menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18 : tanda Perubahan yang tak terduga
Setelah perjanjian itu terjalin dan semuanya terselesaikan, Elara menatap Xavier dengan pandangan yang masih terasa dingin, namun kini ada nada perhatian yang samar yang belum pernah ada sebelumnya. Ia bergerak sedikit di atas singgasananya, sementara Gargoyle yang ada di pangkuannya mengangkat kepala dan menatap ke arah sang Ratu, seolah mengerti apa yang akan ia katakan selanjutnya.
"Kau harus pergi sekarang," ucap Elara dengan suara yang tegas namun tidak lagi mengandung amarah atau ancaman seperti sebelumnya. "Ini bukan karena aku mengusirmu, tapi demi keselamatan dirimu sendiri."
Xavier tertegun sedikit, lalu menatapnya dengan tatapan bingung. "Demi keselamatanku? Apa maksudmu, Yang Mulia? Aku baik-baik saja, dan aku bersedia tinggal selama apa pun yang kau inginkan."
Elara menggeleng perlahan, rambut hitam panjangnya bergerak lembut mengikuti gerakannya.
"Seluruh wilayah tempat tinggalku ini, dari gerbang paling luar hingga ruangan tempat kita berdiri sekarang, telah diresapi oleh kekuatanku selama ribuan tahun lamanya. Kekuatan kematian ini telah menyatu dengan tanah, udara, air, dan segala sesuatu yang ada di sini. Selama kau berada di sini, kekuatan itu terus bekerja, meski kau tidak merasakannya. Bagi orang-orang yang terbiasa atau bagi makhluk yang terlahir di sini, hal ini tidak menjadi masalah. Tapi bagimu, yang memegang kekuatan kehidupan yang bertolak belakang sepenuhnya, keberadaanmu di sini dalam waktu yang lama akan membuat kekuatanmu sendiri terganggu, bahkan bisa merusak dirimu secara perlahan-lahan."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih lembut.
"Kau adalah orang pertama yang pernah datang ke sini dan bertahan selama ini. Aku tidak ingin apa pun terjadi padamu sebelum kau sempat membuktikan apa yang kau katakan. Pergilah sekarang. Kapan pun kau ingin datang kembali, jalan akan tetap terbuka untukmu. Tapi jangan terlalu lama berada di sini, sampai kau benar-benar terbiasa dengan keadaannya."
Kata-kata itu membuat hati Xavier terasa hangat. Ia menyadari bahwa meski Elara masih terlihat dingin dan berhati-hati, perhatian yang ia tunjukkan itu adalah bukti bahwa ia sudah mulai memedulikannya, sesuatu yang tidak pernah ia berikan kepada siapa pun selama ribuan tahun lamanya.
"Baiklah, Yang Mulia," jawab Xavier dengan senyum lembut. "Aku akan pergi sekarang. Tapi percayalah, aku akan kembali lagi. Dan setiap kali aku kembali, aku akan membawa sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa membuat hatimu semakin terbuka untukku."
Elara hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa, namun matanya yang tadinya gelap itu kini terlihat sedikit berkilau, seolah ada perasaan yang tersembunyi di baliknya.
Xavier membungkuk dalam-dalam sebagai tanda hormat, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu besar istana. Ia melangkah dengan langkah yang ringan dan penuh semangat, karena ia tahu bahwa apa yang ia harapkan kini sudah memiliki jalan yang jelas.
Setelah melewati para penjaga dan keluar dari halaman istana, Xavier terus berjalan menelusuri jalan yang sama yang ia lalui saat datang. Ia melewati hamparan bunga-bunga yang tetap tumbuh indah, melewati desa yang sunyi namun terawat rapi, hingga akhirnya ia tiba kembali di tepi danau yang luas, tempat jembatan yang menghubungkan ke istana berada.
Saat ia menginjakkan kaki di atas jembatan batu yang kokoh itu, sesuatu yang tidak terduga menarik perhatiannya.
Air danau yang selama ini berwarna hitam pekat dan gelap, kini telah berubah. Warnanya yang tadinya pekat seperti malam tanpa bintang, kini berubah menjadi biru muda yang jernih dan terang, seolah dipenuhi dengan cahaya bulan yang lembut. Airnya begitu bening sehingga dasar danau bisa terlihat dengan jelas.
Dan yang lebih menakjubkan lagi, di dalamnya kini terlihat terumbu karang dengan berbagai macam warna—merah, kuning, hijau, dan ungu—yang tumbuh indah dan berkilau. Berbagai jenis ikan dengan warna-warna cerah berenang bergerombol, bergerak dengan lincah dan indah di antara karang-karang itu, menciptakan pemandangan yang begitu cantik dan hidup.
"Kau melihatnya juga, bukan?"
Suara yang lembut dan akrab terdengar dari permukaan air. Dari dalam danau, muncul sosok yang ia kenal—Lunaris, ikan pari raksasa yang indah, yang menjadi penjaga dan penghubung jalan ini.
Namun, penampakan Lunaris juga terlihat berbeda. Sisiknya yang tadinya berwarna perak kebiruan kini memancarkan cahaya yang lebih terang dan hangat, dan tatapan matanya yang lembut kini dipenuhi dengan kegembiraan yang nyata.
Lunaris bergerak mendekat hingga posisinya tepat berada di bawah jembatan, menghadap langsung ke arah Xavier.
"Selama ribuan tahun aku menjaga danau ini," ucapnya dengan suara yang terdengar ceria, "airnya selalu hitam dan gelap. Tidak ada yang bisa tumbuh di dalamnya, tidak ada makhluk yang bisa hidup di sini selain aku sendiri. Semua itu karena hati Tuanku, Ratu Elara, yang selalu tertutup, dingin, dan dipenuhi rasa sakit dan kesepian. Keadaan alam di sini selalu mencerminkan keadaan hatinya."
Lunaris menatap Xavier dengan pandangan yang penuh rasa terima kasih dan kekaguman.
"Tapi sekarang... lihatlah. Airnya menjadi jernih, karang tumbuh dengan indah, dan makhluk hidup bisa tinggal di sini. Semua ini terjadi karena hatinya sudah berubah. Hatinya yang beku itu sudah mulai mencair, dan kebaikan yang selama ini tersembunyi di dalamnya mulai muncul ke permukaan. Ini adalah hal yang tidak pernah terjadi lagi sejak peristiwa ribuan tahun yang lalu, saat ia dikhianati dan ditinggalkan oleh semua orang yang ia percayai."
Ikan pari itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang penuh rasa ingin tahu dan senang.
"Jadi aku ingin bertanya padamu, Raja Xavier... apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana? Apa yang kau lakukan sehingga bisa membuat perubahan sebesar ini? Selama ribuan tahun, tidak ada satu pun orang yang mampu melakukan apa yang baru saja kau lakukan. Bahkan kami, yang selalu ada di sisinya dan mencintainya dengan sepenuh hati, tidak pernah bisa membuatnya berubah sedikit pun. Tapi kau... baru saja datang, dan kau sudah mampu membuatnya menjadi berbeda."
Xavier tersenyum melihat perubahan yang ada di sekitarnya. Ia merasa bahagia bukan hanya karena ia tahu usahanya sudah membuahkan hasil, tapi juga karena ia tahu bahwa Elara akhirnya bisa melepaskan sebagian beban berat yang selama ini ia pikul sendirian.
"Aku tidak melakukan apa pun yang luar biasa, Lunaris," jawabnya dengan lembut. "Aku hanya berusaha untuk melihat dirinya apa adanya, bukan apa yang ia miliki atau apa yang orang lain katakan tentangnya. Aku hanya mencoba untuk mencintainya, untuk memahaminya, dan untuk menunjukkan bahwa ada orang yang bisa dipercayai, ada orang yang tidak akan menyakitinya, dan ada orang yang akan selalu ada untuknya."
Ia menatap ke arah kejauhan, ke arah tempat Elara berada, dan matanya dipenuhi dengan cinta yang tulus.
"Hatinya tidak pernah benar-benar beku, seperti yang ia pikirkan. Ia hanya terluka, dan ia menutupnya rapat-rapat untuk melindungi dirinya sendiri. Dan ketika seseorang akhirnya datang yang bisa menembus pertahanan itu, maka kebaikan dan keindahan yang ada di dalamnya pun akan muncul dengan sendirinya, seperti yang terlihat di danau ini sekarang."
Lunaris mendengarnya dan mengangguk perlahan.
"Aku mengerti sekarang..." gumamnya. "Kau benar-benar berbeda dari semua orang yang pernah datang ke sini sebelumnya. Dan aku senang, sangat senang. Karena akhirnya, Tuanku mendapatkan apa yang selama ini ia butuhkan, apa yang selama ini ia harapkan namun tidak pernah ia dapatkan."
Ikan pari itu bergerak sedikit, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius namun tetap hangat.
"Teruslah seperti ini, Raja Xavier. Teruslah bersikap tulus, dan jangan pernah berubah. Kami semua, semua makhluk yang ada di sini, akan mendukungmu. Karena kami tahu, hanya kaulah yang bisa membuat Tuanku bahagia, hanya kaulah yang bisa membuatnya tidak lagi hidup dalam kesunyian dan kesedihan."
"Jalan kembali sudah terbuka untukmu," tambahnya. "Dan ketika kau kembali lagi nanti, aku akan ada di sini, menunggumu. Pergilah dengan selamat, dan kembalilah segera."
"Terima kasih, Lunaris," jawab Xavier dengan senyum lebar. "Aku pasti akan kembali. Dan saat aku kembali nanti, aku akan membawa lebih banyak hal yang bisa membuat Tuankumu semakin bahagia."
Dengan demikian, Xavier melanjutkan langkahnya menuju jalan pulang. Ia melintasi jembatan, dan seiring ia berjalan, ia bisa merasakan perubahan yang ada di seluruh wilayah itu. Udara yang tadinya terasa dingin dan berat kini terasa lebih segar dan hangat, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya terlihat lebih hidup dan indah dari sebelumnya.
Semua ini adalah tanda bahwa apa yang ia lakukan tidak sia-sia. Hati Elara sudah mulai terbuka, dan masa depan yang indah kini sudah menanti mereka berdua.
Bersambung...