**
Luna tak pernah bahagia dalam hidupnya. Ia selalu merasa, kesialan yang menimpa keluarganya disebabkan keluarga sepupunya, Tina dan Bianca. Ia bahkan harus bekerja sebagai bawahan ayah Tina. Ketika membuat sepatu untuk pernikahan Tina, Luna tidak sengaja bertemu dengan Ariel, si playboy yang suka mempermainkan wanita. Awalnya, Luna tak mau meladeni playboy tampan itu, hingga akhirnya dia luluh pada rayuannya.
**
Ariel memutuskan untuk tidak menganggap serius cinta sejak dikhianati oleh perempuan yang pernah dicintainya. Lalu ia bertemu Ayu, wanita misterius yang membuatnya penasaran karena sepertinya gadis itu tak jatuh dalam pesona rayunya. Namun, Ayu ternyata menyimpan rahasia besar tentang hidupnya, rahasia yang membuat Ariel harus mempertanyakan kejujuran wanita itu.
Setelah kebenaran terungkap, Luna--;yang semula mengaku bernama Ayu-- dan Ariel harus mempertanyakan apakah cinta sanggup menjadikan mereka orang yang lebih baik untuk satu sama lain.
**
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Murniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Lima
#BAB Sebelumnya...
"Mau makan dimana kita?" Luna tidak menghiraukan gelak tawa Ariel dan beralih memandang ke luar jendela sambil berpegangan pada sabuk pengamannya. Ia sebenarnya tidak suka terbelit sabuk pengaman. Meski tahu itu hal penting, ia selalu memainkannya dan memutar-mutarnya di sekitar tubuhnya agar tidak terasa menjeratnya terlalu erat.
"Apa kamu tahu The Palace? Restoran itu lumayan terkenal, juga milik Om Yudi. Tina dulu bekerja disana kan?"
Luna melongo menatap Ariel yang berkonsentrasi dengan padatnya jalan raya. Bagaimana mungkin ia tidak tahu? Ia bekerja disana sekarang dan baru saja pulang. Jika ia kembali ke sana bersama Ariel, meskipun Om Yudi sudah pulang, semua karyawan akan mengenalinya dan Ariel akan mengetahui siapa sebenarnya dirinya.
"A-aku nggak mau kesana," tolak Luna cepat.
Ariel menoleh kaget untuk beberapa detik.
"Uh? Ada apa? Sebegitu benci kamu pada Tina sampai-sampai makan disana saja nggak mau? Aku belum pernah mampir kesana. Aku juga harus beramah tamah dengan calon mertua kakakku atau mereka akan menganggap aku sombong karena sudah beberapa lama tinggal disini tapi nggak pernah mengunjungi restoran mereka."
Luna semakin kesal. Tangannya menarik sabuk pengaman menjauh dari tubuhnya sambil mendengus. "Iya! Tapi aku nggak ingin makan disana. Lebih baik kamu ganti haluan atau aku nggak jadi ikut. Berhenti saja di depan dan biarkan aku pulang sendiri," sahut Luna sambil menunjuk ke pinggir jalan.
"Oke! Oke! Relaks..." Ariel melepaskan tangan kirinya dari kemudi mobil mencoba untuk menahan Luna yang terlihat kesal dan gelisah. Aku nggak akan memaksa. Kita ganti haluan. Katakan kemana kamu mau."
"Kemana saja, asal bukan ke The Palace."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ariel memutar balik mobilnya di putaran pertama yang ia temukan. Tidak ada musik atau pembicaraan di antara mereka selama beberapa menit kemudian, membuat Ariel mulai merasa tidak nyaman. Belum pernah ia bersama seorang wanita yang tidak pernah berhenti bersungut kesal sekaligus membuatnya penasaran setengah mati.
Kepadatan jalan saat itu mulai berkurang. Letak Briarrose Hotel and Service Resident yang strategis di pusat kota mempermudah segalanya. Jaraknya cukup dekat dengan rumah Luna yang juga terletak di pusat kota Surabaya.
Dengan lincah Ariel membelokkan mobilnya memasuki kawasan hotel dan seperti kebiasannya, ia menghentikan mobilnya tepat di lobi hotel. Luna masih terpaku dengan pikirannya sampai tidak memperhatikan Ariel yang telah memarkir mobilnya, dan petugas valet hendak mengambil alih kemudi.
"Ayo turun! Mau sampai kapan kamu cemberut didalam sini?" Ariel melambaikan tangan didepan wajah Luna, menghentikan pikiran Luna terbang lebih jauh lagi. Sebelum Luna membuka mulut, Ariel menarik keluar dua buah tas besar dari balik kursinya lalu melangkah keluar dari mobil.
Mau tidak mau Luna harus turun dan mengikuti langkah lebar Ariel ke dalam lobi. Setengah hatinya masih memikirkan kekesalannya akan permintaan Tina untuk melepaskan rumahnya, setengah yang lain mengkhawatirkan jika ada seseorang yang mengenal dirinya melihatnya berjalan bersama Ariel.
Luna tetap menjaga jarak antara dirinya dan Ariel yang langsung melewati meja resepsionis. Luna mengerutkan kening, merasa kalau Ariel akan membawanya ke penthouse yang sekarang ditempatinya.
Mereka berjalan beriringan menuju halaman tengah hotel. Mata Luna menoleh ke sekeliling. Ia memang cukup sering menginjakkan kaki ke hotel ini. Dan ketika pertama kali Ariel membawanya kesini, tidak ada waktu untuk memperhatikan sekitar.
Masih tetap menjinjing dua shopping bag di tangan kanannya, Ariel menyusuri jalan setapak dipinggir taman. Mereka melewati beberapa tanda restoran sampai berada di depan sebuah papan nama bertuliskan Cenerentola dengan ukuran sedikit lebih besar dan sebuah arah panah.
"Ini shortcut dari hotel menuju ke nite club' milikku dan Juna," terang Ariel tanpa menoleh.
Sebuah pintu kayu besar dengan hiasan taman bersulur disekitarnya memberi kesan seakan mereka membuka pintu rahasia yang menembus entah kemana. Dengan perlahan, Ariel mendorong kedua pintu itu sambil terbuka.
Dengan pandangan takjub, Luna melangkah melewati Ariel yang berdiri menahan salah satu pintu agar tetap terbuka. "Belum jam buka. Mungkin mereka masih mempersiapkan segalanya," bisik Ariel saat Luna melewatinya.
Begitu melangkahkan kaki kedalam, Luna bisa melihat lorong kaca yang memperlihatkan pintu masuk utama dari jalan raya yang tidak berhubungan dengan Briar-Rose Hotel dan Service Residents. Di sebelah kanannya terlihat area bar yang luas dengan lampu-lampu gantung dari kristal. Kain-kain tebal berwarna ungu menutupi area lainnya.
Tersadar setelah mengagumi tempat itu untuk beberapa saat, Luna berbalik mencari Ariel yang sudah berdiri di belakangnya dan tersenyum super manis menantinya. "Milikmu dan Juna?"
Dengan gaya usilnya, Ariel mengedipkan mata lalu meletakkan telunjuknya didepan bibir. "Rahasia..."
Mau tidak mau alis Luna terangkat karena bingung.
Dengan gaya misterius Ariel melewatinya, lalu menghilang ke balik ruangan. Cepat-cepat Luna mengikutinya. Mereka tiba di tengah-tengah ruangan dengan cahaya redup dan langit-langit tinggi. Tembok dengan aksen klasik membuat Luna benar-benar merasa tempat ini sangat keren.
"Tempat ini dan La Cenicienta adalah milikku dan Juna." Ariel menjatuhkan tubuhnya di sofa berwarna hitam yang terletak di tengah-tengah ruangan. Beberapa karyawan dengan seragam ungu tua mengangguk sekilas kepadanya sebelum melanjutkan apa yang mereka persiapkan.
Luna terdiam menatap Ariel yang melambaikan tangan ke salah satu karyawan, memintanya datang.
"Kamu nggak berniat berdiri disana sepanjang malam kan?" Ariel lagi-lagi mengedipkan matanya usil, lalu menoleh ke karyawan yang sigap menghampiri mereka. "Tolong ambilkan menu dari hotel. Kamu akan makan malam disini."
Ariel menoleh kepada Luna yang masih berdiri mengagumi tempat itu. "Kamu ingin kita makan disini atau di restoran hotel saja? Aku sih lebih suka disini, mengingat tidak akan ada yang mengganggu kita."
"Dimana saja boleh." Luna menjatuhkan tubuh disamping Ariel dan mendadak berpikir cepat tentang kemungkinan terburuk jika mereka makan ditempat umum. "Mungkin lebih baik disini saja karena aku cukup terkejut mengetahui nite club' ini milikmu dan Juna."
Ariel tersenyum lebar pada Luna lalu mengangguk memberi sinyal kepada karyawannya untuk cepat mengambil apa yang ia minta. Sambil menyandarkan tubuh ke sofa, Ariel menarik kedua shopping bag bertuliskan Fratelli Rossetti dan menyodorkannya kepada Luna.
"Tidak hanya dua tempat ini. Kami masih punya Cendrillon dan Soluschka di Jakarta. Ada juga Aschenputtel dan Adchenbrodel di Bali. Dua di Ibiza Spanyol dan satu di Jerman."
Luna terbelalak sementara tangannya memeluk tas Fratelli Rossetti.
***__***
Yang belum mampir yukk mampir,,
jangan lupa Like, komen, dan juga dukungan Vote gratis kalian. Dukungan kalian sangat berarti buatku dan semangat menulis ku.
terimakasih