Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis cantik yang tinggal bersama seorang janda yang tidak di karuniai sang buah hati, namanya ibu Ruminah. Sedangkan gadis cantik yang dimaksudkan yaitu namanya Lunika, gadis berparas cantik dan juga sederhana. Kesehariannya hanya membantu sang ibu menjadi buruh cuci.
Perjalanan tentang hidupnya, cukuplah rumit dengan statusnya sebagai anak jalanan. Lunika diasuh sejak usianya 10 tahun.
Karena berawal dari sebuah kebutuhan yang mendesak, Lunika harus menerima pernikahan yang tidak diinginkannya itu. Mau tidak mau, Lunika harus menikah dengan seorang laki laki yang tidak disukainya.
Namun, apa daya Lunika yang tidak memiliki pilihan lain. Meski Lunika memiliki seorang kekasih yang berada, namun hubungannya terhalang karena status ibu asuhnya dan statusnya yang tidak jelas sebagai anak jalanan.
Demi kesembuhan ibu asuhnya karena sesuatu penyakitnya, Lunika harus menikah dengan keterpaksaan. Lelaki itu yang tidak lain bagian keluarga Wilyam, Zicko Wilyam namanya. Zicko putra semata wayang tuan Zayen Wilyam dan Afnaya Danuarta.
Penasaran dengan kisahnya? ayo, ikutin terus kelanjutannya. Ingat, hanya di platform Noveltoon ya....
Selamat membaca ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa malu
Saat mulai memasuki rumah yang terbilang besar dan megah, Lunika mulia celingukan ketika dirinya mulai memasuki rumah dan melihat sesuatunya seperti mimpi. Dirinya tidak pernah terbayangkan akan menginjakkan kakinya di rumah milik Sultan, pikirnya.
"Pak, tunggu." Panggil Lunika menghentikan langkah kaki pak Kadir, disaat itu juga pak Kadir menoleh ke arah Lunika yang tengah berhenti.
"Iya Non, ada apa?" tanya pak Kadir penasaran.
"Ini beneran rumah kan, pak? atau ... istana?" tanya Lunika yang masih tidak percaya.
"Ini rumah, Non. Jika Nona berjodoh dengan tuan muda, Nona akan menempati rumah ini. Ditambah lagi tuan muda Zicko itu putra semata wayang, Nona pasti akan betah tinggal di rumah ini." Jawab pak Kadir, kemudian mengajaknya untuk segera menemui sang pemilik rumah.
"Mari, Nona. Silahkan masuk, mari ..." ucap pak Kadir mempersilahkan Lunika untuk segera masuk.
"Iya, Pak." Jawab Lunika sedikit ragu.
'Hem, aku tidak yakin jika laki laki itu memang benar pemilik rumah ini. Pasti dia hanya seorang supir, dan bisa jadi tukang kebun. Mana ada, orang tajir melintir memintaku untuk menikah. Apa jangan jangan ... laki laki yang akan menikah denganku memiliki kekurangan, bisa jadi. Mana mungkin, seorang laki laki tajir tanpa ada sesuatu memberiku dengan embel embel tawaran menikah.' Batin Lunika yang masih belum percaya dan sambil menerka nerka.
Sesampainya di ruang keluarga, Lunika menatap sosok laki laki yang memberinya tawaran tentang pernikahan. Dilihatnya Zicko yang masih berantakan akan penampilannya.
Disaat itu juga, Lunika tercengang bukan main. Ditatapnya sosok perempuan paruh baya dihadapannya yang pernah bertemu ketika berada di rumah sakit.
"Kamu? bukankah kamu gadis yang waktu itu saling menabrak dengan putraku?" tanya ibunya Zicko yang masih teringat jelas sosok Lunika.
Seketika, Lunika terdiam membisu. Ia sendiri baru menyadarinya, jika sosok perempuan yang pernah bertemu dengannya adalah pemilik rumah yang ia datangi ini.
Nyonya Afna segera bangkit dari posisi duduknya dan mendekati Lunika, sedangkan Lunika semakin gugup dan takut jika akan mendapatkan penghinaan maupun ucapan pedas untuknya.
Zicko yang melihat ibunya tengah berdiri yang hendak mendekati Lunika, dengan cepat ia langsung mendahului ibunya.
"Ma, ini kekasih Zicko. Namanya Lunika, kekasih Zicko dan sekaligus calon istri Zicko. Bagaimana menerut mama? cantik, 'kan? Oh iya, apakah Mama masih mengingatnya? semoga saja tidak." Ucap Zicko memperkenalkan Lunika pada ibunya disertai senyumnya yang lebar.
"Mama tidak perlu mendengarkan penuturan dari kamu, karena apa? kamu suka modus. Mama lebih suka dengan kejujuran gadis ini, pasti ucapannya mudah dimengerti dan ditanggapi." Jawab sang ibu sedikit mencoba memancing emosi putranya.
Zicko yang mendengarnya pun, ia langsung meraih air minum di mejanya. Kemudian meneguknya hingga tandas, sang ibu hanya menahan tawanya ketika putranya terlihat kesal.
"Ih, Mama ini. Zicko kan anak mama, kenapa tidak percaya dengan Zicko sih, Ma? apakah Mama sudah tidak lagi percaya dengan Zicko?" Ucap Zicko, kemudian mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan sang ibu hanya tersenyum tipis, kemudian menatap lekat pada Lunika. Hingga membuat Lunika salah tingkah dan takut.
"Nama kamu siapa, Nak? perkenalkan, nama tante, tante Afna." Ucap sang ibunya Zicko menyapa dan memperkenalkan diri serta mengulurkan tangannya.
Lunika yang mendapat perlakuan begitu ramah, membuatnya salah tingkah sendiri dan pastinya terasa sangat gugup.
"Saya Lunika, Bu." Jawab Lunika dengan detak jantungnya yang tiba tiba berdebar debar tidak karuan.Kemudian ia juga mengulurkan tangannya dengan ragu ragu karena malu dan merasa tidak pantas untuk berjabat tangan dengan orang yang kaya raya, pikir Lunika.
"Nama yang sangat cantik, seperti yang punya nama. Oh iya, selamat datang di rumah Zicko, semoga kamu nyaman. Oh iya, silahkan duduk." Ucap sang ibu mempersilahkan Lunika untuk duduk.
Dengan gemetaran, dan perasaan yang tidak karuan. Lunika berusaha untuk tenang ketika duduk dihadapan sang pemilik rumah. Kini Lunika benar benar tidak menyangkanya, jika seorang Zicko anak dari keluarga yang kaya raya. Lunika benar benar terasa sangat malu, seumur hidupnya ia baru pertama kalinya menginjakkan rumah yang begitu mewah dan disapa dengan ramah oleh pemiliknya.
Sedangkan Lunika sendiri sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di rumah mantan kekasihnya yang bernama Arnal, Lunika selalu mendapat penghinaan pada kedua orang tua Arnal. Hingga membuat Lunika trauma dan terasa menyakitkan.
Zicko yang mengerti kedatangan Lunika, segera ia meminta izin dengan ibunya. Zicko tidak ingin membicarakan tentang drama yang akan disepakati di rumahnya, Zicko memilih untuk membicarakannya diluar.
"Ma, Zicko hari ini mau minta libur untuk tidak masuk kantor. Boleh kan, Ma?" ucap Zicko merayu.
"Hem, tidak ada kata libur untuk kamu. Meski terlambat datang, sekalipun." Jawab sang ibu, Zicko hanya menelan ludahnya kasar.
"Iya deh, iya ..." ucapnya.
"Lun, tunggu sebentar. Aku mau mengganti pakaianku, mengobrol lah sebentar dengan Mamaku." Ucap Zicko pada Lunika, sedangkan Lunika sendiri hanya bisa mengangguk dan tersenyung yang dipaksa.
Sedangkan ibunya Zicko mulai memperhatikan sosok Lunika yang berpenampilan sangat sederhana, bahkan benar benar sangat sederhana.
'Sepertinya gadis ini baik, dan juga memiliki sopan santun. Perempuan seperti gadis inikah yang disukai putraku? semoga saja, perempuan ini benar benar baik hatinya. Dari sikapnya, bicaranya, tidak jauh dengan Mama Nessa. Penampilannya ketika menunjukkan foto mudanya.' Batin ibunya Zicko.
"Nak Lunika, kamu tidak bekerja?" tanyanya basa basi. Lunika yang tiba tiba mendapatkan pertanyaan tentang pekerjaan, disaat itu juga hati kecilnya menciut.
"Saya ... em ... tidak bekerja, Bu. Ibu saya sedang sakit, saya tidak bisa meninggalkannya di rumah sakit." Jawab Lunika dengan jujur, meski pada akhirnya tidak akan pernah disulap atas statusnya dari keluarga yang tidak punya.
"Oooh, begitu. Memangnya ibu kamu sakit apa, Lun?" tanyanya lagi. Lunika masih diam, ia takut kedatangannya akan dikira menjadi sosok pengemis dengan cara mendekati putranya, pikir Lunika yang semakin tidak karuan dengan apa yang ia pikirkan.
"Lun, kenapa diam?" tanyanya yang masih ingin mengetahui tentang sakit yang dialami ibunya.
"Maaf Bu, sebenarnya ibu saya mempunyai penyakit tumor pada jantungnya." Lunika terpaksa untuk menjawabnya dengan jujur, meski bibirnya terasa berat untuk mengatakannya.
Namun, ia tidak ingin dikatakan seorang pembohong. Mau tidak mau, Lunika tetap mengatakannya dengan jujur.
"Apakah sudah ditangani Dokter? maksudnya dilakukan operasi." Tanyanya lagi.
"Belum, Bu. Sa .... saya belum memiliki biaya, Bu. Maaf, bukan maksud saya untuk menge ..." Seketika ucapannya terhenti, Lunika benar benar tidak berani mengungkapkan betapa sulitnya mencari biaya pengobatan untuk ibunya.
Lunika langsung menunduk begitu saja, ia malu untuk menatap sosok perempuan paruh baya yang ada dihadapannya.