Hidup Kinan berubah ketika pergantian CEO terjadi di kantor ia bekerja. Walaupun ia hanya seorang office girl, namun CEO yang baru tampak tak menyukainya. Berbagai alasan dibuat sang CEO untuk membuat kerja Kinan menjadi sulit. Hingga pada saat ia melakukan kesalahan sepele namun berdampak hingga ia dipecat. Kebenciannya kepada sang CEO pun semakin menjadi.
Raditya Abhimanyu, CEO tampan dan (tentunya) kaya raya kembali pulang dari Amerika dan menjadi pimpinan perusahaan konstruksi besar milik ayahnya. Raditya adalah pria dingin yang "mati rasa". Segala hal bisa ia dapatkan membuatnya ingin mencari hal baru untuk hidupnya. Untuk itu ia memulai sebuah petualangan. Petualangan yang membuat ia mengetahui sebuah rahasia yang sangat penting untuk hidupnya.
Bagaimana pertemuan Raditya dan Kinan terjadi?
Apakah mereka berakhir saling jatuh cinta?
Ini novel romantis komedi pertama saya. Semoga banyak yang suka dan menikmatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armasita Wardhojo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JULIANA
"Tidak! Aku tak setuju. Ayo kita bertemu orang tuamu dan mengakui segalanya" Shandy memegang tangan Juliana dengan bersungguh-sungguh. Namun perempuan itu menggeleng pelan. Sembari tersenyum dengan manis ia pun mengusap punggung tangan Shandy.
"Kau tak mengenal Ibuku, dia akan melakukan segala cara untuk memisahkan kita. Aku sangat mencintaimu, marilah hidup bersama dengan anak ini" ucap Juliana dengan mengusap perutnya.
Shandy tak mampu lagi bicara, Juliana telah bertekad untuk kabur dari rumah, pergi dari keluarganya.
"Aku tahu kau pasti takut dipikir seorang pengecut, namun percayalah padaku keberanianmu itu tak akan merubah kolotnya pandangan ibuku. Kita menumpang dirumah Kakek Abraham dulu, nanti ketika anak ini lahir kita bisa keluar kota ini."
Juliana memeluk Shandy dengan erat, seolah membesarkan hati laki-laki itu.
"Aku mencintaimu" bisik Shandy di telinga Juli yang langsung dibalas dengan mesra oleh perempuan cantik itu.
"Aku juga"
Shandy tiba-tiba terbangun. Lampu kamar yang menyala terang menyilaukan matanya. Ia melihat selang infus menempel di tangan kirinya. Ia pun melihat sosok wanita yang sedang tidur di samping ranjangnya.
Shandy mencoba untuk bangun, namun badannya masih sangat lemas. Kepalanya juga terasa berat dengan perban yang melingkar.
"Ah, aku tak bisa menemui Shanju dengan kondisi seperti ini?" gumam Shandy. Ia pun melihat jam dinding, pukul 5 pagi. Nanti siang dia harus menjemput Shanju di sekolah. Ia harus segera pergi dari rumah sakit ini.
"Hey, kau sudah sadar? kupanggilkan suster sebentar" ucap Nuri yang terbangun dari tidurnya. Shandy memegang tangan Nuri, menghentikan langkah wanita itu untuk keluar.
"Aku baik-baik saja. Aku harus segera pergi dari sini"
"Tidak..tidak.. lukamu belum sembuh. Kau terluka parah kemarin" sergah Nuri dengan khawatir.
"Aku harus menjemput anakku sekolah nanti. Aku sudah tak apa. Eh, bagaimana denganmu? kau terluka? dimana laki-laki brengsek itu?"
Nuri terdiam. Hatinya bergetar mendengar seseorang mencemaskan keadaannya. Shandy terluka parah, namun ia masih menanyakan keadaan Nuri yang sebenarnya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja"
"Syukurlah. Lain kali kau harus lebih berhati-hati"
Nuri tiba-tiba memeluk Shandy. Entah kenapa perasaan itu muncul. Perasaan antara terharu, sedih dan rasa terima kasih. Shandy terkejut, badannya kikuk. Kenangan berpelukan dengan Juliana kembali mengisi otaknya. Shandy kemudian melepaskan pelukan Nuri dengan perlahan.
"Ah, kalau kau mau berterima kasih bayarlah tagihan rumah sakit ini. Kau tak perlu memelukku, aku belum mandi seharian kemarin" kilahnya.
Nuri terlihat salah tingkah. Ia mungkin baru menyadari jika sikapnya tadi begitu konyol. Pipinya yang tirus itu seketika merona. Ia pun berlalu keluar kamar meninggalkan Shandy yang tersenyum memandangnya.
...***...
Tetesan embun masih melekat di rumput rumput hijau yang tumbuh di sekitar makam Juliana. Pagi ini, selain embun ada seikat mawar putih menghiasi nisannya. Mereka bertiga berjongkok melingkari makam Juliana.
Pak Bastian nampak khusyuk berdoa. Radit pun menundukkan kepala, tangannya sesekali mencabut rumput liar. Bu Merliana tak hentinya menangis. Matanya bahkan tak sanggup terbuka lebar dibalik kacamata hitamnya.
"Maafkan Ibu, Nak" ucap Bu Merliana diantara Isak tangisnya.
"Ayah sangat merindukanmu. Maafkan Ayah, maafkan kami semua"
Raditya tak berkata apapun. Ia melihat wajah sedih kedua orang tuanya. Ia kasihan namun juga ada rasa kesal yang tak bisa ia sampaikan. Seandainya saja orang tuanya tidak egois dan mau menerima pilihan hidup kakaknya, mungkin hari ini tak akan sesedih ini.
Tapi mungkin inilah jalannya, harus berpisah. Dan perpisahan ini membawa kesedihan mendalam untuk Raditya dan keluarganya.
...***...
"Bolehkah aku meminta satu hal padamu?" tanya Juliana yang terbaring dengan lemas. Suaranya terdengar sangat pelan. Kinan mendekatkan tubuhnya, condong mendekati wajah Juliana.
"Menikahlah dengan Shandy dan rawatlah anakku ini"
Kinan tertegun, ia tak menyangka Juliana bicara seperti itu.
"Jangan bicara seperti itu Kak, bertahanlah! anak ini membutuhkan kakak"
Bibir pucat Juliana tersenyum. Entah mengapa wanita itu sangat suka sekali tersenyum. Namun senyumnya kali ini sangat mengiris hati Kinan. Ia tak mampu lagi menahan air matanya.
"Kumohon menikahlah dengan Shandy, aku tak ingin anakku tumbuh tanpa mengenal ayah dan ibu. Aku tak bisa menemaninya Kinan, kutitipkan Shanju padamu. Kumohon, rawatlah dia seperti anakmu sendiri."
Kinan hanya mengangguk dan menangis. Ia tak bisa lagi menjawab. Juliana memegang tangan Kinan dengan erat.
"Aku berhutang banyak kepadamu. Kau seperti adikku sendiri. Andai adikku berada disini, aku ingin mengenalkannya padamu. Maafkan aku Kinan."
genggaman tangan Juliana merenggang. Matanya menutup dengan pelan.
"Kak Juli.. Kak Juli.. Kak Juliiiii" pekik Kinan, namun Juliana tak lagi menjawab.
Kinan tersadar dari lamunannya. Bang Miko berdiri tepat dihadapannya. Ia memberikan secangkir kopi panas di cangkir mewah milik Presdir.
"Taruhlah ini! Hanya kau yang boleh masuk ruangan itu. Mumpung Boss masih belum datang"
Kinan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 08.30. Ini memang belum saatnya Radit datang ke kantor. Ia juga harus memastikan ruangan Presdir telah dingin sebelum Radit masuk.
Kinan melangkah gontai menuju ruangan Boss. Bu Sisca menatap Kinan sembari menggelengkan kepala, memberi tanda bahwa Boss belum datang. Kinan memasuki ruangan. Menaruh cangkir kopi di sudut meja. Lalu menyalakan AC. Mata Kinan tiba-tiba menangkap sesuatu yang bergelantungan di samping AC.
Wah, sarang laba-laba? Bagaimana bisa ada sarang laba-laba disana? Radit pasti akan marah jika mengetahuinya. Kalau harus kembali ke Pantry untuk mengambil sapu pasti keburu Radit datang. Kinan mencari ide. Ia keluar menemui Bu Sisca untuk meminjam penggaris.
Kembali ke ruangan Boss, ia melepas sepatunya. Ditariknya kursi Boss yang memang lebih tinggi dari kursi lainnya. Kinan menaiki kursi itu tepat dibawah AC. Ia mencoba meraih sarang laba-laba itu dengan penggaris. Namun sayang, ia masih belum bisa meraihnya.
Kinan berjinjit, masih terus berusaha, tapi nihil. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Radit muncul.
"Kau sedang apa?" tanyanya sembari menutup pintu. Kinan yang terkejut tak sengaja malah membuat kursi itu menggelinding menuju Radit. Raditya secara reflek menghentikan kursi itu, namun tubuh Kinan jatuh menindihnya.
Mereka terdiam. Radit meringis menahan sakit di punggungnya. Namun setelah membuka mata, ia melihat wajah Kinan tepat diatasnya. Mereka saling menatap. Kinan tak mampu berkedip menatap wajah tampan Raditya. Dia benar-benar tampan, gumam Kinan dalam hati.
Radit menelan ludah, menatap bibir Kinan yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Dadanya bergejolak, merasakan cinta yang ingin meledak. Aku benar-benar mencintai wanita ini, ucap hatinya.
"Menikahlah denganku" terucap sudah kata-kata yang sedari tadi mengendap di kepalanya.
Kinan tak menjawab. Ia lantas mencoba berdiri namun tangan Raditya menarik tubuhnya dengan kuat.
"Ah" Kinan mendesah seiring tubuhnya jatuh menimpa Raditya.
"Apa kau sudah tak mencintaiku?" tanya Raditya kembali.
Namun Kinan tetap dengan sikap diamnya tanpa mengucapkan sepatah apapun. Lama mereka terpaku dengan posisi yang tak bergeser sedikitpun.
"Lepaskan aku!" akhirnya wanita itu bersuara pelan. Raditya pun melepaskan pelukannya. Kinan segera berdiri dan berlari keluar ruangan. Radit masih terbaring di lantai. Matanya menatap langit-langit ruangannya.
Musim dingin di New York membuat Radit lebih betah berada di apartemennya. Ia menikmati pizza yang ia pesan secara online. Radit menyalakan komputernya, ia berniat untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Namun tiba-tiba ia ingin membuka email.
Ada satu email yang belum terbaca, dan itu dari Juliana.
"Apakah New York begitu indah sampai kau tak mau pulang? kau tak merindukanku? Cih.. jadi hanya aku yang merindukanmu. Jangan terlalu banyak makan pizza, nasi goreng masih enak. Oya, aku ingin sekali mengenalkanmu pada seseorang. Dia manis dan berhati baik. Eh kau tidak berpacaran dengan anak Bu Tina itu kan? Kalau kau pulang nanti aku akan mencomblangimu dengan seseorang. Kau pasti akan jatuh cinta padanya. Balas emailku ya adikku yang tampan..aku sangat ingin tahu kabarmu."
Raditya tersenyum sinis. Lalu menekan tombol close.
"Ah kau membuatku jadi tak mood mengerjakan tugas, aku ngegame saja" ujar Radit sembari menyuapkan sepotong pizza ke mulutnya. Melupakan email yang baru saja ia baca. Email terakhir dari Juliana.
Raditya tersenyum getir. Matanya mulai buram karena air matanya tiba-tiba menyeruak. Ada penyesalan kenapa ia tak membalas pesan Juliana saat itu. Andai saja ia membalasnya, mungkin Juliana akan menceritakan kondisinya. Mungkin saja, ia masih bisa melihat kakaknya saat ini. Penyesalan memang datang paling akhir. Penyesalan memang sekejam-kejamnya neraka dunia.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, Bu Sisca dan Bang Miko terkejut melihat Radit yang tergeletak di lantai. Mereka langsung berlari menghampiri Raditya.
"Pak Radit, ada apa Pak? Bapak sakit?" tanya Bu Sisca panik.
"Boss..Boss..sadar Boss..anda baik-baik saja?" Bang Miko menggoyangkan badan Radit.
"Apakah kalian percaya hantu? Apakah kutukan itu ada? Apakah orang yang sudah mati bisa mengutuk kita?" Raditya bicara melantur dengan masih menatap langit-langit ruangannya.
Bu Sisca dan Bang Miko saling menatap. Mereka lalu melihat langit-langit, tak ada apapun disana selain lampu.
"Apakah kita harus membawa Boss ke rumah sakit?" tanya Bu Sisca. Bang Miko mengangguk.
"Rumah sakit jiwa" timpalnya tanpa berpikir.
...***...
Mau ngorbanin anakmu yg tinggal satu2nya ini ya Nyonya, demi status dan gengsimu?
Apa Shandy ingin memanfaatkan Shanju, utk mendapatkan uang dari orang tua Juliana?