Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal bisa bersamamu
Erik sedang berada di apartemen Mia saat Ziga menelponnya, dia mengantarkan Mia pulang untuk mengambil beberapa barang.
"Halo, ada apa Tuan?" tanya Erik.
"Segera pesankan tiket pesawat ke New York sekarang juga" jawab Ziga.
"Anda akan kembali ke New York Tuan?" tanya Erik sekali lagi karna setahu dia Ziga ingin menetap di Praha dengan Leea dan juga anak anaknya.
"Mamah mencoba bunuh diri, sekarang sedang berada di rumah sakit" jawab Ziga.
Erik terkejut mendengar jawaban Ziga, dia tidak menyangka Ayu majikannya yang sudah seperti ibunya sendiri bisa melakukan hal tersebut.
"Baik Tuan akan saya pesankan sekarang" jawab Erik cepat.
"Pesankan juga untuk Via dan anak anak, mereka akan ikut ke New York" tambah Ziga.
"Baik Tuan" jawab Erik semangat, dia senang karena pada akhirnya Ziga bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya.
Erik pun segera memesan tiket untuk mereka berlima.
"Uncle, terima kasih sudah mengantarku" ucap Mia.
"Kau sudah selesai?" tanya Erik ketika melihat Mia keluar dari kamar dengan membawa dua buah tas.
"Ayo aku antar ke rumah sakit, setelah ini aku harus segera menjemput Tuan dan Nyonya untuk segera berangkat ke bandara" ucap Erik.
"Aunty Leea?" tanya Mia karna tadi Erik menyebut Nyonya.
"Iya, kami harus segera berangkat ke New York. Ibu Tuan Ziga masuk rumah sakit" jelas Erik.
Mia terperanjat, dia merasa sedih karna harus berpisah dengan Leea dan juga si kembar.
"Uncle, apa aku bisa bertemu dengan Aunty Leea sebelum mereka pergi?" tanya Mia.
"Baiklah, ayo mampir ke rumah Nyonya sebelum ke rumah sakit" jawab Erik.
Dan mereka pun segera berangkat ke rumah Leea sembari membawa barang barang Mia.
Di rumah Leea sibuk packing barang barang yang akan dia bawa ke New York.
Zeline dan Aiden juga sibuk memasukkan mainan ke dalam koper mereka.
"Mom, apa kita akan tinggal di rumah Grandma ?" tanya Aiden
Leea terdiam mendengar pertanyaan putranya, dia masih belum membicarakan dengan Ziga dimana mereka akan tinggal nantinya.
"Kita lihat nanti ya sayang, sekarang kita harus menjenguk Grandma karna Grandma sedang sakit" jawab Leea.
"Aiden tidak suka tinggal dengan Grandma?" tanya Ziga kali ini karna dia juga ikut mendengar pertanyaan putranya tersebut.
"Aiden suka tinggal di mana saja asal bisa bersama Mommy dan Daddy" jawab Aiden.
Ziga memeluk Aiden, jawaban putranya tersebut membuatnya semakin yakin agar berusaha membuat keluarga kecilnya bahagia. Dia tidak akan pernah ingin lagi kehilangan Leea dan kedua buah hatinya.
"Daddy, Zel juga mau peluk" ucap Zeline yang melihat kakaknya tengah di peluk oleh sang Ayah.
"Kemari sayang" panggil Ziga, kemudian dia pun memeluk kedua buah hatinya dengan penuh kasih sayang.
"Kalian sudah siapkan apa yang mau kalian bawa?" tanya Leea mengakhiri pertunjukan Teletubbies dihadapannya.
"Sudah Mom" jawab si kembar cepat.
"Ya sudah kalian tunggu di bawah, kita berangkat setelah Uncle Erik datang" ucap Ziga.
"Oke Dad" sahut Aiden dan Zeline berbarengan.
"Bagaimana kalau sementara ini kita tinggal di New York, setidaknya hingga keadaan Mamah membaik ?" tanya Ziga ragu ragu, dia takut Leea akan menolak usulnya tersebut.
Leea melingkarkan tangannya di leher Ziga, saat ini dia sudah tidak malu malu dan menahan diri lagi di hadapan suaminya tersebut.
"Asal bisa bersamamu dan anak anak, tidak masalah harus tinggal dimana" jawab Leea yakin.
Ziga tersenyum puas mendengar jawaban istrinya tersebut, kemudian dia menarik pinggang Leea sehingga tubuh mereka merapat.
"Terima kasih sayang" ucap Ziga yang langsung di sambung dengan kecupan yang mendarat di bibir Leea.
Tapi seperti biasa, setelah menyentuh Leea Ziga tak mampu mengendalikan hasratnya.
Kecupan itu pun berubah menjadi ciuman panas, lidah mereka saling bertautan seolah tak ingin kehilangan. Mereka terus berpagutan melepas kerinduan yang selama ini mereka rasakan.
Leea dengan cepat mendorong tubuh Ziga untuk melepaskan ciuman panas mereka.
"Kita harus siap siap" ucap Leea dengan nafas terengah-engah karna menahan gelora nafsunya.
Ziga mengacak rambutnya frustasi jika bukan karena akan segera berangkat ke New York mungkin dia akan memakan Leea saat ini juga. Karena dia sangat menginginkan Leea setelah lima tahun berpuasa.
Leea merapikan pakaiannya yang sempat berantakan karena ulah Ziga. Kemudian segera turun ke bawah untuk menemui anaknya.
Saat Leea ke bawah ternyata Erik dan Mia telah tiba.
"Aunty" panggil Mia.
"Hai Mia, bagaimana keadaan Nenek?" tanya Leea.
"Sudah lebih baik Aunty, terima kasih" ucap Mia.
"Sama sama sayang" jawab Leea.
"Mia, boleh Aunty minta tolong ?" tanya Leea lagi.
"Tentu Aunty, apa yang bisa Mia bantu ?" ucap Mia.
"Kami sekeluarga akan pergi ke New York untuk mengunjungi Nenek si kembar" ucap Leea.
"Bisakah kau bantu Aunty untuk merawat bunga bunga yang ada di toko?" tanya Leea.
"Tentu bisa Aunty" jawab Mia.
"Apakah kalian akan lama di sana ?" tanya Mia.
"Aku tidak tahu Mia, setidaknya harus menunggu keadaan Nenek si kembar membaik" jawab Leea.
Mendengar jawaban Leea raut wajah Mia berubah menjadi sedih. Dia tak ingin berpisah dengan Leea dan juga si kembar. Mereka sudah di anggapnya sebagai keluarga sendiri.
"Aku akan merindukanmu Aunty" ucap Mia sembari meneteskan air matanya.
Leea memeluk gadis kecil yang sudah dianggap sebagai adiknya tersebut.
"Jangan menangis sayang, kami juga pasti merindukanmu" jawab Leea mengusap lembut punggung Mia.
Mia melepaskan pelukannya pada Leea kemudian beralih memeluk Aiden dan Zeline.
"Aku juga pasti akan sangat merindukan kalian" ucap Mia kepada kedua bocah tersebut.
"Kenapa Mia tidak ikut saja" ucap Zeline sambil mengerjapkan matanya.
"Mia tidak bisa ikut sayang, Mia harus menjaga Nenek Mila disini" jawab Mia sambil mengelus kepala mungil Zeline.
"Oh" ucap Zeline sembari mengangguk anggukan kepalanya.
"Erik kau antar saja Mia ke rumah sakit, biar kami naik taxi ke bandara" ucap Leea.
"Tidak perlu Aunty biar aku saja yang naik taxi" tolak Mia, dia merasa tidak enak karna Ziga dan Leea sebagai atasan Erik harus naik taxi.
"Tidak apa sayang, ini kunci toko serta rumah" ucap Leea sembari memberikan sederetan kunci pada Mia.
"Dan ini juga uang untuk biaya perawatan nenekmu" ucap Leea menyerahkan sebuah amplop coklat pada Mia.
"Tidak perlu Aunty" tolak Mia, dia tidak ingin merepotkan Leea lebih banyak lagi.
"Terimalah jangan menolak, anggap saja sebagai bayaran karna kau mau menjaga toko selama Aunty pergi" ucap Leea tegas, dia tak ingin ada penolakan lagi dari gadis kecil tersebut.
Akhirnya Mia pun menerima pemberian Leea dengan tak enak hati.
"Erik cepat kau antar Mia, kami menunggumu di bandara" ucap Leea pada Erik.
"Tapi Nyonya" ucap Erik, dia ragu ragu karena Ziga belum memberinya perintah.
"Kerjakan apa yang di katakan Nyonya" ucap Ziga.
"Kami menunggumu di bandara" tambah Ziga.
"Baik Tuan" jawab Erik menganggukkan kepalanya.
Erik pun segera mengantar Mia ke rumah sakit. Sedangkan Ziga dan keluarganya langsung menggunakan taxi untuk langsung menuju bandara.
"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu sampai kedalam" ucap Erik setelah mereka tiba di depan rumah sakit.
"Tidak apa, terima kasih Uncle telah mengantarkanku" ucap Mia.
Saat Mia hendak keluar dari mobil tiba tiba Erik menarik tangannya membuat Mia terkejut.
Dia merasa gugup ketika Erik menatap tajam ke dalam matanya.
"A-ada apa Uncle?" tanya Mia gugup wajahnya kini telah merona.
Erik mempererat genggamannya kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Mia, yang membuat jantung Mia berdegup tak karuan.
Erik mencium lembut pipi Mia, dan mengelus bibir gadis tersebut dengan ibu jarinya.
"Jaga kesehatanmu, jika ada sesuatu jangan lupa hubungi aku" bisik Erik lembut sembari mengacak rambut gadis tersebut.
Mia yang terkejut karena serangan dadakan dari Erik, hanya terpaku terdiam. Walaupun Erik hanya mencium di bagian pipi tapi itu adalah pertama kalinya dia di sentuh oleh seorang laki laki.
Mia menahan dadanya, seolah jantungnya akan melompat keluar.
Erik sendiri segera keluar dan membukakan pintu untuk Mia.
"Sampaikan salamku pada Nenek" ucap Erik pada Mia yang kini telah berada di luar mobil.
Mia hanya menganggukkan kepalanya, dia masih belum bisa berkata apa apa.
Erik pun segera kembali ke dalam mobil kemudian langsung memacu kendaraannya meninggalkan Mia yang masih terpaku di tempatnya sambil memandangi kepergian Erik.