Geng Bad Boy yang terkadang melakukan aktifitas - aktifitas sesuatu untuk berupaya mencari penghasilan namun tanpa ada yang tau termaksud lingkungan kampus LV universitas serikat Internasional hingga citranya mereka yang terlihat sekelompok cowok ganteng yang pintar dalam berbagai bidang.
Tapi mereka terjebak dengan balas dendam masa lalu dan berniat untuk membunuh, disaat itu juga mereka dekat dengan para gadis yang mempunyai keperibadian unik akankah para gadis itu bisa mebuat mereka sadar masa depan itu lebih penting dari masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L. T03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.KKB
Kau sebenarnya suka... Tidak... Sih padaku....
Kau terus membodohi ku...
Kau terus memainkan perasaanku...
Apa aku cari penyokong baru...
Untuk hatiku yang rapuh ini...
-- Zea --
Mungkin kalau orang bertemu Zea dia akan melihat betapa bodohnya gadis itu, dia bejuang mencari buku untuk mendapatkan jawaban yang ingin dia tau.
Siang itu dia langsung ke perpustakaan kampus dia sampai melupakan makan siangnya hanya demi cinta, iya dasar bucin kalau julukkan jaman sekarang.
" Mbg dimana buku bagian psikolog " bertanya pada penjaga perpus dengan terburuh-buruh.
" Rak kedua tingkat ke empat " Zea langsung berniat mengambilnya.
" Astaga, kenapa jauh banget rak 4 " dia tercengang itu buku tertengger jauh dari tinggi badannya.
" Ada kursi bisa dipakai "
" Makasih mbg "
" Kursi.. Mampu gak iya nahan bobotku kalau aku jatuh patah tulang bagaimana. Tapi buku itu.. Aku harus dapat demi Blenku sayang " membatin Zea.
Udah tau cuma kursi tapi dia naiki beserta masih menggunakan hak tinggi ini sih cari mati tapi namanya Zea kalau gak waw dalam segala keadaan gak abdouel dong.
Zea masih mencoba merahi buku yang masih jauh dari jangkauan tangannya padahal sudah pakai kursi jadi dia sedikit meloncat hingga terjadilah kursi goyang.
" Iya ampun, mati gue... Ahhh... Encok nih setelah jatuh dan malu seumur hidup nih " membatin Zea sambil menutup mata tak mampu melihat diri sendiri mengenaskan jatuh dengan tidak terhormat dan menjijikan.
" Kok gak sakit... Apa gue langsung mati " masih erat menutup mata.
" Muka lo merah banget, takut iya jatuh " Zea memberanikan diri membuka mata setelah mendengar kalimat itu.
" Gavin.... " iya Gavin dengan sigap menangkap hingga kini Zea di gendong didepan dada Gavin.
" Iya gue takut malu dilihati orang-orang " serunya lirih.
Gavin mulai menurunkannya.
" Gak ada orang kali disini, lagian tumben lo kesini kayak bukan tongkrongan lo ajah main ke sini " menatap Zea mengejek.
" Apaan sih gue disini bukan main kali, gue disini mau baca buku " lalu Gavin memandang Zea dari ujung kaki hingga rambut.
Gavin meletakan telapak tangannya ke dahi Zea lalu mendekatkan wajahnya ke arah dahi sontak membuat tatapan mereka semakin dekat.
" Deg... deg... deg... " ini autor gak tau siapa yang jantungnya berdetak kencang.
" Kayaknya lo yang sakit tapi kenapa lo bisa nyasar ke perpus "
" Yehh... Emang gak boleh ke perpus " memukul keras lengan Gavin hingga membuat posisi mereka kembali berjaga jarak.
" Iya udah gue ambili, mau buku apa " menaiki kursi.
" Buku tentang psikolog " Zea.
" Berapa banyak? " Gavin.
" Lima " Zea.
"Banyak banget, bukannya juga jurusan lo jurnalis iya " Gavin.
" Hei... Penting belajar psikolog juga, iya udah gue pergi dulu " Zea langsung ceria seperti matahari yang bersinar cerah.
" Dua kali gue rasa dipeluk perempuan kecuali adek gue, rasanya aneh " batin Gavin menghela nafas pelan.
Di satu sisi seharian Zea sibuk membaca buku tebal-tebal sampai kuliah apa buka apa yang dibaca untung dia duduk di belakang.
Di kelas hukum.
" Hai boy.... " gadis ceria menghampiri Blen yang sedang asik dengan ponselnya.
" Iya ada apa? " Blen tidak melirik sama sekali, dia masih asik menatap ponselnya dab terkadang tertawa konyol.
" Asik banget sih lo, lagi ngapai " melirik ponsel Bken semakin mendekat.
" Baca novel, lucu banget " masih fokus.
" Kok melo banget lo baca novel " Gladis dengan nada mengejek.
" Diri lo butuh energi. Otak lo dapat menyerap pengetahuan dari membaca, belajar dll, tenagah lo dari asupan makanan yang biasa lo makan atau minum. Hati lo juga butuh makan iya dengan baca novel, main games, nonton, jalan-jalan iya suka-suka gue mau ngelakui apa kan " Blen kembali membaca novel yang ada di ponselnya khususnya di aplikasi NT.
" Iya... Iya.. susah amat berdebat sama lo, 11 12 sama Mr Devil melirik tempat duduk Gavin yang tidak ada penghuninya.
Zea
Tanpa mereka berdua sadari Zea sebenarnya sudah ada di ambang pintu dan melihat dari sudut pandangnya.
Terlihat sekali mereka sekan berbisik-bisik dan sangat dekat pasalnya arah pintu menyamping.
Sontak Zea langsung berbalik air matanya tak bisa di tahan lagi, dia hanya bisa berlari untuk menyembunyikan agar orang tidak tau.
Dia pergi ke tempat yang sepi.
" Dasar Blen brengsek, gue capek-capek baca buku taunya dia enak-enakkan mesra-mesraan sama anak Belanda itu, gue sumpahi lo ngerasi juga saat perasaan lo dipermaini. Gue benci lo Aron Blenda... " teriak senggugutan Zea.
Karena habis tenagahnya untuk berteriak sambil berdiri akhirnya dia terjongkok.
Masih mode menangis.
Seseorang memberikan tisu dan air sontak melihat siapa yang bersikap baik padanya.
" Bec... " Zea masih menatap mata coklat itu sejenak dia mengingat perbuatannya tadi pagi pada Bec.
" Tercela kamu Zea, lihat orang yang berbuat baik yang mala lo tinggali demi Blen brengsek itu dia mala membantumu " membatin Zea.
" Bec.... " suaranya sangat bergetar karena masih belum tenang dari emosi yang menggebu-gebu.
" Maafii gue " Bec langsung mengelus rambut Zea pelan dan lembut.
" Udah jangan nangis, cantiknya nanti hilang " senyum Bec mereka kecil mencoba menenangkan diri.
" Boleh minta peluk, gue merah berat banget sama perasaan gue yang selalu ajah ke gini " tanpa malu tapi pelukan itu tentu tidak ada rasa apapun dalam hati Zea, jantungnya saja tak sedikitpun ada detakkan tak wajar.
" Cup... Cupp... Tenangi diri lo, kalau lo butuh gue pasti gue usahi ada didekat lo " Bec memeluk dan menepuk punggung Zea agar lebih tenang.
.
Blen
" Dimana sih dia ? Di telepon sama chat gak ada satupun di bales, apa dia kenapa-napa ya" Blen tidak ikut pulang melainkan menunggu Zea di dekat parkir karena dia melihat mobil Zea masih tertengger disana yang mulai sepi hanya tinggal beberapa mobil yang bisa dihitung.
" Kemana sih lo Ze... Apa lo masih di kelas, gue ke kelas ajah kali iya " saat di beranjak mau melangkah masuk sepasang matanya melihat Zea bersama laki-laki yang di kantin tadi.
Terlihat Zea sangat kacau dengan hidung yang memerah matanya sedikit berair sembap terlihat sekali kalau dia habis menangis.
" Sial... Kenapa Zea menangis. Itu pasti karena cowok pendek itu " membatin Blen berjalan mendekat dengan rahangnya terkatup rapat menggeram menahan emosi.
Saat sampai dihadapan mereka Blen langsung melayangkan tinjunya melesat di wajah cantik Bec terlihat sekali kulit pipi putih susu menjadi merah lebam.
" Blen.... " teriak histeris Zea.
Zea tidak habis pikir dengan Blen yang melakukan hal itu, dia tidak puas mempermainkan hati Zea kini dia mencari masalah pada Bec yang tidak salah apa-apa, itulah yang ada di pikiran Zea.
# Perjelas perasaanmu Blen, tipe cowok php nih. Kalau jadi Zea lebih baik cari cowok yang pasti ajah.
Kalau menurut kalian ?
-Happy Reading -
masih setia menunggu🥰
sudah ku like semua ya.. jangan lupa mampir balik ke karya ku ya..🤗❤
zea~blen sama jovan~felix