itu baru mereka pulang. Aku akan menemani suamiku sampai malam nanti.
Kami memang menjaga, jangan sampai Risa tau kondisi adiknya saat ini. Kami gak mau dia jadi ikut sedih. Yang kami beri tahu hanya Rega lagi sakit, dan butuh perawatan khusus di rumah sakit.
Sepulangnya mereka, tiba-tiba pintu kamar rawat inap di ketuk dari luar. Aku membukanya. Aku terkejut, karena ternyata ada mba Vita di sana. Dari mana dia tau kalau Rega dirawat disini? Pikirku.
Dia melangkah dengan angkuhnya. Melewatiku begitu aja, seolah aku tidak ada. Aku hanya menghela nafas panjang. Dan mengikutinya dari belakang.
Dia langsung menuju tempat tidur Rega. Mendekap Rega, lalu menangis sejadi-jadinya. Tanpa berfikir itu akan mengganggu Rega yang sedang tertidur.
Mas Agung hendak menariknya untuk menjauh. Tapi terlambat, Rega keburu terbangun. Semakin keras lah suara tangis mba Vita.
Ya siapa yang gak sedih, melihat anaknya tergeletak sakit. Aku mencoba berfikir positif. Walaupun kalau boleh suudzon, itu semua dia lakukan mungkin untuk menarik simpati mantan suaminya.
Selesai menangis, dia menghampiriku. Sepertinya dia mau melabrak aku. Aku bisa lihat dari sorot matanya yang tajam.
Melihat itu, aku sama sekali gak takut. Aku malah menggandengnya hendak membawanya keluar. Dia langsung menepiskan tangannya.
Aku mendahuluinya keluar kamar. Lalu berjalan ke arah yang sepi. Agar pembicaraan kami nanti gak ada yang mengganggu.
Dia mengikutiku. Setelah mendapatkan tempat yang agak sepi, aku berbalik. Aku tatap dia lekat. Kali ini aku gak mau mengalah. Aku akan ladenin apa maunya.
"Ada yang mau di bicarakan?" tanyaku ketus.
"Oh, udah berani kamu sekarang?" jawabnya sambil berkacak pinggang.
"Kenapa aku mesti takut?" ucapku menantang.
"Bagus kalau kamu tidak lagi bersembunyi di belakang ketek mas Agung. Sekarang aku minta sama kamu, tinggalkan keluargaku. Gara-gara kamu hadir di sana, hidup mas Agung jadi apes terus. Jadi kembalikan keluargaku!" ucapnya berapi-api.
"Maaf, aku gak merasa mengambilnya dari siapapun. Jadi aku pun gak perlu mengembalikan pada siapapun" jawabku.
"Kamu sudah mengambil mereka dariku. Kamu maling tau!" aku terkejut mendengar dia mengatakan aku maling.
"Aku maling? Lalu apa sebutan untuk orang yang hendak mengambil milikku?" tanyaku. Dia terdiam tak bisa menjawab.
Lalu aku berlalu meninggalkannya karena takut emosiku tak terkendali. Dasar maling teriak maling.