NovelToon NovelToon
Lebaran Terakhir Abah

Lebaran Terakhir Abah

Status: tamat
Genre:Contest / Tamat
Popularitas:111.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."

Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.

Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.

Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Itu Lagi

"Nur!" tegur mak cukup membuatku kaget. Aku yang sedang duduk di bale-bale rumah segera saja menoleh kearahnya.

"Emak," rengekku memasang wajah kaget, dadaku berdebar cukup kencang. Mak tersenyum, mungkin merasa lucu melihat wajahku ini.

"Nungguin apa duduk di situ sendirian?" tanya mak lagi sembari melangkah dan duduk di sampingku.

Aku menunduk menatap kaki yang tak henti memainkan pasir di tanah. "Gak ada, Mak," jawabku masih dengan menunduk.

Mak mengusap rambutku. "Mikirin abah, ya?" Tepat sekali pertanyaan mak ini. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Belum ingin mengangkat wajah untuk bertatapan dengan mak.

"Gak usah dipikirin, mending didoain supaya abah di sana sehat sampai pulang lagi," lanjut mak.

Aku terdiam berpikir apa yang diucapkan mak ada benarnya. Lebih baik mendoakan abah dari pada melamun tak jelas seperti ini.

Aku mengangkat wajah untuk dapat menatap mak. Mata indahnya terlihat bersinar saat terkena bias cahaya. Ditambah senyumnya yang selalu membuat hati sejuk dan damai.

"Tuh ... udah adzan, mandi terus sholat!" titah mak. Aku mengangguk lantas berdiri dan berjalan masuk meninggalkan mak.

Kuraih handuk dan berjalan menuju sumur. Mungkin air sumur yang segar dapat mengurangi kegelisahan hatiku.

Aku mengguyur seluruh tubuhku, dari mulai rambut hingga kaki. Rasanya memang segar. Kusudahi mandiku dan menunaikan kewajiban shalat ashar.

Kutengadahkan tangan, meminta pada Yang Kuasa agar ia bermurah hati melindungi di mana pun abah berada. Memohon padanya untuk menghalau rasa gelisah yang membuatku gundah gulana.

Alhamdulillah ... hati sedikit lega, khawatir menipis, usai mengadukan hati pada-NYA sang pemilik hidup.

Kusudahi shalatku, kulipat mukena dan sajadah, lalu menyimpannya di tempat semula. Aku keluar dan duduk di depan televisi menonton acara yang selalu dinanti bersama Aceng.

"Assalamu'alaikum!" Suara salam seorang wanita sangat kukenal. Teteh pulang.

"Wa'alaikumussalaam!" sahutku dan Aceng bersamaan. Kami menoleh ke belakang tubuh, teteh masuk dan menghampiri kami.

Di sana juga sudah ada Puji yang duduk khusyuk bersama kami. Kusalami teteh bergantian dengan Aceng.

"Mak di mana?" tanyanya, aku menunjuk dapur. Teteh beranjak kembali berdiri dan berjalan ke dapur.

"Mak!" Samar suaranya terdengar dari ruangan ini.

"Makan pake apa, Mak?" tanya teteh seperti biasa jika pulang ke rumah pasti menanyakan menu makanan yang akan dimakan.

"Kaya biasanya," sahut mak lesu. Aku sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan teteh selanjutnya. Ini semacam dialog film yang terus diulang setiap kali mereka bertemu.

"Terasi lagi? Yang lain apa, Mak! Jangan terasi mulu!" ucap teteh agak judes. Aku tidak fokus pada acara televisi. Telingaku mendengar tajam percakapan antara mak dan teteh.

"Kalau kamu mau kenyang makan lauk daging lauk tulang, nanti setelah menikah pasti kamu dikenyangin sama suami kamu. Buat sekarang, mah, udah ketemu nasi tiap hari aja udah syukur," kata mak selalu menasihati seperti itu.

Teteh terdiam, tak ada sahutan darinya untuk beberapa saat lamanya.

"Bukannya abah baru pulang kemaren?" tanyanya terdengar tidak senang.

"Iya, tapi uangnya dipake buat berobat abah sama beli baju kamu dan adik-adik kamu," jawab mak setenang mungkin.

Kembali hening, tak ada sahutan dari teteh untuk beberapa detik. Mungkin saja dia sedang berpikir.

"Baju?" ulangnya pelan.

"Iya Teh! Baju muslim bagus, lho," sambarku sedikit berteriak.

Tak lama teteh muncul dan berdiri tak jauh dariku. Aku mendongak menatapnya. Tatapan mata teteh seolah bertanya tentang kebenaran yang baru saja aku katakan.

"Kembar sama Nur, coba Teteh liat di lemari warna pink," kataku tersenyum meski terasa pahit.

"Abah sakit?" tanya teteh pelan. Aku mengangguk. Raut sendu di wajahnya menjadi tanda dia pun ikut merasa sedih mendengarnya.

Teteh tidak berkata lagi, ia melengos masuk ke dalam kamar. Suara pintu lemari dibuka terdengar hingga ke ruang tengah.

Kuintip apa yang dilakukan teteh dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ia mengambil baju baru yang masih terbungkus plastik. Membukanya dan membentangkannya.

Teteh memasang baju baru itu di tubuhnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar pintu lemari. Ia tersenyum sendiri. Senang karena sudah ada baju baru untuk dipakainya di hari raya. Tak ada pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama.

Aku ikut tersenyum. Teteh kembali menaruh baju itu di plastiknya. Khawatir akan kotor atau hilang bau barunya.

Ia kembali keluar menghampiri mak yang masih di dapur.

"Mak, mau buka di pondok aja," katanya terdengar samar di telinga karena suaranya bertabrakan dengan suara televisi yang aku tonton.

Akhirnya teteh memilih buka di pondok. Ia kembali ke pondoknya. Dan akan pulang saat lebaran nanti. Yang penting hatinya sudah merasa senang.

Suara adzan Maghrib yang selalu kami tunggu kedatangannya, akhirnya menggema jua. Tak ada makanan pembuka kali ini, hanya ada es orson dan langsung makan dengan lauk yang itu-itu saja. Terasi goreng, diberi irisan bawang goreng dan sedikit cabai.

Rasanya enak, apalagi diaduk dengan nasi tak perlu lagi ikan. Kami tetap makan dengan nikmat. Hanya ini yang kami temui setiap harinya, sesekali akan makan enak saat mak pulang dari sawah. Tak apa, benar kata mak. Sudah bertemu nasi saja setiap hari sudah bersyukur. Bagaimana jika ada ikan dan nasi tak ada?

Mungkin karena ini, anak-anak mak yang lain tak suka pada terasi saat ini. Mereka seperti bertemu musuh bebuyutan saat bau khas darinya tercium. Kecuali aku. Aku tetap suka pada rasanya.

Usai makan, kami melaksanakan shalat Maghrib masing-masing. Dilanjut shalat isya dan tarawih di mushola.

Seperti biasa, usai tarawih aku akan bermain bersama teman-teman. Suasana malam di kampungku, tidak terasa mencekam meski masih dikelilingi banyak pepohonan.

Sinar rembulan menjadi penerang setiap malam, menghujani kami dengan cahayanya untuk dapat terus bermain di kegelapan.

"Nur!" Mak memanggilku. Ada apa? Kuhampiri mak yang berdiri di pintu menunggu kedatanganku.

"Kenapa, Mak?" tanyaku langsung.

"Udah ngaji?" tanya mak menginterogasi.

"Udah, Mak," jawabku jujur.

"Kok, Mak gak denger Nur ngaji?" tanya mak lagi. Sudah seperti hakim yang mendakwa tersangka.

"Gak pake suara, Mak. Cuma bentar ngajinya juga," jawabku sejujurnya. Aku memang mengaji tadi, tapi hanya sebentar karena tergoda oleh suara teman-teman yang bermain di luar.

"Ya udah, kalo udah," desah mak kembali masuk dan aku kembali bermain bersama teman-teman.

Jika sudah waktunya pulang, mak pasti akan memanggilku. Itulah mak, tak akan ia membiarkan anak-anaknya bermain hingga larut malam.

"Nur!" Benar saja, mak sudah memanggilku. Waktunya untuk pulang.

"Woy, udahan, lah. Mak udah manggil," kataku mengakhiri permainan.

"Ih ... kamu, mah gak seru! Lagi asyik-asyiknya malah udahan," sungut temanku dengan bibirnya yang maju lima senti.

Aku tidak menanggapi, terus berjalan pulang karena mak akan tetap berdiri sampai aku datang. Kucuci kaki dan tangan juga muka sebelum beranjak tidur.

1
Erni Ramadan
masya Allah cerita nya bagus ada pembelajaran ddlmnya.Terimakasih thor🙏
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Ella Rustandi
ya ampuun makan sm terasi goreng...kok thor tahu sih...aku jg dlu mkn sm terasi goreng...mengsedih rasax
Ella Rustandi
ingat aku dlu...zmn sd tasku resletingx kyk nur...pas smp sepatuku kyk nur...tiap mau dipake dijahit dlu sendiri...😔
Ella Rustandi
jadi kangen ortu yg sdh tiada
karissa 🧘🧘😑ditama
inget alm bapak😭😭😭😭
AGhanteng
Kasih syg seorg bapak ke anaknya.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Aisy Hilyah: betul. kangen Abah ....
total 1 replies
AGhanteng
Celana mambo pernah aku pake thor.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
Aisy Hilyah: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 iya lah beuh idaman banget itu dulu
total 1 replies
Mama Oya
Dulu juga punya sepatu yg nyala2 gini kayak punya Nur ..
Alfian Akbar
Sangat menginspirasi,memotivasi,dan ada banyak pelajaran yang bisa di ambil.
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗.
total 1 replies
Lilik Anah
Aku suka dgn cerita abah lanjut thor
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Retno Wijayanti
karya luar biasa...
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Retno Wijayanti
😭😭😭😭😭
Septia Yolanda
keluarga yg bahagia
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Merry Hoo
alur ceritanya bagus..
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Neni Heryani
ingat masa lalu.
Aisy Hilyah: sambil mengenang Bun
total 1 replies
Cintya
ya Allah jauh kan sifat seperti itu padaku dan anak2 ku
Aisy Hilyah: aamiiinnnnn
total 1 replies
Adriana Gitsa
masyaallah keren

dan sangat bermanfaat sekali

untuk saya Thor

👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
Aisy Hilyah: aamiin terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Adriana Gitsa
aku malah tidak pernah ngasih uang ke BPK atau emak 😭😭😭

malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah

katanya, ini buat jajan cucu2nya
Aisy Hilyah: bener banget itu, Kak. orang tua emang selalu begitu
total 1 replies
Adriana Gitsa
😢😢😢😢😭😭😭😭😭😭

Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab

padahal anak udah 3😥
Aisy Hilyah: aamiin sama-sama
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!