Umumnya hari pertama masuk sekolah itu mendebarkan di barengi dengan rasa antusias.
Namun hal itu tidak berlaku kepada Hani. Hari pertama sekolahnya mengenaskan. Bagaimana tidak, baru saja melangkahkan kaki ke depan sekolah, dia sudah berpapasan dengan mayat yang di angkut oleh petugas otopsi.
Tidak sampai di situ, Hani pun juga ketempelan arwah Nana korban pembunuhan. Hani yang baru mendapatkan kemampuan sixth sense pun menjadi sasaran empuk Nana sebagai perantara pengungkap pembunuh kasus ini.
Parahnya arwah Nana mengancam Hani dengan kematian, jika Hani tidak membantunya.
Bagaimana cara Hani menuntaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eiiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25 Sehari bersama Jaelani
Hani kembali melangkahkan kakinya. Dia menunduk lemas. Sampai di bangkunya dia segera duduk dan memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya.
“Han.” Panggil Jaelani.
Hani tidak menjawab, dia hanya menatap Jaelani dengan sendu. Dia menunggu Jaelani berbicara tapi tak kunjung berbicara.
“Kenapa Jae?” Ucap Hani lirih
Hati Jaelani seakan teriris melihat Hani yang sayu itu di tambah lagi mendengar suara Hani yang lirih bahkan terdengar seperti berbisik.
“Aaa. Maaf ya Han.”
“Hmm?”
“Tadi gara- gara aku tadi panggil kamu pas masuk sekolah. Beberapa anak jadi tahu namamu.”
Hani tersenyum miring.
“Gak perlu minta maaf. Semua orang bakal tau cepat atau lambat. Gosip di sekolah ini kan cepet banget menyebarnya” Tanggap Hani dengan nada sinis.
“Hmmm.”
“Maaf juga ya tadi bilang....”
“Gak usah. Memang gitu kenyataanya.”
“O-Oke Han.”
Jaelani tidak berani berbicara lagi. Dia tau bahwa Hani sekarang sedang di masa sulit dimana dia di jauhi di sekolah ini.
Karena tulisan di kamar mandi tadi, sekarang Hani mengedarkan pandang, mencari dimana sosok Della berada. Tapi tidak kunjung ketemu.
Kring...
Suara bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Tidak lama kemudian pak Tony datang.
“Pagi anak – anak.”
“Pagi pak.” Jawab siswa siswi itu malas.
“Eiiyy... Saya tau kalian itu capek habis olahraga. Tapi yang semangat dong. Ini masih pagi anak – anak.”
“Iya pak.” Jawab mereka malas lagi.
“APA?” Ucap pak Tony lebih keras.
“Iya pak.” Jawab mereka tidak kalah keras.
“Nah gitu. Oh iya yang tidak masuk hari ini Della ya?” Tanya pak Tony.
“Della gak masuk? Oh iya baru sadar aku. Kenapa ya dia gak masuk?.” Pikir Hani.
“Keluarkan laptop kalian dan sambungkan ke wifi sekolah. Kita belajar melalui link yang saya bagikan di edmodo.” Ucap pak Tony.
Hani menghela napas panjang. Untuk sekarang dia akan lebih fokus belajar selama di sekolah, meski sekarang di sangat sulit mencerna pelajaran karena ucapan teman – temannya yang membuat dia merasa down.
Kring... Kring... Kring...
Bel pulang sekolah berbunyi. Entah kenapa hari ini tidak terdengar sorak gembira seperti biasanya. Mereka hanya diam dan mengemasi bukunya.
“Han... Rumah mu mana?”
“Kenapa mau antar aku pulang?” Tanya Hani dengan sedikit senyuman di ujung bibirnya.
“Ayuk!!!” Seru Jaelani.
“Hah!”
“Gak usah.” Ucap Hani cuek.
Hani pergi meninggalkan Jaelani di kelas. Jaelani bergegas ke tempat parkir dan berharap bisa menyusul Hani sebelum dia pulang.
Benar saja, Hani masih di depan sekolah sambil memegang ponselnya.
“Hani!!!” Seru Jaelani.
Dia menghampiri Hani.
“Iya.”
“Ayo!!! Katanya mau pulang sama aku? Yuk.” Ajak Jaelani.
“Belum di jemput kan?” Lanjutnya.
“Aku sudah pesan taksi online Jae.”
“Yah!!! Kapan – kapan kita pulang bareng ya.”
“Emang rumah mu mana?” Tanya Hani.
“Perumahan Zefla indah.”
“Eh? Perumahannya sama?” Pikir Hani.
“Ya sudah aku duluan ya?.”
Jaelani pergi meninggalkan Hani mengayuh sepedanya.
“Dia naik sepeda ke sekolah?”
Tling Tling!!!
[Mbak sudah sampai, mobil hitam plat B 6678 HU] pesan dari aplikasi.
“Ah itu dia.”
Hani menyabrang di zebra cross sekolah. Dia menyabrang menggunakan rambu khusus dari sekolah. Tetapi entah kenapa saat Hani menekan tombol untuk menyabrang. Tidak ada satu pun siswa siswi yang berada di samping Hani.
Saat Hani menyabrang pun, tidak ada yang ikut bersamanya. Dia berjalan sendiri sampai ke sabrang.
“Hmmm siswa dikutuk. Hah lucu” Gumamnya.
...****************...
Sampai di rumah....
“Hah!” Hani menghembuskan napas berat.
“Pengen tiduran bentara aja.” Keluh Hani.
Kemudian Hani menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya. Dia memejamkan mata sebentar.
Plak plak plak
Hani menampar pipinya sendiri.
“Bangun Han. Gak ada waktu untuk santai.” Ucap Hani.
Dia bergegas ke kamarnya dan mengemas keperluannya. Beberapa menit berlalu, dia hanya memasukkan buku yang ada tugasnya. Kemudian bergegas ganti baju dan turun.
Di depan pos satpam.
“Pak Herdi...” Teriak Hani.
“Iya mbak?”
“Bajunya pak Rian mana pak? Ayo pak cepet ayo pak hehehe.” Ucap Hani becanda.
“Iya sebentar.”
Pak Herdi mengambil tas baju pak Rian dan memberikan ke Hani.
“Duluan ya pak.”
Hani bergegas keluar dari rumah nya. Baru saja menutup gerbang.
“Hani!” Teriak Jaelani.
Jaelani mengayuh sepedanya semakin cepat dari kejauhan.
“Jaelani?”
“Ooo... disini rumahmu.” Ucap Jaelani sedikit terenggah – enggah.
“Iya.”
“Mau kemana?”
“Rumah sakit.”
“Ah... iku dong! Mau jenguk orang tua kamu lagi. Kali aja aku bisa menghibur kan aku lucu.” Ucap Jaelani cengegesan.
“Gak perlu.”
“Bentar ya! Kasih aku waktu lima menit, eh gak sepuluh menit, eh gak lima belas. Tunggu ya.”
Jaelani langsung mengayuh sepedanya tergesa gesa. Hani mengamatinya sampai tas punggung Jaelani terlihat sangat kecil dan menghilang di pertigaan.
“Oh dia lewat blok G.” Gumam Hani.
“Tadi siapa mbak?” Tanya pak Herdi yang masih di belakang Hani.
“E-eh pak, Kaget aku. Sejak kapan pak di situ?”
“Dari tadi mbak.”
“Masak si pak? Kok aku gak berasa ya?”
“Biasanya aku peka banget kalau ada orang yang sedang ada di belakangnku. Ini tadi aku kok gak berasa apa – apa ya?” Pikir Hani.
“Mbak... mbak... mbak Hani... Hallo?”
“Iya pak?”
“Kok belum berangkat?”
“Bentar pak, tunggu temanku tadi. Katanya mau balik lima belas menit lagi. Jadi yah di tunggu aja dulu.”
Pak Herdi mengangguk paham dan masih berdiri di belakang Hani sambil heran. Kenapa Hani sikapnya seperti itu dengan temannya? Padahal setau dia Hani adalah anak yang ceria. Apa teman sekolahnya itu nakal – nakal? Entahlah. Mungkin juga Hani memasuki masa puber dimana dia sok jual mahal saat di dekati anak laki – laki.
Lima belas menit berlalu. Jaelani belum muncul juga. Akhirnya Hani memesan taksi online. Dia mengeluarkan handphonenya dan memesan taksi online. Tidak butuh waktu lama, taksi online yang di pesan Hani datang.
“Aku berangkat ya pak.” Ucap Hani ke pak Herdi.
“Siap mbak. Hati – hati di jalan.”
Mobil yang di tumpangi Hani melaju dengan kecepatan sedang. Pak Herdi masih melihat hingga mobil cukup jauh terlebih dahulu, lalu dia baru masuk.
Saat hendak melangkah menuju gerbang ada suara motor berhenti di depan rumah.
“Permisi pak.”
Pak Herdi menoleh.
“Iya?”
“Haninya sudah berangkat pak?” Tanya Jaelani.
“Ini kan anak yang naik sepeda tadi?” Pikir pak Herdi.
“Iya mas.”
“Waduh! Sudah lama pak?”
“Baru saja mas. Paling belum sampai keluar komplek”
“Mobilnya warna apa?”
“Hitam mas, mobil horse mas kayaknya tadi.”
“Terima kasih pak.”
Jaelani langsung menyusul Hani dengan tergesa gesa. Mengendari motornya dengan kencang. Hingga bertemu dengan mobil yang memiliki ciri – ciri sama yang di sebutkan pak satpam.
“Ah ketemu.”
Lima belas menit kemudian. Jaelani beusaha mengejar langkah Hani. Dia sempat kehilangan karena dia harus memparkirkan motornya. Jaelani bingung mengejar Hani, karena dia melewati lorong yang berbeda waktu awal Jaelani kesini.
“Kemana dia?” Gumam Jaelani.
“Hani!” Ucap Jaelani sedikit berteriak.
“Aduh!!!” Jaelani berlari kecil berusaha mengejar Hani.
Jaelani semakin dekat dengan Hani. Tangan kanannya menjulur kedepan menyentuh bahu Hani.
“Ah iya? Gawat.” Pikri Jaelani.
~ Terima kasih, sudah mampir baca~
thor, si hani mo sampe kapan di bikin ktakutan dan linglung ? ga maju2 cerita nya