NovelToon NovelToon
Kita, "Bukan."

Kita, "Bukan."

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:27k
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Kau pernah begitu mencintai namun pada akhirnya kau bukan pilihannya?
Kau pernah amat sangat ingin bersanding dengannya tapi harus berpisah. Sudah lupakan, lihat cerita kita saat ini. Akan segera kuceritakan prihal hal baik dan buruknya kita saat mencintai.

Yang menjadi Kita, "Bukan."
-ReviieAufiar

Cerita ini hanyalah keresahan yang terjadi di kalangan anak muda. Maraknya Ghosting, Benching, Overthingkin dll

Cover Pinterest or Royal Blood

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Terluka

Perhatianku terpecah, perasaanku tak terkendali namun paras wajah harus tetap tersenyum. Kilas balik dari hatiku mulai rapuh, akankah aku tetap bisa berjalan maju?

Senyumannya yang menjadi semangatku merekah hebat sampai ke dada. Perasaan tetap tegar dan kuat dari senyuman menawannya. Andai saja ku tetapkan bahwa dia milikku saat itu, mungkin aku takkan kehilanganmu.

"Fran ambilin gua air hangat donk." Teriak Gebby dari sudut ruangan dekat dengan meja kasir.

"Bentar ya Geb." Pungkasnya.

"Eyow. Yo. Teriak Afran. Yo." Mengibaskan dengan kain lap.

"Eh iya apa Fran." Mendadak tersadar dari lamunannya meletakkan gelas yang di lapnya.

Menunjuk Ke arah Gebby. "Ambilkan air putih buat mbak yang disana tu." 

Gebby melambai

"Astaga baristanya ganteng banget." Wajahnya menggemas.

"Ah iya. Menuangkan air dan membawanya ke meja Gebby yang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Ini minumnya mbak." Ucapnya berbalik dan pergi.

"Eh iya mas makasih. Meminum dan tersenyum. Gila Rere dia gak bilang ada cowok keren disini." Gerutu dalam hati memperhatikan lelaki itu ke kanan ke kiri mengantar pesanan dan mengelap meja.

Afran duduk di samping Gebby.

"Lu ngapain si Geb. Lama amat ngerjainnya. Mengambil buku catatan Gebby. Ini tugas pak Suwijo?" Tanyanya.

"Iya." Tapi mata masih tersipu menatap Yo.

Afran menggelang dan menyadarinya lalu memukul buku itu pelan ke kepala Gebby.

"Cowok aja otak lo. Buruan kerjain kalo gak karena kita sekelompok gue ma ogah belajar bareng lo." Ejeknya.

"Idih kepedean banget lo Fran." Teriaknya lalu kembali membungkam suara karena dilirik Yo lalu mengangguk.

Dret. Dret. Hp Gebby bergetar bertulis chat dari Rere.

"Lu dimana Geb?" Tulis pesan chat tersebut.

Gebby langsung menelpon Rere.

"Iya halo Geb, lu dimana." Ucap Rere dari ujung teleponnya.

"Gila ya lu Re lu kok gak bilang si ke gua." Nada marah.

"Lah lo kenapa Geb?" Tanya Rere heran kebingungan lagi di pusat perbelanjaan.

"Re lo nelpon siapa, kesini buruan." Teriak Jie.

"Ah iya bentar." Jawabnya menjauhkan teleponnya.

"Lu ya Re ada cowok ganteng di tempat Afran lu gak bilang gue. Udah buruan kesini. Teriaknya. Lalu melihat sekitar dan mengangguk. Maaf silahkan lanjutkan." Tanpa sengaja berteriak dan mengganggu pengunjung di Coffee Shop Afran.

"Mck. Geb. Geb. Kalo bukan temen Rere lo dah gue cekik." Gumam di depan kasir dan mengecek makanan.

Rere menjawab menjauhkan teleponnya dari teriakan Gebby.

"Astaga Geb iya nanti gua kesana sama Jie." Langsung menutup teleponnya.

"Halo Re. Re. Re. Yaelah udah dimatiin." Menggeleng kepala melihat teleponnya.

Di pusat perbelanjaan.

"Re perlu beli ini gak ya? Tanya Jie menunjuk panci kecil ala Korea. Untuk buat ramen." Menatap Rere.

"Eh tunggu-tunggu emangnya anggara bulanan berapa, jangan asal diambilin apalagi yang gak penting. Kita keliling dulu belanja sesuai daftar belanjaan setelah itu baru beli yang lain." Ucapnya mendorong troli.

"Siap emak." Ejek Jie.

"Uh dasar lo." Memukul kepala Jie.

"Yaelah sakit goblok." Teriaknya.

"Biarin wek." Mengejek.

Singa di deretan bagian kecantikan.

"Lo beli ini la Re. Kantung mata lu liat tuh kek hantu panda gentayangan di siang bolong." Ejek Jie dan menaruh barang pelembab mata tersebut di troli.

"Uhh. Hendak memukul namun lelaki itu sudah agak jauh. Lo yang bayar ya." Cengenges Rere.

"Iya. Iya princes." Melambai dari jauh.

Di mobil saat menaruh barang belanjaan.

"Eh kita makan di Cafe nya Afran ya." Ucap Rere sambil memakai sabuk pengaman.

"Ha. Memakai sabuk pengaman dan memundurkan mobilnya. Si kecebong itu." Gerutunya.

"Kebiasaan deh mulutnya kek gitu." Menunjuk Jie.

"Apa. Apa." Mengejek.

"Noh disana aja noh." Menunjuk tempat parkir.

"Iya nyonya." Gerutu Jie.

Memasuki Cafe.

"Re disini." Teriak Gebby dan Afran ada disampingnya.

"Eh udah lama lu Geb? Sehat Fran." Duduk disamping Afran.

"Udah donk.Jawabnya menatap kearah barista. Kok gak ada." Gerutu dalam hati.

"Sehat kok. Sama siapa Re. Tanyanya. Dia baru pulang dari belakang." Menjawab Gebby.

"Ah gitu." Jawab Gebby.

"Yo udah pulang." Menaruh tasnya di meja.

"Lu sih gak bilang Re." Menyenggol siku Rere.

"Bilang apa sih." Tanyanya meoleh ke Gebby.

"Cowok ganteng." Menggemas.

Di parkiran, motor CB melaju melewati mobil Jie.

"Hmm. Gua macem kenal cowok itu." Berjalan memasuki cafe dan menghampiri Rere dan duduk di sampingnya.

"Eh bro. Saling menjabat tangan. Gua pesan espresso donk. Menu nya apa aja?" Tanya Jie.

"Oh iya ini. Memberikan menu." Ke Jie dan Rere.

Mata Rere menatap dapur bersih depan membayangkan Yo.

"Hmm apa gue dihindari ya gara-gara waktu itu." Pungkasnya dalam hati.

"Re, pesen apa." Mencubit pipinya.

"Ih lu emang dasar ya Jie.  Gebby gemas memukul spontan Jie. Asal cubit aja." Gerutu Gebby.

"Yaelah Rerenya gak marah." Ucapnya.

Afran sedikit menghentakkan kaki, lelaki di depannya menyadari dan tersenyum sedikit.

"Kalo lu gak temennya dari kecil dah gua piting lu." Batin Afran.

"Makan cumi goreng. Sama jus tiung donk Fran." Ucapnya.

"Oke cuminya 3 porsi nasinya 2. Tiung satu, espresso satu sama teh hangat dua gelas." Sambil memberikan menu.

"Baiklah pesanan akan segera datang." Pergi ke bagian dapur.

"Lo ngapain sih disini lama-lama Geb?" Tanya Rere.

"Iya kerjaan gue sama Afran belum kelar. Tahulah dia sibuk Opening Cafe ini. Sementara seminggu lagi udah masuk kampus." Memanyunkan bibirnya.

"Hmm semangat kalo gitu." Ucap Rere menyemangati.

"Hmm. Lumayan juga konsep cafenya." Memandangi seluruh ruangan.

"Stsss. Jangan cari masalah ya." Bisik Rere.

"Siap tuan putri." Memainkan teleponnya.

"Pesanan datang. Ucap Afran. Ini ada krispi kesukaan lo Re." Memberikan bonus ke Rere.

"Makasih Fran." Mencicipi makanannya.

"Curang lo Fran pilih kasih." Gebby ngambek.

"Hahaha. Afran tertawa. Rere kan dah bantuin pas opening salem." Ucapnya kembali ke belakang memulangkan tapak tempat makan.

"Ah beneran Re." Tanya Gebby. 

"Iya." Mengangguk sambil makan.

Afran kembali duduk di samping kanan Rere.

"Jadi gini Fran. Pak Ahmad mungkin dah ngabari lu nj aku sampein lagi ya. Anak-anak mau buat pembubaran panitia disini, gimana Fran?" Tanya Rere.

"Ah boleh. Kapan tu?" Memberikan air ke Rere.

Rere meminumnya. "Dua hari lagi, bisakan?" Menatap Afran.

"Bisa kok." 

"Fran pesanan." Teriak dari dapur.

"Oke bentar. Jawabnya. Gua tinggal dulu ya." Meninggalkan mereka.

"Hmm. Baru dua minggu cukup rame ya." Ucapnya sambil mengangguk.

Di atas motor.

Drenn. Drenn. Menggas motornya semakin kencang. Dan berhenti tepat di tepian sungai mengingat kejadian dulunya dia bersama Rere.

"Andai saat itu aku tak ragu dengan rasaku dan tak terbebani dengan bebanku. Mungkinkah kita akan ke tempat ini lagi bersama? Haaa. Teriaknya sekencang-kencangnya. Hatiku terluka." Meringis.

1
Rev
😻
WinnyLiam
👍🏻
WinnyLiam
🧚🏼
Xerxe Andraxx
🤭
Xerxe Andraxx
🙏
Rev
Kevandra
🌸
Rev
👍🏻
Xerxe Andraxx
😍
Xerxe Andraxx
🤭
WinnyLiam
🧚🏼
deinandra
😍
Kevandra
🌻
WinnyLiam
😻
Xerxe Andraxx
hi
deinandra
😍
Kevandra
🙏
Rev
Rev
👍🏻
deinandra
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!