Alesia terkejut saat tiba tiba Leon suaminya tidak lagi mengenalinya. Leon juga bersikap dingin dan tidak lagi mengenakan cincin pernikahan mereka.
Beberapa pertanyaan memenuhi otak alesia.
“Kenapa? Bagaimana mungkin? Dan apa yang terjadi?”
Apakah ujian itu mampu membuat cinta alesia dan leon semakin kuat atau bahkan pada akhirnya hancur berlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andai saja
“Bagaimana? Sudah berhasil kamu korek informasi dari preman itu?” Tanya leon pada seorang detektif suruhanya yang duduk tepat di depanya.
“Sudah tuan. Orang yang menyuruh mereka adalah bramono.”
Kedua mata leon membulat sempurna. Bramono adalah mantan suami santi. Leon tau bramono memang sangat membencinya. Tapi leon tidak pernah menyangka jika bramono akan nekat melakukan hal seperti itu padanya.
“Bramono?” Tanya leon lirih.
“Ya tuan. Mereka mengatakan bramono hanya menyuruh mereka untuk membuat anda terluka bukan membunuh anda.”
Leon menghela nafas. Bramono pasti sangat dendam padanya karna santi lebih memilih berpisah denganya dari pada harus putus hubungan dengan leon.
“Tuan, ada yang perlu saya selidiki lagi?”
“Ah tidak. Cukup. Ini bayaran kamu. Terimakasih untuk informasinya.”
Setelah leon menyerahkan amplop coklat berisi segepok uang, pria berpenampilan serba hitam itu bangkit kemudian keluar dari ruangan leon.
Sedang leon, pria itu memejamkan kedua matanya. Santi pasti belum tau. Dan leon tidak akan memberitahunya. Leon juga enggan melakukan apapun karna tidak mau berurusan lagi dengan mantan suami dari tantenya itu. Leon tau santi pasti akan kembali merasa terluka jika berurusan lagi dengan bramono.
Sudahlah, lupakan saja. Yang terpenting sekarang kamu ingat semuanya leon. Fokus pada alesia saja. Dia sedang hamil anak kamu..
Leon memejamkan kedua matanya. Leon bisa memahami bagaimana perasaan bramono yang di paksa harus kehilangan santi demi leon. Tapi yang leon tau juga bramono tidak sepenuhnya mencintai santi tantenya. Leon dulu sering melihat bagaimana bramono jalan dengan bergonta ganti wanita di belakang santi. Bramono bahkan pernah terang terangan mengajak wanita ke rumahnya tepat di depan santi. Leon tau bagaimana kesakitan tantenya. Leon juga tau bagaimana penderitaan tantenya. Hingga akhirnya santi di paksa memilih antara leon atau bramono. Dan keputusan santi sangat mengejutkan keluarga bramono saat itu. Santi lebih memilih pergi meninggalkan kediaman keluarga bramono demi leon.
Tuhan.. Berikan petunjukmu. Tuntun aku ke rencana terbaikmu..
Tok tok tok
Suara ketuka pintu berhasil menyadarkan leon dari lamunan masa lalu pahitnya dan santi. Pria itu menyuruh dengan tegas siapapun yang berada di balik pintu ruanganya untuk masuk.
“Permisi pak.. Metting akan di mulai sebentar lagi.”
Leon menganggukan kepala mengiyakan apa yang di katakan oleh sekertarisnya.
“Saya akan segera ke ruangan metting.” Balasnya.
“Baik pak. Saya permisi.”
Sekali lagi leon menganggukan kepalanya. Pria tampan itu kemudian menghela nafasnya sedikit kasar mencoba mengalihkan pikiranya dari ingatan tentang masa lalu santi dan bramono. Leon tidak mau jika itu semua membuat pekerjaanya kacau.
Sementara di rumahnya alesia tampak merenung di balkon kamarnya. Setelah sarapan bersama santi alesia memang memilih untuk kembali ke kamarnya. Alesia tidak mau berdebat tentang apapun dengan santi. Alesia ingin tenang.
Alesia memejamkan kedua matanya ketika merasakan semilir angin menerpa wajah cantiknya. Rasanya begitu sejuk. Belaian lembut angin di kulit pipinya membuat alesia merasa rileks juga nyaman.
Tin tiiinn..
Suara klakson mobil membuat alesia mengeryit. Alesia membuka kembali kedua matanya dan menemukan mobil pingkan yang sedang memasuki pekarangan luas rumahnya. Alesia berdecak pelan. Hubungan santi dan pingkan sangat dekat. Mereka sangat akrab dan kompak. Mereka juga selalu terlihat nyambung saat mengobrol. Sangat berbanding terbalik dengan sikap santi pada alesia. Santi tidak pernah sedikitpun menyukainya. Santi bahkan selalu jutek, marah, juga mencari masalah setiap ada kesempatan.
“Andai saja tante bisa baik sama aku seperti baik pada pingkan. Andai saja kita bisa ngobrol, bisa tertawa bersama. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan.” Gumam alesia tersenyum.
Di halaman pingkan memarkirkan mobil merahnya. Wanita itu turun dengan menenteng sebuah paperbag berukuran besar. Pingkan memang tidak pernah datang dengan tangan kosong. Pingkan selalu membawakan apapun entah itu untuk santi, leon, atau hanya sekedar untuk basa basi pada asisten rumah tangga di keluarga sanjaya.
“Tante ada?” Tanya pingkan pada inah yang saat itu sedang mengelap kaca di teras rumah mewah itu.
“Ada non.. Nyonya ada di dalam. Apa perlu saya panggilkan?”
“Ah tidak. Tidak perlu. Lagian bukankah rumah ini juga akan menjadi tempat tinggal saya. Saya harus berlatih terbiasa. Bukan begitu?”
Bi inah mengeryit bingung mendengar apa yang di katakan pingkan. Entah apa maksud dari ucapan wanita cantik berambut kurli itu.
“Apa maksudnya?” Gumam bi inah melongokan kepalanya ke dalam rumah menatap pingkan yang nyelonong masuk begitu saja seperti di rumahnya sendiri.
“Inah.”
Bi inah menoleh dan menatap bingung pada satpam yang entah sejak kapan sudah ada di belakangnya.
“Kenapa?” Tanya bi inah bingung.
“Itu tadi maksud non pingkan apa ya?”
“Kamu nguping ya parjo?”
Inah mendelik menatap satpam yang begitu ingin tau apa yang di maksud pingkan.
“Eh enggak. Nggak nguping. Nggak sengaja denger tadi..” Sangkal satpam tersebut.
“Apa mungkin tuan mau menikah lagi dengan non pingkan yah?”
“Iihh.. Sana sana kerja lagi. Saya nggak mau ikut campur apapun masalah tuan.”
Sementara di dalam rumah, pingkan mencari keberadaan santi sambil terus memanggil manggil wanita itu dengan sebutan tante. Pingkan menghela nafas, santi tidak ada dimana mana.
“Tante kemana ya?”
Pingkan kembali melangkahkan kakinya. Kali ini wanita itu menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai 2 di rumah leon. Dengan langkah mantap dan tanpa sedikitpun rasa ragu pingkan melangkah. Pingkan bahkan begitu santai seolah sedang berada di rumahnya sendiri.
Begitu sampai di lantai 2 rumah leon, pingkan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri namun kali ini pingkan tidak memanggil santi. Pingkan kembali melangkah. Saat berada tidak jauh dari kamar alesia dan leon pingkan berhenti. Wanita itu tersenyum penuh arti kemudian membelokan langkahnya menuju kamar alesia dan leon.
Pingkan tersenyum dan terdiam sesaat di depan pintu kamar leon dan alesia. Tanganya terangkat dan menyentuh handle pintu kamar bercat coklat tersebut. Berlahan pingkan memutar dan medorongnya sehingga pintu tersebut terbuka. Pingkan tersenyum lagi. Pingkan masuk ke dalam kamar leon dan alesia. Pandanganya menyapu ke seluruh sudut kamar mewah itu.
“Leon... Begini kamar kamu..” Gumamnya.
Pingkan mendekat menuju ranjang dan mendudukan dirinya disana. Wanita itu terus tersenyum bahagia membayangkan jika suatu saat nanti kamar itu juga akan menjadi kamarnya.
Pingkan memejamkan kedua matanya. Pingkan menghirup nafas panjang menikmati aroma romantic lembut di kamar itu.
Aku pasti bisa membuat kamu luluh leon.. Aku pasti bisa membuat kamu jatuh cinta dan meninggalkan alesia..
“Apa yang kamu lakukan di kamarku?”
Suara alesia membuat pingkan langsung membuka kedua matanya. Pingkan menoleh dan mendapati alesia dengan penampilan simplenya berdiri di ambang pintu penghubung balkon dengan kamarnya.
Bukanya bangkit dari duduknya di tepi ranjang, pingkan malah membaringkan tubuhnya disana dengan santai.
“Aku suka kamar ini.” Katanya.
sukses
semangat
mksh