COVER FROM PINTEREST
"Perjanjian? Perjanjian apa?” tanya Jasmine tak menyangka kalau pernikahan yang sangat ingin dia lakukan seumur hidup sekali ini harus serumit ini.
“Aku sudah membuat semua keinginanku. Jadi, giliranmu untuk membuatnya. Kalau sudah selesai, segera berikan padaku. Kau boleh menulis apapun yang kau mau dalam 5 poin saja dan itu pun tidak boleh bertentangan dengan poin yang sudah aku buat untuk dirimu. Silakan pikirkan dulu baik-baik. Jika sudah, mari kita sepakati bersama dan tanda tangani. Jika salah satu dari kita melanggar, maka ada hukumannya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Bersama Orang yang Tepat
Jordan menggenggam tangan Jasmine erat. Meski awalnya terasa aneh bagi Jasmine, tapi rasa bahagianya benar-benar tidak bisa dijelaskan.
“Kau tahu, ini pertama kalinya aku datang ke pesta seperti ini setelah lulus SMA,” bisik Jordan pada Jasmine.
Jasmine tahu, suaminya adalah pribadi yang introvert. Semua itu berubah saat mendekati tahun terakhir sekolahnya. Mertuanya bilang, Jordan gila belajar untuk mendapatkan kampus yang diinginkan. Greta kira anaknya akan kembali lagi pada pribadinya yang riang, tapi setelah masuk kuliah pun dia tidak berubah, terus seperti itu hingga dia bisa mengatur anak perusahaan ayahnya.
“Iya, iya Mas. Aku kan di sini sama kamu, Mas.” Jasmine kembali berbisik pada telinga suaminya.
“Jordan! Jasmine!” suara yang mereka kenal berada di antara riuh suara musik di dalam rumah.
Endra keluar dengan segelas minuman di tangannya seraya tersenyum lebar. Di sampingnya ada Anthonio, sepupunya yang berulang tahun hari ini sekaligus mengundang Jasmine datang untuk bergabung ke dalam pestanya.
“Hai, selamat ulang tahun!” Jasmine langsung menghambur memeluk Anthonio. Jelas itu membuat Jordan cemburu. Pria itu langsung menarik Jasmine membuat Endra terkekeh geli. Kali ini Endra yakin kalau hubungan mereka jauh dikatakan membaik.
“Mas!” Jasmine melotot pada Jordan tidak menyangka kalau dia akan seperti itu.
Padahal Jasmine sudah mengatakan kalau mereka itu sepupu, tapi nampaknya di mata Jordan itu tidak cukup menyenangkan. “Jordan!” ucap pria itu menyalami tangan Anthonio dengan paksa menimbulkan tawa dari Endra bahkan Anthonio.
“Hahaha iya, iya! Aku tahu kau! Kau kan yang membuat sepupuku menangis?” tanya Anthonio yang langsung dapat pukulan dari jasmine.
“Aww! Sakit!” Anthonio mengusap lengannya.
“Sudah! Sudah! Ayo masuk! Teman-teman Anthonio sebentar lagi akan datang. Masih ada beberapa yang belum siap,” ucap Endra dan mereka pun masuk bersama.
“Musiknya apa tidak terlalu besar?” tanya Jasmine begitu mereka masuk.
Endra langsung mematikan musiknya lalu melemparkan sekantung balon ke arah Jasmine dan Jordan.
“Tiup ini!” katanya. “Aku sedang buat barbeque di belakang dengan Anthonio,” ucap Endra seraya membawa tape musiknya.
Jordan nampak menatap balon yang akan dia tiup dengan horror. Cobaan macam apa ini? Pria sepertinya kenapa harus meniup balon di acara orang lain. Ya Tuhan!
“Mas, matamu mau keluar loh!” ledek Jasmine. “Kalau kamu enggak mau. Biar aku yang niup,” kata Jasmine terkekeh membuat Jordan mencemberutkan bibirnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu menderita sendiri,” ucap Jordan mengambil balon yang Jasmine pegang.
Jordan siap melepas jasnya dan mereka mengambil posisi duduk di atas bangku meja makan. Tak lupa Jordan melipat lengan bajunya serta merenggangkan dasinya.
“Ternyata kita ke sini untuk…” Jordan mengangkat balon yang dia pegang dan Jasmine tertawa mendengar keluhan suaminya.
Jasmine benar-benar tidak bisa berhenti tertawa, terkekeh bahkan tersenyum sejak tadi. Hari ini Jordan banyak bicara padanya. Hal itu benar-benar menyenangkan, tapi satu hal yang masih membuat Jasmine kepikiran. Bagaimana jika nanti Jordan bertemu Laura. Bagaimanapun juga, Laura tidak mungkin terus menerus menyembunyikan keberadaannya.
“Mas, aku senang hari ini Mas mau ke sini bersamaku. Nanti kita ke kamarku ya! Bantu aku merapikan beberapa baju dan barangku.”
Jordan tersenyum mengacak rambut istrinya seraya mengangguk.
[…]
Baru beberapa jam mereka berbaur bersama teman-teman Anthonio, Jordan merengek seperti anak kecil ingin segera pulang. Jasmine tahu kalau suaminya merasa tidak nyaman sehingga dia tidak bisa memaksakan Jordan lebih lama dengan pesta malam ini.
Apalagi ketika melihat teman-teman cowok Anthonio terus berusaha mendekati Jasmine. Mulai dari yang sengaja membawakan minuman, barbeque, bahkan sengaja menjatuhkan kue ulang tahun ke baju Jasmine. Semuanya sungguh di luar perkiraan Jordan karena ternyata istrinya seperti punya magnet yang menarik siapa saja untuk mendekat.
“Mas bantu dong! Kok malah diam aja sih!” gerutu Jasmine yang tengah merapikan bajunya serta barang-barang kesayangannya yang akan dia bawah ke apartemen.
Jordan pun yang tengah menatap foto Jasmine kecil di dalam bingkai atas nakas langsung berjalan ke arah istrinya. Pria itu bukannya menolong Jasmine, melainkan memeluknya dari belakang. Jasmine sempat terkejut dan menghentikan gerakannya yang sedang mengambil gantungan di dalam lemarinya.
“Apa selama ini hanya aku yang buta kalau istriku ini punya cahaya yang berbeda? Kamu tahu teman-teman Anthonio tadi terus berusaha deketin kamu dan bikin aku kesal?”
“Mas, aku kenal mereka karena dulu Anthonio sering ngajak aku main juga bareng temannya. Dia juga sering main ke sini dan kita udah enggak ketemu lama karena Anthonio sekolah di luar.”
Mendengar itu Jordan melepas pelukannya. Dia menarik tangan istrinya untuk ikut dengannya. Kini Jordan duduk di pinggir ranjang serta memangku istrinya membuat Jasmine merasakan jantungnya berdegup tak keruan. Sejenak mereka saling menatap satu sama lain dengan canggung. Pertama kalinya mereka bisa berdua dengan tatapan serius dan intim. Tentunya tidak lupa dengan dua perasaan yang tak jauh beda; berdegup keras saling menyapa.
“Aku pria yang sulit jatuh cinta dan sulit berhenti ketika mencintai seorang wanita,” ucap Jordan menyingkirkan rambut Jasmine ke belakang telinga itu. “Aku akan berubah menjadi pria yang pencemburu, kekanak-kanakan, dan bahkan bisa marah tidak jelas tapi itulah perasaanku padamu sekarang.”
Jasmine sejenak seakan lupa untuk bernapas. Jarak mereka benar-benar dekat. Terpaan napas dari hidung suaminya terasa di kulit wajahnya. Ruangan ber AC ini pun tiba-tiba terasa panas. Jasmine merasa adegan ini dejavu karena baru kemarin malam mereka seperti ini. Hanya bedanya, kali ini Jasmine mengetahui perasaan Jordan sebenarnya.
“Aku mencintaimu, Jasmine. Kau milikku, hanya milikku!” bisik Jordan di telinga Jasmine.
Tangan pria itu bergerak perlahan; pindah dari tempat satu ke tempat yang lain, tapi Jasmine menahannya. Mereka tidak bisa melakukannya di sini.
“Mmm, Mas a-ayo ki-kita pulang,” ucap Jasmine segera bangun dari pangkuan suaminya.
Wajahnya memerah seperti udang rebus dan Jordan pun tidak bisa menahan tawanya. Pria itu mengacak rambut istrinya lalu mencubit pipi Jasmine dengan gemas.
“Aku tahu, aku hanya ingin mengerjaimu!” kata Jordan jelas membuat Jasmine marah.
Jasmine pun memukuli tubuh Jordan, tapi Jordan berusaha untuk menahan tangan istrinya hingga mereka jatuh bersama di atas ranjang bersama. Mereka tertawa dan Jordan menggelitik tubuh Jasmine yang menimbulkan tawa menggelegar di kamar wanita itu. Sementara Endra yang baru saja akan masuk ke kamarnya untuk mengambil HP-nya yang sedang di cas mendengar suara ramai di kamar adiknya. Dia mengintip kebersamaan mereka dan tersenyum perlahan di antara celah pintu kamar Jasmine yang terbuka.
“Akhirnya… kamu bahagia sama orang yang tepat,” batinnya lalu sedikit menarik pintu kamar Jasmine agar tertutup.
Meskipun hubungan mereka membaik. Endra tetap harus jujur pada Jordan mengenai Laura. Cepat atau lambat, sedih atau bahagia, mereka tidak bisa menyembunyikannya lebih lama. Anaknya sebentar lagi akan lahir di dunia ini dan mereka akan segera menikah.
[...]
Mohon maaf kalau ada sesuatu yang manis di sini karena aku emang manis hihihi
beda banget arti engsel & handle🙏🙏
Kan endra mmg sengaja ngajak Laura utk dioerkenalkan ama Jordan spy dia bisa bebas Dari Laura 🤔
udh lama nunggu nya😭😭