NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK SEMARANG DAN DILEMA SKENARIO

Pagi itu, udara di koridor stasiun kereta api Tawang, Semarang, terasa hangat bercampur bau khas pesisir. Mentari turun dari gerbong eksekutif dengan langkah anggun, membetulkan letak jilbab instan premiumnya yang berwarna pastel. Kali ini, jadwal rapat koordinasi dengan tim produksi film *Spectrum Pictures* dialihkan ke ibu kota Jawa Tengah ini, karena sang produser utama sedang ada agenda kerja paralel di kota lumpia tersebut.

Di samping Mentari, Gus Zikri berjalan dengan tenang sambil menggendong Zayan yang sibuk memegang mainan gigitan karetnya. Kehadiran Zikri di Semarang sebenarnya adalah sebuah pengecualian; ia sengaja mengambil cuti singkat dari jadwal mengajar di pesantren demi menemani istrinya yang belakangan ini kerap mengeluh kelelahan akibat bolak-balik mengurus draf skenario yang ditargetkan mencapai ratusan bab itu.

"Mas, makasih ya udah mau nemenin sampai ke Semarang," bisik Mentari sambil menggandeng lengan suaminya saat mereka berjalan menuju area penjemputan.

Zikri tersenyum lembut, menyesuaikan langkah kakinya dengan Mentari. "Semarang dekat dengan pesantren kita, Sayang. Lagipula, Abah juga berpesan agar Mas sesekali mengajakmu dan Zayan keluar untuk menyegarkan pikiran. Menulis puluhan bab tentu menguras energimu."

Rapat siang itu diadakan di sebuah kafe berkonsep kolonial yang terletak tepat di seberang landmark terkenal, Lawang Sewu. Bu Gita, sang produser, sudah menunggu dengan tumpukan kertas draf di mejanya. Di sampingnya, duduk seorang pria muda berkacamata tebal yang diperkenalkan sebagai pengarah visual baru untuk proyek film mereka.

"Mbak Mentari, Gus Zikri, selamat datang," sapa Bu Gita ramah, mempersilakan mereka duduk. "Progres dari Bab 31 kemarin luar biasa. Respons dari investor sangat positif mengenai konsep transisi spiritual yang Mbak tulis. Tapi, hari ini kita perlu membahas tantangan terbesar kita ke depan."

Bu Gita mengetuk draf tebal di atas meja. "Target kita adalah menyusun struktur cerita yang solid hingga Bab 100. Masalahnya, tim kreatif merasa alur di pertengahan sekitar Bab 50 sampai 70—terlalu datar jika hanya berisi dinamika harian pesantren. Kita butuh 'konflik bumbu' yang lebih tajam untuk menjaga rating penonton."

Mentari mengerutkan dahinya. "Konflik bumbu seperti apa maksudnya, Bu?"

Si pengarah visual menyahut, "Bagaimana kalau kita memunculkan kembali karakter Reno, atau mungkin tokoh baru dari masa lalu Gus Zikri yang mencoba merusak rumah tangga kalian? Penonton Indonesia sangat menyukai drama kecemburuan yang intens."

Mendengar hal itu, Gus Zikri meletakkan cangkir kopinya perlahan. Aura berwibawa seorang pemimpin pengajaran langsung terpancar dari sikap duduknya. "Maaf sebelumnya, Saudara. Tujuan awal film ini disetujui adalah untuk syiar dan memberikan pandangan bahwa kehidupan rumah tangga yang berlandaskan rida Ilahi itu membawa ketenangan, bukan drama yang dibuat-buat. Jika kita memasukkan konflik pihak ketiga yang berlebihan, esensi dari kedamaian pesantren yang ingin kita sampaikan akan kabur."

Suasana meja makan mendadak hening. Ketegasan Gus Zikri yang disampaikan dengan nada bicara sangat sopan namun telak itu membuat tim kreatif terdiam. Mentari menatap suaminya dengan rasa bangga yang membuncah.

Keheningan itu tidak berlangsung lama karena dari arah pintu masuk kafe, terdengar suara keributan kecil yang sangat familier di telinga mereka.

"Gue bilang juga apa, Fahma! Kita jangan lewat jalan pemuda, macetnya minta ampun! Nih liat, kita hampir telat jadi tim hore!"

Bondan muncul dengan kemeja flanel longgar dan kacamata hitam yang ditaruh di atas kepala, sementara **Fahma** berjalan di belakangnya sambil menenteng tas perlengkapan bayi milik Zayan yang bermotif jerapah. Dua sahabat Mentari ini nekat menyusul ke Semarang dengan kereta ekonomi demi memastikan Zayan tidak kekurangan asupan hiburan selama orang tuanya rapat.

"Assalamualaikum! Wah, mohon maaf mengganggu jalannya sidang pleno para petinggi perfilman," ucap Bondan tanpa rasa bersalah, langsung mengambil kursi kosong di ujung meja.

Fahma langsung menghampiri Zayan yang berada di pangkuan Zikri. "Zayan... kangen Kak Fahma nggak? Nih, Kakak bawain lumpia khas Semarang yang nggak pakai rebung biar kamu nggak bingung baunya."

Bu Gita tertawa melihat tingkah keduanya. "Wah, tim sukses Mbak Mentari lengkap ya sampai ke Semarang. Tapi kembali ke topik tadi, Gus. Kalau kita tidak memakai konflik orang ketiga, lalu bagaimana cara kita mengisi ruang cerita sampai Bab 100 agar tetap menarik?"

Mentari mengambil alih pembicaraan. Ia membuka laptopnya dan menunjukkan sebuah bagan alur cerita baru. "Kita bisa mengangkat konflik internal, Bu. Bagaimana seorang wanita kota beradaptasi dengan tradisi santri, bagaimana mendidik anak di lingkungan pesantren di era digital, atau tantangan mengelola santri dari berbagai latar belakang budaya. Itu konflik nyata yang mendidik, bukan drama romansa yang klise."

Bu Gita memeriksa bagan yang dibuat Mentari, lalu mengangguk-angguk setuju. "Menarik. Ini organik dan belum banyak diangkat. Oke, kita pakai jalur ini untuk draf bab-bab selanjutnya."

Setelah rapat yang cukup menguras otak itu selesai, sore harinya mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kawasan Simpang Lima. Bondan dan Fahma dengan sukarela membawa Zayan naik sepeda hias lampu-lampu, meninggalkan Gus Zikri dan Mentari berjalan berdua di trotoar.

Lampu-lampu kota Semarang mulai menyala satu per satu seiring matahari yang tenggelam di ufuk barat. Angin sore berembun tipis mengayunkan ujung gamis Mentari.

"Mas," panggil Mentari pelan, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Zikri saat mereka berhenti di dekat lampu merah.

"Iya, Sayang?"

"Makasih ya udah bicara tegas tadi di kafe. Aku sempat takut kalau idealisme cerita kita harus kalah sama tuntutan pasar."

Zikri merangkul pundak istrinya dengan erat. "Mas tidak akan membiarkan esensi perjuanganmu dinodai hanya demi hitungan angka atau rating, Mentari. Perjalanan kita menuju Bab 100 ini adalah catatan dakwah. Setiap babnya harus membawa manfaat, sekecil apa pun itu."

Mentari tersenyum, merasakan kehangatan yang mengalir dari dekapan suaminya di tengah keramaian kota Semarang. Ia tahu, jalan di depan masih panjang dan melelahkan, dengan puluhan bab naskah yang harus diselesaikan. Namun, selama sang Imam berdiri kokoh di sampingnya, menjaga batas-batas syariat dengan kelembutan hatinya, tidak ada satu pun badai industri yang mampu menggoyahkan goresan penanya.

Malam itu, mereka bersiap kembali ke pesantren, membawa pulang energi baru dari Kota Atlas untuk melanjutkan babak demi babak kehidupan yang penuh berkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!