Tiga tahun menyimpan rasa dalam diam bukan hal yang mudah.apalagi kalau orang yang kamu cintai tidak pernah benar-benar melihatmu.
"gue Syakila adzkia putri.hanya ingin satu hal,yaitu bisa bersama kakak kelas yang selalu jadi alasan gue buat datang kesekolah setiap pagi".
Namun,takdir justru mempertemukan dia dengan seorang badboy yang penuh rahasia,namanya Galen athar wijaya.hingga terjadi suatu insiden yang membuat mereka harus menjalin kesepakatan yang dapat menguntungkan satu sama lain.
"Mari kita buat kesepakatan di mana lo harus tutup mulut soal kejadian barusan.dan gue bakal atur lo sama zayyan".
"Lo beneran?tapi sampai kapan?"
"Ya...sampai lo jadian sama dia.setelah itu kesepakatan kita selesai!"ucapnya serius.
"Deal..?"ucapnya mengulurkan tangan.
syakila meraih tangan itu dan kesepakatan pun di mulai.
setelah lama berlalu syakila berhasil dekat dengan zayyan bahkan lebih dari sekedar teman.namun perhatian itu...
kalau penasaran ikutin terus ya kelanjutannya.bye🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat tapi gak di dengar
________
Sore hari menyelimuti langit dengan semburat jingga yang hangat.di depan sebuah rumah yang masih tertutup rapat,seorang gadis berdiri diam sambil menggenggam erat tali ransel di bahunya.
Tatapannya terpaku pada daun pintu di hadapannya.beberapa kali ia menarik napas panjang,seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengetuk.
Angin sore berembus pelan,menerbangkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi wajahnya.
Meski ragu,akhirnya jemarinya terangkat perlahan.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu perlahan terbuka,menampakkan sosok gadis yang menggunakan celemek di tubuhnya,muncul dari balik pintu.
Pandangan gadis itu langsung menyapu lea dari ujung kepala hingga ujung kaki.lalu berhenti pada ransel yang dibawanya.
Belum sempat Syakila bertanya,lea lebih dulu membuka suara."Boleh gue masuk dulu?"syakila mengangguk membukakan pintunya lebar.
Keduanya berjalan menuju ruang tamu.setelah duduk di sofa,syakila akhirnya tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Lo kenapa,lea?lo ada masalah sama keluarga?soalnya dari tadi di sekolah gue lihat lo murung terus."
"Penampilan lo juga berubah.ada apa,sih?"lea hanya diam,tatapannya tertuju pada lantai..elihat itu,syakila duduk sedikit lebih dekat.
"Sejak pulang dari pasar malam itu lo—kelihatan berbeda."
"Sebenarnya kenapa?kalau lo butuh teman cerita—"syakila tersenyum lembut."Gue siap dengerin."
Lea menghembuskan napas panjang.beberapa detik ia terdiam.lalu akhirnya berkata lirih,"Gue—ditolak."
Syakila mengernyit."Hah?lo ditolak?!"
Suara lea terdengar jauh lebih pelan dari sebelumnya."Dia nolak gue sya."
Ruangan seketika hening.lea menundukkan kepalanya."Makanya gue ke sini.gue nggak mau pulang.orang tua gue lagi ke luar kota dan gue juga nggak sanggup lihat wajah dia sekarang."ia tersenyum tipis.
Senyum yang justru terlihat menyakitkan."Jadi....boleh kan,gue nenangin diri di sini beberapa hari?"
Syakila menatap lea cukup lama lalu meraih pelan tangan Lea."Its okay,lea.lo nggak perlu sungkan."
"Kita udah kayak saudara.rumah gue juga rumah lo,mau datang kapan aja juga boleh."
"Kalau di sini bikin hati lo lebih tenang.tinggal aja selama yang lo butuh."mata lea perlahan memanas,ia mengangguk kecil."Makasih."
Syakila tersenyum hangat lalu menggenggam tangan lea,menuntunnya ke kamar miliknya.lea mengikuti langkah syakila menuju lantai atas.
Malam mulai menyelimuti kota.suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumah.
"Kayaknya Mama sama Papa pulang."syakila yang sedang duduk bersama lea menoleh ke arah pintu.
Tak lama kemudian,pintu rumah terbuka.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Lea yang sejak tadi duduk di ruang tamu langsung berdiri.ia menghampiri kedua orang tua syakila,lalu menyalami mereka dengan sopan.
"Selamat malam,kak."ibu syakila tersenyum hangat."Lho,lea?kamu di sini?"belum sempat syakila menjelaskan,lea lebih dulu menjawab.
"Iya,kak.boleh kan numpang nginep satu malam?"ibu syakila langsung mengangguk tanpa ragu."Tentu boleh.anggap aja rumah sendiri."
"Makasih banyak,Tante."ucap lea,sedangkan syakila hanya bisa menghela napas panjang mamanya ini sangat suka di panggil kakak,padahal udah tua,udah beranak dua masih ada kayak anak muda.
Sedari tadi ada sepasang mata kecil yang sejak tadi terus menatap lea yaitu adik syakila.bocah itu berdiri sambil memegang ujung baju ibunya.
Diam.
Ia tak berkata apa-apa.hanya menatap lea dengan ekspresi dingin.
Tak lama kemudian...
Lea ikut membantu Ibu syakila memasak di dapur.sesekali terdengar suara tawa dari dalam sana.entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Yang jelas suasananya terdengar hangat.sementara di ruang tengah...
Syakila sedang menemani adiknya bermain.bocah itu tiba-tiba menaiki punggung syakila."GO!"
"Cepat jalan."titahnya seolah menjadikan kakak nya itu seekor kuda.
"Eh!turun!"syakila meringis sambil berusaha melepaskan bocah itu yang kini memukul punggungnya.
Bukannya turun,bocah nakal itu malah tertawa makin keras.lea yang baru keluar dari dapur melihat pemandangan itu.
Ia tak tega melihat temannya itu sangat memprihatinkan."Mau main sama kak lea?"tanyanya mengandung makna tersembunyi.
Begitu mendengar suara deep lea membuat bocah itu membeku.bocah itu langsung menghentikan aksinya.ia turun dari punggung syakila.
Lalu berjalan mundur beberapa langkah menjauhi kedua gadis itu."Kakak pembohong."lea mengernyit membuat bocah itu menunduk lalu melanjutkan ucapannya.
"Kakak bilang mau beliin aku makanan."ucapnya pelan,lea terdiam.
Beberapa detik kemudian.
"Oalah..."ia baru teringat,janji yang ia ucapkan sebelum pergi ke pasar malam.
Lea langsung tertawa kecil."Iya,ya.lupa."ia mengacak rambut bocah itu gemas.
Bukannya senang,bocah itu malah memberontak.
"Ihhh!jangan sentuh rambut isana."lalu berlari sambil menangis kecil menuju ibunya.
"Mama~kak lea jahat!"lea hanya bisa menggaruk tengkuknya sendiri.
Saat makan malam...
Ibu syakila menyendokkan sayur ke piring si bocah kecil."Ayo dimakan."
Bocah itu langsung menggeleng."Nggak mau."
"Makan isyana."ucap syakila.
"Nggak mau."kekeuh menatap syakila kesal.perdebatan kecil itu berlangsung beberapa saat.tapi ketika tanpa sengaja matanya bertemu dengan tatapan lea...
Ia langsung diam.pelan-pelan mengambil sendok lalu mulai memakan sayurnya.
Lea mengangguk puas."Nah,gitu dong."
Ibu Syakila tersenyum geli."Lumayan juga,anak ini ternyata nurut sama lea."
Larut malam.
Lea dan syakila kini duduk berdampingan di balkon lantai dua.angin malam berembus pelan,langit dipenuhi bintang.tapi sedari belum ada yang membuka suara.
Hingga akhirnya syakila memecah keheningan."Lea."
"Hm?"
"Sekarang lo boleh cerita.di sini udah nggak ada siapa-siapa."
"Tadi juga lo belum sempat cerita gara-gara langsung bantu beres-beres rumah."lea terdiam,ia menarik napas panjang.
"Laki-laki yang gue suka dari kecil itu zaendra."syakila mendengarkan dengan saksama.
"Dari kecil dia selalu ngajak gue main.selalu jagain gue.padahal dia sendiri udah dipaksa jadi orang dewasa sejak kecil.harus jadi kakak yang baik.harus ngalah,harus ngerti keadaan."
Lea tersenyum tipis mengenang masa lalu.
"Dulu—mama gue juga nggak terlalu suka sama dia.terus pernah ada kejadian..."ucapan lea perlahan terhenti,ia menoleh ke samping.
Syakila sudah tertidur,dengan kepalanya bersandar di bahu lea dengan napas yang teratur.
Lea hanya bisa menggeleng pelan."Percuma juga tadi gue ngomong panjang lebar,pasti nggak ada yang masuk."ia terkekeh pelan.
"Hobi banget tidur kaya kebo."dengan hati-hati lea merangkul bahu syakila lalu menyeret langkah pelan menuju kamar.
Sesampainya di dalam,ia membaringkan syakila di atas kasur.menyelimuti tubuh gadis itu hingga sebatas dada."Selamat tidur."lea mematikan lampu kamar.tapi ia sendiri belum mengantuk.
Ia kembali melangkah ke balkon.tatapannya kembali naik ke langit yang dipenuhi bintang.
Sebuah senyum tipis terukir.
"Dulu..."gumamnya lirih.
"Gue pernah ngelakuin hal paling nekat seumur hidup.dan gara-gara itu,kakak yang malah kena pukul mama."menangan itu kembali datang,ia menutup matanya lalu menghirup udara malam yang menyelimuti kota.
Bersambung~