Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026: Kunci Utama
Lima hari setelah Serena Suwandi datang ke Sayap Giok, Darren memanggil semua orang penting di compound ke ruang kerja Penthouse Utama.
Keira datang dengan perasaan tidak enak.
Bukan karena Serena.
Atau mungkin justru karena Serena.
Perempuan itu terlalu manis sejak hari pertama. Ia datang membawa kue dari toko kecil di Jakarta Barat, berkata dulu pernah mendengar nama Keira dari lingkaran sosial lama, lalu menertawakan dirinya sendiri karena "terlalu nekat datang tanpa janji". Ia memanggil Keira dengan "Cici Keira" sejak percakapan kedua, seolah jarak di antara mereka sudah disepakati oleh dunia.
Keira belum percaya sepenuhnya.
Tetapi ia juga belum punya alasan untuk menolak.
Pagi itu, Serena berdiri di belakang Ratna, tersenyum hangat seperti tamu yang tahu posisinya. Ningsih tampak masih canggung dengan kehadiran orang baru. Andi, asisten muda yang biasa mengurus keperluan administrasi compound, berdiri di dekat pintu dengan tablet di tangan.
Mama Lian duduk di sofa utama.
Wajahnya tenang, tetapi mata itu langsung membuat punggung Keira tegak.
Darren berdiri di dekat meja kerja.
Di atas meja ada sebuah kotak kayu tua dan sebuah tablet khusus dengan lambang Hendrawan.
Pak Ji membuka kotak itu.
Di dalamnya ada kunci tembaga tua.
Warnanya tidak mengilap. Gagangnya berat, ukirannya halus, dan di bagian ujungnya terdapat lambang kecil keluarga Hendrawan yang sudah aus oleh waktu.
Keira menatapnya.
Ia tidak tahu mengapa sebuah kunci bisa membuat ruangan terasa seperti sidang keluarga.
Darren berkata, "Mulai hari ini, Kunci Utama compound diserahkan pada Keira."
Tidak ada yang berbicara.
Keira menoleh padanya. "Apa?"
Pak Ji menunduk, tetapi wajahnya jelas sudah tahu.
Darren melanjutkan, "Kunci ini simbol. Akses sebenarnya ada di sistem. Semua izin masuk area compound, anggaran rumah tangga, jadwal staf, pembelian, pemeliharaan, dan persetujuan pergantian personel akan berada di bawah otoritas Keira."
Keira merasa dunia diam sejenak.
Ia pernah diberi kamar.
Diberi pakaian.
Diberi cincin.
Diperkenalkan ke orang-orang penting.
Tetapi ini berbeda.
Ini bukan hadiah.
Ini kekuasaan.
Mama Lian meletakkan cangkir tehnya.
Suara kecil porselen menyentuh tatakan terdengar sangat jelas.
"Darren."
Darren menatap ibunya. "Ma."
"Dia bukan keluarga Hendrawan." Suara Mama Lian tidak tinggi, tetapi setiap kata punya berat. "Dia bahkan belum menikah denganmu."
Keira menggenggam ujung lengan bajunya.
Kalimat itu tidak baru.
Namun setiap kali kata bukan keluarga diucapkan di rumah ini, rasanya seperti seseorang menunjuk pintu keluar tanpa mengangkat tangan.
Darren tidak berubah ekspresi.
"Mama, ini keputusanku."
"Keputusan sebesar ini bukan hanya soal perasaan."
"Aku tahu."
"Kunci Utama bukan mainan untuk menyenangkan perempuan."
Udara ruangan menegang.
Ningsih menunduk. Andi nyaris menjatuhkan stylus. Serena tetap tersenyum, tetapi senyum itu lebih tipis.
Darren berkata pelan, "Justru karena bukan mainan, aku menyerahkannya pada orang yang kupilih."
Mama Lian menatapnya lama.
Untuk sesaat, Keira melihat sesuatu yang rumit di wajah perempuan itu. Kemarahan, tentu saja. Ketidaksetujuan. Tetapi juga bayangan lelah yang sulit dijelaskan, seolah ia melihat suaminya yang sudah mati berdiri kembali melalui wajah putranya.
"Dan Mama tahu," lanjut Darren, "keputusanku tidak bisa diubah."
Mama Lian tidak menjawab.
Diamnya bukan persetujuan.
Tetapi juga bukan penolakan lagi.
Darren mengambil kunci tembaga itu dan meletakkannya di telapak tangan Keira.
Berat.
Jauh lebih berat daripada bentuknya.
Lalu ia menyerahkan tablet khusus.
"Pak Ji akan jelaskan sistemnya. Ratna dan Andi mendukung operasional harian. Keputusan akhir ada padamu."
Keira menatap kunci di tangannya.
Bagian dirinya yang dulu menghitung harga baju dan tas langsung mencoba menghitung nilai benda itu.
Tidak bisa.
Kunci ini bukan sekadar mahal.
Kunci ini bisa membuka pintu, memindahkan orang, menghentikan uang, mengubah nasib staf yang dulu mungkin bahkan tidak akan menatap wajahnya.
Ia menarik napas pelan.
"Baik."
Satu kata itu membuat beberapa orang di ruangan mengangkat mata.
Keira menggenggam Kunci Utama.
"Kalau begitu, saya mulai hari ini."
Dan ia benar-benar mulai hari itu.
Menjelang siang, Keira sudah duduk di ruang administrasi kecil dekat Sayap Giok dengan tablet di depannya. Andi berdiri di sisi kanan, membuka daftar staf. Ratna menyiapkan akses sistem. Ningsih membawa teh tetapi terlalu gugup untuk duduk.
Serena datang membawa buku catatan.
"Cici Keira, aku dulu pernah bantu mengurus rumah tangga om-ku," katanya lembut. "Kalau Cici tidak keberatan, aku bisa bantu mencatat."
Keira menatapnya sebentar.
Nama Serena masih menyisakan rasa tidak nyaman di belakang kepalanya. Tetapi wajah di depannya begitu terbuka, begitu siap membantu, sehingga kecurigaan tanpa bukti terasa seperti kebiasaan buruk.
"Boleh," kata Keira. "Tapi semua catatan tetap lewat Ratna."
Serena tersenyum. "Tentu."
Pekerjaan pertama: daftar staf.
Keira menemukan tiga orang dengan jadwal tumpang tindih yang tidak masuk akal. Dua petugas kebun yang selalu lembur di hari yang sama tetapi hasil kerjanya tidak pernah terlihat. Satu bagian pembelian yang menandatangani nota tanpa lampiran foto barang.
"Ini siapa yang menyetujui?" tanya Keira.
Andi melihat tablet. "Sebelumnya bagian rumah tangga lama, Mbak. Biasanya tidak diperiksa sampai detail."
"Mulai sekarang diperiksa."
Ratna mengangguk dan langsung mencatat.
Pekerjaan kedua: pembelian bahan makanan.
Keira menunjuk angka di layar. "Kenapa harga telur bisa naik setiap minggu? Ayamnya sekolah di luar negeri?"
Andi tersedak kecil.
Ningsih menutup mulut.
Serena tertawa manis. "Cici lucu sekali."
Keira tidak ikut tertawa lama.
"Panggil vendor. Minta daftar harga pasar. Kalau tidak bisa jelaskan selisih, ganti."
Ratna menatapnya dengan rasa hormat baru.
Keira tahu cara membaca kecurangan kecil.
Ia pernah hidup di tempat orang menghitung beras per genggam. Ia tahu kalau angka dibuat gemuk. Ia tahu kalau orang menyembunyikan malas di balik kata prosedur.
Sore hari, ruangan kecil itu sudah penuh catatan.
Serena benar-benar membantu. Ia rapi, cepat menangkap instruksi, dan tidak sok mengambil alih. Ia tahu kapan harus menyarankan dan kapan harus diam. Keira membenci bahwa itu membuatnya merasa nyaman.
"Cici Keira cepat sekali belajar," kata Serena sambil menyerahkan map.
"Aku bukan belajar. Aku cuma curiga pada semua hal."
"Itu juga kemampuan."
Keira meliriknya.
Serena tersenyum seperti tidak menyimpan pisau di mana pun.
Menjelang petang, semua orang akhirnya bubar. Ningsih memaksa Keira makan. Ratna mengantar Serena keluar. Andi tinggal sebentar untuk membantu membuka laporan keuangan tiga bulan terakhir.
Keira hampir menutup tablet ketika satu baris transaksi menarik matanya.
Pemeliharaan fasilitas luar.
Jumlah: sekitar dua puluh juta rupiah.
Bulan ini.
Bulan lalu.
Bulan sebelumnya.
Penerima: nama perusahaan kecil yang tidak ia kenal.
Keira duduk lebih tegak.
"Andi."
"Ya, Mbak?"
"Compound punya fasilitas luar?"
Andi mengerutkan kening. "Setahu saya tidak. Kalau ada, biasanya masuk di daftar properti utama atau aset Hendrawan Tower."
Keira membuka detail transaksi.
Deskripsinya terlalu bersih.
Terlalu umum.
Terlalu sengaja terlihat membosankan.
Ia merasakan sesuatu yang familiar, seperti mencium asap sebelum melihat api.
"Cetak tiga bulan terakhir. Jangan kirim ke siapa pun dulu."
Andi langsung mengangguk. "Baik, Mbak."
Keira menatap baris itu lebih lama.
Hari ini ia menerima kunci rumah.
Dan rumah itu, rupanya, sudah lama punya pintu yang diam-diam terbuka ke luar.