NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandaran Sejati

Udara sore yang sejuk di dalam ruang kerja CEO Al-Maktoum Group menjadi oase pasca-kejadian mencekam di dalam lift. Setelah tim medis memastikan Shanum tidak mengalami cedera fisik dan aliran listrik darurat menyala, Shanum menolak pemeriksaan berlebihan. Ia justru meminta sekretarisnya mengambilkan dua cangkir teh hangat dan mengantar Aran masuk ke ruang kerjanya.

Aran berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan lanskap kota Jakarta. Sikap tubuhnya masih tegap, pandangannya terus memindai sudut-sudut ruangan dengan kewaspadaan yang seolah tak pernah padam.

Shanum menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat seraya membawa cangkir teh. "Aran, duduklah. Kamu membuat saya pusing kalau berdiri terus seperti patung penjaga di depan istana."

Aran menundukkan pandangannya santun, merapatkan kedua tangannya di depan dada. "Tidak perlu, Mbak Shanum. Posisi ini memberikan sudut pandang terbaik untuk mengawasi pintu masuk."

"Tuh, kan! 'Mbak Shanum' lagi, 'posisi taktis' lagi," protes Shanum seraya meletakkan cangkir teh di meja kopi. Ia bersedekap dada, menatap pengawalnya dengan raut wajah bersungut-sungut. "Aran, dengarkan saya. Kejadian di lift tadi membuktikan kalau kamu bisa diandalkan. Tapi kalau sehari-hari kamu bersikap seperti robot tanpa emosi begini, saya yang risih. Saya merasa seperti tawanan, bukan orang yang dilindungi."

Aran agak tertegun. "Saya hanya menjalankan standar pengamanan—"

"Saya mau dikawal secara sukarela, dengan syarat kamu bersikap selayaknya seorang teman," potong Shanum cepat, suaranya melunak namun penuh penekanan. "Bukan sebagai pimpinan operasi, bukan sebagai prajurit. Bicara biasa, bersikap santai. Kalau kamu terus-terusan kaku, saya malah stres duluan sebelum musuh datang."

Aran diam sejenak, mengamati kesungguhan di mata Shanum. Sifat kaku yang membentenginya bertahun-tahun perlahan melorot. "Baik... kalau itu memang bisa membuat Anda lebih nyaman."

"Satu lagi," tambah Shanum dengan nada menuntut yang dibuat-buat, meski sudut bibirnya terangkat. "Berhenti panggil saya 'Mbak'."

Aran menaikkan sebelah alisnya, sedikit bingung. "Tapi bukankah itu bentuk penghormatan untuk atasan?"

"Ayah saya bercerita kalau umurmu sudah dua puluh delapan tahun ini," ujar Shanum terang-terangan. "Saya baru dua puluh enam. Saya lebih muda dua tahun dari kamu, Aran! Dipanggil 'Mbak' oleh orang yang lebih tua itu rasanya aneh sekali."

Raut kaku di wajah Aran akhirnya luluh, menggantikannya dengan senyum tipis yang amat jarang terlihat. "Baiklah. Lalu saya harus memanggil bagaimana?"

"Panggil Shanum saja kalau sedang berdua atau dalam situasi santai, kalau sedang didepan umum terserah kamu." sahut Shanum puas, lalu mendudukkan dirinya di sofa dan mengisyaratkan Aran untuk ikut duduk di sofa seberang.

Aran akhirnya menurut. Ia duduk dengan posisi rileks, melepas ketegangan bahunya. Untuk pertama kalinya sejak bekerja, atmosfer di antara mereka terasa begitu hangat dan mengalir tanpa sekat formalitas yang menghimpit.

Shanum menyeruput teh hangatnya, lalu menatap Aran dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. "Ngomong-ngomong... beberapa hari yang lalu saat di pesantren. Kita berdua tahu kalau Ning Layla sudah resmi melamar—maksud saya, menerima lamaran dari Mas Rayhan."

Shanum memperhatikan ekspresi Aran dengan saksama, mencoba mencari kebingungan atau rasa sedih yang mungkin tersembunyi.

Namun, Aran hanya menghembuskan napas pelan, wajahnya tampak tenang tanpa riak kekecewaan.

"Kamu... tidak apa-apa?" tanya Shanum hati-hati.

Aran terkekeh pelan—sebuah suara rendah yang terdengar hangat di telinga Shanum. "Kenapa saya harus tidak apa-apa? Saya justru bersyukur. Mas Rayhan adalah pria yang baik dan berilmu, sangat cocok untuk Ning Layla."

Aran menyandarkan punggungnya, menatap cangkir teh di depannya sebelum melanjutkan isi hatinya secara jujur. "Selama ini banyak orang mengira saya memiliki perasaan asmara pada Ning Layla. Padahal sebenarnya... rasa yang saya miliki hanya sebatas kekaguman yang biasa."

Shanum menyimak diam-diam, memberikan ruang sepenuhnya bagi Aran untuk bercerita.

"Di dunia saya yang lama, di dalam organisasi Viper..." suara Aran memelan, mengingat masa lalunya. "Teman-teman wanita yang saya temui hanya mengenal dua hal menjadikan saya pimpinan yang harus ditaati, atau rival yang harus dikalahkan. Tidak ada kelembutan, tidak ada kasih sayang. Yang ada hanya ambisi, darah, dan persaingan."

Aran mendongak, menatap mata Shanum. "Lalu takdir saya menuntun masuk ke pesantren dan dikenalkan sosok seperti Ning Layla. Kelembutan hatinya, cara pandangnya yang penuh kasih sayang terhadap sesama... itu adalah hal yang sama sekali asing bagi saya. Saya kagum karena melihat sisi kemanusiaan yang indah, sesuatu yang dulu saya pikir tidak ada di dunia ini."

Aran menegakkan tubuhnya, menegaskan dengan nada bicara yang begitu mantap. "Tapi itu dulu. Perasaan kagum itu murni karena saya sedang belajar menjadi manusia kembali. Sekarang, diri saya sudah sepenuhnya tidak memikirkan Ning Layla dalam artian seperti, beliau punya jalannya sendiri, dan saya mendoakan kebahagiaannya."

Shanum tertegun. Kejujuran yang mengalir murni dari mulut Aran menghangatkan dadanya. Ada rasa lega yang luar biasa menyusup ke dalam hati Shanum rasa lega yang menyadarkannya betapa berharganya posisi Aran di hidupnya saat ini. Pria di depannya bukan lagi sosok pembunuh berdarah dingin, melainkan seseorang yang telah menemukan kembali nuraninya.

"Terima kasih sudah mau bercerita, Aran," bisik Shanum tulus, menyunggingkan senyum terindah yang pernah Aran lihat dari wajah wanita itu.

Belum sempat Aran membalas senyuman itu, ketukan keras di pintu ruang kerja memecahkan keheningan hangat mereka.

Pintu terbuka lebar tanpa menunggu izin penuh. Seorang pria bertubuh tegap berusia awal empat puluhan melangkah masuk dengan seragam taktis gelap bertuliskan lambang keamanan privat keluarga Al-Maktoum. Wajahnya tegas, dengan tatapan mata tajam yang langsung mengunci sosok Aran.

Pria itu adalah Baskara—kepala tim keamanan utama yang bertanggung jawab langsung atas keselamatan Rasyid Al-Maktoum, ayah Shanum. Ia juga merupakan sepupu dari pihak ibu Shanum, sosok keluarga yang sangat dipercayai oleh keluarga besar Al-Maktoum.

"Shanum! Kamu tidak apa-apa?" tanya Baskara dengan nada khawatir yang mendalam, menghampiri Shanum tanpa menghiraukan keberadaan Aran sejenak. "Saya baru dapat laporan soal insiden pemadaman listrik dan lift yang macet."

"Saya baik-baik saja, Mas Baskara," jawab Shanum seraya berdiri menyapa kerabatnya itu. "Aran menjaga saya dengan sangat baik saat kejadian itu."

Baskara berpaling, menatap Aran dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat dingin. Sebagai kepala keamanan senior keluarga Al-Maktoum, ia tahu betul latar belakang kelam yang dimiliki Aran.

"Jadi ini orangnya?" gumam Baskara dengan suara berat, menatap Aran tanpa ada keramahan sama sekali. "Pak Rasyid mengutus saya langsung ke sini untuk mengambil alih evaluasi keamanan gedung. Dan kamu..." Baskara melangkah satu langkah mendekati Aran, "ikut saya ke ruang kontrol. Ada hal serius yang perlu kita bicarakan mengenai sistem keamanan yang dibobol hari ini."

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!