Abiyasha Harsha Pranacipta kehilangan ingatannya lima tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan hebat. Selama itu pula ia berusaha mengembalikan ingatannya mengenai wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruknya.
Yasmine Abichara, seorang sekretaris direktur baru sebuah perusahaan besar di Jakarta merasa kaget ketika mengetahui bosnya adalah pria dimasa lalu yang ingin ia lupakan. Timbulnya benih-benih cinta di hati Yasmine membuatnya bertanya-tanya, mampukah ia mencintai Abiyasha saat pria itu memiliki hubungan erat dengan masa lalunya? Dan bagaimana hubungannya dengan Rio saat Yasmine tahu sejak awal tidak ada cinta untuk pria itu sedikitpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuanitaaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Bagian 24|
"Kau yakin di sini tempatnya?"
Abiyasha tahu wanita ini sedang berusaha membalas kekesalannya padanya. Ia tahu Yasmine pasti akan membuatnya gila. Tapi ia tidak pernah menyangka kalau wanita itu mengajaknya untuk makan siang di tempat ini. Hanya warteg biasa. Meja dan kursi bambu yang dicat kecoklatan sederhana. Sepertinya pemiliknya sengaja membuat etnik jawa yang kental.
Abiyasha bingung bagaimana ia harus makan dengan baik di sini. Ini adalah kali pertamanya masuk ke tempat semacam ini.
Pertama kali...
Tapi kenapa rasanya tempat ini tidak asing? Seolah memiliki arti tersendiri untuknya? Kenapa tempat ini seolah menyuarakan hal lain yang aneh baginya? Atau ini hanya perasaannya saja?
Yasmine mengangguk semangat. "Benar. Sate ayam di sini benar-benar..." Yasmine mengangkat jempolnya tinggi-tinggi tepat di depan wajah Abiyasha.
Abiyasha tidak habis pikir kenapa ia harus mengikuti persyaratan konyol dari wanita itu saat ia mampu menolaknya. Abiyasha menelan ludahnya pahit. Benarkah ia akan makan di tempat semacam ini?
Yasmine menarik tangan pria itu. Berbeda dengan Abiyasha yang masih sibuk memberikan penilaian terhadap tempat makannya, Yasmine jauh lebih bersemangat. Saat mencium sate yang dibakar, rasanya ia lapar berat. Dan ia tidak mau menunda makan malamnya hanya karena menunggu Abiyasha. "Jangan lama-lama, Pak. Ayo cepat duduk."
"Kau berani memerintahku sekarang?"
Yasmine meringis. Tapi ia tidak peduli. Yasmine mendudukkan Abiyasha di kursi, lalu dirinya ikut mengambil tempat.
"Anda tidak akan percaya kalau sate di tempat ini akan membuat lidah anda terasa dimanjakan. Saya yakin anda akan menyukainya." Seolah bisa meramalkan apa yang akan terjadi, Yasmine mengatakannya dengan nada tinggi.
Abiyasha menggelengkan kepalanya. "Kau saja yang makan. Aku akan lihat kau makan."
Yasmine tertawa. "Baiklah. Tapi anda tidak boleh meneteskan air liur ketika saya makan!"
Seorang pria bertubuh gendut yang nyaris membuat Abiyasha takut karena wajahnya yang sangar, mendekati meja mereka. Pria tambun dengan celemek bermotif bunga-bunga yang bahkan tidak cocok dipakai itu menatap Yasmine. "Achaaaaaa!" Panggil pria itu keras.
Ah, siapa yang dia panggil? Berisik sekali. Batin Abiyasha.
Yasmine menoleh cepat seolah ia yang dipanggil pria itu. Begitu pandangan mereka bertemu, Yasmine langsung bangkit dari kursinya, lalu mendekati pria tambun tersebut, dan memeluknya. "Aaaaaaa. Paman... Aku sangat merindukanmuuu."
Pria tambun yang dipanggil Paman itu malah balas memeluk Yasmine. Hal tersebut membuat Abiyasha bertanya-tanya. Tidak mungkin pria tua itu selingkuhannya, kan?
"Kau kenapa tidak datang lagi?" Tanya paman ketika Yasmine melepaskan pelukannya.
"Ah, aku sibuk sekali, Paman. Kau tidak tahu betapa rindunya aku pada sate buatanmu." Balas Yasmine.
"Kau benar-benar anak yang nakal, Acha. Aku juga merindukanmu. Dengan siapa kau datang, Nak?" Tanya pria itu.
Acha?
Abiyasha seolah pernah mendengar nama itu. Acha. Acha. Acha.
"Nama 'Acha' adalah panggilan yang singkat dan mudah diucapkan." Ingatannya kembali menangkap memori-memori aneh.
Abiyasha memejamkan matanya. Telinganya berdengung hingga ia harus menutupnya dengan tangannya.
"Aku datang bersama Direktur-ku," kata Yasmine dengan nada senang. Yasmine menyingkir dari tempatnya hingga Paman Aldo yang merupakan sahabat dari mendiang ayahnya bisa melihat wajah Abiyasha yang sedang tertunduk.
"Lho. Dia..."
Ia tahu hal semacam ini akan terjadi. Pasti Paman Aldo akan mengetahui siapa pria yang bersamanya. Abiyasha. Yasmine memang pernah membawa pria itu kemari lima tahun yang lalu. Awalnya ia ragu Paman Aldo akan mengenalinya. Tapi dugaannya benar, ingatan Paman Aldo masih tetap saja tajam.
Yasmine menyeret Paman Aldo menjauh sedikit. Abiyasha pasti tidak menyadarinya. Ekspresinya berubah. "Paman aku mohon jangan katakan apapun. Dia tidak mengenaliku lagi. Aku mohon jangan membuatnya membenciku."
Paman Aldo yang masih bingung menuntut penjelasan. "Hah? Bagaimana bisa dia tidak mengenalimu? Dan bagaimana bisa dia menjadi bosmu?"
Yasmine menggeleng. "Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Tapi kau harus tahu bahwa Abiyasha yang kubawa sekarang bukanlah Abiyasha yang dulu.
Paman Aldo menatap Yasmine dengan bingung. "Benarkah?" Yasmine mengangguk. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi aku tidak akan mengatakan apapun. Kau tenang saja."
Yasmine merasa ingin menangis saja. "Terima kasih, Paman!"
Mereka berdua kembali. Abiyasha kini sudah duduk dengan tegak. Yasmine pura-pura menepuk pundak Paman Aldo. "Oke, Paman. Sekarang buatkan aku satu porsi sate buatan tanganmu sendiri."
Paman Aldo menatap Abiyasha sekali lagi sebelum pria tambun itu mengangguk mantap. "Hanya satu?"
"Ya, pasalnya pria borju yang kaulihat saat ini sedang tidak ingin makan apapun. Maklumi saja gayanya," kata Yasmine bercanda.
Abiyasha melotot ke arah wanita itu. Sepeninggal pria tambun itu, Yasmine hanya berdua dengan Abiyasha. Yasmine masih sedikit syok ketika mengetahui kalau Paman Aldo mengingat Abiyasha.
"Siapa pria itu tadi?" tanya Abiyasha.
Yasmine berdehem. "Ah, Paman Aldo maksudmu, dia adalah pemilik Warteg ini. Kebetulan dia teman mendiang ayahku. Dia membangun usaha ini berkat bantuan dari ayah."
"Benarkah? Kupikir siapa..."
Saat Paman Aldo datang dengan makanan yang ada di atas nampan, wajah Yasmine berubah senang. "Terima kasih, Paman!"
"Ini kubuat khusus untukmu." Kata pria itu.
"Ya, terima kasih banyak," sahut Yasmine. "Siapkan satu lagi, hanya berjaga-jaga kalau nanti seandainya dia ingin ikut makan," kata Yasmine.
Abiyasha menunjukkan ekspresi marah, tapi Paman Aldo tertawa terbahak-bahak. Pria itu menepuk bahu Abiyasha. "Percayalah, Nak. Acha tidak pernah mengajak siapapun kemari kecuali dirimu," katanya pada Abiyasha yang dibalas pria itu dengan senyum. "Aku hanya punya dua putra, jadi aku menganggap Acha adalah putriku. Jadi jaga dia untuk ayahnya. Kau paham?"
"Paman! Kau ini," sergah Yasmine.
"Baiklah, baiklah. Aku akan membuatkan satu porsi makanan jaga-jaga untuknya."
Yasmine tertawa setelah Paman Aldo pergi. "Maafkan dia. Terkadang dia memang sok bijak. Tapi anda jangan kuatir. Om Aldo suka bercanda."
"Tidak masalah. Sekarang makanlah."
Yasmine menyantap satenya dengan nikmat. Ia benar-benar lapar. Hal itu membuat Abiyasha meneteskan air liur. Ia bingung apakah harus menjaga egonya atau membuang jauh-jauh keinginanya untuk makan yang berarti ia harus kelaparan sepanjang siang.
"Berapa lama kau tidak makan? Tanya Abiyasha.
Yasmine mengacungkan ibu jarinya ke udara. "Satu."
"Satu minggu?"
"Satu hari. Kau ada-ada saja," seru Yasmine.
Abiyasha tertawa. "Kau melahap makananmu seperti kau belum makan selama sebulan," komentar Abiyasha. Ia mengalah pada keinginan perutnya. "Kau bisa minta Pamanmu untuk memberikan satu porsi juga untukku!"
Yasmine membulatkan mata. "Benarkah? Baiklah!" sahutnya. "Pamaaaaan berikan satu porsi untuk pria borju iniiii..."
"Pria borju???" Abiyasha merasa Yasmine membuat harga dirinya menurun drastis. "Kau ini benar-benar!"
Seorang pelayan datang membawa makanan. Yasmine menyilakan pria itu untuk makan, awalnya ia ragu untuk menyantap makanannya. Namun akhirnya Abiyasha mengigit juga satenya. Mata pria itu terpejam.
"Enak kan?"
"Seleramu patut diacungi jempol! Tapi kenapa aku merasa sate ini tidak asing di lidahku?" Abiyasha berkomentar. Kali ini ia merasa kalah telak. Abiyasha menatap Yasmine yang makan dengan lahap. Dalam hati tersenyum.
Acha...
...***...
...Bab ini kupersembahkan untukmu, yang menentang ego hanya untuk membuatku bahagia....
...IG : @_yuanitaaw...
Dulu aku punya keinginan menulis biografi (kisah hidupku pribadi)...pengen berbagi pengalaman & pembelajaran hidup.... tapi.... sulit.... mo mulai darimana.... makanya salut sama novelis2 sptmu....yg bisa menuangkan ide secara bebas....meski mungkin sambil merasa tertekan yaa.... tipa hari kayak yg dikejar2 biar bisa up.... hahaha...
semangat Yuanita....
bikin gemezzzz deh.....😣😣😣😣