Gadis itu dijadikan jaminan oleh ayahnya. Bukan sekali dua kali saja. Tapi terlalu sering, bahkan ia hampir kehilangan nyawa. Namun tidak ada kebencian yang terlihat. Membuat Qret, sang ketua gengster penasaran. Terbuat dari apa hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Pekerjaan Pertama
Sudah dua jam aku berdiri di teras, tatapanku tertuju pada bangunan yang menjadi tempat tinggalku beberapa tahun terakhir. Kini semua sudah habis. Bersamaan dengan selesainya tugas pemadam kebakaran mematikan api.
"Qret!" seseorang memanggil namaku. Wijaya, ia baru turun dari mobilnya, tergopoh-gopoh menghampiriku. "Bagaimana keadaanmu? Kalian tidak apa-apa, kan? Bagaimana ini semua terjadi? Maaf aku terlambat datang. Tadi saat ibumu menelepon, pesawatku baru landing di Bali. Jadi butuh waktu untuk mencari pesawat kembali ke Jakarta." Wijaya terus memberondong dengan banyak pertanyaan.
Sikapnya ini membuatku yakin bahwa ia bersih dari peristiwa ini. Wijaya bukan pelakunua. Lagipula ia sangat mencintai ibu, Wijaya tidak mungkin melakukan sesuatu hal yang dapat membahayakan ibu.
Lagipula hubungan kami mulai membaik walaupun masih ada jarak. Tetapi perlahan aku mulai bisa menerimanya, walau masih tetap belum bisa mengakui bahwa ia ayahku.
"Ibu ada di dalam. Aku juga tidak tahu siapa yang melakukannya. Semua terjadi sangat cepat. Baru dua jam aku meninggalkan rumah, tiba-tiba orang-orang menelepon kalau rumah sudah terbakar," kataku.
"Berarti ibumu ada di sana? Bagaimana keadaannya?"
"Ibu baik-baik saja. saat kebakaran, ibu dan dua pembantuku sedang berbelanja,"
"Berarti rumah kosong? Apa ada yang sengaja membakarnya?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Ini masih jadi misteri. Tetapi aku akan mencari tahu.
"Selamat pagi, mas Qret," seseorang berseragam polisi menyapaku.
"Jimmi?" kata Wijaya.
"Papa, kenapa di sini? Bukannya papa baru berangkat ke Bali?" Jimmi berbisik pada ayahnya.
"Kau lupa, mereka ini keluargaku. Aku sengaja terbang balik begitu mendengar berita kebakaran ini," ungkap Wijaya dengan santai.
"Papa mau mencari masalah? Pa, di sini banyak orang-orang lalu lalang. Ada wartawan dan polisi yang mengenali papa. Semua orang bisa tahu skandal ini. Tolong jaga sikap. Kalau mama sampai tahu, bukan hanya papa yang dapat masalah, tapi Qret dan juga ibunya!" meski pelan, tetapi pernyataan Jimmi cukup keras.
"Aku tidak peduli. Bahkan jika karirku hancur sekaligus. Aku hanya ingin memastikan keluargaku baik-baik saja," Wijaya menjawab santai sambil berlalu masuk ke dalam.
"Pa!" panggil Jimmi.
"Begitulah orang-orang yang jatuh cinta, suka tidak peduli terhadap sekitarnya," kataku.
"Hmm, jadi mas Qret, apa anda bisa memberikan informasi tentang kebakaran ini?"
"Siap pak polisi!"
"Pukul berapa kejadiannya?"
"Aku tidak tahu pastinya karena saat kejadian, aku sedang di luar,"
"Oh, anda sedang bekerja,"
"Bukan pak polisi. Aku sedang di rumah calon istriku, Yasmin."
"Buat apa kau ke sana?"
"Lho, apa perlu kujelaskan? Tentu saja aku ke sana untuk membicarakan rencana pernikahan kami. Banyak hal yang harus dibahas. Mulai dari gedung, siapa yang akan diundang, bagaimana acaranya, juga rencana kami setelah menikah nanti. Mau punya anak berapa, tinggal dimana dan ...."
"Cukup!" Jimmi menatapku tajam. "Kau mau memanas-manasi?"
"Tidak."
"Lalu untuk apa bicara seperti itu? Dengar baik-baik Qret, saya tidak akan pernah membiarkan kalian menikah, apapun yang terjadi, Yasmin adalah milikku!"
"Hahaha, pede sekali anda tuan polisi,"
"Kami saling mencintai Qret!"
"Siapa bilang? Perlahan, Yasmin akan melupakanmu. Lagipula dari dulu dia mengaku single. Belum punya calon, jadi wajar jika aku mendekatinya,"
"Kau hanya mengambil kesempatan dari hutang-hutang ayahnya,"
"Tidak sama sekali. Lagipula kau harus belajar ikhlas pak polisi. Bukannya ibumu tidak merestui jika kau menikah dengan Yasmin?"
"Saya akan membuat ibu merestui,"
"Jangan memaksakan kehendak, kau mau membuat hidup Yasmin menderita. Ibumu itu kejam, ia bisa saja melakukan apapun untuk menghancurkan musuhnya,"
Plak. Sebuah tamparan keras dilayangkan Jimmi ke pipiku. "Jangan pernah menjelekkan ibuku!"
"Begitulah kenyataannya, ibumu sudah membuat ibuku menderita. Kalau kau memaksakan, Yasmin pun akan merasakan hal yang sama seperti ibumu. Jadi sadarlah tuan polisi!"
"Sudah cukup Qret." Jimmi meninggalkanku dengan semua kekesalannya. Tidak berapa lama, anak buahnya Jimmi mengganti tugas atasannya, meminta keterangan atas kebakaran yang menimpaku rumahku.
***
Hari kedua di rumah paman Rudi. Pagi-pagi sekali, aku sudah bersiap hendak berangkat untuk mencari pekerjaan sesuai rencana yang kubuat. Sebab aku masih punya ibu yang menjadi tanggung jawabku.
Paman Rudi sudah menawarkan agar membangun kembali usaha dengan modal darinya, tetapi aku menolak sebab sejak kejadian kebakaran itu, aku sudah melakukan renungan. Mungkin Tuhan punya rencana dibalik ini semua, agar aku kembali memulai semuanya dari nol.
Rumah dan harta yang ada selama ini kudapat dari jalan yang tidak halal. Sedangkan mobil yang kupakai, itu satu-satunya harta yang kumiliki dengan cara halal. Aku membelinya dari bekerja serabutan sebelum menjadi seorang pemilik bar dan rumah kasino.
"Qret, kamu yakin akan mencari pekerjaan di luar?" ibu menyusul ke kamar saat aku sedang bersiap-siap.
"Iya Bu. Qret kan harus punya penghasilan untuk membiayai hidup Qret dan ibu," jawabku.
"Kenapa tidak menerima pekerjaan dari ayahmu saja?"
"Tidak Bu, Qret ingin berusaha sendiri. Qret ingin benar-benar mendapatkan rezeki yang halal dan berkah."
Aku tahu ibu tidak nyaman menumpang di sini, tetapi ini hanya untuk sementara. Aku akan bertindak cepat mencari yang terbaik untuk ibu. Sebelumnya ibu sudah mengajak agar kamu pindah ke rumah ibu, tetapi aku menolak karena belum bisa merelakan beberapa kenangan masa kecil yang mengusik hidupku.
"Qret berangkat dulu ya, Bu. Doakan Qret. Nanti, pulang nyari kerja, Qret akan carikan tempat tinggal baru untuk kita." kataku, sambil menyalami ibu.
"Hati-hati, nak!" ibu melepaskan dengan berat hati.
Sebelum berangkat, tidak lupa kutitipkan ibu pada Riana. Kuharap gadis itu bisa membuat ibu nyaman, setidaknya sampai aku kembali.
Mobil milikku mulai melaju menembus jalanan Jakarta Selatan, melewati Kebun Jeruk menuju Jakarta Pusat.
Selama beberapa jam aku keluar masuk kantor, menanyakan apa ada lowongan yang bisa kudapatkan tanpa ijazah apapun.
Hingga sore, tidak ada satu pekerjaan yang bisa kudapatkan. Kini mobil melaju menuju serum mobil di kawasan arteri. Begitu sampai, aku langsung turun.
"Bang Dito!" panggilku.
"Qret, kau itu?" lelaki berdarah batak itu menyambut kedatanganku.
Tanpa basa-basi, langsung ku ceritakan maksud dan tujuan datang ke sini. Aku ingin menjual mobil milikku, satu-satunya harta yang tersisa.
"Aku ikut sedih Qret mendengar kebakaran yang menimpaku rumahmu." bang Dito memberikan harga yang cukup tinggi untuk mobilku. "Oh ya Qret, sebelum kau dapat kerjaan, bagaimana kalau kau kerja di sini dulu. Aku butuh manager yang bisa menghandle bengkel. Kau kan jago. Untuk gaji tenang saja, berapa yang kau minta, akan kuusahakan."
"Benar, bang?"
"Iya Qret. Kau mau, kan?"
"Mau bang,"
"Bagaimana kalau gajinya tujuh juta?"
"Iya bang. Enggak apa-apa. Terimakasih banyak bang. Mulai besok aku akan bekerja sebaik mungkin!"