"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Sesi kedua dimulai satu jam setelah presentasi Naira.
Kali ini ruangannya lebih besar.
Panitia awalnya menyiapkan forum kecil untuk membahas pendanaan riset penyakit langka, tetapi setelah nama Naira dan Sari meledak di media internal kongres, ruangan itu tidak cukup. Dokter, peneliti, perwakilan rumah sakit, media, sponsor, bahkan beberapa orang bisnis kesehatan ikut masuk.
Judul sesi di layar tampak sederhana.
Pendanaan Riset, Akses Pasien, dan Tanggung Jawab Publik.
Namun semua orang tahu pertanyaan yang beredar di luar ruangan.
Siapa yang membiayai Naira?
Atmadja?
Raka Wiratama?
Dimas Mahendra yang ingin kembali?
Atau sponsor lain yang belum muncul?
Naira duduk di kursi panel bersama Prof. Hadi, perwakilan BPOM, seorang dokter etik klinis, dan direktur yayasan rumah sakit daerah. Di baris depan, Raka duduk untuk pertama kali. Bukan karena ingin terlihat, tetapi karena Hanif memaksa setelah ancaman pagi itu meningkat.
Raka tampak tidak nyaman berada di kursi tamu.
Naira tidak peduli.
Pemandu acara membuka sesi dengan pertanyaan halus. "Dr. Naira, riset seperti ini memerlukan dana besar. Publik tentu ingin tahu bagaimana proyek ini akan menjaga independensi."
Naira mengambil mikrofon.
"Pertanyaan itu memang harus ditanyakan."
Beberapa orang tampak siap merekam.
"Pertama, proyek ini belum menjadi uji klinik baru. Kami sedang membuka ulang data lama, memverifikasi sampel, dan menyiapkan proposal etik. Semua tahapan berikutnya harus melalui komite etik, BPOM, dan lembaga terkait."
Perwakilan BPOM mengangguk.
"Kedua, pendanaan awal berasal dari Yayasan Anggraini, royalti paten yang sah, dan dana riset keluarga yang sudah diaudit. Laporan ringkas akan dipublikasikan setelah struktur program final."
Seorang wartawan mengangkat tangan. "Apakah ada dana dari Raka Wiratama?"
Ruangan langsung menoleh ke baris depan.
Raka menatap wartawan itu dengan ekspresi yang membuat orang tersebut sedikit menyesal.
Naira menjawab sebelum Raka bisa bicara. "Tidak untuk riset ini."
Wartawan itu mengejar. "Tapi Pak Raka terlihat mendampingi Anda beberapa kali."
"Pendampingan keamanan bukan pendanaan ilmiah."
"Apakah ada hubungan pribadi?"
Maya yang berdiri di sisi ruangan sudah bergerak, tetapi Naira mengangkat tangan.
"Hubungan pribadi saya tidak menentukan validitas data."
Beberapa orang tertawa pelan.
Raka menunduk, menyembunyikan senyum.
Pertanyaan berikutnya datang dari perwakilan rumah sakit swasta. "Apakah Mahendra Health Group masih terlibat mengingat produk mereka memakai paten terkait?"
Dimas duduk di baris sponsor dan langsung menegang.
Naira menoleh sedikit. "Tidak dalam pengambilan keputusan riset. Untuk pasien yang sedang menggunakan produk turunan lisensi lama, ada skema transisi agar terapi tidak terputus. Itu tanggung jawab medis, bukan kerja sama bisnis baru."
Dimas menunduk.
Jawaban itu adil.
Lebih adil daripada yang pantas ia terima.
Clara berdiri di belakang ruangan. Ia tahu kamera kecil dari orang Cakradinata merekam semua. Ia menunggu celah, tetapi Naira menutup satu per satu dengan data dan prosedur.
Lalu seorang pria dari media bisnis mengangkat tangan.
"Dr. Naira, banyak pihak menilai langkah Anda menarik lisensi dari Mahendra Health Group terjadi bersamaan dengan proses perceraian. Bagaimana publik bisa yakin ini bukan tekanan pribadi?"
Ruangan kembali hening.
Dimas mengangkat wajah.
Naira menatap wartawan itu.
"Karena kontrak lisensi punya tanggal berakhir sebelum gugatan cerai masuk."
Maya menampilkan dokumen di layar cadangan. Tanggal kontrak, masa berlaku, klausul penghentian, semua terlihat jelas.
Naira melanjutkan, "Saya tidak menarik obat dari pasien. Saya menghentikan penggunaan komersial setelah lisensi berakhir. Kalau sebuah perusahaan tidak siap menghadapi akhir kontrak, itu masalah tata kelola, bukan drama rumah tangga."
Tepuk tangan terdengar dari bagian belakang. Kali ini tidak meriah, tetapi cukup tegas.
Dimas merasa wajahnya panas.
Namun ia tidak marah kepada Naira.
Ia marah karena ia tidak bisa membantah.
Pemandu acara mencoba mengalihkan. "Dr. Naira, apakah Yayasan Anggraini akan membuka akses untuk pasien kurang mampu?"
"Itu tujuan utama."
Slide baru muncul.
Program Akses Aruna.
Naira berhenti setengah detik ketika nama itu muncul. Ia memilih nama itu sebelum audio ibunya ditemukan, karena Aruna berarti cahaya pagi. Sekarang nama itu menjadi lebih berat.
"Program ini akan memberi subsidi pemeriksaan genetik awal untuk pasien anak dengan gejala vaskular langka di daerah yang selama ini tidak terjangkau. Kami mulai dari audit data, bukan langsung obat. Banyak pasien miskin tidak butuh janji besar. Mereka butuh diagnosis yang benar."
Direktur yayasan daerah mengangguk kuat.
"Kami juga akan bekerja sama dengan rumah sakit daerah, bukan mengambil alih. Semua data pasien tetap mengikuti persetujuan dan perlindungan privasi."
Perwakilan BPOM berkata, "Ini penting. Tidak ada program belas kasih yang boleh melompati hak pasien."
Naira mengangguk. "Itu pelajaran terbesar dari kasus ibu saya."
Di baris depan, Raka menatapnya.
Ia pernah melihat banyak orang kaya membuat yayasan untuk mencuci nama. Naira tidak berbicara seperti itu. Ia berbicara seperti seseorang yang pernah melihat pasien menjadi angka dan membencinya.
Hanif berbisik, "Pak, media mulai menulis Anda bukan pendana."
"Bagus."
"Biasanya Bapak tidak suka tidak disebut."
Raka meliriknya.
Hanif langsung menatap lurus.
Raka kembali melihat Naira. "Kali ini aku suka."
Sesi berakhir dengan lebih banyak pertanyaan, tetapi tidak ada yang berhasil menggiring Naira ke narasi perempuan yang hidup dari pria. Ia menjawab tentang audit, kontrak, komite etik, dan pasien. Setiap kali seseorang mencoba membawa Dimas atau Raka, ia mengembalikan pembicaraan ke data.
Setelah turun panggung, Dimas mendekat.
Maya langsung bersiap, tetapi Naira memberi isyarat kecil agar menunggu.
"Terima kasih," kata Dimas.
"Untuk apa?"
"Karena tidak membuat perusahaan terlihat lebih buruk dari yang seharusnya."
"Aku tidak melindungi perusahaanmu. Aku melindungi pasien."
"Aku tahu."
Kali ini ia benar-benar terdengar tahu.
Clara melihat percakapan itu dari belakang pilar. Dadanya panas. Dimas tidak meminta Naira kembali di depan umum, tetapi caranya menatap perempuan itu lebih buruk.
Ia menatap Naira seperti orang yang akhirnya melihat nilai sesuatu setelah menghancurkannya.
Raka berjalan mendekat dari sisi lain.
Dimas melihatnya dan mundur setengah langkah. Bukan takut. Lebih karena sadar Naira tidak membutuhkan dirinya untuk berdiri di sana.
Raka berkata kepada Naira, "Mobil sudah siap."
"Aku masih ada rapat dengan Prof. Hadi."
"Aku tunggu."
"Kamu tidak punya kerja?"
"Punya. Menunggu kamu selesai hari ini."
Naira menatapnya tajam.
Raka menambahkan cepat, "Dari jarak yang tidak mengganggu."
Dimas melihat itu, lalu tersenyum pahit.
Raka Wiratama, pria yang ditakuti banyak orang, belajar memilih kata di depan Naira.
Dimas dulu bahkan tidak belajar mendengar.
Di luar ballroom, seseorang menyelipkan amplop cokelat ke tangan Clara. Isinya foto lama Sari di Aruna Timur dan narasi singkat yang sudah disiapkan.
Clara membaca kalimat pertama.
Dr. Sari bukan korban. Dia memulai uji ilegal itu.
Clara menelan ludah.
Lalu ia melihat Naira yang dikelilingi dokter, Raka, dan Dimas yang masih belum bisa pergi.
Ia memasukkan amplop itu ke tas.
Malam ini, opini publik belum selesai dibentuk.
Sebelum meninggalkan ruang kongres, Naira menerima pesan dari Surya.
Papa menonton potongan sesimu. Bagus.
Naira mengetik balasan.
Itu saja?
Surya:
Kalau Papa menulis terlalu panjang, kamu bilang dramatis.
Naira tersenyum kecil.
Pesan berikutnya masuk.
Tapi Sari pasti bangga.
Senyum itu hilang pelan, berganti rasa hangat yang lebih sulit ditahan.
Ia menyimpan ponsel.
Dari kejauhan, Dimas melihat perubahan kecil di wajahnya. Dulu ia selalu mengira Naira tidak punya banyak ekspresi. Sekarang ia sadar, ia hanya tidak pernah memperhatikan dengan cukup sabar.
Raka memperhatikan juga.
Bedanya, Raka tidak mencoba menebak untuk memiliki.
Ia hanya memastikan tidak ada orang mendekat saat Naira sedang membaca pesan dari keluarganya.
Di sudut ballroom, Clara melihat kedua pria itu melihat perempuan yang sama.
Dimas dengan penyesalan.
Raka dengan kendali yang dipelajari.
Dan Naira, tanpa menoleh kepada keduanya, tetap berdiri di pusat hidupnya sendiri.
Hal itu yang paling tidak bisa Clara terima.
Karena pusat itu dulu selalu ingin ia rebut.
Ia tidak sadar, semakin keras ia berusaha merebutnya, semakin jelas semua orang melihat tangannya kosong.
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.