Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Merasa Tidak Pantas
Bab 27 Merasa Tidak Pantas
Hari ini adalah hari ketiga Kalila menjalani ujian nasional. Selama itu juga dia sama sekali tidak menghidupkan ponselnya dan juga hanya bertemu dengan Akbar saat pulang sekolah. Kalila tidak bisa menemui Akbar, karena dia yang selalu diawasi oleh Kama.
“Dua hari lagi La, kamu kuat!" ucap Kalila menguatkan dirinya sendiri, sambil melihat ke arah ruang guru yang di sana Akbar sedang bicara dengan salah seorang guru senior.
“Kenapa, De? Ayo pulang!” tanya Kama yang baru datang menghampiri dia. Kalila hanya menggelengkan kepala dan mengikut langkah abangnya.
‘Sial, baru aja jadian udah harus pisah, kaya LDR aja,’ gumam Kalila.
Saat berjalan menuju parkiran, Danes baru saja datang dan turun dari mobilnya. Dia yang melihat Kalila langsung tersenyum dan menghampiri mereka.
“Lo ngapain ke sini, Kak?” tanya Kama.
“Sengaja dari kampus mampir bentar. Gimana ujian kalian?”
“Ya, begitulah, ada yang sulit juga ada yang mudah,” jawab Kama, sedangkan Kalila hanya diam.
“La, pulang bareng gue yuk! Bro, enggak apa-apa 'kan?” tanya Danes meminta persetujuan Kama, tanpa menanyakannya pada Kalila. Kama hanya mengangguk tersenyum. Dia sudah mempercayai Danes, karena keduanya yang sudah lama bertemen.
“Tapi, Bang ....” Kama tidak mendengarkan Kalila dan lanjut berjalan menuju mobilnya. Sebenarnya itu Kama lakukan sengaja agar Kalila bisa dekat dengan Danes
“Ayok!” Ajak Danes dan terpaksa Kalila mengikuti langkahnya.
Seketika langkah Akbar berhenti di depan depan parkiran sekolah. Dia mengepalkan jemarinya melihat kekasihnya yang pergi bersama Danes. Saat mobil itu jalan, dengan cepat Akbar mengambil motor bebeknya dan mengikut mobil Danes.
“Makan dulu ya! Gue lapar,” ucap Danes dan Kalila hanya terdiam tidak memberikan pendapatnya.
Ingin rasanya Akbar menelepon Kalila, tapi percuma saja kekasihnya itu tidak membawa ponselnya, Alhasil Akbar pun terus mengikuti kemana mobil itu pergi. Saat sampai di cafe yang tidak jauh dari komplek perumahan Kalila, Danes memakirkan mobilnya di sana.
“Kok diem aja, ayok dong temenin gue makan,” bujuk Danes dan akhirnya Kalila pun turun dari mobilnya.
Sedikit pun Kalila tidak menyadari kalau sejak tadi kekasihnya terus mengikuti dia, sampai dia berada duduk tepat di belakang bangku Kalila. Akbar menggunakan topi hitam kesayangannya yang selalu dia simpan di jok motor dan itu membuat Danes tidak mengenali dirinya.
“Mau makan apa?" tanya Danes sambil menyodorkan menu makanan padanya.
“Emmm ... jus mangga saja,” jawab Kalila singkat.
“Kenapa cuma jus mangga? Kamu enggak makan?” Kalila hanya menggelengkan kepalanya. Mendengar Denis yang begitu perhatian pada kekasihnya membuat Akbar benar-benar merasa cemburu.
Akbar pun mengangkat tangannya memanggil waiters yang sedang berdiri menanti pesanan. Waiters itu pun langsung menghampiri Akbar. Akabr hanya menulis di sepotong kertas dan memberikan padanya. Di dalam kertas itu, Akbar meminta tolong untuk memberikan potongan kertas satu lagi pada gadis yang berada tepat di belakangnya.
Pesanan ayam geprek dan es teh manis, juga segelas jus mangga sudah siap diantar ke meja Kalila. Saat menyimpan pesanan, waiters itu pun menjatuhkan kertas yang tadi diberikan oleh Akbar di samping kursinya. Awalnya Kalila merasa takut pada waiters itu, tapi setelah dia memberikan isyarat, akhirnya Kalila langsung mengambil kertas yang ada di sampingnya.
“Beneran enggak mau makan?” tanya Danes lagi dan Kalila hanya menggelengkan kepalanya. Saat melihat Danes yang sibuk memakan makanannya, Kalila langsung membuka kertas itu. Betapa kagetnya dia saat membaca isi kertas yang di berikan waiters tadi.
‘Kenapa tidak langsung pulang? Apa harus ya aku memantau terus kamu seperti ini? Aku ada di belakang kamu, tapi kamu tidak usah melirik. Saat membaca pesan ini, aku tunggu kamu di toilet!’
Jantung Kalila berdebar dengan kencang. Dia sangat takut kalau Akbar akan marah padanya. Sesuai perintah kekasihnya, Kalila oun meminta ijin pada Danes untuk pergi ke toilet. Saat smapai di sana, benar saja, Akbar sudah menunggu dirinya berdiri menenderkan tubunya sambil merunduk.
“Kak Akbar!" lirih Kalila sambil berjalan perlahan ke arahnya.
Akbar langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Kalila dengan tatapan yang sangat tajam. Kalila tahu saat ini kekasihnya sedang marah besar, dia pun menghentikan langkahnya dan menunduk bersalah. Akbar langsung menarik tangan Kalila keliar dari cafe itu.
“Kak, mau ke mana?” tanya Kalila sambil terus mengikuti langkah Akbar.
Sampai di lantai bawah cafe itu, Akbar mencari tempat yang sepi untuk bicara dengan kekasihnya.
“Kamu lupa sama janji kamu?” tanya Akbar yang kini wajahnya terlihat sangat sedih.
“Aku ingat! Tapi tadi aku tidak bisa menolaknya. lagi pula aku hanya menemaninya untuk makan siang saja kok.” Akbar terus menatap Kalila dengan tatapan yang sangat sedih, sehingga membuat Kalila heran dan merasa sangat bersalah.
Akbar menarik tangan Kalila dan mengenggamnya, “La, maafin aku ya! Aku sangat kelewatin hari ini. Kalau gitu kamu naik ke atas ya! Aku pulang dulu, jangan pulang terlalu sore ya!” Akbar mengusap rambut Kalila dan berjalan keluar cafe. Kalila mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan perubahan sikap Akbar padanya. Dia langsung berlari menyusul Akbar yang belum jauh melangkah.
Kalila langsung menggenggam tangan Akbar sehingga membuat dia menghentikan langkahnya.
“Sayang, maafin aku!” ucap Kalila dengan penuh penyesalan. Akbar membalikkan badannya dan melempar senyuma pada Kalila.
“Sudah sana kamu masuk ya!” Kalila tidak mau melepaskan tangan Akbar membuat Akbar tidak bisa berbohong lagi dan dia membuang napas kasar.
“La, kamu tahu aku kenapa seperti ini?” kalila menatap tajam mata Akbar dan menggelengkan kepalanya.
“Aku berpikir, aku kurang pantas denganmu, tapi aku tidak mau kehilangan kamu. Jadi aku memilih tidak mengekang kamu terlalu dalam. Maafkan aku ya, tadi sudah bersikap kasar padamu. Aku ....” Kalila seketika melepaskan tangan Akbar dengan cukup kasar dan menatapnya dengan penuh kemarahan.
“... La, kamu kenapa?” Kalila mendengus kesal sambil menatap Akbar dengan penuh kemarahan.
“Sekali lagi aku dengar Kakak bilang tidak pantas, aku akan sangat marah sama kakak!” ucap Kalila langsung kembali ke atas tanpa memedulikan Akbar yang berdiri mematung menatapnya.
Air mata Kalila menetes, dia memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu. Hatinya serasa ditusuk-tusuk dengan perkataan Akbar padanya.
‘Sampai kapan kamu akan menganggap dirimu merasa tidak pantas untukku?’ guman Kalila yang masih terus menangis.
~Bersambung~
Jangan lupa
• Vote
• Like
• Komen yaaaa
Love you All 😘