Reina Firdausya Atmaja
Seorang wanita yang tegar. Berusaha sekuat tenaga mempertahankan perusahaannya yang nyaris bangkrut.
Ketika ada jalan, dia harus bertemu dan menjalin hubungan kembali dengan mantan kekasihnya 10 tahun yang lalu, yang kini sudah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Seorang CEO kaya raya dan playboy?
🌸
Erlan Fabian, mantan pacar Reina saat SMA dulu. Kini telah menjadi executive muda yang sukses, mengidap penyakit psikis akibat trauma di masa kecilnya.
Misinya adalah menikahi Reina, dan balas dendam pada ibu kandungnya sendiri.
Mampukah Reina bertahan?
Dan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah?
Apakah Reina mampu mengobati kehidupan Erlan yang kelam dan penuh dengan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka Aditya
Aditya duduk bersimpuh di sebelah ranjang Surya. Tangisnya meledak begitu mengetahui nyawa ayahnya tidak bisa di selamatkan.
Bagaimana? bagaimana aku bisa hidup tanpa ayah?
Bangunlah ayah.. aku belum bisa berdiri sendiri tanpa ayah.
Hati Aditya menjerit, sesak dan sakit. Ayah yang selalu menyayanginya kini pergi jauh ke tempat yang tidak bisa ia jangkau.
"Aditya... sudah. Jasad ayahmu harus di mandikan dulu sekarang, untuk di makamkan." Rianti menepuk pundak anak tirinya itu dengan lembut.
Walaupun terguncang, tapi dia berusaha kuat dan tegar. Posisi mereka sangat rentan sekarang, jika kabar meninggalnya Surya menyebar, maka para pemegang saham pasti akan ricuh. Itu yang di pikirkan oleh Rianti.
Aditya bangkit, berdiri dengan sedikit terhuyung. Tubuhnya masih terguncang, pukulan berat yang ia terima saat ini seolah menunjukan kelemahan di depan semua orang.
Rianti berusaha menguatkan anaknya, dengan mengucapkan kata-kata hiburan yang di dengar Aditya dengan tatapan kosong.
Ketika beberapa perawat masuk dan memindahkan tubuh Surya yang kaku, Aditya bergeming, membiarkan perawat itu mendorong bunker dan membawa pergi Surya untuk di mandikan.
"Bukannya kemarin ayah baik-baik aja, Bu? kenapa dia tiba-tiba kritis."
"Ibu gak tahu, Dit. Pagi tadi sewaktu kamu pergi, ayah kamu juga masih bangun seperti biasa. Tapi siang hari, tiba-tiba ayah kamu pingsan lagi. Ibu minta maaf, ibu memang nggak becus mengurus ayah kamu. Hiks." ucap Rianti di sela-sela tangisnya.
Aditya memijit pelipisnya, lalu beranjak pergi meninggalkan Rianti sendiri. Hati kecilnya merasa ada yang salah dan janggal. Dia tidak tenang, memikirkan kematian sang ayah yang tiba-tiba.
🌸🌸🌸🌸
"Erlan, kamu gak datang ke rumah duka?" tanya Reina hati-hati.
Dia menatap Erlan yang baru saja menerima kabar kalau Surya, ayahnya Aditya telah meninggal dunia.
Erlan bergeming, tidak menjawab pertanyaan Reina. Dia malah berjalan menuju jendela kamar, menatap pemandangan luar di sekitar apartemennya.
"Kita datang yuk." Reina mendekatinya, melingkarkan kedua tangan di pinggang Erlan, memeluknya dari belakang.
"Dia ibu kamu kan..."
Dengan satu hentakan, Erlan melepaskan tangan Reina, mendengar kata 'Ibu' membuat emosinya naik.
"Maaf... aku..." Erlan merasa bersalah, melihat ekspresi Reina yang terkejut.
"Erlan, kita harus datang. Semua pengusaha pasti datang ke sana kan, bukannya aneh kalau kamu gak datang, itu malah buat nama kamu jadi buruk."
Erlan masih diam, dia merasa bimbang.
"Ada aku. Kamu gak sendiri sekarang, aku akan selalu ada di samping kamu." ucap Reina, ia berusaha meyakinkan lelakinya itu sambil menyentuh kedua pipi Erlan.
Akhirnya Erlan luluh, ia mengecup kedua tangan Reina, menyesapnya dalam. Aroma tubuh Reina bagaikan obat penenang untuknya.
Setelah bersiap-siap, mereka pun berangkat menuju rumah duka, untuk mengucapkan bela sungkawa.
Erlan dengan setelan jas hitam, dan kaca mata hitamnya, dengan Reina yang memakai dress panjang berwarna hitam juga.
****
Mobil sport merah Erlan menepi di bawah pohon rindang, sekitar rumah Surya. Mereka baru saja sampai.
Suasana sekitar rumah duka begitu ramai, bukan hanya para pelayat yang datang, tapi ada beberapa wartawan juga yang meliput. Karena Surya memang pengusaha yang terkenal.
Rangga yang sudah lebih dulu ada di tempat, berlari menghampiri mobil. Dia menyambut kedatangan Erlan dan Reina, berusaha melindungi mereka dari wartawan.
"Siang Pak Erlan, anda datang untuk mengantarkan Pak Surya ke peristirahatan terakhirnya? bagaimana kesan anda terhadap Pak Surya semasa hidupnya?" tanya para wartawan.
Erlan tidak ada niat untuk menjawab. Dia memang terkenal dan sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya. Tidak ada yang tahu, kalau dirinya masih ada hubungan darah dengan Rianti, istri Surya saat ini.
Kaca mata hitam Erlan, masih bertengger di hidungnya yang mancung, hingga tidak ada yang dapat membaca ekspresinya saat ini.
"Maaf permisi ya, bos saya mau lewat." ucap Rangga, sambil memasang wajah galak.
Sedangkan Erlan, terus berjalan sambil menggenggam erat tangan Reina, melewati para wartawan begitu saja.
Sampai di dalam, para pelayat melihat ke arah mereka. Kedatangan Erlan mengundang banyak tanya. Tidak biasanya pengusaha muda itu datang ke rumah duka seperti ini.
Aditya yang sedang tertunduk dalam di samping jenazah Ayahnya, menatap nanar ke arah pasangan itu.
Rupanya jenazah Surya sudah selesai di solatkan, dan akan segera di makamkan.
Rianti sangat terkejut melihat kedatangan Erlan. Namun ia tetap menghampirinya, menyambut kedatangan mereka.
"Erlan, kamu datang..." ucap Rianti dengan wajah yang sembab.
Tidak ada jawaban. Erlan hanya diam, sambil menatap ke arah lain.
"Kami turut berduka cita, Tante. Semoga amal ibadah Pak Surya di terima di sisi Tuhan." akhirnya Reina yang bicara. Dia tidak tahan berada di antara kecanggungan mereka.
Rianti mengangguk, "Terima kasih, Reina."
Sekali lagi, Rianti merasa ada hantaman keras di dalam hatinya. Rasa sakit yang ia rasa seakan bertambah. Tidak cukup kehilangan suami, dia juga merasa kehilangan anaknya.
Erlan anak kandungnya, jangankan bicara, menatap dirinya pun enggan, seolah dia tidak ada di sana.Tangis Rianti pecah, bahunya berguncang keras.
Reina merasa tidak enak hati, dia berniat untuk memeluk Rianti agar bisa tenang. Tapi, genggaman Erlan semakin kencang, membuat tangannya kebas.
Beberapa pasang mata kini mulai berbisik dan menatap ke arah mereka, melihat keganjilan yang terjadi.
"Ibu, jangan begini. Tamu yang lain memperhatikan kalian. Tenanglah, sebaiknya ibu pergi menemui yang lain. Biar aku yang menemani Erlan dan Reina." Aditya sudah berdiri di samping Rianti, dia berkata pelan pada ibunya.
Rianti mengangguk, dia menarik napas panjang, berusaha menutupi perasaannya saat ini. Setelah itu, Rianti pergi.
"Maaf Erlan, bisa kamu pergi dulu? kedatangan kamu membuat ibu tambah sedih." kata Aditya, dengan nada datar.
Tidak ada air mata di wajah Aditya. Hanya saja di kedua mata Aditya menyiratkan duka yang dalam. Kesedihannya sudah melampaui batas, hingga air mata pun sudah mengering.
"Apa? jadi kamu usir kami sekarang?"
"Erlan, sudah. Jangan buat keributan di sini." Reina berkata, berusaha menenangkan Erlan.
"Kamu lihat kan Rein? aku datang dengan niat baik. Dia malah usir aku."
"Kalau niat kamu baik, kenapa ibu menangis kencang tadi?" Aditya menatap Erlan tajam, rahangnya mengeras memperlihatkan otot-otot lehernya.
Erlan melepaskan kaca mata hitamnya, emosi sudah menguasainya sekarang. Dia siap untuk melawan.
"Erlan please... kita pergi sekarang ya." ucap Reina dengan pandangan memohon.
Reina merasa bersalah karena sudah memaksa Erlan untuk datang ke tempat ini. Dia sadar, tidak mudah untuk membuat rasa benci Erlan hilang. Sampai saat ini, lelakinya itu masih belum bisa memaafkan Rianti.
🌸🌸🌸🌸🌸