"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan lagi?
"Lima hari aku berdarah-darah di neraka hanya untuk memastikan tidak ada satu pun bajingan yang berani menyentuhmu, Kayna....dan kau bahkan tidak menyambutku kembali?"
Suara bisikan dingin itu masih bergema menusuk indra pendengaran Kayna ketika kelopak mata Damara tiba-tiba terpejam rapat. Kesadaran pria itu runtuh sepenuhnya. Tubuh tegapnya kehilangan tumpuan dan ambruk ke depan, jatuh tepat ke dalam dekapan Kayna.
"Mara!" jerit Kayna histeris.
Ia berusaha menahan beban tubuh Mara yang begitu berat, namun perbedaan ukuran tubuh mereka membuat keduanya jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin.
Bau amis darah yang kental dan hangat langsung menyeruak hebat, membasahi gaun dan jemari Kayna dengan warna merah pekat yang mengerikan. Pria yang selama ini terlihat bagaikan monster tak tersentuh, kini terkulai tak berdaya di pangkuannya dengan wajah pucat pasi.
"Mara! Buka matamu! Damara!" suara Kayna bergetar hebat, jemarinya yang gemetar mencoba menepuk pipi tegas Mara. Rasa panik yang tak terelakkan mendadak menyergap dada Kayna, meremas jantungnya hingga terasa sesak.
Mendengar jeritan Kayna, derap langkah kaki yang tergesa-gesa bergemuruh di sepanjang anak tangga. Carlos dan James melompat naik dengan napas terengah-engah, pakaian mereka sendiri penuh dengan bercak darah.
"Tuan Mara!" panggil Carlos dengan wajah tegang. Tanpa membuang waktu, pria berotot kekar itu bersama James langsung sigap memisahkan Kayna dari tubuh Mara. Mereka mengangkat dan menggotong tubuh ketua Mafia Lexans itu menyusuri koridor lantai dua.
Kayna merangkak bangkit, mengabaikan gaunnya yang telah ternoda darah, lalu berlari kecil mengikuti langkah cepat kedua tangan kanan Mara.
James dan Carlos membawa Mara menuju ujung koridor lantai dua, berhenti di depan sebuah pintu baja ganda yang tersembunyi rapi di balik panel kayu mahoni. Carlos menempelkan telapak tangannya pada pemindai biometrik dinding. Dengan suara dengungan halus, pintu tebal itu terbuka lebar.
Ketika Kayna melangkah masuk, napasnya seketika tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak tak percaya memandangi isi ruangan tersebut.
Ruangan di ujung lantai dua itu sama sekali bukanlah kamar tidur mewah seperti yang ia bayangkan. Tempat itu adalah sebuah ruang operasi steril berfasilitas medis modern yang amat lengkap!
Tempat tidur bedah stainless steel berdiri di tengah ruangan di bawah sorotan lampu operasi raksasa, dikelilingi oleh monitor tanda vital, mesin anestesi, lemari kaca penuh berisi obat-obatan bedah, dan ini terlalu lengkap.
Ruangan medis darurat ini sengaja disiapkan di dalam mansion mewah milik keluarga Veldens hanya untuk satu alasan, mengantisipasi situasi berdarah dan tidak diinginkan dalam dunia bawah tanah yang dipimpin Mara tanpa harus melintasi radar rumah sakit umum.
"Baringkan Tuan Mara di atas meja bedah!" perintah sebuah suara wanita yang tegas dan dingin dari arah pintu masuk.
Seorang wanita cantik melangkah cepat masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan jas putih dokter yang tergulung hingga siku, membawa tas peralatan darurat tambahan. Tatapan matanya tajam, memancarkan aura profesionalisme yang amat dingin.
Dia adalah Dokter Isabela, dokter bedah khusus kepercayaan jaringan rahasia Mara. Dan di balik jubah putihnya, Isabela juga merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia gelap Lexans, sekaligus kekasih hati Carlos.
"Isabela! Selamatkan Tuan Mara!" seru Carlos, napasnya memburu saat membaringkan Mara di tempat tidur bedah.
Isabela tidak menjawab dengan kata-kata manis. Dengan cekatan, tangannya yang terampil memakai sarung tangan latex steril dan mengambil gunting bedah. Ia langsung menggunting kemeja hitam Mara yang telah kuyup oleh darah kering dan basah.
Kayna menutupi mulutnya, menahan jerit ketakutan saat melihat bentuk luka di tubuh Mara.
Ternyata, Mara menderita dua luka tembakan berdarah di tubuhnya. satu bersarang di pundak kanan dekat tulang selangka, dan satu lagi bersarang di perut bagian kiri. Lubang luka itu menganga lebar, mengeluarkan darah segar yang terus menetes ke lantai.
"Luka tembaknya tidak menembus organ vital utama," ujar Isabela dengan nada suara yang tenang namun sarat akan ketegangan mendalam setelah memeriksa dengan stetoskop dan pencahayaan khusus. "Kedua peluru ini tidak terlalu dalam, tapi dampaknya tetap sangat mengancam nyawa!"
"Lakukan apa saja, Bel!" potong James tegang. "Selamatkan dia!"
"Diam dan bantu aku memasang selang infus serta transfusi darah sekarang!" bentak Isabela tanpa mengalihkan pandangannya dari luka Mara.
Selama satu jam berikutnya, atmosfer di dalam ruangan medis itu terasa bagaikan neraka yang mencekam. Kayna hanya bisa berdiri terpaku di sudut dinding, menyaksikan dengan dada bergemuruh saat Isabela dengan lihai memotong jaringan kulit yang rusak, mencabut dua proyektil timah berdarah dari tubuh Mara menggunakan pinset bedah, dan menjahit nya kembali.
Suara dentang alat medis yang beradu dengan nampan stainless steel serta detak teratur dari monitor jantung menjadi satu-satunya irama yang memecah keheningan yang menegangkan itu.
Setelah memastikan grafik tanda vital Mara kembali stabil dan perban steril telah terbalut rapi melingkari dada serta perut sang ketua mafia, Isabela mengembuskan napas panjang. Ia melepas sarung tangan latex-nya yang kini berlumuran darah.
Isabela berbalik, menatap Carlos dan James yang berdiri kaku di samping meja medis dengan kondisi tubuh tak kalah mengenaskan.
"Tugas pertamaku di sini selesai. Kondisi Tuan Mara sudah terkendali untuk sementara, walau dia masih belum melewati masa kritisnya," kata Isabela dingin. Matanya beralih menatap tajam ke arah Carlos. "Sekarang, kalian berdua... turun ke ruang perawatan bawah!"
Carlos mengerutkan keningnya, meraba pinggangnya yang terluka sabetan pisau. "Isabela, aku harus tetap di sini menjaga Tuan Mara—"
"Jangan membantahku, Carlos!" potong Isabela dengan nada dominan yang tak terbantahkan, memperlihatkan posisinya sebagai kekasih sekaligus dokter utama. "Luka sabetan di pinggangmu dan luka di lengan James butuh jahitan sebelum kalian pingsan karena infeksi! Turun ke ruang bawah sekarang, aku akan mengobati kalian di sana!"
Carlos menatap kekasihnya itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah..."
James dan Carlos melangkah keluar dari ruangan medis, berjalan menuju ke lantai bawah. Isabela membereskan sisa peralatan bedahnya, lalu melangkah mendekati Kayna yang masih berdiri kaku bagaikan patung di sudut ruangan.
Dokter wanita itu menatap gaun Kayna yang bersimbah darah, lalu tatapannya naik mengunci sepasang mata Kayna yang diliputi kebingungan dan kecemasan mendalam.
"Kau... Nona Kayna Ramida, bukan?" tanya Isabela dengan suara rendah yang misterius.
Kayna mengangguk pelan, tenggorokannya terasa begitu kering. "I-iya... Apakah dia benar-benar akan baik-baik saja?"
Isabela tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sulit diartikan. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kayna, berbisik pelan namun setiap katanya menghantam kesadaran Kayna bagaikan petir di siang bolong.
"Mara mempertaruhkan nyawanya dan membiarkan tubuhnya ditembus dua timah panas hanya untuk memastikan kau tidak jatuh ke tangan Martin," bisik Isabela. "Tapi ketahuilah, Nona... obat yang selama ini diberikan Mara padamu di tempat tidur bukanlah vitamin biasa... melainkan dosis penenang untuk menekan ingatanmu. Jika kau benar-benar ingin tahu siapa iblis di atas tempat tidur itu, tanyakan pada dirimu sendiri... mengapa kau begitu membencinya sebelum kecelakaan itu terjadi?"
Tubuh Kayna membeku seketika, jantungnya seolah berhenti berdetak!
Sebelum Kayna sempat melayangkan pertanyaan, Isabela sudah berbalik dan melangkah keluar ruangan, menutup pintu rapat-rapat dan meninggalkan Kayna sendirian di dalam ruang medis bersama tubuh Mara yang tak sadarkan diri.
...●Bersambung●...