Ini adalah karya ke-4 ku, yang mana merupakan sekuel dari JATUH CINTA SAMA DUDA
Ini kisah cinta tentang Kyra Queensha Dirgantara atau yang biasa di sapa Queen. Pertemuan pertamanya dengan seorang anak laki-laki bernama Raja Narendra Pradana Wijaya. Anak, sekaligus cucu seorang konglomerat. Mereka bertemu disaat Raja berusia 12 tahun dan Queen berusia 7 tahun. Hingga waktu pun berlalu begitu cepat, sebuah persahabatan kecil, rupanya menumbuhkan perasaan cinta di hati keduanya ketika mereka mulai remaja. Meskipun terbentang antar benua, namun tak menyurutkan cinta keduanya. Sampai pada akhirnya Queen mendapat kabar dari negeri seberang, bahwa Raja telah tiada. Kabar itu membuat Queen sangat sedih dan hancur. Namun dengan sabar dan penuh harap, ia selalu menanti kehadiran Raja. Hati kecilnya selalu mengatakan bahwa Raja masih hidup.
Lalu, bagaimanakah kisah cinta Queen tanpa Raja? apakah Queen akan melupakan cinta masa lalunya dan membuka hati untuk pria lain?
Inilah sekuel dari JATUH CINTA SAMA DUDA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Berusaha Menjaga mu
Pagi ini Queen berangkat ke kampus dengan mengenakan topi rajut warna pink dari Nathan. Seperti biasa Virgo selalu standby menjemput Queen. Akhir-akhir ini Queen di sibukkan dengan tugas kelompoknya. Namun hari ini Queen sama sekali tidak melihat Nathan.
''Mon, Pak Nathan kemana ya?'' tanya Queen pada Mina sambil berbisik.
''Pak Nathan sakit katanya.'' Kata Mona.
''Sakit? Perasaan semalam baik-baik aja,'' gumam Queen yang ternyata di dengar oleh Mona dan Nina.
''Apa? Semalam?'' seru Mona dengan suara meninggi Queen pun langsung membekap mulut Mona karena mereka sedang berada di perupustakaan.
''Pelan-pelan, nanti yang lain denger.'' Queen pun melepaskan tangannya dari mulut Mona.
''Maksud elo apa? Emang semalam elo habis ketemu sama Pak Nathan?'' tanya Nina.
''E...e...iya. Gue nggak sengaja ketemu di jalan, gitu maksudnya.'' Bantah Queen.
''Emang sakit apa?'' tanya Queen.
''Nggak tahu juga sih.'' Sahut Mona.
''Emangnya Pak Nathan nggak punya pacar ya?'' tanya Queen tiba-tiba.
''Kenapa lo? Naksir juga ya?'' goda Nina sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Queen.
''Nggak gitu, cuma kan cowok sekeren dia, seganteng dia, sepinter dia, nggak pernah gitu lihat dia gandengan sama cewek. Atau ada cewek yang pergi ke kampus nyamperin dia gitu,'' ucap Queen.
''Iya juga sih. Banyak banget lho cewek-cewek yang ngejar Pak Nathan, bahkan hampir penduduk wanita di kampus ini naksir Pak Nathan. Tapi kenapa dia cuek aja ya? Sama kita aja cuek. Masak iya sih tiap ketemu sama gue atau Mona, Pak Nathan selalu tanya, kamu siapa? Pas udah sebut nama, eh balik tanya lagi, Mona yang mana? Nina yang mana? Aneh nggak tuh. Sampai tiap ketemu Pak Nathan kita harus jelasin mendetail kayak orang mau kenalan. Capek kan lama-lama, Queen!" jelas Nina.
''Apa jangan-jangan Pak Nathan belok ya?'' kata Mona dengan suara pelan.
''Husss ngawur lo, Mon! Siapa tahu kan Pak Nathan ingin menjaga hati seseorang,'' bantah Queen.
''Tapi nggak gitu juga. Apa Pak Nathan punya penyakit pikun ya? Tapi kan dia jenius banget. Usia 22 tahun udah jadi dosen, lulusan terbaik luar negeri. Apa saking jeniusnya ya sampai dia lupa gitu.''
''Mungkin otaknya isinya rumus semua, Nin!" kata Mona terkekeh.
''Bisa jadi, hahaha!" timpal Nina.
''Ternyata bukan aku saja yang berpikiran kalau Pak Nathan aneh. Suka lupa kalau lihat wajah seseorang,'' gumam Queen dalam hati.
''Mon, gue nebeng ya nanti pulangnya.''
''Bukanya di jemput sama Virgo?''
''Nggak ah, gue pinginnya sama elo.'' Kata Mona.
''Iya gue juga nebeng ya, Mon. Mobil masuk bengkel, hehehe!" rengek Nina.
''Iya-iya. Kalau sama supir tenang gue.''
''Lagian gue kesel juga, tiap hari di kintilin sama Virgo.'' Kata Queen.
''Iya juga sih. Padahal kan dia juga udah tahu perasaan elo. Padahal juga elo bisa laporin dia lho, Queen.'' Kata Nina.
''Tapi gue nggak mau nglakuin itu. Gue kasihan aja sama Om Guntur, dengar berita ini aja Om Guntur pasti malu banget. Gue juga nggak bilang sama Papa, bisa habis semua kalau gue bilang sama Papa.''
''Itu karena elo baik, baik banget,'' kata Nina sambil memeluk Queen.
''Ikut...'' rengek Mona sembari memeluk Queen juga.
...****************...
Saat jam pulang kampus, Queen berusaha mencari tahu rumah Nathan pada staf tata usaha. Queen beralasan menyerahkan tugas kuliah. Setelah dapat, Queen segera menyusul Mona dan Nina menuju tempat parkir. Namun rupanya disana sudah ada Virgo.
''Vir, sorry ya elo balik aja. Gue mau hangout sama Mona dan Nina. Biasalah cewek-cewek,'' kata Queen.
''Iya nih. Kita udah jarang kumpul bertiga. Apalagi akhir-akhir ini ngebut tugas,'' sahut Nina.
''Ya udah deh kalau gitu. Aku pulang ya tapi kamu jangan lupa kasih kabar aku.''
''Iya kamu tenang aja, lebih baik kamu pulang dan istirahat. Kamu kan pasti capek bantuin Papa kamu di kantor,'' kata Queen sambil menepuk lengan Virgo. Queen berusaha merayu supaya Virgo tidak membuntutinya terus.
''Iya. Ya udah aku balik, kamu hati-hati ya. Hati-hati juga buat kalian.''
''Siap! Tenang kan kita perginya sama supir,'' kata Mona.
''Oke. Bye!" pamit Virgo.
''Huh, akhirnya gue bebas dari Virgo!" seru Queen sambil mengangkat tanganya ke atas. Merdeka tanpa ada Virgo.
-
''Mon, turunin gue di Jl. Merdeka no. 17 ya?'' kata Quenn.
''Lho, bukanya kita mau hangout ya?'' kata Mona.
''Kalian dulu aja ya yang keluar. Gue minta tolong nanti jemput gue disini lagi. Gue nggak akan lama. Please!"
''Emangnya itu rumah siapa?'' tanya Nina.
''Udah, nanti gue ceritain. Satu jam lagi jemput gue.''
''Iya-iya, tenang aja.'' Kata Mona.
''Thanks ya.''
Supir Mona pun menghentikan mobilnya di Jl. Merdeka. Queen pun segera turun dan Mona meninggalkan Queen, seperti permintaan Queen. Queen pun segera berjalan dan mencari no.17 rumah Nathan. Sebuah rumah sederhana yang tak terlalu besar. Terlihat motor sport Nathan terparkir di halaman rumahnya.
''Tok tok tok tok!" suara Queen mengetuk pintu. Nathan yang terbaring di tempat tidur, segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.
''Cari siapa ya?'' tanya Nathan. Lagi-lagi Nathan tidak mengenali Queen.
''Hai, Kak. Ini aku.'' Kata Queen.
''Queen?'' tebak Nathan yang mulai hafal dengan suara Queen.
''Kamu tahu darimana rumah aku?''
''Dari staf kantor.''
''Ya udah ayo masuk.'' Pandangan Queen mengedar melihat isi rumah Nathan yang sederhana namun tertata sangat rapi. Tidak ada foto keluarga disana, lebih banyak lukisan abstrak dan pemandangan saja yang tertempel pad dinding. Dan juga beberapa lukisan tokoh penting dunia.
''Kenapa tidak masuk, Kak?''
''Aku sedang tidak enak badan saja.''
''Kenapa tidak memberiku kabar?''
''Aku tidak mau merepotkanmu.''
''Kakak sudah makan? sudah minum obat?'' tanya Queen. Namun hanya gelengan yang ia dapat dari Nathan.
''Boleh aku masak? aku juga lapar.'' Kata Queen dengan senyumnya.
''Boleh. Silahkan saja.'' Nathan kemudian mengajak Queen menuju dapur.
''Apa kakak tahu saat aku sakit, Mama selalu membuatkanku sup ayam.'' Cerita Queen. Nathan pun berdiri di samping Queen dan memperhatikan Queen bicara sembari memotong sayuran.
''Lebih baik kakak duduk daripada berdiri disini. Apa demam kakak sudah turun?'' tanya Queen. Nathan hanya diam sambil membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada Queen. Nathan kemudian meraih tangan Queen dan menempelkan punggung tangan Queen di keningnya. Tiba-tiba saja Queen merasa gugup dan lagi-lagi jantungnya berdegup sangat kencang.
''Mmmm ma-masih demam,'' ucap Queen tergagap sambil buru-buru menarik tangannya.
''Lebih baik kakak duduk saja.'' Kata Queen dengan gugup. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan rasa gugupnya. Nathan tersenyum melihat sikap Queen yang menurutnya menggemaskan. Melihat Queen yang gugup, Nathan mengambil pisau yang di pegang Queen. Nathan kemudian memotong sayuran dengan dan daging ayam dengan sangat lihai. Mata Queen melotot dan mulutnya menganga melihat Nathan yang sangat jago menggunakan pisau dan jago memasak.
''Wah, hebat!" ucap Queen sambil tepuk tangan.
''Sudah kamu duduk sana! Kamu lapar kan? Biar aku yang memasak untuk tamu pertamaku.''
''Tamu pertama? memang tidak pernah ada tamu?''
''Tidak ada selain Pak RT,'' ucap Nathan terkekeh. Queen lalu duduk dan memperhatikan Nathan memasak. Setelah selesai memasak, mereka berdua lalu makan bersama.
''Mmmm ini enak sekali. Persis sekali dengan masakan Mama.'' Puji Queen.
''Benarkah?''
''Iya, aku sangat merindukan masakan Mama. Masakan Mama lah yang membuat Papa jauh cinta.''
''Mereka romantis sekali ya.''
''Selalu, Kak.''
''Oh ya kamu kesini sama siapa?''
''Aku sama Mona. Satu jam lagi aku meminta dia untuk menjemputku. Sejujurnya aku kecewa sama Kakak saat memasukkan Virgo dalam kelompokku.''
''Virgo? Virgo yang mana?'' tanya Nathan. Queen kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Virgo pada Nathan.
''Ini dia, Virgo. Dia yang berusaha menyakitiku dan mengancam kakak waktu itu.''
''Oh dia! Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?''
''Dia memaksa ingin menciumku dan melecehkanku. Aku tendang dia dan bisa lari, dia membawaku ke gudang belakang kampus. Kami berteman sudah sejak SMA tapi aku tidak tahu kenapa waktu itu dia seperti itu. Sampai akhirnya aku bertemu kakak disana.'' Mendengar cerita Queen, membuat Nathan mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menghajar Virgo.
''Maafin aku ya. Aku nggak tahu. Aku hanya berusaha bersikap layaknya seorang guru.''
''Jujur saja, aku masih takut setiap dekat dengannya. Tapi anehnya Papa malah meminta dia untuk menjagaku. Aku juga sih yang nggak tega cerita sama Papa tentang sikap buruk Virgo. Kalau sampai aku cerita sama Papa, pasti habis semua perusahaan Papanya Virgo. Jadi aku kasihan sama orang tuanya Virgo. Setiap kali dekat dengan Virgo, aku selalu berusaha tenang dan menghadapi rasa takut ku. Tapi aku berharap dia bisa berubah.''
''Kamu sangat baik karena kamu masih memikirkan keadaan orang lain. Padahal kamu bisa melakukan apa yang kamu mau. Kamu tenang saja karena aku akan selalu ada untuk kamu.'' Kata Nathan yang berusaha meyakinkan Queen.
''Terima kasih ya, Kak.''
''Maafkan aku karena kebutaanku akan mengenali wajah seseorang, justru mengurungmu bersama orang yang menyakitimu. Tapi aku akan berusaha menjaga kamu semampu aku. Lalu, bagiamana jika aku pergi ke London nanti?'' gumam Nathan dalam hati.