Zalina dan Riki sama-sama saling mencintai, mereka menyembunyikan dalam diam hingga waktu yang tepat. Ketika akan meminta izin untuk menikah, tiba-tiba Zalina mengetahui sebuah rahasia bahwa ia dan Riki adalah saudara sepersusuan sehingga haram untuk menikah. Dengan berat hati ia melepas cinta pertamanya.
Sementara Riki tak mudah menerima kenyataan itu, ia terus menteror Zalina. Menuduh hanya mempermainkan perasaannya hingga diminta membuktikan dengan kawin lari.
Zalina tetap teguh. Tak ingin menentang Sang Pemilik kehidupan ini. Berbagai cara ia lakukan agar bisa lepas dari Riki, termasuk membuka hati untuk lelaki lain.
Memang tak mudah menemukan pelabuhan hati meski Zalina punya banyak pengagum. Berbagai hambatan ia temui. Lalu pada siapakah hatinya akhirnya berlabuh?
(Dear pembaca, semoga ada hikmah dari cerita ini yang bisa diambil. Jangan lupa like dan komen yaa :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Curhat Ayu
"Lalu bagaimana rencana kamu selanjutnya, Na?" Tanya Ayu.
"Entah, tapi yang jelas aku nggak berani, berharap banyak." Kataku.
"Kenapa nggak. Siapa tahu Sharim adalah jodoh kamu, Na."
"Entahlah." aku menggelengkan kepala. "Kamu sendiri bagaimana, Yu?" kini pertanyaanku tertuju padanya. Aku mengenal Ayu semnejak duduk di bangku SD, kami semakin dekat begitu masuk SMP. Selalu satu bangku. Tapi belum pernah aku mendengarnya menyebut satu nama laki-laki padahal usia segini sudah wajar untuk merasakan yang namanya jatuh cinta. "Tidak mungkin kan kamu tidak menyukai seseorang?" tanyaku.
Ayu diam. Ia membaringkan dirinya di atas tempat tidurku. Memejamkan mata. Lalu mulai buka suara. "Apa aku pantas?"
"Maksudnya?"
"Aku hanya orang biasa, Na. Bahkan tak ada satupun yang bisa aku banggakan. Dengan diriku yang biasa ini, apa boleh mengharap pangeran dari keluarga yang sudah begitu baik membantuku."
"Aku nggak paham Yu. Pangeran apa maksudmu? Kamu suka sama seseorang? Siapa? Yang namanya jatuh cinta itu fitrah manusia, bukan masalah pantas tidak pantas, Yu."
"Ya Na, sudah lama aku jatuh cinta padanya. Lelaki itu, yang selalu tersenyum padaku. Ahh, entah senyum itu untukku, atau aku saja yang ke GRan. Kamu tahu kan, kadang perempuan suka salah arti. Meski tidak semuanya. Makanya aku tidak berani berharap apa-apa. Lagipula aku sadar diri bahwa aku jatuh cinta pada orang yang tidak tepat. Ia anak orang kaya sementara aku hanyalah orang biasa yang masih berharap dari keluarganya."
"Tunggu sebentar, siapa laki-laki yang kamu maksud, Yu? Apakah aku mengenalnya?"
Bukannya menjawab, Ayu malah memalingkan wajahnya dariku sehingga aku terpaksa menariknya agar ia mau menjawab. Tapi kini aku malah mendapati Ayu menangis.
"Yu, jangan menangis. Kamu kenapa? Tidak ada larangan untuk jatuh cinta. Lagipula kamu itu perempuan baik yang berhak mendapatkan lelaki baik juga. Justru lelaki itu yang menurutku beruntung jika berhasil mendapatkan perempuan sebaik kamu. Kamu nggak neko-neko, rajin belajar dan juga suka membantu orang lain. Aku salah satu orang yang selalu kamu bantu. Kamu nggak pernah merasa direpotkan olehku. Iya kan Yu."
"Tetap saja Na, aku harus tahu diri. Bagaimana aku bisa berharap balasan cinta dari lelaki yang keluarganya sudah membantuku. Sungguh tidak tahu diri sekali aku. Bagaikan langit dan bumi."
"Yu, apakah aku mengenalnya?" Tanyaku lagi.
"Ya Na. Sangat kenal. Bahkan sangat dekat."
"Yu, maafkan aku. Apakah laki-laki itu ... Uda Rizal?"
Ayu tertunduk. Ia kembali menangis. Ya Allah, tanpa ia menjawab aku snagat yakin pasti lelaki itu adalah abangku. "Maafkan aku, Na. maaf." Pinta Ayu sambil terisak-isak.
"Sejak kapan kamu mencintai Uda Rizal?"
"Sejak SMA. Kamu ingat tidak ketika aku masuk rumah sakit karena tifus. Di sekolah aku pingsan. Uda Rizal yang mengantar ke rumah sakit, ia yang membantu menjaga sampai ibuku selesai berjualan. Sejak saat itu aku mencintainya, Na."
"Ya Allah." aku menutup mulut dengan kedua tangan. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan Ayu saat Uda Rizal menikah dengan kak Tasya. Pantas saja dulu saat kupinta ia menjadi penyambut tamu tapi Ayu menolak dengan alasan tidak jelas. Besoknya saat kami ketemu kembali, ia ke sekolah dengan kondisi mata bengkak. Ayu memberi alasan ia menangis semalam karena tidak enak badan.
"Maafkan aku Na. Aku harap kamu nggak marah karena aku sudah jatuh cinta pada Uda Rizal tanpa seizin kamu. Pasti kamu nggak suka, ya. Aku benar-benar lancang. Maafkan aku Na!" Ayu meraih tanganku, berharap aku memberi maaf.
"Yu, tak perlu seperti ini. Kamu nggak salah. Kamu berhak jatuh cinta pada siapa saja yang kamu suka. Hanya saja aku berpikir bagaimana perasaan kamu saat Uda Rizal menikah dulu. Lagipula tidak ada aturan di keluarga kami bahwa jatuh cinta harus yang satu level. Semua sama saja Yu."
"Aku sedih Na. Hatiku patah. Tapi entah kenapa aku tak berniat untuk menghapus perasaan ini. Aku tetap bertahan. Bukan untuk menjadi perusak rumah tangga orang lain tapi karena hatiku berkata seperti itu."
"Mungkinkah kamu adalah jodoh Uda Rizal?"
"Na ... aku mana berani berharap sejauh itu. Aku sadar diri. Aku tidak pantas, Na. Jangan katakan apapun pada Uda Rizal ya Na. Tolong aku. Aku masih ingin melihatnya lebih lama lagi, aku nggak mau ia membenciku dan akhirnya aku nggak bisa melihatnya lagi.".
"Kata siapa? Kamu perempuan baik, Yu. Aku sangat yakin Uda Rizal pun akan beruntung mendapatkan kamu. Ya Allah, nggak pernah terbayangkan. Pasti bahagia sekali jika kita bisa jadi saudara ipar."
"Zalina, aku tak berani berharap banyak."
"Sebentar lagi Uda Rizal single. Pekan depan putusan perceraiannya. Kamu sabar ya Yu, setelah itu aku janji akan jadi Mak comblang untuk kalian berdua. Semoga saja kalian berjodoh. Aku pasti senang sekali!"
"Tapi bagaimana jika Uda Rizal marah?"
"Nggak akan. Aku juga yakin kalau kalian ini pasti akan jadi pasangan yang cocok. Tapi aku salut sama kamu, Yu. bisa menyimpan perasaan selama bertahun-tahun tanpa ada seorang pun yang tahu."
"Zalina,"
Malam ini, aku dan Ayu benar-benar tidak tidur, kami sibuk bercerita panjang lebar tentang perasaan kami. Barulah setelah Subuh kami tidur sebentar sebelum melanjutkan aktivitas.
***
"Kamu beneran nggak mau ke kampus, Na? Nggak mau bimbingan?" tanya Ayu, setelah rapi, siap ke kampus. Biasanya kami memang berangkat bersama.
"Nggak. Aku mau rombak semua skripsi." jawabku, sambil bersiap mandi.
"Maksudnya?"
"Aku mau ngulang semuanya."
"Ganti judul?"
"Iya."
"Kenapa? Jangan-jangan masih kepikiran pak Arya?"
"Bukan. Mau jaga jarak saja agar tidak timbul fitnah nantinya. Aku nggak mau ada masalha lagi ke depannya dengan pak Arya ataupun Alisya."
"Bener juga sih meski sebenarnya sayang juga. Skripsi kamu kan tinggal bab akhir. Tapi nggak apa-apa, demi kenyamanan kamu, Na."
"Semoga saja aku bisa mengejar ketertinggalanku nantinya supaya kita bisa wisuda bareng. Siapa tahu aku bisa menyaksikan Uda Rizal menjadi pendampingnya wisuda kamu." Giliran ku menggoda Ayu.
"Na, kan sudah kukatakan, jangan bahas itu dulu sampai Uda Rizal berpisah. Aku nggak mau ada yang salah nantinya."
"Iya iya. Tapi janji nanti harus bicara jujur sama Uda Rizal tentang perasaan kamu. Mau disimpan sampai kapan? Memangnya nggak mau nyatu sama Uda Rizal? Kan kita nggak tahu kalau ternyata kalian berjodoh. Iya, kan?"
Ayu mengangguk kepala. Lalu Ayu pergi meninggalkan aku.
Kadang kita harus menjauh, bukan karena belum move on apalagi benci pada mereka. Tapi untuk menghindari agar tak perlu ada luka lagi.
tetap semangat dan jaga kesehatan Thor .
semoga yang semua baca ini di jauhkan dari namanya iri dengki Aamiin .
hiks terharu aku semoga calon imam masa depan ku seperti sharim yah Thor hehehheheh .
puas saya bacanya
padahal masih banyak yg belum selesau dari cerita2 sebelumnya.
selalu samawa utk za dan sahrim ya thor, urusan umi dan abi biar athor saja yg urus
hhee
10 like mendarat buat kk.
Lanjut up ya.
msmpir jg di bukalah hatimu untukku