Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heart to heart
Mobil Arya mulai memasuki jalanan rumah Clara.
Saat ini memang belum terlalu malam, karena setelah pulang dari gereja, mereka langsung mengantar Clara pulang.
Clara memutuskan untuk sendirian di rumah saja, karena bukan hal baru baginya, sendirian di rumah beberapa hari saat bapak ibunya ke luar kota.
Jalanan rumah Clara yang biasanya tidak terlalu ramai, tampak sangat ramai saat itu.
Terlihat beberapa mobil polisi parkir di depan rumah tetangganya. Dan beberapa warga berkerumun.
Mereka semua yang ada di mobil itu terlihat bertanya-tanya dengan situasi yang terjadi.
Clara membuka pintunya terlebih dahulu lalu turun dan berjalan menuju ke kerumunan itu.
Dibelakangnya tampak Arya juga bergegas turun dari mobil dan menyusul dirinya.
Bapak dan ibunya Arya pun turun dari singgasananya.
Clara masih tampak mengamati sekitar, menerka apa yang telah terjadi.
"Malam pak, maaf ini ada apa ya?" Arya langsung menghampiri salah satu orang yang berseragam polisi, lalu menanyakan apa yang terjadi.
"Oh ini mas, habis ada pencurian di rumah ini, tapi tidak ada korban satu pun." jelas polisi itu samnil menunjuk rumah tetangga Clara.
"Pencurian pak? Baru kali ini lho pak, ada pencurian di sini selama 15tahun saya tinggal di sini."
"Iya mbak, tapi diduga dilakukan oleh orang yang dikenal." jelas polisi itu lagi, kali ini kepada Clara. Kemudian polisi itu berlalu dari hadapan mereka untuk kembali masuk ke dalam rumah itu.
Arya
Clara menuju pagar rumah berwarna hitam itu dan membuka gemboknya.
Ia menatap terus punggung kekasihnya itu, sambil memikirkan sesuatu. Lalu ia mendekati Clara.
"Kamu tidur di rumahku ya?" ucapnya sambil menggenggam tangan Clara yang sedang memegangi pagar rumah itu.
Clara mengerti makna tatapan tajamnya itu. Ia sangat tidak suka didebat untuk masalah yang seperti ini.
"Sekarang kamu pilih, kamu tidur di rumahku sampai bapak ibu pulang, atau aku malam ini tidur di sini dan kamu besok ikut aku ke Jakarta?" tanya Arya masih dengan wajah seriusnya tanpa senyuman.
"It's your choice !" imbuhnya lagi. Ia jelas tak bisa membiarkan kekasihnya sendirian setelah adanya tindak kejahatan di sekitar rumah itu..
"Iya, aku tidur di rumahmu, aku ambil baju dulu ya. Mobil kamu masukin dulu." ucap Clara seraya mengelus pipinya
Clara
Ia sudah sangat paham tentang diri seorang Ararya.
"Pak bu, monggo (silahkan) masuk dulu. Clara numpang tidur di rumah ya. Clara ambil baju ganti dulu ya pak, bu." ucapnya sopan.
Ia masuk ke dalam rumah terlebih dahulu , membuka pintu rumahnya. Lalu bergegas menuju ke kamarnya.
Beberapa potong baju sudah dimasukkannya ke dalam tas. Ia juga tidak lupa menghubungi ibunya dan menjelaskan apa yang terjadi.
Ia menuruni anak tangga rumahnya dan menuju ke ruang tamu, di sana sudah ada Arya dan orangtuanya yanv menunggu.
"Aku bawa mobil sendiri ya? Biar besok aku gampang ke kantor." tanyanya pada Arya yang masih duduk di sofa itu sambil memainkan handphone.
"Nggak usah, besok bawa mobil aku aja. Selama aku pergi pakai mobil aku aja." ucap Arya sambil beranjak dari duduknya dan menatap matanya.
"Yaudah kalau gitu.."
Ibu Yani tersenyum melihat Clara terlihat memilih menahan egonya dan memahami anak sulungnya itu.
Arya memang laki-laki yang sangat mengerti dan menghargai wanita, tapi bagaimanapun terkadang ego laki-lakinya juga muncul.
"Maaf ya pak bu, Clara jadi ngrepotin.." ucapnya kepada orangtua Arya yang saat ini sudah beranjak dari sofanya.
"Kamu ngomong apa sih? Nggak ada orangtua yang direpotin sama anaknya sendiri." jelas ibunya Arya sambil mengelus pundaknya.
Arya dan bapaknya berlalu terlebih dahulu menuju ke mobil.
Ia mengunci rumahnya sambil ditunggu oleh ibunya Arya.
"Kamu yang sabar ngadepin Arya ya Ra, sesantai apapun dia, sesabar apapun dia, terkadang kalau rasa khawatirnya muncul, dia jadi posesif gitu. Dia sayang banget sama kamu Ra." jelas ibunya Arya yang memahami kenapa Arya langsung berubah sikap mejadi lebih tegas ke dirinya itu.
Clara tersenyum sambil menatap ibu Yani.
"Iya bu, Clara paham kok.."
................
Rumah Arya
Clara
Tok..tok..tok..
Ia membuka pintu kamar yang menjadi tempat sementaranya untuk melepas rasa capeknya.
Di depannya sudah ada lelaki tampan yang sudah memakai jogger warna hijau army dan kaos warna beige.
"Apa? Belum ngantuk?" ia masih berdiri di depan pintu dan mengelus wajah kekasihnya itu.
Arya langsung menyelonong masuk tanpa permisi, mungkin karena Arya menganggap ini di rumahnya.
Sejenak ia masih berdiam karena bingung dengan sikap lelaki itu, lalu ia memutuskan menghampiri lelaki yang sudah merebahkan dirinya di atas kasur itu dengan kaki menjuntai ke lantai.Dan tentunya tanpa menutup pintu, ia tidak mau ada kesalahpahaman dengan orangtua Arya.
"Kamu kenapa sih?" tanyanya sambil duduk bersila di atas ranjang itu, menghadap ke arah kekasihnya.
Arya berubah posisi, meletakkan kepala di atas pangkuannya. Lalu Arya mendongakkan kepala memandanginya.
"Aku minta maaf ya yang,"
"Untuk?" ia mengernyitkan dahinya.
"Sikapku."
Ia tersenyum mendengar hal itu, ia sangat paham maksud lelaki itu.
"Kamu galak juga ya kalau lagi khawatir." ucapnya sambil menyentuh ujung hidung Arya.
"Nggak masalah, aku ngerti kok." imbuhnya lagi seraya mengelus rambut lelaki yang ada di pangkuannya itu.
"Yang," ucap Arya yang masih menatap dirinya, kali ini wajahnya sudah berubah seperti biasanya.
"Iya apa?"
"Kamu mau nggak sih aku ajak nikah?"
Ia langsung menundukkan wajahnya dan menatap lekat mata Arya.
"Kamu yakin?" tanya Clara.
"Kamu itu aku tanya, kenapa malah tanya balik sih? Kalau aku ya yakin seyakin-yakinnya."
Ia langsung menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Kamu masih ragu ya sama aku?" tanya Arya lagi.
Ia menggigit bibir bawahnya dan masih terdiam, mencoba merangkai kata.
"Kita kenal dekat udah lama lho yang, lima tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Terus kamu masih mau kita pacaran biasa?" selidik Arya.
Nafasnya sedikit terdengar lebih cepat dari biasanya.
"Aku tahu, aku ngerti. Aku juga nggak pengen sekedar pacaran sama kamu. Tapi,"
"Tapi kamu takut gagal lagi?"
Seketika matanya sudah tidak mampu lagi membendung air mata yang ia tahan. Ingatannya akan semua masa lalunya berputar cepat di otaknya.
Mulai dari penolakan orangtua Mahesa , perselingkuhan Robi, dan bentakan Robi seketika membuat luka di hatinya terbuka kembali.
Arya langsung mengubah posisinya menjadi duduk di hadapannya, membawanya ke dalam dekapan lelaki itu.
"Sorry yang, sorry. Maaf." bisik Arya lembut.
"Aku cuma takut aja, aku takut sakit hati lagi." isaknya sambil memeluk erat kekasihnya itu.
"Clara Audra, kamu bukannya takut sakit hati, kalau kamu takut sakit hati, kamu pasti nggak akan nerima cintaku." ucap Arya sambil memegang pundaknya untuk lepas dari pelukannya.
"Karena orang yang siap jatuh cinta, pasti siap sakit hati. Itu sudah satu kesatuan. Sebaik-baiknya aku di mata kamu sekarang, suatu saat kamu pasti akan kecewa karena aku. Itu pasti." imbuh Arya lagi ,sambil menatap matanya dengan tatapan teduh.
Ia tersenyum. Memang benar apa yang dikatakan oleh Arya. Kekasihnya itu selalu berpikiran realistis.
Arya
Ia menatap wajah putih kekasihnya itu.
"Terus gimana? Aku jadi ngomong ke Bapak Darma apa? Sebelum aku menghadap ke bapak kamu, aku harus pasti sama jawaban kamu dulu."
ucapnya seraya menggenggam tangan perempuan di depannya itu.
Perempuan itu mengangguk dan tersenyum malu.
"Ngomong dong sayang.."
"Iya, "
"Iya apa?" cercanya lagi.
"Iya aku mau kita nikah." ucap perempuan itu dengan pipi merona.
Ia tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai kekasihnya itu.
"Ya kan kita nikah nggak juga bulan depan, paling setahun lagi. Tapi jawaban kamu itu tadi yang penting." jelasnya.
"Atau jangan-jangan kamu malah yang ngebet pengen bisa sekamar sama aku ya?" godanya dengan sok mengernyitkan dahinya.
Clara langsung memanyukan bibirnya.
"Mohon maaf pak, ingat yang nafsunya susah ditahan siapa pak?!"
Tawanya seketika pecah mendengar ucapan kekasihnya itu.
Lalu wajahnya langsung berubah tenang kembali dan menujukan pandangannya ke mata Clara.
"Yang, di depan kita itu nanti godaannya banyak banget, bahkan sampai kita menikah. Entah dari aku atau kamu. Tapi, aku minta kita bisa bertahan."
Ia mengecup kening Clara. Lalu kembali memeluk perempuan itu dengan erat.
Clara mendongakan kepala dan mencium rahangnya. Tubuhnya seketika memanas, ia mencium bibir kekasihnya itu dengan sangat liar.
Saat tangannya mulai menjelajah masuk dan menyentuh kulit punggung mulus, tiba-tiba bibir perempuan itu menghentikan permainan itu.
"Udah, nggak enak kalau dilihat orang rumah." ucap Clara pelan sambil menyeka bibirnya dengan jarinya.
"Sssshhhh..kamu ahh..nyetop tu dari tadi dong neng.." desisnya, ia merasa ada yang sudah membuatnya tidak nyaman kalau berlama-lama di sana.
"Yaudah aku balik ke kamar dulu ya.." ucapnya lagi sambil beranjak dari tempat tidur.
Clara tertawa kecil melihat dirinya yang seketika berubah menjadi gelisah.
......................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜