Lunna itu cuma anak kelas sebelas SMA. Rada julid, lumayan kalem, irit komentar, tapi kadang bisa juga cerewet bin rempong. Tapi walau kadang mukanya keseringan datar, Lunna itu sebenarnya asyik kok.
Lunna punya temen cewe. Namanya Kira, panjangannya Arkiera, guru-guru sering salah manggil, disebut lebih bagusan kalau Aksara.
Lunna juga suka novel fantasi. Tapi apa dia tahu... kalau sihir itu sesungguhnya ada? Bahkan pada dirinya sendiri?
Lunna itu rahasia, misteri dengan sejuta kata.
Lunna itu berbahaya, tapi juga amat memesona.
Kau tahu legenda tentang Razenskalavia? Negeri dongeng yang jauh di dimensi sihir sana? Karena ternyata, Lunna adalah anggotanya....
'Hello, Bangsawan Razenskalavia... masih ingat dengan Mitos Balaur dan Wiz?'~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafitria_571, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 26
Lunna menemui Drole yang tidur bergelung di atas karpet. Ia mengusap kepala kucing itu. Drole kelihatan pulas, jadi ia tak akan membangunkan. Lagipula Drole juga tak kenapa-kenapa, ia lega sekarang. Kepalanya menoleh, memperhatikan pemuda yang sudah duduk tak bergeming di kursi sejak mereka datang. Ia mendekat.
Lunna duduk di kursi yang sama dengan pemuda itu. Ia menyentuh tengkuk, canggung. Tapi kemudian ia menarik nafas dalam. Menggeser tubuhnya sehingga miring beberapa derajat, menghadap ke arah seorang pemuda tampan yang tak jauh di sana.
"Tuan? Bolehkah saya tahu nama, Anda?" tanya Lunna ragu-ragu.
Pemuda itu menoleh. "Saya belum memperkenalkan diri kepada Nona, ya?" dia malah balik tanya.
Lunna mengangguk. "Nama saya Lunnalysa, Tuan bisa panggil saya Lunna. Jangan panggil Nona, itu terlalu tinggi bagi gadis biasa seperti saya," jelas Lunna, mengawali.
"Nama saya Flynn. Kita mungkin bisa menggunakan bahasa yang lebih santai, dan juga memanggil nama secara langsung. Nona tak keberatan?"
Lunna tersenyum tipis. "Tentu, ini akan lebih menyenangkan, Flynn," balas Lunna. Menanggapi dengan baik.
Flynn tak mengeskpresikan hal lain kecuali wajah flatnya. Ia mengangguk seadanya. Merasa tak ada hal yang perlu dibicarakan lebih lanjut.
"Oiya, terima kasih banyak atas bantuanmu," lanjut Lunna.
"Sama-sama."
"Aku akan pergi menemui Nek Azu dulu," pamit Lunna, langsung ngacir. Suasana yang canggung tadi serasa membunuhnya perlahan. Ia tak betah, Flynn kelewatan dinginnya.
Lunna melihat Nek Azu sedang menyiapkan bahan untuk dimasak. Bukan bahan yang aneh, dalam artian masih bisa diterima Lunna sebagai benda normal. Ia mendekat. Lalu menyentuh salah satu benda yang bentuknya mirip lobak.
"Mau saya bantu, Nek?" tawar Lunna. Berusaha menjadi tamu yang baik dan tahu diri.
"Kau bisa memasak?" tanya Nek Azu.
"Tidak terlalu bagus, tapi saya bisa melakukan apa yang nenek perintahkan nanti," kata Lunna. Sadar bahwa kemampuannya di dapur amat pas-pasan.
"Baiklah, iris labu itu kecil-kecil," minta Nek Azu. Kali ini nadanya lebih ramah dibanding awal pertemuan mereka.
Lunna mengambil sayur yang menurutnya labu, lalu meraih pisau. Sebelum ia beraksi, Nek Azu kembali membuka suara, membuat Lunna otomatis menghentikan gerak tangannya.
"Itu bukan labu!" teriak Nek Azu. Kelihatan lega kala melihat belum terjadi apa-apa.
"Lantas yang mana, Nek?"
"Sayur yang pertama kali kau sentuh," ujar Nek Azu.
Lunna menatap lobak di atas meja. "Itu labu, nek?" tanya Lunna memastikan. Cukup aneh, karena namanya jadi terbalik dengan nama di bumi.
"Iya, yang kau pegang sekarang itu tomat," kata Nek Azu. Semakin membuat kepala Lunna berdenyut. Lobak jadi labu, labu jadi tomat, lalu nanti tomat jadi apa?
Tanpa banyak tanya lagi, Lunna mengambil labu yang Nek Azu maksud. Memotongnya kecil-kecil. Lantas dimasukkan ke sebuah baskom. "Sudah, Nek," lapor Lunna.
Nek Azu menoleh. Memeriksa hasil kerja Lunna. Tak ada komentar, Nek Azu kembali mengurus kompornya. Kompor itu diletakkan di atas meja batu. Ada lubang ditengahnya untuk diisi bahan bakar. Lalu api akan menyala dan membakar kuali besar yang akan digunakan.
Busss!
Api menjilat keluar. Nek Azu sampai mundur dua langkah. Lunna terlonjak di tempat melihatnya, ia kaget. Tapi kemudian terjadi hal yang tak terduga.
Nek Azu tersandung, kakinya tak sengaja menyenggol kompor batu, membuat pasak penyangganya goyah. Kompor itu pun miring, dan kualinya...
"Nenek awas!" Lunna berteriak sambil mengulurkan tangan.
Refleks, perisai tak kasat mata itu terlepas. Merambat ke depan dan membentuk barier pelindung. Menutup tubuh Nek Azu yang nyaris tersiram air mendidih.
Lunna terengah dengan jantung berpacu cepat. Ia melihat Nek Azu memejamkan mata sambil melindungi kepala. Tapi untungnya ia sigap bergerak. Perisainya dengan solid menahan kuali, membuat benda itu melayang di udara.
"Ada apa ini?"
Suara dingin yang keras itu memecahkan konsentrasi Lunna. Ia tersentak, tangannya otomatis ia tarik. Akibatnya perisainya musnah. Kuali itu tak ada yang menahan lagi. Terjun bebas ke lantai.
Brakkk
Jatuh. Seluruh isinya memuncrat ke segala arah. Lunna sampai menunduk untuk menghindar. Ia bisa merasakan ada beberapa tetes air panas yang menyentuh kulitnya. Terasa pedih.
"Nenek!" Itu bukan suaranya, jelas karena ia masih mengunci mulut rapat-rapat. Itu suara Flynn. Pemuda itu berseru panik, lalu berlari mendekati Nek Azu.
Lunna yang kemudian tersadar ikut mendekat. Berdiri tak jauh, ia juga mengawasi kompor batu, memastikan tidak akan ada yang jatuh lagi. Kemudian matanya beralih ke sosok nenek yang terbaring di lantai dapur.
Nek Azu tak terluka cukup parah, karena rentang beberapa detik selama ia menahan kuali tadi, beliau sempat menggeser tubuh, menjauhi kompornya.
Tapi saat kuali itu meluncur, ia tak sempat berlindung. Cipratan air yang tak sedikit mengguyur kakinya, membuat kaki tua itu melepuh.
Flynn mengangkat Nek Azu, membawanya ke kamar. Lunna mengikuti dari belakang dengan cemas. Flynn membaringkan Nek Azu yang setengah tak sadar di kasur.
Pemuda itu kemudian pergi ke ruang obat. Lunna pun bersimpuh di samping kepala ranjang, menatap pilu kepada tabib yang sudah merawatnya.
Flynn kembali lagi ke sana. Di kedua tangannya sudah ada alat penumbuk obat dan beberapa bahan. Ia meletakkan semua itu di nakas samping ranjang. Ia menatap wajah cemas Lunna.
"Ada apa? Kenapa kau terdiam?" tanya Lunna.
"Kau tau caranya?" Flynn balas bertanya.
"Cara apa?"
"Membuat obat."
"Aku tak tahu apapun, aku tak bisa," kata Lunna.
"Bagaimana ini?" Flynn terlihat stres. Ia belum pernah menyentuh hal yang berbau pengobatan. Sama sekali tidak.
"Campurkan saja semua bahan!" seru Lunna. Asal memberi ide.
"Kau mau membunuhku, gadis muda!" teriakan itu membuat Lunna terlonjak. Nek Azu masih setengah sadar, ia mendengar semua ucapan dua remaja itu.
"Eh, Nenek! Bukan begitu, Nek!" sambar Lunna. Tak mau kena omel lagi.
"Nak, ambil salep warna hijau di kamar yang kau masuki tadi." Mengabaikan Lunna, Nek Azu memilih Flynn untuk melakukan perintahnya.
"Baik, Nek," Flynn langsung bergegas. Kembali dalam tiga detik kemudian. Membawa salep yang Nek Azu minta.
"Berikan pada Nona ini, biar ia yang mengoleskan."
Flynn menyodorkan obat itu kepada Lunna. Lunna pun mau tak mau menerima. Ia kemudian pindah tempat ke sisi ranjang bawah. Memakaikan obat itu ke bagian kaki Nek Azu yang melepuh.
.
.
.
.
"Siapa sebenarnya dirimu, Nona?"
Pertanyaan mengejutkan dari Nek Azu membuat bibir Lunna membisu. Ia terdiam, mematung. Iris cokelat itu terlihat kosong. Ia kemudian mendongak, mendapati tatapan tajam Nek Azu yang bahkan tampak lebih serius daripada ancaman tadi siang.
like blk karyaku ya
cinta rasa covid -19
the Thunder's love
bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
mampir ya