Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Bus AKAP itu mulai meninggalkan gerbang Tora-tora, membawa Ghea menjauh dari kenangan indah yang pernah terukir oleh kami berdua, kenangan yang aku tahu takkan akan terlupakan olehku karena dia adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat duniaku terasa istimewa. Dan aku, Ghani, berada di baris ke-10, kursi 10C. Hanya berjarak enam baris dari punggungnya.
Mungkin jika aku bukanlah seorang agen, aku akan duduk tepat di sampingnya. Aku akan memegang tangannya saat dia merasa cemas, dan dia akan menyandarkan kepala di bahuku hingga tertidur. Sekarang? Aku hanyalah orang asing yang memakai masker dan topi, pria yang harus berpura-pura tidak mengenalnya, bahkan saat hatiku berteriak untuk mendekapnya erat.
Aku tahu betul bagaimana kebiasaan Ghea saat takut. Dia akan meremas kedua tangannya. Dan saat ini, di pantulan kaca jendela yang gelap, aku melihat itu. Dia melakukan hal yang sama. Aku tahu dia tak pernah naik bus, mungkin kali pertama dia naik kendaraan umum seperti ini. Dia tidak terbiasa bagaimana goncangan bus yang terasa sangat kasar mungkin bisa membuatnya mual. Wajahnya sedikit memucat.
melihatnya seperti itu ingin rasanya aku menariknya, membawanya turun dan kuantar dia menggunakan mobil yang hanya ada kami berdua. Tapi aku sadar, aku adalah monster bagi dia, juga untuk kehidupannya.
Hubungan kami berakhir tepat dua malam yang lalu. Aku sadar duniaku yang berbahaya tidak akan pernah bisa bersanding dengan dunianya yang tenang. Aku tidak ingin dia sadar bahwa pernah mengenal dan berhubungan denganku akan berdampak serius pada kehidupannya. Aku tak ingin menyeretnya dalam pusaran bahaya yang sudah lama menjadi teman dalam hidupku. Aku ingin dia hidup dalam kehidupan normal, biarpun itu menyakitiku. Tapi apa arti rasa sakit jika aku bisa melihatnya lebih lama daripada bersamaku hidupnya hanya untuk lari dari kejaran mereka yang pernah kuungkap kejahatannya. Hidupnya adalah nyawaku.
Saat bus berhenti di sebuah rest area di tengah malam, saat bus memasuki sebuah kota di pinggiran pulau Bali, aku melihat anak buah Marko turun dari mobil hitam yang membuntuti bus kami. Rodrigo, tangan kanan Marko yang terkenal kejam. Mataku menyipit. Dia tidak tahu aku ada di sini. Bagi mereka, Ghea sendirian. Yang mereka tahu Sam sudah mati di Rusia pekan kemarin. Ini adalah kesempatanku untuk memutus rantai pengejaran ini selamanya.
Aku turun dari bus, bergerak seperti predator di kegelapan. Aku tidak mencari Ghea. Aku mencari Rodrigo. Aku menemukannya di dekat deretan truk, sedang berdiri memegang ponsel, mungkin memberikan instruksi pada rekan-rekannya.
Aku tidak lagi peduli atas konsekuensi hukum yang akan ditimpakan padaku. Marko bukan sekadar ancaman, dia adalah kanker yang akan terus memburu Ghea selama dia masih bernapas. Walaupun sekarang dia mungkin sudah ada di penjara interpol, tapi anak buahnya menggurita di seluruh penjuru bumi. Jika aku membiarkannya hidup malam ini, Ghea tidak akan pernah benar-benar bebas. Dia akan selalu menoleh ke belakang, selalu ketakutan di setiap langkahnya.
Aku menemukannya di sudut gelap rest area, jauh dari keramaian penumpang bus. Dia sedang menyalakan rokok, tidak sadar bahwa ajalnya sedang berjalan mendekat di balik kegelapan.
"Rodrigo, menjauh dari wanita itu!"
Dia berbalik, matanya melebar saat melihatku. "Sam? Kamu belum mati? Jadi yang di Rusia itu mayat siapa?"
Aku tidak menjawab. Aku tahu dia hanya berpura-pura terkejut melihatku.
Aku menarik Rodrigo ke celah sempit di antara dua kontainer besar di ujung rest area yang gelap. Bau oli, debu, dan sisa hujan bercampur di udara. Tanpa memberi kesempatan padanya untuk menyeimbangkan diri, aku menghantamkan bahuku ke dadanya, mendorongnya hingga punggungnya menghantam dinding baja kontainer dengan dentuman keras.
Rodrigo tidak bodoh. Dia pria yang pernah berada di dunia yang kejam, dan dia tahu cara berkelahi. Dia membalas dengan ayunan siku ke arah pelipisku. Aku menunduk, hampir saja, dan merasakan desiran angin di atas kepalaku. Aku memutar tubuh, menangkap lengannya, lalu membantingnya ke tanah beton yang kasar.
"Sam! Kau gila! Dia hanya wanita!" teriak Rodrigo saat dia berusaha bangkit, matanya memerah karena amarah dan frustrasi.
Aku tidak menjawab. Aku tidak butuh argumen. Aku menendang ulu hatinya, membuatnya terbatuk hebat. Saat dia mencoba meraih pisau lipat di saku belakangnya, aku menginjak pergelangan tangannya sekuat tenaga hingga terdengar suara tulang berderit. Dia menjerit, tapi suaranya tertelan oleh kebisingan mesin truk yang lewat di kejauhan.
Aku mencengkeram kerah jaketnya, mengangkat tubuhnya yang lunglai, lalu menghantamkan kepalaku ke hidungnya. Darah segar muncrat ke kerah jaketku. Rodrigo oleng, dunianya mulai berputar. Dia mencoba melayangkan pukulan lemah ke perutku, tapi aku sudah mengantisipasinya. Aku menangkap pergelangan tangannya, memelintirnya ke belakang punggungnya hingga bahunya bergeser dari sendi.
Dia jatuh berlutut, terengah-engah, memohon dengan napas yang putus-putus. "Tolong... aku cuma.. Melaksanakan.. Tugas.."
Suaraku dingin, tanpa emosi, sebuah kontras tajam dengan detak jantungku yang berpacu liar. "Aku hanya butuh memastikan kau tidak punya hari esok."
Aku tidak membuang waktu. Dengan pisau yang kini sudah berada di tanganku, aku melakukan apa yang harus dilakukan. Tidak ada drama, tidak ada dialog panjang. Hanya satu tusukan presisi di titik vital yang kupelajari bertahun-tahun lalu. Rodrigo tertegun, matanya membelalak, cengkeramannya pada bajuku perlahan merenggang.
Dia tumbang ke tanah, tubuhnya gemetar sesaat sebelum akhirnya tenang sepenuhnya. Aku berdiri di sana selama beberapa detik, mengatur napas yang sempat tertahan. Tanganku sedikit bergetar saat aku menyeka darah dari pisau ke jaketnya sendiri.
Aku tidak merasa seperti pahlawan. Aku merasa seperti apa yang selalu kutakutkan, seorang pria yang bisa melakukan apa saja, bahkan hal yang paling keji, hanya untuk melindungi satu orang yang tersisa di hatinya. Aku merapikan pakaianku, membuang pisau itu jauh ke dalam semak-semak, dan berbalik pergi.
Di ujung sana, bus AKAP itu mulai menyalakan mesinnya. Aku harus kembali sebelum sopir menyadari ada satu penumpang yang hilang. Aku melangkah keluar dari kegelapan, kembali menjadi bayangan yang tidak terlihat, meninggalkan masa lalu dan nyawa yang baru saja kuhapus di antara tumpukan kontainer itu.
Aku mencuci tanganku di wastafel umum terminal, memastikan tidak ada noda yang tertinggal. Aku kembali ke dalam bus, naik ke kursi yang sama. Napasku teratur, meski jantungku berdegup kencang karena alasan yang berbeda sekarang.
Ghea masih di kursinya. Dia masih hidup. Dia tidak akan pernah tahu bahwa tepat di luar sana, seseorang telah membayar harga tertinggi agar dia bisa menghirup udara kebebasan di Yogyakarta. Agar dia bisa berjuang kembali meraih mimpi-mimpi yang pernah dia buat.
Saat bus mulai berjalan kembali, aku menatap punggungnya untuk yang terakhir kali. Dia tidak akan pernah tahu bahwa pria yang pernah dia cintai telah berubah menjadi monster hanya agar dia tetap menjadi malaikat.
Di Yogyakarta nanti, aku tidak akan turun di terminal yang sama dengannya. Aku akan turun di pinggiran kota, menghilang ke dalam kerumunan, menjadi hantu yang tidak punya tempat untuk pulang.
Selamat tinggal, Ghea, batinku saat bus mulai melaju kencang meninggalkan rest area. Jangan pernah mencari tahu apa yang terjadi malam ini. Teruslah berjalan, dan jangan pernah menoleh ke belakang lagi.
Terus berkarya ya Thor, sy trus ngikutin/Pray/
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/